Hari: 25 Juni 2026

  • Jejak Karier Arman Fauzi, Dari Dapur Redaksi ke Komisi Informasi Pusat

    Jejak Karier Arman Fauzi, Dari Dapur Redaksi ke Komisi Informasi Pusat

    acehtoday.id/ | Banda Aceh – Nama Arman Fauzi kini menjadi salah satu representasi Aceh di tingkat nasional setelah dipercaya sebagai Anggota Komisi Informasi (KI) Pusat periode 2026–2030.

    Di balik capaian tersebut, tersimpan perjalanan panjang seorang mantan wartawan yang mengabdikan diri pada isu keterbukaan informasi dan pelayanan publik.

    Pria kelahiran Susoh, Kabupaten Aceh Barat Daya, 10 April 1980 itu mengawali karier profesionalnya di dunia jurnalistik. Arman pernah menjadi jurnalis Tabloid Modus Aceh dan dipercaya menjabat sebagai Koordinator Liputan pada 2004.

    Pengalaman sebagai wartawan membawanya akrab dengan kerja-kerja investigasi, pengumpulan data, serta pemahaman mengenai pentingnya akses informasi bagi masyarakat.

    Dari dunia pers, Arman kemudian melanjutkan kiprahnya sebagai investigator di LSM GeRAK Aceh. Kariernya di lembaga tersebut terus berkembang hingga dipercaya menjabat sebagai Sekretaris Eksekutif GeRAK Aceh pada periode 2005–2009.

    Di fase inilah ia semakin aktif menggeluti isu transparansi, akuntabilitas, dan kebijakan publik.

    Selain aktif dalam advokasi, Arman juga memiliki pengalaman di bidang pembangunan daerah.

    Ia pernah menjadi konsultan UNICEF untuk program pemenuhan hak anak di Aceh dan ditempatkan di Bappeda Aceh Jaya guna memberikan pendampingan teknis terkait perencanaan serta penganggaran daerah.

    Perjalanan pengabdiannya di sektor publik turut ditopang oleh aktivitas organisasi yang dijalaninya sejak masa kuliah. Saat menempuh pendidikan di Universitas Syiah Kuala (Unsyiah).

    Ia juga pernah menjabat sebagai Sekretaris Umum BEM Fakultas MIPA periode 2002–2003. Arman juga pernah memimpin paguyuban Ikatan Pemuda, Pelajar, dan Mahasiswa Susoh (IPPELMAS) pada 2006 serta menjabat Sekretaris DPD II KNPI Kabupaten Aceh Selatan.

    Kariernya di bidang keterbukaan informasi semakin menonjol ketika dipercaya menjadi Komisioner Komisi Informasi Aceh periode 2016–2020. Kepercayaan itu kembali diberikan pada periode 2020–2024.

    Berbekal pengalaman sebagai wartawan, aktivis, dan pegiat pelayanan publik, Arman Fauzi akhirnya melangkah ke tingkat nasional sebagai Anggota Komisi Informasi Pusat periode 2026–2030.

    Perjalanan tersebut menjadi bukti bahwa pengalaman dari ruang redaksi dapat menjadi modal penting dalam mengawal transparansi dan hak masyarakat memperoleh informasi.**

  • Dari Panton Labu ke Puncak UTU, Prof Nyak Amir Pimpin Transformasi Kampus Barat Selatan Aceh

    Dari Panton Labu ke Puncak UTU, Prof Nyak Amir Pimpin Transformasi Kampus Barat Selatan Aceh

    acehtoday.id/ | Meulaboh — Universitas Teuku Umar (UTU) resmi memasuki babak baru kepemimpinan. Sosok akademisi yang lama berkecimpung di dunia pendidikan tinggi, Prof. Dr. Nyak Amir, dipercaya memimpin kampus negeri kebanggaan masyarakat Barat Selatan Aceh untuk periode 2026–2030.

