Kategori: Aceh Barat Daya

  • Cegah Fatherless, Bupati Abdya Wajibkan Ayah Antar Anak Sekolah

    Cegah Fatherless, Bupati Abdya Wajibkan Ayah Antar Anak Sekolah

    acehtoday.id/ | Banda Aceh – Pemerintah Kabupaten Aceh Barat Daya (Abdya) resmi menerbitkan Surat Edaran Nomor 400.3/296 tentang Gerakan Ayah Mengantar Anak di Hari Pertama Sekolah, yang disingkat GAMAS, untuk tahun ajaran 2026.

    Surat edaran itu ditandatangani langsung oleh Bupati Aceh Barat Daya, Safaruddin, pada 30 Juni 2026, dan baru dikutip publik pada Rabu (8/7/2026).

    Sasaran edaran ini cukup luas, mulai dari kepala perangkat daerah, pimpinan instansi vertikal, direksi BUMN dan BUMD, hingga pimpinan lembaga serta badan usaha swasta yang beroperasi di wilayah Abdya.

    Program GAMAS lahir bukan tanpa alasan. Pemkab Abdya menyebut kebijakan ini sebagai bagian dari upaya memperkuat ketahanan keluarga sekaligus mendongkrak kualitas sumber daya manusia, sejalan dengan visi besar Indonesia Emas 2045.

    Secara teknis, seluruh pimpinan instansi di Abdya diminta memberi kelonggaran bagi pegawai atau karyawan yang memiliki anak usia sekolah agar bisa mengantar buah hatinya di hari pertama masuk sekolah, tepatnya pada 13 Juli 2026 mendatang.

    Lebih jauh, edaran tersebut juga menyasar dunia pendidikan secara langsung. Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Abdya diinstruksikan menyosialisasikan program ini ke seluruh satuan pendidikan di bawah wewenangnya, sementara sekolah-sekolah diminta menyambut siswa baru dengan melibatkan ayah atau wali ayah dalam kegiatan hari pertama masuk sekolah.

    Soal urgensi program ini, Pemkab Abdya menegaskan bahwa GAMAS dirancang untuk mendorong keterlibatan ayah dalam pengasuhan dan pendidikan anak sejak usia dini.

    Kehadiran sosok ayah dinilai penting untuk menekan fenomena fatherless, yakni minimnya keterlibatan figur ayah dalam tumbuh kembang anak, yang belakangan menjadi sorotan di berbagai daerah.

    Menurut Pemkab, kedekatan emosional antara ayah dan anak yang terbangun sejak dini punya dampak jangka panjang.

    Selain menumbuhkan rasa percaya diri, kehadiran ayah pada momen krusial seperti hari pertama sekolah juga diyakini memberi rasa aman dan kesiapan mental bagi anak untuk memulai proses belajarnya.

    Pemerintah Kabupaten Aceh Barat Daya berharap, langkah sederhana lewat program GAMAS ini bisa berdampak besar.

    Bukan sekadar seremoni tahunan, kehadiran ayah di gerbang sekolah diharapkan menjadi fondasi awal yang membentuk karakter, rasa aman, dan semangat belajar anak sejak langkah pertama mereka memasuki lingkungan sekolah.**

  • Dinilai Boros, Mahasiswa Desak Bupati Abdya Reposisi Anggaran Daerah

    Dinilai Boros, Mahasiswa Desak Bupati Abdya Reposisi Anggaran Daerah

    acehtoday.id/ | Blangpidie – Pengelolaan Anggaran Pendapatan dan Belanja Kabupaten (APBK) Aceh Barat Daya (Abdya) kembali menjadi sorotan setelah seorang mahasiswa secara terbuka menyampaikan mosi tidak percaya terhadap kepemimpinan Bupati Abdya dalam mengelola anggaran daerah.

    Mahasiswa Abdya, Rahmad Fauzi, menilai struktur anggaran yang semestinya menjadi instrumen penggerak perekonomian masyarakat justru lebih banyak diarahkan untuk membiayai belanja birokrasi yang bersifat konsumtif. Menurutnya, kondisi ini bertolak belakang dengan visi “Arah Baru Abdya Maju” yang dulu digaungkan Pemerintah Kabupaten Abdya kepada masyarakat.

    “Hari ini masyarakat Abdya berhak bertanya, di mana letak Arah Baru Abdya Maju yang dulu dinarasikan dengan begitu indah? Realitas yang kami saksikan di lapangan justru memperlihatkan ketidakbecusan yang nyata.

    Dana APBK yang bersumber dari uang rakyat diprioritaskan untuk membiayai fasilitas, perjalanan dinas yang tidak esensial, serta pos anggaran ‘dapur’ pemerintahan yang berlebihan, termasuk sewa operasional yang kami anggap tidak penting,” ujar Rahmad dalam keterangannya.

    Menurut Rahmad, APBK seharusnya difungsikan untuk mempercepat pemerataan ekonomi melalui program-program yang langsung dirasakan masyarakat. Ia mencontohkan sejumlah sektor prioritas yang mestinya mendapat perhatian lebih besar, seperti pemberdayaan pelaku UMKM, penguatan sektor pertanian, peningkatan kualitas pendidikan, pelayanan kesehatan, hingga pembangunan infrastruktur dasar.

    Ia mengingatkan, apabila sebagian besar anggaran justru terserap untuk memenuhi kebutuhan internal birokrasi, maka manfaat APBK bagi masyarakat secara langsung akan semakin mengecil.

    Karena itu, Rahmad meminta Bupati Abdya lebih berhati-hati dalam menggunakan anggaran daerah, mengingat seluruh dana yang dikelola berasal dari uang rakyat dan wajib dipertanggungjawabkan sepenuhnya.

    “Jabatan dan anggaran daerah adalah amanah, bukan fasilitas untuk memanjakan diri maupun kelompok tertentu. Pemerintah harus memastikan setiap rupiah APBK benar-benar memberikan manfaat nyata bagi masyarakat,” tegasnya.

    Rahmad turut mendesak Pemerintah Kabupaten Abdya segera melakukan evaluasi dan reposisi terhadap postur anggaran, agar arahnya lebih berpihak pada kepentingan publik, khususnya masyarakat kecil yang hingga kini masih bergelut dengan berbagai persoalan ekonomi.

    Ia menegaskan bahwa keberhasilan suatu pemerintahan tidak diukur dari besarnya belanja birokrasi, melainkan dari sejauh mana anggaran benar-benar mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

    Sebagai penutup, Rahmad memberi peringatan keras kepada pemerintah daerah. “Jika dalam waktu dekat tidak ada reposisi anggaran yang berpihak kepada rakyat kecil, maka slogan Abdya Maju hanya akan menjadi lelucon politik. Kami mahasiswa Abdya memastikan akan terus mengawal dan menyuarakan kegelisahan rakyat ini melalui berbagai aksi nyata,” tutupnya.**