Penulis: Chairil Aqsha Anwar

  • Membahayakan! Jalan Makam Teuku Nyak Arief Rusak Parah, Berdebu dan Minim Penerangan

    Membahayakan! Jalan Makam Teuku Nyak Arief Rusak Parah, Berdebu dan Minim Penerangan

    acehtoday.id/ | Banda Aceh — Para pengguna jalan yang melintas di kawasan Jalan Makam Teuku Nyak Arief  mengeluhkan kondisi infrastruktur yang rusak parah.

    Sepanjang jalur tersebut kini dipenuhi lubang-lubang menganga dengan diameter bervariasi yang dinilai sangat mengganggu kenyamanan dan mengancam keselamatan para pengendara.

    Saat acehtoday.id/ menelusuri jalan sepanjang 4,5 kilometer tersebut, ditemukan beberapa lubang jalan dengan ukuran yang bervariasi di kedua lajur, Sabtu (6/6/2026).

    Rusak Parah Dikepung Debu dan Kubangan Air

    Muhammad Kahlil (22), mengatakan kondisi jalan yang kupak-kapik ini memberikan dampak buruk ganda bagi masyarakat dalam berbagai situasi cuaca. Saat cuaca terik, aspal yang mengelupas memicu kepulan debu tebal berterbangan setiap kali kendaraan melintas.

    “Kalau cuaca panas apalagi berangin, debu nya parah sekali. tidak bisa jalan di belakang mobil,” Ungkapnya kepada acehtoday.id/, Sabtu (6/6/2026).

    Kahlil merupakan mahasiswa mengaku setiap pagi melewati jalan Makam Teuku Nyak Arief. Ia menambahkan, sebaliknya persoalan menjadi jauh lebih rumit ketika intensitas hujan tinggi mengguyur wilayah tersebut.

    “Kalau sudah hujan, lubang-lubang jalan itu tertutup genangan air. Pengguna jalan jadi terhambat karena harus ekstra hati-hati memilih lajur,” Pungkasnya.

    Ancaman “Jalur Tengkorak” di Malam Hari

    Penderitaan para pengguna jalan kian lengkap akibat minimnya fasilitas Penerangan Jalan Umum (PJU) di sepanjang Jalan Makam Teuku Nyak Arief.

    Ketika malam tiba, kawasan ini menjadi gelap gulita, membuat lubang-lubang tajam di badan jalan bertransformasi menjadi jebakan maut yang siap memicu kecelakaan lalu lintas.

    Pengendara jalan lain, Arifin (30), mengatakan kombinasi antara kerusakan aspal yang parah dan ketiadaan lampu penerangan yang memadai membuat jalur ini sangat rawan bagi pengendara yang belum menguasai medan, khususnya pada malam hari.

    “Harus lebih hati-hati kalau malam, apalagi yang tidak hafal lubang,” Ungkap Arifin.

    Desakan Tindak Lanjut

    Arifin yang bekerja sebagai pengemudi Ojek Online (Ojol), mengatakan pemerintah terkait harusnya memberikan atensi lebih terhadap kenyamanan pengguna jalan.

    Selain pengaspalan ulang, ia juga meminta pemasangan lampu jalan di titik-titik krusial.

    “Kalo di tambal sepertinya tidak bakal lama, lampu (jalan) juga tidak kalah pentingnya di simpang-simpang,” Ujarnya.

    Arifin meminta Pemerintah Aceh Besar melalui dinas terkait untuk segera turun tangan melakukan perbaikan fisik jalan secara permanen.

    Jika terus dibiarkan tanpa ada respons cepat, dikhawatirkan jalur ini akan memakan korban akibat kecelakaan tunggal yang disebabkan oleh buruknya tata kelola infrastruktur publik tersebut. “Semoga cepat diperbaiki, jangan sampai ada korban jiwa,” Pungkasnya.

    Banda Aceh — Para pengguna jalan yang melintas di kawasan Jalan Makam Teuku Nyak Arief  mengeluhkan kondisi infrastruktur yang rusak parah.