    Kepercayaan itu diberikan melalui rapat senat pemilihan rektor yang digelar pada Kamis (25/6/2026). Dari total 28 suara yang digunakan oleh anggota Senat Universitas Teuku Umar dan perwakilan Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Republik Indonesia, Prof Nyak Amir meraih 24 suara atau 85,71 persen dukungan.

    Perolehan suara tersebut mengungguli dua kandidat lainnya. Dr. Ir. Irwansyah memperoleh empat suara, sementara Prof. Dr. Iskandar AS tidak mendapatkan suara.

    Terpilihnya Prof Nyak Amir bukan sekadar pergantian pucuk pimpinan kampus. Bagi banyak kalangan akademik, momentum ini menjadi simbol kepercayaan terhadap sosok yang selama ini dikenal aktif membangun tata kelola perguruan tinggi, memperkuat kapasitas sumber daya manusia, hingga mendorong pengembangan infrastruktur pendidikan.

    Lahir di Desa Rawang Itek, Kecamatan Panton Labu, Kabupaten Aceh Utara, pada 25 November 1974, perjalanan Prof Nyak Amir menuju kursi rektor dimulai dari dunia pendidikan olahraga.

    Ia menyelesaikan pendidikan sarjana pada Program Studi Pendidikan Jasmani, Kesehatan, dan Rekreasi (Penjaskesrek) Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Syiah Kuala pada 1997.

    Semangatnya untuk terus mengembangkan ilmu pengetahuan membawanya melanjutkan studi magister di IKIP Surabaya pada Program Studi Pendidikan Olahraga yang diselesaikan pada 2001.

    Pendidikan doktoral kemudian ditempuh di Universitas Negeri Surabaya pada bidang Ilmu Keolahragaan hingga meraih gelar doktor.

    Karier akademiknya berkembang pesat. Sebagai dosen Penjaskesrek, ia dikenal aktif dalam pengembangan pendidikan dan penelitian hingga akhirnya menyandang gelar Guru Besar bidang Ilmu Keolahragaan.

    Sebelum terpilih sebagai rektor, Prof Nyak Amir mengemban amanah sebagai Wakil Rektor II Bidang Umum dan Keuangan Universitas Teuku Umar.

    Di luar dunia kampus, ayah empat anak tersebut juga memiliki pengalaman organisasi di tingkat nasional. Salah satu posisi strategis yang pernah diembannya adalah Sekretaris Jenderal Pengurus Besar Persatuan Panahan Indonesia (PERPANI), yang memperlihatkan kiprahnya tidak hanya dalam dunia akademik, tetapi juga pada pengembangan olahraga nasional.

    Dalam kontestasi pemilihan rektor, Prof Nyak Amir menawarkan visi besar bertajuk “Transformasi Universitas Teuku Umar sebagai Universitas Riset Berdampak dan Sainteknopreneurship Berbasis Agroindustri dan Kemaritiman Berdaya Saing Global”.

    Melalui visi tersebut, ia ingin membawa UTU menjadi kampus yang tidak hanya unggul dalam pendidikan dan penelitian, tetapi juga mampu menghasilkan inovasi yang berdampak langsung bagi masyarakat.

    Pendekatan kewirausahaan berbasis sains dan teknologi menjadi salah satu fokus utama yang akan dikembangkan untuk menjawab tantangan pembangunan masa depan.

    Transformasi yang ditawarkannya mencakup penguatan tata kelola universitas, peningkatan mutu pendidikan, pengembangan riset dan inovasi, transformasi digital, perluasan jejaring internasional, hingga penguatan kemitraan strategis dengan berbagai pihak.

    Bagi wilayah Barat Selatan Aceh, kehadiran UTU selama ini memiliki peran penting sebagai pusat pengembangan sumber daya manusia.

    Di bawah kepemimpinan Prof Nyak Amir, kampus tersebut diharapkan semakin mampu menjadi motor penggerak pembangunan daerah melalui pendidikan, riset, dan inovasi yang relevan dengan potensi unggulan Aceh, khususnya sektor agroindustri dan kemaritiman.

