Kategori: Aceh Selatan

  • Pelaku Perampokan Toko Emas Aceh Selatan Diringkus Polisi 

    acehtoday.id/ | Aceh Selatan – Kepolisian Resor Aceh Selatan menangkap terduga pelaku perampokan toko emas Aceh Selatan hanya berselang sekitar 11 jam sejak aksi bersenjata itu menggegerkan Tapaktuan. Penangkapan berlangsung Sabtu malam, 18 Juli 2026, sekira pukul 20.00 WIB, tak lama setelah peristiwa yang terjadi di pagi hari yang sama.

    Sasaran perampokan adalah Toko Emas Amin Setia di Jalan Merdeka Nomor 126, Gampong Pasar, Kecamatan Tapaktuan.  Kapolres AKBP T. Ricki Fadlianshah melalui keterangan tertulis menyebut hasil ini didapat dari olah tempat kejadian perkara, penelusuran rekaman CCTV, dan pengejaran intensif jejak pelarian pelaku.

    Rekaman kamera pengawas menunjukkan aksi berlangsung sekitar pukul 08.40 WIB. Pelaku beraksi seorang diri, mula-mula berpura-pura menjadi pembeli, sebelum mengeluarkan senjata laras panjang dan menembak kaca etalase hingga pecah.

    Ia lalu menggasak sejumlah perhiasan emas dan kabur mengendarai sepeda motor matic ke arah Ruang Terbuka Hijau Tapaktuan, mengenakan baju serba hitam dan helm putih.

    Keuchik Gampong Pasar, Hendradi Putra, mengaku sempat mendengar suara letusan sebelum warga berteriak memperingatkan adanya perampokan. “Sebelumnya terdengar bunyi letusan senjata. Tak lama kemudian, suasana di sekitar lokasi mendadak heboh setelah terdengar teriakan warga yang memperingatkan adanya aksi perampokan,” ujarnya dikutip dari Antara.

    Hingga kini, polisi belum merinci identitas pelaku, lokasi pasti penangkapan, barang bukti yang diamankan, jenis senjata, motif, maupun nilai kerugian toko. Kabar yang menyebut pelaku diduga oknum aparat keamanan juga belum dikonfirmasi resmi oleh Polres Aceh Selatan.

  • Ada Dokter Sibuk Proyek di Luar? KP2AS Desak Audit Kinerja RSUD Aceh Selatan

    acehtoday.id/ | Tapaktuan — Kualitas pelayanan di RSUD dr. H. Yulidin Away (RSUDYA) kembali disorot. Kaukus Pemuda Peduli Aceh Selatan (KP2AS) mendesak manajemen rumah sakit tipe B milik Pemerintah Kabupaten Aceh Selatan itu segera melakukan evaluasi menyeluruh dan menerapkan sistem pembayaran jasa medis berbasis kinerja dan digitalisasi.

    Koordinator KP2AS, Rusdiman, Sabtu (28/6/2026), menyebut pelayanan di rumah sakit tersebut belum memenuhi harapan masyarakat. Ia mendorong agar evaluasi tidak hanya menyentuh aspek administratif, tetapi juga disiplin kerja, profesionalisme, dan mutu layanan yang diterima pasien secara langsung.

    “Jika kita jujur, pelayanan di rumah sakit tersebut masih jauh dari kata memuaskan. Karena itu harus dilakukan evaluasi secara maksimal dan diterapkan sistem pembayaran jasa medis berbasis digital berdasarkan pelayanan tenaga medis terhadap pasien,” ujarnya dalam rilis yang diterima redaksi.

    Menurut Rusdiman, selama ini perhatian publik terlalu banyak tersedot pada isu keterlambatan pembayaran insentif, sementara kualitas pelayanan kepada pasien justru luput dari perhatian. Ia menyindir, saat insentif terlambat dua bulan, tenaga medis ramai-ramai bersuara. Namun ketika bicara mutu pelayanan, kondisinya tidak kunjung membaik.

    KP2AS mengusulkan agar insentif tenaga medis tidak lagi dibayar secara seragam. Dokter yang disiplin hadir, melayani lebih banyak pasien, dan meraih tingkat kepuasan yang baik, semestinya menerima insentif lebih tinggi dibanding mereka yang kurang disiplin atau lebih banyak menghabiskan waktu di luar tugas pelayanan.