  • AWF Geram, Kasus Sawit di Mangrove Aceh Tamiang Belum Juga Tersentuh Hukum

    AWF Geram, Kasus Sawit di Mangrove Aceh Tamiang Belum Juga Tersentuh Hukum

    acehtoday.id/ | Banda Aceh — Aceh Wetland Forum (AWF) menilai penanganan kasus perambahan hutan mangrove menjadi perkebunan sawit di Desa Kuala Geunting, Kabupaten Aceh Tamiang, berjalan sangat lamban.

    Meski terbukti merusak sekitar 500 hektar ekosistem pesisir, belum ada tindakan hukum pidana yang menyentuh para pelaku utama.

    Padahal, data dari Balai Gakkum Kehutanan Wilayah Sumatera hasil operasi Agustus 2025 dengan jelas menunjukkan adanya pelanggaran fatal.

    Di lokasi hutan produksi dan hutan lindung tersebut, tim menemukan empat unit alat berat ekskavator, pondok kerja, kanal-kanal baru, serta tanaman sawit berusia hingga satu tahun. Analisis citra satelit mendeteksi pembukaan lahan ilegal ini terjadi secara bertahap sejak tahun 2020.

    Menanggapi rencana Balai Gakkum yang ingin berkoordinasi terkait skema TORA dan Satgas Penertiban, AWF secara tegas melayangkan kritik. Mereka menilai langkah tersebut hanya kedok seremonial dan taktik mengulur waktu.

    “Lahan lindung yang dibabat untuk sawit tidak punya legalitas untuk dijadikan usulan skema TORA. Ini hanya akal-akalan,” sebut pihak AWF.

    Selain lemahnya sanksi pidana, AWF juga menyoroti masih bebasnya Pabrik Minyak Kelapa Sawit (PMKS) di Aceh Tamiang menerima pasokan buah sawit dari kawasan hutan yang dirambah tersebut. Lemahnya komitmen kelola hutan ini membuat pemulihan ekosistem mangrove di Aceh Tamiang kian jauh dari harapan.

    Temuan AWF Lapangan yang Mencengangkan

    Surat balasan dari Balai Penegakan Hukum Kehutanan (Gakkum) Wilayah Sumatera tertanggal 19 November 2025 mengonfirmasi bahwa mereka telah melakukan Pengumpulan Bahan dan Keterangan (Pulbaket) pada Agustus 2025. Hasilnya memperlihatkan skala kerusakan yang masif:

    • Luasan Kerusakan: Sekitar ± 500 ha dan telah ditanami tanaman kelapa sawit dengan usia tanaman sekitar 8 12 bulan. Berdasarkan analisis citra satelit perubahan tutupan hutan dilakukan secara bertahap mulai tahun 2020 hingga saat ini Agustus 2025.

    • Perambahan Baru: Ditemukan indikasi pembukaan lahan baru seluas ± 350 hektar menggunakan 4 unit ekskavator Hitachi warna oranye yang tersebar di titik koordinat kawasan hutan produksi dan hutan lindung.

    • Infrastruktur Ilegal: Tim di lapangan menemukan pondok kerja, pembuatan kanal baru, serta peninggian tanggul. Berdasarkan analisis citra satelit, kejahatan lingkungan ini terdeteksi berjalan bertahap sejak 2020 hingga puncaknya meluas pada 2024.

    Hanya “Akal-akalan” dan Seremonial?

    Meskipun Balai Gakkum Sumatera menyatakan bakal menaikkan status kasus ini ke proses hukum, berkoordinasi dengan Satgas PKH, serta menjajaki skema TORA (Tanah Objek Reforma Agraria) bersama BPKH Wilayah XVIII Banda Aceh, AWF menilai langkah-langkah tersebut hanyalah upaya mengulur waktu.