    Ketua Panitia Pemilihan Rektor UTU, Dr. T. Alamsyah, menyebut seluruh proses pemilihan berlangsung secara tertib, demokratis, dan akuntabel. Menurutnya, proses tersebut mencerminkan kedewasaan institusi dalam menjalankan tata kelola perguruan tinggi yang baik.

    Dengan dukungan mayoritas senat yang begitu kuat, Prof Nyak Amir kini memikul harapan besar untuk membawa Universitas Teuku Umar memasuki fase baru.

    Tantangan ke depan tidak ringan, namun rekam jejak akademik, pengalaman manajerial, serta visi transformasi yang diusung menjadi modal penting untuk mewujudkan cita-cita menjadikan UTU sebagai kampus unggul yang berdaya saing di tingkat nasional maupun global.**

    Laporan: Uci Setiawan

  • Masyarakat Bangun Jalan Sendiri, Salihin: BPJN Aceh Harusnya Malu

    Masyarakat Bangun Jalan Sendiri, Salihin: BPJN Aceh Harusnya Malu

    acehtoday.id/ | Banda Aceh – Polemik penghentian penanganan Jalan Enang-Enang terus menuai sorotan. Kini kritik keras datang dari Wakil Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Aceh (DPRA), Salihin yang menilai kondisi tersebut sebagai pukulan telak bagi pemerintah, khususnya Balai Pelaksanaan Jalan Nasional (BPJN) Aceh.

    Menurut Salihin, yang juga merupakan putra asli Gayo, masyarakat setempat justru telah menunjukkan kepedulian dan semangat gotong royong yang luar biasa dengan membangun jalan secara swadaya demi menjaga konektivitas kawasan tersebut.

    "Jalan itu sudah dibangun dengan swadaya masyarakat. Ketika masyarakat mampu menunjukkan inisiatif dan kepedulian seperti itu, seharusnya pemerintah hadir dan memperkuat, bukan justru terkesan membiarkan," kata Salihin kepada acehtoday.id/, Kamis (25/6/2026).

    Ia menilai persoalan Enang-Enang bukan sekadar soal akses transportasi atau mobilitas masyarakat. Lebih dari itu, kawasan tersebut memiliki nilai historis dan sakral yang melekat dalam perjalanan masyarakat Gayo.

    "Jalan dan jembatan bukan hanya tentang mobilitas masyarakat. Ada nilai sejarah dan nilai sakral yang harus dijaga. Ini bagian dari identitas masyarakat Gayo yang tidak bisa dipandang hanya dari aspek teknis pembangunan semata," ujarnya.

    Salihin mengungkapkan bahwa pembangunan Jalan dan Jembatan Enang-Enang sebenarnya telah masuk dalam perencanaan pemerintah sejak tahun 2020. Bahkan, saat itu lokasi tersebut telah ditinjau langsung oleh Wakil Menteri Pekerjaan Umum dengan target pelaksanaan pada tahun 2021.

    Kondisi jalan Enang-Enang setelah bencana alam November 2025 lalu. Foto Dok BPJN Aceh

    Namun rencana tersebut kemudian tertunda akibat pandemi Covid-19 yang melanda Indonesia dan mengganggu berbagai program pembangunan nasional.

    “Memang saat itu terkendala pandemi Covid-19. Tetapi sekarang kondisi sudah jauh membaik. Situasi bencana mulai normal, bahkan di sejumlah lokasi terdampak bencana lainnya sudah mulai dilakukan perbaikan dan rehabilitasi,” katanya.

    Karena itu, Salihin mempertanyakan mengapa hingga kini kawasan Enang-Enang yang berada di wilayah Bener Meriah dan Aceh Tengah belum menunjukkan tanda-tanda percepatan penanganan sebagaimana daerah lain.

    “Pertanyaan masyarakat sederhana. Kenapa daerah lain mulai diperbaiki, sementara Enang-Enang belum juga mendapat perhatian yang serius? Ini yang menimbulkan kekecewaan di tengah masyarakat,” ujarnya.

