Tag: Bank Indonesia

  • Ida Tukar Uang Rp 1,54 M yang Rusak Karena Banjir Rob di Tegal

    Ida Tukar Uang Rp 1,54 M yang Rusak Karena Banjir Rob di Tegal

    Rakyat News – Ida, seorang ibu berusia 52 tahun, mengajukan penukaran uang Rp 1,54 miliar yang rusak akibat banjir rob ke Bank Indonesia Perwakilan Tegal. Uang tersebut rencananya akan digunakan untuk biaya kuliah anaknya di kedokteran.

    Ida menyimpan uang hasil penjualan tanah di dalam koper. Koper itu terendam saat banjir rob melanda kawasan tempat tinggalnya pada Februari 2026.

    Beberapa bulan kemudian, Ida teringat koper itu dan mengambilnya. Bagian luar koper dipenuhi kerak lumpur, dan lembaran uang di dalamnya menghitam, lembap, serta saling menempel karena terlalu lama terendam.

    Ida merasa panik karena uangnya rusak. Ia mendengar dari seorang kenalan di bank bahwa ia bisa menukarnya di Bank Indonesia.

    Setelah membawa uang tersebut ke BI Tegal, petugas menghitung kembali nominal dan memisahkan lembaran uang yang menempel satu sama lain sebelum melakukan penelitian.

    Kepala Perwakilan Bank Indonesia Tegal, Bimala, menjelaskan bahwa mereka menerima permohonan penukaran uang milik Ida yang mengalami kerusakan. Uang tersebut berasal dari Batang dan rusak akibat banjir rob.

    Bimala menyatakan bahwa hasil penelitian menunjukkan uang senilai Rp 1,51 miliar memenuhi syarat untuk diganti dengan uang rupiah yang layak edar.

    Sisanya tidak dapat diganti karena tidak memenuhi ketentuan yang berlaku. Dari total Rp 1,54 miliar, hanya Rp 1,51 miliar yang bisa diganti.

  • Uang Rp 1,54 M untuk Kuliah Anak Rusak Akibat Banjir Rob

    acehtoday.id/ | Jakarta – Ida (52) dari Batang mengajukan penukaran uang senilai Rp 1,54 miliar yang rusak akibat banjir rob ke Bank Indonesia (BI) Perwakilan Tegal. Uang tersebut rencananya digunakan untuk biaya kuliah anaknya di kedokteran.

    Sebagaimana dilaporkan oleh detikNews, Ida menyimpan uang hasil penjualan tanah di dalam koper. Koper itu terendam ketika banjir rob melanda daerah tempat tinggalnya pada Februari 2026. Seiring dengan itu, air laut juga kembali menggenangi rumahnya beberapa kali sehingga koper tidak segera diperiksa.

    Baru beberapa hari lalu, Ida teringat untuk memeriksa koper tersebut. Saat dibuka, koper itu dipenuhi kerak lumpur, dan lembaran uang di dalamnya menghitam di bagian tepi, lembap, dan saling menempel.

    Ida sempat panik melihat kondisi uangnya yang rusak. Beruntung, ia memiliki kenalan di bank yang menyarankan agar mengajukan penukaran di BI. Ia pun membawa seluruh uang yang rusak ke BI Perwakilan Tegal untuk ditukarkan.

    Petugas bank kemudian menghitung kembali nominal uang dan memisahkan lembaran yang saling menempel sebelum dilakukan penelitian. Kepala Perwakilan Bank Indonesia Tegal, Bimala, mengonfirmasi bahwa pihaknya menerima permohonan penukaran uang milik Ida yang mengalami kerusakan akibat banjir rob.

    Bimala menjelaskan bahwa uang tersebut adalah milik Ida, yang datang untuk menukar dengan uang baru setelah rumahnya terendam air rob. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dari total uang Rp 1,54 miliar, hanya Rp 1,51 miliar yang memenuhi syarat untuk diganti dengan uang rupiah yang layak edar.