    Koalisi menilai kebijakan penertiban yang dilakukan sejauh ini hanya bersifat seremonial belaka karena belum menyentuh aktor intelektual atau pelaku utama di balik deforestasi tersebut.

    Ditambah lagi, ada indikasi kuat bahwa sejumlah Pabrik Minyak Kelapa Sawit (PMKS) di Aceh Tamiang masih menampung pasokan Tandan Buah Segar (TBS) yang dipanen dari kawasan hutan ilegal tersebut.

    AWF menyimpulkan penegakan hukum kehutanan di Aceh Tamiang mandul dan belum menyentuh akar masalah, tanpa adanya tindakan pidana tegas terhadap para pelaku, mata rantai industri sawit ilegal di atas lahan mangrove dilindungi ini dipastikan akan terus langgeng sekaligus memperparah kerusakan ekologi pesisir Aceh.

  • 4 Hari Hilang di Gunung Seulawah, Pendaki Ditemukan Selamat

    4 Hari Hilang di Gunung Seulawah, Pendaki Ditemukan Selamat

    acehtoday.id/ | Aceh Besar — Tim SAR gabungan yag di pimpin Basarnas Banda Aceh berhasil menemukan seorang pendaki asal Aceh Utara yang sempat dilaporkan menghilang di kawasan Gunung Seulawah Agam telah usai empat hari pencarian, Jumat (5/6/2026). Saat evakuasi, pendaki ditemukan dalam keadaan selamat.

    Korban bernama Faiz Hidayat (23), ia semula mendaki Gunung Seulawah Agam bersama sejulah rekan pada Minggu (31/5/2026), sekitar pukul 09.00 WIB saat mulai melakukan pendakian dan tiba di puncak pada 12.30 WIB.

    Rekan pendakian baru mulai menyadari bahwa Faiz tidak dapat ditemukan saat mereka hendak menuruni puncak. Dia terakhir kali terlihat di puncak Gunung Seulawah Agam, Desa Saree, Kecamatan Lebah Seulawah.

    Pendaki Ditemukan Dalam Kondisi Kelelahan

    Berdasarkan keterangan dari Kepala Pelaksana (Kalaksa) BPBD Aceh Besar, Ridwan Jamil, kabar mengenai ditemukannya korban baru diterima oleh tim SAR gabungan pada pukul 17.00 WIB.Ridwan Jamil mengungkapkan bahwa Faiz ditemukan dalam kondisi hidup oleh warga yang tengah berkebun di kawasan Lam Teuba Dro.

    “Saat ditemukan dalam keadaan sehat, namun fisiknya kelelahan dan lemah,” Ungkap Ridwan.

    Dalam misi penyelamatan ini, tim SAR gabungan bergerak bersama sejumlah unsur lintas sektor. Pencarian tersebut melibatkan personel Basarnas Banda Aceh, petugas Damkar BPBD Aceh Besar Pos Saree, serta aparat keamanan dari Polsek, Brimob Saree, dan Koramil setempat. Selain itu, jalannya operasi juga dibantu penuh oleh anggota RAPI Aceh Besar, rekan-rekan korban, hingga masyarakat setempat yang bahu-membahu menyisir lokasi.

  • Cara Taufik Kopi Jaga Kualitas Robusta di Tengah Badai Ekonomi

    Cara Taufik Kopi Jaga Kualitas Robusta di Tengah Badai Ekonomi

    acehtoday.id/ | Banda Aceh — Industri kopi lokal di Serambi Mekkah terus menunjukkan taringnya di kancah nasional. Salah satu produsen yang konsisten menjaga mutu dan eksistensinya adalah Taufik Kopi, pabrik produsen kopi legendaris asal Banda Aceh yang telah beroperasi sejak tahun 2005 hingga saat ini.

    Fokus pada pengolahan biji kopi berjenis Robusta, Taufik Kopi kini telah berhasil memikat hati masyarakat dan memiliki ratusan konsumen setia yang tersebar di seluruh wilayah Indonesia.

