Tag: Harga BBM

  • Penurunan Harga BBM Pertamina, Shell, BP, dan Vivo Terbaru

    Penurunan Harga BBM Pertamina, Shell, BP, dan Vivo Terbaru

    Rakyat News – Mulai 1 Juli 2026, harga Bahan Bakar Minyak (BBM) nonsubsidi mengalami penurunan. Penyesuaian harga ini dilakukan oleh beberapa badan usaha penyalur BBM, termasuk Pertamina, Shell Indonesia, dan BP-AKR. Penurunan harga ini berlaku di seluruh SPBU di Indonesia, termasuk Jabodetabek.

    Di SPBU Pertamina, harga Pertamax Turbo turun Rp 1.450 dari Rp 20.750 menjadi Rp 19.300 per liter. Selain itu, Pertamax Dex turun Rp 3.650 dari Rp 24.800 menjadi Rp 21.150 per liter. Dexlite juga turun Rp 3.300 dari Rp 23.000 menjadi Rp 19.700 per liter.

    Sementara itu, harga Pertamax (RON 92) dan Pertamax Green (RON 95) tetap bertahan di Rp 16.250 dan Rp 17.000 per liter. Harga BBM bersubsidi, seperti Pertalite (RON 90) dan Solar, masing-masing tetap di Rp 10.000 dan Rp 6.800 per liter.

    BP-AKR juga menyesuaikan harga BBM, dengan BP Ultimate Diesel kini dibanderol Rp 21.340 per liter, turun dari Rp 25.060 per liter. Sementara harga bensin RON 92 tetap di Rp 16.670 per liter.

    SPBU Shell turut menurunkan harga BBM, terutama untuk jenis diesel. Shell V-Power Diesel kini seharga Rp 21.340 per liter, berkurang dari Rp 24.490 per liter. Harga untuk produk lainnya belum dirilis.

    Vivo Energy Indonesia juga melaksanakan penyesuaian harga. Vivo Revvo 92 dan 95 masing-masing dibanderol Rp 16.670 dan Rp 17.240 per liter. Vivo Diesel Primus kini seharga Rp 21.340 per liter.

    Untuk SPBU Mobil Indostation, Gasoline 92 ditetapkan seharga Rp 16.670 per liter. Dengan penyesuaian ini, masyarakat diharapkan dapat merasakan dampak positif dari penurunan harga BBM ini.

  • Trump Umumkan Diskon BBM di Philadelphia Sebelum 4 Juli

    Seputar Aceh – Pada Rabu, Presiden Donald Trump mengumumkan bahwa harga bahan bakar akan diturunkan di beberapa stasiun pengisian bahan bakar di area Philadelphia menjelang perayaan Hari Kemerdekaan ke-4 Juli. Dia juga menyatakan bahwa harga minyak dan gas sedang mengalami penurunan.

    Sebagaimana dilaporkan oleh Fox Business, mulai Jumat, Freedom Fuel Network akan menurunkan harga di 25 stasiun di Greater Philadelphia Area. Trump mengekspresikan rasa bangganya di media sosial, menyoroti bahwa ini dilakukan oleh pengecer yang ingin merayakan ulang tahun ke-250 Amerika.

    Diskusi Diskon BBM di Philadelphia

    Trump menyebutkan bahwa Freedom Fuel Network “mengambil inisiatif” dalam penurunan harga ini dan mendorong pengecer lain untuk mengikuti jejak mereka. “Mereka melakukan ini karena mereka mencintai Amerika. Kami bangga merayakan Ulang Tahun ke-250 Amerika di Pennsylvania, tempat lahir Deklarasi Kemerdekaan yang sangat istimewa,” tulis Trump di akun Truth Social-nya.

