Tag: air baku PDAM

  • Sungai Jantho Tercemar, Pasokan Air PDAM Aceh Besar dan Banda Aceh Terancam

    Sungai Jantho Tercemar, Pasokan Air PDAM Aceh Besar dan Banda Aceh Terancam

    acehtoday.id/ | Banda Aceh – Lebih dari 100 ribu pelanggan rumah tangga PDAM di Aceh Besar dan Kota Banda Aceh terancam krisis air bersih. Ancaman ini muncul menyusul temuan terbaru soal meluasnya aktivitas Pertambangan Emas Tanpa Izin (PETI) di kawasan hutan Mukim Jantho, yang mencemari sungai sumber air baku kedua daerah tersebut.

    Direktur Eksekutif Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI) Aceh, Ahmad Salihin, menjelaskan bahwa sungai yang mengalir dari kawasan hutan Jantho selama ini menjadi tulang punggung pasokan air baku bagi PDAM Aceh Besar dan Banda Aceh.

    Jika pencemaran benar-benar terjadi, dampaknya akan dirasakan langsung oleh puluhan ribu rumah tangga yang bergantung pada layanan air bersih dari kedua PDAM tersebut.

    "Sungai yang terdampak aktivitas PETI merupakan sumber air baku utama bagi PDAM di Aceh Besar dan Kota Banda Aceh," demikian inti keterangan Ahmad Salihin kepada acehtoday.id/.

    Dampak pencemaran sebenarnya sudah dirasakan masyarakat sekitar sungai dalam beberapa waktu terakhir. Air yang biasanya jernih kini berubah keruh sehingga tidak lagi bisa dimanfaatkan untuk kebutuhan sehari-hari. Warga yang sebelumnya menggantungkan hidup dari sungai, misalnya untuk mencari ikan, kini kehilangan sumber penghasilan tersebut.

    Bukan hanya soal ekonomi, sejumlah tradisi sosial masyarakat setempat pun ikut terganggu. Kebiasaan mencari ikan untuk kebutuhan kenduri maupun santunan anak yatim yang selama ini melekat dalam kehidupan warga, kini tidak bisa lagi dilakukan karena kondisi sungai yang sudah tidak layak.

    Ancaman Merkuri dan Sianida Mengintai

    Menurut Ahmad, kekeruhan air yang terjadi saat ini sebenarnya baru dampak jangka pendek. Persoalan yang lebih besar justru mengintai dalam jangka panjang, yakni potensi pencemaran akibat penggunaan bahan kimia berbahaya seperti merkuri dan sianida dalam proses pengolahan emas.

    Ahmad mengakui, hingga kini belum ada kepastian apakah kedua bahan kimia tersebut sudah benar-benar mencemari sungai di kawasan Jantho. Meski begitu, ia mengingatkan bahwa pola pertambangan ilegal di berbagai daerah lain kerap menggunakan merkuri dan sianida dalam proses pengolahan emas skala kecil, sehingga potensi pencemaran ini tidak bisa dianggap remeh.

    WALHI Aceh mendesak agar pengujian kualitas air dilakukan secara rutin, khususnya pada saat aktivitas tambang sedang berlangsung dan kondisi sungai dalam keadaan keruh. Menurut Ahmad, hal ini penting agar hasil uji laboratorium benar-benar mencerminkan tingkat pencemaran yang sesungguhnya.

    “Kalau pengujian dilakukan saat tambang tidak beroperasi, hasilnya bisa saja terlihat aman, padahal saat aktivitas berlangsung kondisinya jauh berbeda,” ujarnya.

    Ancaman Ketahanan Air Perkotaan

    Ahmad menegaskan bahwa persoalan PETI di Jantho bukan lagi sekadar isu lingkungan lokal, melainkan ancaman langsung terhadap ketahanan air bersih masyarakat perkotaan.

    Ia berharap seluruh pihak, mulai dari pemerintah daerah, aparat penegak hukum, hingga instansi pengelola sumber daya air, dapat segera bergerak bersama sebelum dampak pencemaran benar-benar dirasakan secara luas oleh masyarakat.

    Penanganan yang menyeluruh, kata Ahmad, harus melibatkan langkah pemeriksaan kualitas air secara berkala sebagai bentuk mitigasi dini, mengingat nasib puluhan ribu rumah tangga pelanggan PDAM bergantung pada kelestarian sungai tersebut.**