    Terletak di jalan Cut Makmun II, Beurawe, Kecamatan Kuta Alam, berdiri sebuah bangunan yang dijadikan pabrik pengolahan kopi. Di lahan 200 meter persegi ini pengolahan biji kopi mentah (green bean) diproses hingga menjadi bubuk kopi siap edar.

    Aris Irawan, merupakan seorang pegawas pabrik mengatakan kunci kelezatan cita rasa bubuk kopi produksi Taufik Kopi berasal dari pemilihan bahan bakunya. Ia mengakui pabrik ini menggunakan green bean dari beberapa daerah yang ada di Aceh seperti Takengon dan Lamno.

    “Kami pakai bean dari Takengon dan Lamno dengan karakteristik yang berbeda,” ungkap Aris kepada acehtoday.id/, Kamis (4/6/2026).

    Banda Aceh — Industri kopi lokal di Serambi Mekkah terus menunjukkan taringnya di kancah nasional. Salah satu produsen yang konsisten menjaga mutu dan eksistensinya adalah Taufik Kopi, pabrik produsen kopi legendaris asal Banda Aceh yang telah beroperasi sejak tahun 2005 hingga saat ini.
    Proses Penimbangan Bubuk Kopi Sebelum Siap Diedarkan. (Foto: Chairil Aqshaacehtoday.id/)

    Aris menambahkan, proses pengolahan di pabrik ini masih mempertahankan sistem semi-mesin. Biji kopi mentah dimasukkan ke dalam tungku khusus yang diputar menggunakan mesin elektrik, sementara proses penyangraiannya tetap mengandalkan aroma khas dari pembakaran kayu bakar.

    “Kita masih menggunakan kayu bakar sebagai sumber bahan bakar tungku,” Tambahnya.

    Taufik Kopi dalam Tantangan Ekonomi dan Penyesuaian Pasar

    Perjalanan pabrik Taufik Kopi dalam mempertahankan bisnisnya tentu tidak luput dari dinamika ekonomi. Fluktuasi nilai tukar rupiah terhadap dolar AS beberapa waktu terakhir turut memberikan dampak pada peta kekuatan produksi mereka.

    Sebelum terjadinya lonjakan nilai tukar dolar, Taufik Kopi mampu memproduksi sekitar 8 hingga 10 ton kopi per bulan. Namun, guna menyiasati daya beli dan mengikuti pergeseran permintaan pasar saat ini, volume produksi disesuaikan secara dinamis menjadi 6 hingga 8 ton per bulan.

    Banda Aceh — Industri kopi lokal di Serambi Mekkah terus menunjukkan taringnya di kancah nasional. Salah satu produsen yang konsisten menjaga mutu dan eksistensinya adalah Taufik Kopi, pabrik produsen kopi legendaris asal Banda Aceh yang telah beroperasi sejak tahun 2005 hingga saat ini.
    Seorang Pekerja Sedang Menjaga Nyala Api Tungku Penyangrai Kopi. (Foto: Chairil Aqshaacehtoday.id/)

    Aris mengatakan, lonjakan harga untuk beberapa bahan baku seperti plastik kemasan, gula, minyak dan harga kayu bakar sangat mempengaruhi daya produksi pabriknya dan terkait dengan menurun nya permintaan pasar.

    “Ada beberapa bahan baku yang naik, tetapi tetap kita upayakan untuk produksi tetap berjalan,” Ungkapnya.

    Untuk menjangkau penikmat kopi rumahan hingga para pemilik kedai kopi, Aris mengaku menyediakan dua pilihan produk dengan harga bersaing. Produk tersebut meliputi biji kopi mentah atau green bean yang dibanderol Rp70.000 per kilogram, serta varian kopi yang sudah di-roasting dan siap konsumsi dengan harga Rp140.000 per kilogram.

    “Kita tetap usahakan harga sama agar dapat dijangkau masyarakat,” Tambah Aris.