    “Jangan sampai ada dokter yang datang terlambat, pelayanannya tidak maksimal, bahkan lebih sibuk dengan proyek di luar maupun tempat praktik pribadinya, tetapi menerima insentif yang sama dengan mereka yang benar-benar mengabdikan waktu untuk melayani masyarakat,” tegas Rusdiman.

    Ia bahkan mengungkap adanya informasi soal dokter yang sibuk praktik di luar sekaligus menjalin relasi bisnis dengan rekanan atau kontraktor, padahal tugas utama seorang tenaga medis adalah melayani pasien.

    Sebagai solusi konkret, KP2AS mendorong penerapan sistem digital yang mengintegrasikan absensi elektronik, rekam jejak pelayanan, volume tindakan medis, hingga survei kepuasan pasien sebagai dasar penghitungan jasa medis. Digitalisasi ini dinilai tidak hanya menciptakan keadilan bagi tenaga kesehatan berkinerja baik, tetapi juga meningkatkan transparansi keuangan rumah sakit.

    “Penerapan sistem ini juga untuk menghindari permainan dalam pembayaran jasa medis serta meningkatkan efisiensi. Jangan sampai rumah sakit mengeluarkan anggaran besar untuk jasa medis, tetapi pelayanan kepada masyarakat tidak mengalami peningkatan,” kata Rusdiman.

    Usulan KP2AS sejalan dengan tren reformasi tata kelola layanan kesehatan di berbagai rumah sakit pemerintah yang dalam beberapa tahun terakhir mulai mengadopsi rekam medis elektronik, antrean digital, hingga sistem pemantauan indikator mutu. Namun, efektivitas evaluasi itu bergantung pada audit kinerja yang komprehensif, pengukuran kepuasan pasien secara berkala, serta keterbukaan indikator mutu kepada publik.

    Rusdiman menegaskan, tantangan terbesar RSUDYA bukan sekadar menyelesaikan persoalan administratif pembayaran insentif. “Ukuran keberhasilan rumah sakit daerah pada akhirnya bukan terletak pada besarnya belanja operasional, melainkan pada kepuasan pasien dan kualitas pelayanan yang dirasakan masyarakat,” pungkasnya. **

  • Bupati Mirwan Tantang IKAMAS dan HAMAS Buktikan Kontribusi untuk Aceh Selatan

    Bupati Mirwan Tantang IKAMAS dan HAMAS Buktikan Kontribusi untuk Aceh Selatan

    acehtoday.id/ | Banda Aceh – Pelantikan IKAMAS dan HAMAS Banda Aceh menjadi momentum memperkuat sinergi antara masyarakat, mahasiswa, dan Pemerintah Kabupaten Aceh Selatan dalam mendukung percepatan pembangunan daerah. Prosesi pelantikan dipimpin langsung oleh Bupati Aceh Selatan, H. Mirwan MS, SE., M.Sos., pada Jumat (26/6/2026) malam.

    Acara berlangsung khidmat dan dihadiri unsur anggota DPRA Daerah Pemilihan (Dapil) 9, anggota DPRK Aceh Selatan, jajaran Pemerintah Kabupaten Aceh Selatan, Wali Kota Banda Aceh, akademisi, tokoh masyarakat, serta keluarga besar IKAMAS dan HAMAS.

    Dalam sambutannya, Mirwan mengucapkan selamat kepada seluruh pengurus baru sekaligus mengingatkan bahwa kepengurusan organisasi merupakan amanah yang harus dijalankan dengan penuh tanggung jawab.

    Menurutnya, keberadaan IKAMAS dan HAMAS memiliki peran penting sebagai mitra pemerintah dalam mendorong kemajuan Aceh Selatan. Ia menilai pembangunan daerah tidak bisa hanya mengandalkan pemerintah, tetapi membutuhkan dukungan seluruh elemen masyarakat, termasuk putra-putri Aceh Selatan yang sedang menempuh pendidikan maupun berkiprah di luar daerah.

    Bupati juga menegaskan bahwa ide, gagasan, dan inovasi dari masyarakat Aceh Selatan di perantauan merupakan modal berharga untuk mempercepat pembangunan Tanoh Pala di berbagai sektor.

    Karena itu, ia mengajak pengurus IKAMAS dan HAMAS terus berkontribusi dengan memperkuat kolaborasi dengan pemerintah daerah, menjaga nama baik Aceh Selatan melalui prestasi, sekaligus mempererat solidaritas masyarakat Aceh Selatan yang berada di Banda Aceh maupun daerah lainnya.

