acehtoday.id/ | Banda Aceh – Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Aceh menanggapi keluhan masyarakat terhadap kenaikan harga Pertamax dan Pertamax Green beberapa waktu lalu.
Menurutnya kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) Pertamax merupakan dampak dari kondisi pasar global dan geopolitik dunia sehingga pemerintah daerah tidak dapat mengintervensi harga.
“Pertamax dan Pertamax Turbo bukan BBM subsidi. Harganya mengikuti harga pasar dunia yang dipengaruhi kondisi geopolitik, termasuk situasi di Timur Tengah dan Selat Hormuz yang menyebabkan harga minyak naik,” kata Kepala Bidang Minyak dan Gas Bumi Dinas ESDM Aceh, Dian Budi Dharma, Rabu (17/6/2026).
Dian mengatakan berbeda dengan BBM non-subsidi, pemerintah tetap menjamin ketersediaan dan keterjangkauan BBM subsidi bagi masyarakat.
“Pemerintah tetap menjaga BBM subsidi agar pasokannya aman dan harganya tetap terjangkau oleh masyarakat,” ujarnya.
Dian mengakui kenaikan harga Pertamax berpotensi mendorong masyarakat beralih ke Pertalite yang lebih murah. Fenomena serupa sebelumnya juga terjadi pada sektor solar subsidi.
Berdasarkan data Dinas ESDM Aceh per 4 Juni 2026, konsumsi Bio Solar subsidi di Aceh telah melampaui kuota hingga 12 persen, tertinggi di Sumatera.
“Kalau solar subsidi, kita sudah over 12 persen. Itu yang tertinggi di Sumatera. Disparitas harga yang besar antara Biosolar dengan Dexlite atau Pertamina Dex membuat banyak pengguna beralih ke BBM subsidi,” jelasnya.
Dian menilai kondisi Pertalite hingga awal Juni 2026 masih relatif aman. Ia mengungkapkan bahwa konsumsi Pertalite di Aceh justru masih berada di bawah kuota sekitar 4 persen.
“Kalau Pertalite, kondisi 4 Juni kemarin masih under 4 persen. Jadi sebenarnya masih aman,” ujar Dian.
Meski demikian, ia mengakui kenaikan harga Pertamax hingga Rp16.250 per liter berpotensi mengubah pola konsumsi masyarakat.
“Yang mahal-mahal (konsumsinya) itu turun. Orang larinya ke yang lebih murah. Dengan harga Pertamax yang naik, tentu ada shifting konsumsi ke Pertalite,” tuturnya.
Dian menambahkan, fenomena peralihan konsumsi ini juga terlihat dari meningkatnya kendaraan dengan spesifikasi tinggi yang mulai mengisi Pertalite.
“Kita lihat sekarang banyak mobil-mobil yang sebenarnya kelas tinggi ikut mengisi Pertalite. Ini dampak dari disparitas harga yang semakin lebar,” katanya.
Adapun pihak ESDM Aceh berencana mengirimkan surat kepada Badan Pengatur Hilir Minyak dan Gas Bumi (BPH Migas) meminta tambahan kuota jika diperlukan untuk mengantisipasi potensi kekurangan pasokan.
“Kita akan menyurati BPH Migas agar jangan sampai terjadi kekurangan pasokan. Kalau memang nanti terjadi over kuota, kita akan minta penambahan,” ujarnya.
Menurut Dian, sebenarnya kuota BBM subsidi Aceh pada tahun 2026 sudah mengalami peningkatan dibanding tahun sebelumnya. Tercatat, BBM jenis Pertalite tahun 2025 adalah sebesar 576.147 kiloliter dan meningkat menjadi 588.680 kiloliter pada tahun 2026.
Sedangkan kuota Biosolar naik dari 410.544 kiloliter pada 2025 menjadi 430.078 kiloliter pada 2026. “Kuota BBM subsidi Aceh sebenarnya bertambah dibanding tahun lalu, baik Pertalite maupun Biosolar,” tambahnya.
Dian menegaskan pentingnya pengawasan agar BBM subsidi tepat sasaran dan tidak disalahgunakan.
“Kita minta pengawasan bersama dari masyarakat. Jangan ada penimbunan dan industri jangan menggunakan BBM subsidi karena itu tidak diperbolehkan,” tegas Dian.
Ia juga mengimbau masyarakat melaporkan apabila menemukan dugaan penyalahgunaan BBM subsidi. “Kalau ada tindakan-tindakan kecurangan, laporkan saja. Nanti bisa kita tindak lanjuti,” pungkasnya.
Sebelumnua, PT Pertamina Persero resmi menaikkan harga sejumlah BBM sejak Rabu (10/6/2026). Diketahui harga Pertamax Ron 92 dari Rp12.300 per liter menjadi Rp16.250 per liter dan Pertamax Ron 95 dari Rp12.900 per liter menjadi Rp17.000. Sementara harga Pertalite masih normal Rp10.000 per liter dan Biosolar Rp6.800 per liter.
Akibat kenaikan harga BBM jenis Pertamax, banyak masyarakat yang mengeluh dan mulai beralih menggunakan BBM jenis Pertalite yang dinilai lebih murah.
Meski BBM jenis Pertamax mengalami kenaikan, terpantau hingga saat ini antrian BBM jenis Pertalite di SPBU-SPBU Kota Banda Aceh dan Aceh Besar terpantau masih normal.