     

  • Puluhan Huntara Rusak Diterpa Angin Puting Beliung Di Langkahan

    Puluhan Huntara Rusak Diterpa Angin Puting Beliung Di Langkahan

    acehtoday.id/ | Aceh Utara -Puluhan Hunian Sementara (Huntara) rusak akibat diterjang angin puting beliung yang melanda tiga desa di Kecamatan Langkahan, Kabupaten Aceh Utara, pada Selasa (2/6/2026).

    Tiga desa yang terdampak yakni Desa Geudumbak, Desa Buket Linteung, dan Desa Rumoh Rayeuk. Kerusakan yang terjadi bervariasi, mulai dari atap rumah yang terlepas hingga kerusakan berat pada sejumlah unit huntara yang dihuni warga korban konflik dan masyarakat terdampak bencana.

    Geuchik Desa Geudumbak, Saiful Bahri, mengatakan angin puting beliung terjadi sekitar pukul 15.00 WIB dan membuat warga panik hingga harus mengungsi ke lokasi yang lebih aman.

    “Sore kejadiannya. Warga desa berlindung ke tempat yang aman,” ujar Saiful Bahri kepada acehtoday.id/ melalui sambungan WhatsApp, Rabu (3/6/2026).

    Menurutnya, sebanyak 11 unit huntara di Desa Geudumbak terdampak bencana tersebut. Dari jumlah itu, enam unit mengalami kerusakan berat dan lima unit lainnya mengalami kerusakan ringan.

    “Ada enam yang rusak berat dan lima rusak ringan,” katanya.

    Saiful berharap pemerintah segera turun tangan membantu warga terdampak mengingat hingga saat ini pembangunan Hunian Tetap (Huntap) di desanya belum terealisasi.

    “Sudah koordinasi dengan Pak Camat, karena cuma hunian ini yang ada. Huntap belum berjalan,” pungkasnya.

    Banda Aceh -Puluhan Hunian Sementara (Huntara) rusak akibat diterjang angin puting beliung yang melanda tiga desa di Kecamatan Langkahan, Kabupaten Aceh Utara, pada Selasa (2/6/2026).

    Huntara Rusak Terparah Terjadi di Desa Rumoh Rayeuk

    Sementara itu, Geuchik Desa Rumoh Rayeuk, A’kthaillah, menyebutkan desanya menjadi salah satu wilayah dengan dampak kerusakan cukup besar akibat angin puting beliung.

    Berdasarkan pendataan sementara, terdapat 27 unit huntara yang mengalami kerusakan. Sebanyak 10 unit di antaranya rusak berat, sedangkan 17 unit lainnya mengalami kerusakan ringan.

    “Total 27 unit. Sepuluh rusak berat dan 17 lainnya rusak ringan,” ungkap A’kthaillah kepada acehtoday.id/ melalui WhatsApp.

    Ia menjelaskan proses pendataan masih terus dilakukan karena setelah kejadian terjadi pemadaman listrik yang menyulitkan petugas melakukan verifikasi di lapangan.

    “Data yang kita himpun masih data awal. Kami juga masih melanjutkan survei untuk mendapatkan data pasti terkait jumlah hunian yang rusak,” katanya.

    Warga dan Pemerintah Gampong Bergerak Cepat Tangani Huntara Rusak

    Di Desa Buket Linteung, kondisi kerusakan dilaporkan tidak separah dua desa lainnya. Kepala Dusun Lubok Meukueh, Mus, mengatakan tidak ada huntara yang mengalami kerusakan berat di wilayahnya.

    Meski demikian, sekitar enam unit huntara mengalami kerusakan ringan berupa sebagian atap terlepas dan kerusakan pada dinding bangunan.

    “Ada sekitar enam unit yang mengalami kerusakan pada sebagian atap dan dinding,” ujar Mus.

    Menurutnya, pemerintah gampong telah berkoordinasi dengan pihak terkait untuk mempercepat penanganan kerusakan. Warga juga langsung bergotong royong melakukan perbaikan sementara sesaat setelah bencana terjadi.