    Menurut laporan, sisanya tidak dapat diganti karena tidak memenuhi ketentuan yang berlaku. Proses ini menunjukkan bagaimana lembaga keuangan dapat membantu masyarakat yang terdampak bencana.

    Kasus ini menyoroti pentingnya tindakan cepat dalam menangani kerusakan akibat bencana. Mengingat banyak masyarakat yang menyimpan uang tunai di rumah, mereka perlu memahami prosedur penukaran uang rusak agar tidak mengalami kerugian lebih lanjut.

  • Rupiah Kembali Dekati Ambang Batas Rp 18.000

    Seputar Aceh – Nilai tukar rupiah kembali mendekati ambang batas psikologis di level Rp 18.000 per dolar AS. Tekanan ini terutama datang dari sisi eksternal akibat menguatnya kurs dolar AS terhadap mata uang global.

    Sebagaimana dilaporkan oleh Kompas.id, dalam perdagangan Rabu (24/6/2026), rupiah bergerak di kisaran level Rp 17.960, melemah sebesar 0,57 persen dibandingkan penutupan pasar sebelumnya. Secara tahun kalender, depresiasi rupiah tercatat sebesar 7,66 persen. Sebelumnya, nilai tukar rupiah sempat menembus level Rp 18.000 pada 4 Juni lalu.

    Tekanan Eksternal dan Internal pada Rupiah

    Kondisi ini kemudian direspons dengan pengetatan kebijakan moneter oleh Bank Indonesia (BI). Dalam sebulan terakhir, BI tercatat sudah mengerek suku bunga acuannya sebanyak tiga kali total sebesar 100 basis poin (bps) hingga ke level 5,75 persen. Namun, rupiah selama periode tersebut masih melemah 2,92 persen, dari rata-rata sebelum kenaikan suku bunga sebesar Rp 17.368,53 per dolar AS menjadi Rp 17.877,42 per dolar AS.

    Pada saat yang sama, indeks dolar AS terhadap mata uang utama global (DXY) menguat ke level 101,48 atau tertinggi dalam 13 bulan terakhir sejak Mei 2025. Penguatan ini setidaknya terjadi dalam sepekan terakhir mencapai 2 persen dan sebesar 3 persen secara tahun kalender berjalan.

    Pergeseran Arus Modal ke Aset Aman

    Kondisi tersebut disebabkan oleh pergeseran arus modal dari saham-saham teknologi ke kelas aset aman (safe haven). Permintaan terhadap dolar AS dan obligasi Pemerintah AS meningkat diikuti dengan aksi jual besar-besaran di saham teknologi dan semikondutor yang memicu anjloknya saham global.

    ”Dolar AS masih menjadi aset safe haven pilihan,” kata Kepala Strategi Valuta Asing di National Australia Bank, Ray Attrill, sebagaimana dikutip Reuters. Pasar cenderung melihat keputusan untuk mulai beralih ke kelas aset aman saat ini merupakan momentum yang menguntungkan.

    Proyeksi Kenaikan Suku Bunga di AS

    Lonjakan permintaan terhadap aset aman ini terjadi seiring ekspektasi pasar terhadap kenaikan suku bunga acuan AS yang terus meningkat. Pasar memperkirakan peluang kenaikan suku bunga sebesar 25 bps sebesar 37 persen pada Juli 2026 dan sebesar 70 persen pada September 2026.

    Menurut Ray, pasar cenderung melihat keputusan untuk mulai beralih ke kelas aset aman saat ini merupakan momentum yang menguntungkan. Koreksi terhadap sentimen ini menunjukkan bahwa investor terus mencari perlindungan terhadap ketidakpastian pasar.

    Kesimpulan Dampak Suku Bunga terhadap Rupiah

    Dalam menghadapi tekanan yang terus berlanjut, langkah-langkah strategis dari Bank Indonesia dan respons investor akan menjadi kunci dalam menjaga stabilitas nilai tukar rupiah. Keberlanjutan situasi ini memerlukan perhatian semua pihak terkait, agar dapat mengatasi tantangan yang ada dan mencari solusi yang tepat.