Seputar Aceh – Nilai tukar rupiah kembali mendekati ambang batas psikologis di level Rp 18.000 per dolar AS. Tekanan ini terutama datang dari sisi eksternal akibat menguatnya kurs dolar AS terhadap mata uang global.
Sebagaimana dilaporkan oleh Kompas.id, dalam perdagangan Rabu (24/6/2026), rupiah bergerak di kisaran level Rp 17.960, melemah sebesar 0,57 persen dibandingkan penutupan pasar sebelumnya. Secara tahun kalender, depresiasi rupiah tercatat sebesar 7,66 persen. Sebelumnya, nilai tukar rupiah sempat menembus level Rp 18.000 pada 4 Juni lalu.
Tekanan Eksternal dan Internal pada Rupiah
Kondisi ini kemudian direspons dengan pengetatan kebijakan moneter oleh Bank Indonesia (BI). Dalam sebulan terakhir, BI tercatat sudah mengerek suku bunga acuannya sebanyak tiga kali total sebesar 100 basis poin (bps) hingga ke level 5,75 persen. Namun, rupiah selama periode tersebut masih melemah 2,92 persen, dari rata-rata sebelum kenaikan suku bunga sebesar Rp 17.368,53 per dolar AS menjadi Rp 17.877,42 per dolar AS.
Pada saat yang sama, indeks dolar AS terhadap mata uang utama global (DXY) menguat ke level 101,48 atau tertinggi dalam 13 bulan terakhir sejak Mei 2025. Penguatan ini setidaknya terjadi dalam sepekan terakhir mencapai 2 persen dan sebesar 3 persen secara tahun kalender berjalan.
Pergeseran Arus Modal ke Aset Aman
Kondisi tersebut disebabkan oleh pergeseran arus modal dari saham-saham teknologi ke kelas aset aman (safe haven). Permintaan terhadap dolar AS dan obligasi Pemerintah AS meningkat diikuti dengan aksi jual besar-besaran di saham teknologi dan semikondutor yang memicu anjloknya saham global.
”Dolar AS masih menjadi aset safe haven pilihan,” kata Kepala Strategi Valuta Asing di National Australia Bank, Ray Attrill, sebagaimana dikutip Reuters. Pasar cenderung melihat keputusan untuk mulai beralih ke kelas aset aman saat ini merupakan momentum yang menguntungkan.
Proyeksi Kenaikan Suku Bunga di AS
Lonjakan permintaan terhadap aset aman ini terjadi seiring ekspektasi pasar terhadap kenaikan suku bunga acuan AS yang terus meningkat. Pasar memperkirakan peluang kenaikan suku bunga sebesar 25 bps sebesar 37 persen pada Juli 2026 dan sebesar 70 persen pada September 2026.
Menurut Ray, pasar cenderung melihat keputusan untuk mulai beralih ke kelas aset aman saat ini merupakan momentum yang menguntungkan. Koreksi terhadap sentimen ini menunjukkan bahwa investor terus mencari perlindungan terhadap ketidakpastian pasar.
Kesimpulan Dampak Suku Bunga terhadap Rupiah
Dalam menghadapi tekanan yang terus berlanjut, langkah-langkah strategis dari Bank Indonesia dan respons investor akan menjadi kunci dalam menjaga stabilitas nilai tukar rupiah. Keberlanjutan situasi ini memerlukan perhatian semua pihak terkait, agar dapat mengatasi tantangan yang ada dan mencari solusi yang tepat.