    “Sudah kami hubungi pihak terkait dan insyaallah bantuan akan sampai hari ini. Setelah kejadian, warga juga langsung melakukan perbaikan sementara secara gotong royong,” tutupnya.

    Berdasarkan data sementara dari tiga desa terdampak, sedikitnya 44 unit huntara mengalami kerusakan akibat angin puting beliung. Dari jumlah tersebut, 16 unit dilaporkan rusak berat dan 28 unit lainnya mengalami kerusakan ringan.

    Warga berharap pemerintah segera menyalurkan bantuan darurat serta mempercepat pembangunan hunian tetap agar masyarakat memiliki tempat tinggal yang lebih aman dan layak.

    Banda Aceh -Puluhan Hunian Sementara (Huntara) rusak akibat diterjang angin puting beliung yang melanda tiga desa di Kecamatan Langkahan, Kabupaten Aceh Utara, pada Selasa (2/6/2026).
    Kondisi Salah Satu HUNTARA Yang Rusak Berat Di Desa Rumoh Rayeuk, Lagkahan, Aceh Utara, Usai Di Terpa Puting Beliung. (Foto: Ist).
  • Pameran Tsunami Aceh Hadirkan Manuskrip Kuno dan Teknologi Peringatan Dini

    Pameran Tsunami Aceh Hadirkan Manuskrip Kuno dan Teknologi Peringatan Dini

    acehtoday.id/ | Banda Aceh – Pameran Tsunami Aceh bertajuk “Jejak Ingatan Tsunami: Dari Tradisi Lisan atau Hikayat ke Metadata” resmi dibuka di Museum Tsunami Aceh sejak 25 Mei 2026.

    Pameran temporer yang direncanakan berlangsung selama enam bulan ini bertujuan memperluas pemahaman masyarakat mengenai sejarah kebencanaan, siklus tsunami, serta pentingnya mitigasi bencana di Aceh.

    Dalam pameran ini, dipaparkan hasil penelitian pakar Universitas Syiah Kuala, Profesor Nazli, yang menyebutkan wilayah Aceh telah mengalami minimal 11 kali peristiwa tsunami. Data tersebut mempertegas bahwa tsunami merupakan siklus alam berkala di kawasan tersebut.

    Pameran Tsunami Aceh bertajuk "Jejak Ingatan Tsunami: Dari Tradisi Lisan atau Hikayat ke Metadata" resmi dibuka di Museum Tsunami Aceh sejak 25 Mei 2026
    Replika Prasasti Batu Dari Jepang, Sebagai Tanda Peringatan Tsunami.

    Konseptor pameran, Nurul Latifa, S.Pd., M.Pd, mengatakan selain data ilmiah, pameran memajang bukti mitigasi tradisional berupa manuskrip abad ke-19 karya Syekh Abbas Kuta Karang dan catatan Syarif Krueng Raya (1964). Ditampilkan pula replika prasasti batu dari Jepang yang berfungsi sebagai peringatan bencana lintas generasi.

    “Kita pajang beberapa koleksi manuskrip dan replika prasasti dari Jepang,” Ungkap Nurul saat di wawancara. Selasa (2/6/2026).

    Lebih lanjut, Nurul Mengatakan untuk mempermudah edukasi, pihak museum menyediakan diorama proses terjadinya tsunami serta ruang khusus yang menampilkan perkembangan metadata dan perangkat pemantauan modern berbasis sistem peringatan dini.

    “Ada diorama yang menjelaskan proses tsunami dan beberapa foto alat pendeteksi tsunami,” Tambahnya.

    Pameran Tsunami Aceh Diminati Wisatawan dan Masyarakat

    Hingga awal Juni 2026, antusiasme masyarakat tergolong tinggi dengan total kunjungan mencapai lebih dari 10 ribu orang, termasuk wisatawan domestik asal Sumatera Utara dan wisatawan mancanegara asal Malaysia.