    Menurutnya, kondisi tersebut bukan hanya menjadi persoalan masyarakat setempat, melainkan juga menjadi catatan buruk bagi pemerintah dan seluruh pemangku kepentingan yang selama ini mengawal pembangunan Aceh.

    “Terus terang, kami merasa malu. Saya sebagai pimpinan DPRA sekaligus putra daerah Gayo merasa malu karena sampai hari ini belum ada tanda-tanda realisasi yang jelas,” tegasnya.

    Tamparan Bagi BPJN Aceh

    Salihin bahkan menyebut langkah masyarakat yang secara mandiri membangun jembatan seharusnya menjadi tamparan moral bagi BPJN Aceh.

    “Harusnya ada rasa malu ketika masyarakat bergerak sendiri membangun akses yang menjadi kebutuhan dasar mereka. Ini bisa menjadi preseden buruk dimata masyarakat terhadap BPJN Aceh apabila tidak segera ada langkah nyata,” katanya.

    Ia menegaskan bahwa penghentian atau lambannya penanganan Jalan Enang-Enang merupakan pukulan telak bagi pemerintah karena berpotensi menggerus kepercayaan publik terhadap kehadiran negara dalam menyelesaikan persoalan masyarakat.

    Sebagai putra Gayo, Salihin juga mengingatkan bahwa kawasan Enang-Enang memiliki sejarah panjang yang tidak bisa dipisahkan dari perjalanan masyarakat di dataran tinggi Gayo.

    @kebergayoAceh Tengah – Balai Pelaksanaan Jalan Nasional (BPJN) Aceh secara resmi menghentikan sementara penggunaan Jalan Enang-Enang sebagai akses bagi masyarakat. Keputusan tersebut disampaikan langsung oleh perwakilan BPJN Aceh saat meninjau lokasi pada Minggu (22/6/2026). Dalam penjelasannya, pihak BPJN Aceh menyebutkan bahwa kondisi jalan saat ini belum aman untuk dilalui. Penutupan dilakukan sebagai langkah antisipasi guna menghindari risiko yang dapat membahayakan keselamatan warga, terutama mengingat kondisi jalan yang masih terdampak bencana. baca selengkapnya di kebergayo.com

    ♬ suara asli – KEBER GAYO

    Menurutnya, jalan dan jembatan dikawasan tersebut pertama kali dibangun pada masa penjajahan. Dalam proses pembangunannya, banyak pengorbanan yang terjadi, bahkan nyawa dan darah disebut pernah tertumpah di kawasan itu.

    “Secara historis, jalan ini dibangun sejak masa penjajahan. Banyak cerita perjuangan, banyak pengorbanan, bahkan nyawa dan darah yang pernah tertumpah di sana. Karena itu, jalan ini memiliki makna tersendiri bagi masyarakat,” jelasnya.

    Lebih lanjut, Salihin menegaskan pihaknya akan terus memperjuangkan persoalan tersebut melalui berbagai jalur, termasuk menjalin komunikasi dengan DPR RI agar pemerintah pusat memberikan perhatian lebih serius.

    “Kalau dalam waktu dekat belum ada perkembangan yang signifikan, kami akan berkoordinasi dengan DPR RI, termasuk dengan anggota DPR RI H. Ruslan M. Daud yang merupakan Anggota Komisi V DPR RI, yang membidangi urusan infrastruktur, transportasi, perumahan rakyat, dan pembangunan daerah. Kami ingin memastikan pemerintah benar-benar hadir menyelesaikan persoalan ini,” ujarnya.

    Ia menegaskan bahwa masyarakat tidak membutuhkan janji baru, melainkan kepastian dan tindakan nyata agar akses yang selama ini menjadi urat nadi aktivitas warga dapat kembali berfungsi secara optimal.

    “Bagi masyarakat, yang paling penting bukan lagi wacana. Mereka menunggu kehadiran negara melalui langkah nyata. Jangan sampai masyarakat terus bergerak sendiri sementara pemerintah justru tertinggal di belakang,” pungkas Salihin.**