    Dalam pengumumannya, Trump juga menyatakan keoptimisan mengenai masa depan harga BBM, mengatakan bahwa “Amerika tidak pernah sekuat sekarang” dan bahwa harga gas akan segera kembali ke level terendah yang pernah dinikmati warga sebelum ketegangan di Iran. Namun, dia mengakui bahwa penurunan harga saat ini belum secepat yang diharapkannya.

    Analisis Harga BBM dan Tanggapan Trump

    Trump menyatakan bahwa meskipun harga minyak sedang mengalami penurunan yang cepat, harga gas di pompa tidak turun dengan kecepatan yang sama. Dia mencatat, “Seperti yang saya janjikan, harga minyak sedang turun dengan cepat, dan harga gas di pompa juga turun, tetapi tidak secepat yang seharusnya.” Ini menandakan adanya kritik terhadap pengecer yang menurutnya masih menetapkan harga terlalu tinggi.

    Permintaan Trump untuk penurunan harga secara mendesak terjadi setelah dia mengancam penyelidikan terhadap praktik penetapan harga yang tinggi di kalangan pengecer. Dalam sebuah pos pada hari Senin, ia menyatakan bahwa harga gas harus ditargetkan sekitar $2,50 per galon, yang akan lebih rendah dibandingkan dengan harga rata-rata saat ini.

    Penutup Lanjutan Penurunan Harga BBM

    Langkah ini menunjukkan usaha pemerintah untuk meredakan kekhawatiran konsumen dan mengurangi beban biaya hidup menjelang perayaan penting. Penurunan harga ini diharapkan dapat memberikan dampak positif bagi masyarakat di Philadelphia, terutama di momen menjelang Hari Kemerdekaan.

    Dalam konteks ini, penting bagi pengecer untuk mengambil tindakan serupa agar masyarakat dapat menikmati harga BBM yang lebih terjangkau. Dengan pendekatan ini, diharapkan akan ada penyesuaian harga yang lebih signifikan di seluruh wilayah.

  • Pertamina Tidak Mau Menurunkan Harga Pertamax

    acehtoday.id/ | Banda Aceh –  Harga BBM Pertamina 1 Juli 2026 untuk varian Pertamax (RON 92) dipastikan tidak berubah, tetap bertahan di angka Rp16.250 per liter, meski tiga produk BBM non-subsidi lain justru dipangkas signifikan oleh PT Pertamina Patra Niaga.

    Kebijakan ini mulai berlaku serentak hari Rabu, 1 Juli 2026, dan menjadi bagian dari evaluasi harga berkala yang rutin dilakukan Subholding Commercial & Trading Pertamina tersebut.

    Berdasarkan data resmi Pertamina Patra Niaga, penurunan paling tajam justru dialami Pertamina DEX (CN 53), yang kini dibanderol Rp21.150 per liter atau anjlok Rp3.650 dibandingkan harga Juni 2026 sebesar Rp24.800 per liter.

    Disusul Dexlite (CN 51) yang turun Rp3.300 menjadi Rp19.700 per liter, serta Pertamax Turbo (RON 98) yang berkurang Rp1.450 menjadi Rp19.300 per liter di wilayah Jakarta.

    Meski tren penurunan mendominasi, harga Pertamax (RON 92) dan Pertamax Green (RON 95) tidak bergeser dari posisi terakhir sejak 10 Juni 2026, masing-masing tetap di Rp16.250 dan Rp17.000 per liter. Adapun BBM bersubsidi, Pertalite dan Solar, juga tak tersentuh perubahan, tetap di Rp10.000 dan Rp6.800 per liter.

    Vice President Corporate Communication Pertamina Patra Niaga, Kitty Andhora, menjelaskan penyesuaian harga BBM Pertamina 1 Juli 2026 ini mengacu pada dinamika harga minyak dunia, aspek fiskal, dan daya beli masyarakat, serta telah dikoordinasikan dengan pemerintah.

    “Penyesuaian harga BBM non subsidi mengacu pada dinamika harga pasar minyak dunia dan mengikuti regulasi atau mekanisme yang berlaku,” ujarnya dalam siaran pers, Rabu (1/7/2026).