    Seorang pengunjung, Tasya (24), mengatakan dirinya tertarik dengan pameran ini karena igin mengatahui lebih banyak terkait siklus bencana tsunami yang pernah terjadi. menurutnya dengan ada pameran seperti ini mampu menyadarkan seluruh kalangan akan pentingnya menghargai dan belajar dari masa lalu.

    Seorang pengunjung, Tasya (24), mengatakan dirinya tertarik dengan pameran ini karena igin mengatahui lebih banyak terkait siklus bencana tsunami yang pernah terjadi. menurutnya dengan ada pameran seperti ini mampu menyadarkan seluruh kalangan akan pentingnya menghargai dan belajar dari masa lalu.
    Seorang Pengunjung Memperhatikan Tulisan Hikayat Koleksi Pameran.

    “Alasan saya suka ikut pameran begini karena kita bisa melihat metadata modern dan manuskrip abad ke-19 disandingkan dalam satu ruangan. Itu bikin sadar kalau bencana ini adalah siklus yang nyata” Ujar Tasya kepada acehtoday.id/.

    Pengunjung lainnya, Hasanah (36), mengatakan dirinya datang bersama keluarga untuk melihat pameran guna mengedukasi anaknya tentang sejarah. Lebih mendalam menurutnya generasi yang akan datang perlu dikenalkan dan diajarkan soal kebencanaan.

    “Walaupun anak-anak tidak merasakan yang pernah terjadi, tetapi mereka harus paham bahwa ada yang namanya bencana alam dan tau tanda-tandanya,” Ungkapnya.

  • DBD di Banda Aceh Berpotensi Meningkat Saat Musim Hujan, Dinkes Kota Keluarkan Himbaun

    DBD di Banda Aceh Berpotensi Meningkat Saat Musim Hujan, Dinkes Kota Keluarkan Himbaun

    acehtoday.id/ |Banda Aceh — Ancaman kasus Demam Berdarah Dengue (DBD) di Banda Aceh berpotensi meningkat seiring prakiraan hujan sedang hingga lebat yang dikeluarkan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Aceh pada Selasa (2/6/2026).

    Curah hujan yang tinggi dapat memicu munculnya genangan air di lingkungan pemukiman warga yang menjadi tempat berkembang biak nyamuk Aedes aegypti, vektor utama penyebab DBD dan Chikungunya.

    Menyikapi kondisi tersebut, Dinas Kesehatan Kota Banda Aceh mengimbau masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan dan memperkuat langkah pencegahan DBD di lingkungan rumah masing-masing. Upaya pemberantasan sarang nyamuk secara rutin dinilai menjadi kunci penting untuk menekan risiko penularan penyakit selama musim hujan berlangsung.

    Entomolog Ahli Madya Dinas Kesehatan Kota Banda Aceh, Darmansyah, mengatakan pencegahan penyakit DBD harus dimulai dari lingkungan rumah tangga, terutama dengan memperhatikan tempat-tempat yang berpotensi menjadi sarang nyamuk.

    “Kita mulai dari bak mandi, vas bunga bahkan kaleng-kaleng bekas di rumah,” ujar Darmansyah kepada acehtoday.id/, Selasa (2/6/2026).

    Menurutnya, langkah sederhana tersebut sering kali dianggap sepele oleh masyarakat, padahal memiliki peran besar dalam mengendalikan populasi nyamuk penyebab DBD.

    Darmansyah menjelaskan pihaknya terus mengimbau masyarakat dan kader kesehatan desa untuk rutin melakukan survei jentik nyamuk setiap bulan guna menekan angka kasus DBD di Kota Banda Aceh.

    “Kita mengharuskan kader selama sebulan untuk melakukan survei, paling minimal seratus rumah di desanya masing-masing,” ungkapnya.

    Kegiatan survei jentik tersebut menjadi bagian penting dalam mendeteksi dini keberadaan larva nyamuk sehingga tindakan pencegahan dapat dilakukan sebelum berkembang menjadi ancaman kesehatan masyarakat.