    Khusus kepada HAMAS, Mirwan berharap organisasi mahasiswa tersebut mampu menjadi wadah pembinaan generasi muda sekaligus laboratorium kepemimpinan yang melahirkan calon pemimpin Aceh Selatan di masa mendatang.

    Di akhir sambutannya, Mirwan turut menyampaikan apresiasi kepada pengurus IKAMAS dan HAMAS periode sebelumnya atas dedikasi mereka menjaga silaturahmi serta kekompakan masyarakat Aceh Selatan. Ia berharap kepengurusan baru dapat melanjutkan estafet organisasi dengan semangat pengabdian, kebersamaan, dan inovasi.

    “Jadikan organisasi ini sebagai ladang ibadah, tempat menempa diri, serta ruang untuk terus berkarya dan berkontribusi bagi kemajuan Aceh Selatan,” tutupnya.**

  • Ironis, Warga Patungan Perbaiki Jalan, FORSIAKUBA Sentil Keras Pemkab Aceh Selatan

    acehtoday.id/ | Aceh Selatan – Puluhan warga Gampong Pasie Kuala Bau, Kecamatan Kluet Utara, Kabupaten Aceh Selatan, bergotong royong memperbaiki jalan desa yang selama ini menjadi akses utama masyarakat, namun kondisinya rusak dan belum mendapat penanganan memadai dari pemerintah.

    Aksi swadaya yang dilakukan warga tersebut mendapat perhatian dari Ketua Forum Silaturahmi Mahasiswa Kuala Bau (FORSIAKUBA), Muksan.

    Menurutnya, kegiatan gotong royong itu tidak hanya mencerminkan semangat kebersamaan masyarakat, tetapi juga menjadi gambaran masih minimnya perhatian pemerintah terhadap infrastruktur dasar di wilayah tersebut.

    "Apa yang terjadi hari ini bukan sekadar gotong royong biasa, ketika masyarakat harus mengumpulkan tenaga, waktu, dan biaya sendiri untuk memperbaiki jalan desa, ini menunjukkan bahwa ada kebutuhan dasar yang belum terpenuhi," kata Muksan kepada acehtoday.id/.

    Ia menjelaskan, jalan tersebut telah lama mengalami kerusakan dan kerap dikeluhkan warga karena menjadi jalur utama untuk menjalankan berbagai aktivitas sehari-hari. Namun hingga kini, perbaikan yang diharapkan masyarakat belum juga terealisasi.

    Menurut Muksan, kondisi tersebut seharusnya menjadi perhatian serius bagi Pemerintah Kabupaten Aceh Selatan maupun DPRK Aceh Selatan agar pembangunan infrastruktur desa dapat menjadi prioritas.

    “Masyarakat tidak meminta sesuatu yang berlebihan. Mereka hanya menginginkan akses jalan yang layak untuk menu

    njang aktivitas ekonomi, pendidikan, dan kebutuhan sehari-hari,” ujarnya.

    Ia menilai, inisiatif warga memperbaiki jalan secara mandiri merupakan bentuk kepedulian terhadap lingkungan sekaligus cerminan kekecewaan atas lambannya penanganan infrastruktur yang menjadi kebutuhan vital masyarakat.

    FORSIAKUBA Apresiasi Warga

    Meski demikian, Muksan mengapresiasi semangat gotong royong yang ditunjukkan warga Pasie Kuala Bau, menurutnya, budaya kebersamaan tersebut merupakan nilai positif yang harus terus dijaga.

    “Gotong royong adalah budaya luhur masyarakat kita. Namun, semangat kebersamaan warga tidak boleh dijadikan alasan bagi pemerintah untuk mengabaikan tanggung jawabnya dalam menyediakan infrastruktur yang layak,” tegasnya.

    FORSIAKUBA berharap pemerintah daerah dapat segera mengambil langkah konkret untuk memperbaiki jalan tersebut dan memastikan kebutuhan dasar masyarakat terpenuhi.

    “Rakyat membutuhkan pelayanan yang nyata dan kehadiran pemerintah dalam menyelesaikan persoalan yang mereka hadapi, apa yang dilakukan masyarakat hari ini menjadi pengingat bahwa pembangunan harus benar-benar menyentuh kebutuhan warga di lapangan,” pungkas Muksan.(mol)