    Ancaman kasus Demam Berdarah Dengue (DBD) di Banda Aceh berpotensi meningkat seiring prakiraan hujan sedang hingga lebat yang dikeluarkan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Aceh pada Selasa (2/6/2026).

    Kasus DBD di Banda Aceh Cenderung Menurun

    Berdasarkan data Dinas Kesehatan Provinsi Aceh, Kota Banda Aceh mencatat sebanyak 339 kasus DBD pada tahun 2024. Jumlah tersebut menurun menjadi 258 kasus sepanjang tahun 2025.

    Sementara hingga April 2026, jumlah kasus yang tercatat sebanyak 35 kasus. Meski menunjukkan tren penurunan, masyarakat tetap diminta meningkatkan kewaspadaan mengingat musim hujan berpotensi mempercepat perkembangbiakan nyamuk.

    Gerakan 3M Plus untuk Cegah DBD

    Dinas Kesehatan Kota Banda Aceh mengajak masyarakat menerapkan Gerakan 3M Plus secara rutin di lingkungan rumah.

    Kuras

    • Bersihkan bak mandi dan wadah penampungan air minimal satu kali dalam seminggu.

    Tutup

    • Tutup rapat seluruh tempat penyimpanan air seperti ember, drum, dan tangki air.

    Daur Ulang

    • Kubur atau manfaatkan kembali barang bekas yang dapat menampung air hujan.

    Plus

    • Taburkan larvasida atau abate pada tempat penampungan air yang sulit dikuras.

    Selain Gerakan 3M Plus, masyarakat juga diminta memperhatikan kebersihan lingkungan sekitar rumah.

    • Membersihkan saluran air dan parit yang tersumbat agar tidak terjadi genangan.
    • Memangkas semak-semak dan tanaman rimbun yang berpotensi menjadi tempat istirahat nyamuk.
    • Menghindari kebiasaan menggantung pakaian bekas pakai di dalam kamar karena dapat menjadi tempat hinggap nyamuk.

    Untuk perlindungan tambahan, warga disarankan:

    • Menggunakan losion atau cairan anti-nyamuk pada kulit yang terbuka.
    • Memasang kelambu terutama untuk bayi, anak-anak, dan lansia.
    • Memasang kawat kasa pada ventilasi dan jendela rumah guna mencegah nyamuk masuk ke dalam rumah.

    Segera Periksa Jika Muncul Gejala

    Masyarakat diimbau untuk tidak mengabaikan gejala awal yang mengarah pada Demam Berdarah Dengue (DBD) maupun Chikungunya. Apabila anggota keluarga mengalami demam tinggi secara mendadak selama dua hingga tujuh hari, disertai nyeri sendi dan otot yang hebat, sakit kepala, mual, muntah, atau muncul bintik-bintik merah pada kulit, segera lakukan pemeriksaan ke puskesmas, klinik, atau fasilitas kesehatan terdekat untuk mendapatkan penanganan medis sedini mungkin.

    Deteksi dan penanganan sejak awal sangat penting untuk mencegah kondisi pasien menjadi lebih parah serta mengurangi risiko komplikasi yang dapat mengancam keselamatan jiwa.

    Masyarakat juga diharapkan tidak melakukan pengobatan sendiri tanpa konsultasi tenaga kesehatan apabila gejala terus berlanjut.

    Kewaspadaan dini, penerapan pola hidup bersih dan sehat, serta menjaga kebersihan lingkungan secara konsisten melalui pemberantasan sarang nyamuk menjadi langkah paling efektif dalam melindungi keluarga dari ancaman DBD dan Chikungunya selama musim hujan di wilayah Banda Aceh, Aceh Besar, dan Sabang.

    Dengan partisipasi aktif seluruh masyarakat, penyebaran penyakit yang ditularkan nyamuk dapat ditekan sehingga risiko terjadinya peningkatan kasus dapat diminimalkan.