  • Harga BBM Nonsubsidi Turun per 1 Juli 2026

    Harga BBM Nonsubsidi Turun per 1 Juli 2026

    acehtoday.id/ | Jakarta – Harga BBM nonsubsidi turun mulai berlaku efektif pada 1 Juli 2026 pukul 00.00 WIB, menyusul pelemahan harga minyak dunia. PT Pertamina Patra Niaga mengumumkan penyesuaian ini sebagai bagian dari evaluasi berkala yang mengacu pada dinamika pasar minyak global, aspek fiskal, dan daya beli masyarakat.

    Vice President Corporate Communication Pertamina Patra Niaga, Kitty Andhora, melalui keterangan tertulis menjelaskan bahwa langkah tersebut telah dikoordinasikan dengan pemerintah dan mengikuti mekanisme yang berlaku. Untuk wilayah dengan pajak bahan bakar kendaraan bermotor (PBBKB) 5 persen, Pertamax Turbo turun 7 persen dari Rp20.750 menjadi Rp19.300 per liter.

    Penurunan lebih tajam terjadi pada Pertamina Dex, yang anjlok 15 persen dari Rp24.800 menjadi Rp21.150 per liter. Dexlite ikut melemah 14 persen, dari Rp23.000 menjadi Rp19.700 per liter. Harga avtur untuk penerbangan domestik di Bandara Soekarno-Hatta juga disesuaikan turun 14 persen, dari Rp22.190 menjadi Rp19.190 per liter sebelum pajak.

    Ekonom UPN Veteran Jakarta, Achmad Nur Hidayat, seperti dilansir Kompas menilai penurunan harga BBM nonsubsidi ini patut diapresiasi di tengah tekanan biaya hidup, meski dampaknya terbatas karena Pertalite dan Pertamax RON 92 tidak mengalami perubahan harga. Menurutnya, mayoritas konsumen kelas menengah yang bergantung pada dua jenis BBM tersebut belum merasakan manfaat langsung.

    Ia menambahkan, tekanan ekonomi rumah tangga masih tinggi akibat inflasi Mei 2026 yang mencapai 3,08 persen secara tahunan, naik dari 2,42 persen pada April. Kenaikan BI-Rate menjadi 5,75 persen pada Juni 2026 turut membebani cicilan dan biaya usaha masyarakat.

    Achmad mendorong pemerintah transparan soal formula harga, komponen pajak daerah, dan margin distribusi, sekaligus menyiapkan stimulus tambahan seperti diskon transportasi publik dan insentif tarif listrik bagi kelas menengah bawah.

    Di lapangan, Rudi (50), karyawan swasta di Jakarta, mengaku penurunan harga BBM nonsubsidi belum terasa karena ia lebih banyak menggunakan Pertalite dan Pertamax, yang antreannya justru kerap mengular di sejumlah SPBU.

  • Pertamina Tambah Pasokan BBM Pertalite di Langsa, Minta Masyarakat Jangan Panic Buying

    Pertamina Tambah Pasokan BBM Pertalite di Langsa, Minta Masyarakat Jangan Panic Buying

    acehtoday.id/ | Langsa – PT Pertamina Patra Niaga Regional Sumatra Bagian Utara (Sumbagut) meningkatkan penyaluran BBM subsidi jenis Pertalite di Kota Langsa hingga 22 persen di atas rata-rata normal.

    Langkah tersebut dilakukan untuk mengantisipasi meningkatnya kebutuhan masyarakat terhadap BBM bersubsidi pasca kenaikan harga pertama atau penyesuaian harga BBM non-subsidi.

    Peningkatan konsumsi Pertalite terjadi seiring adanya pergeseran penggunaan BBM non-subsidi ke BBM bersubsidi di sejumlah stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) di Kota Langsa. Kondisi ini menyebabkan kebutuhan Pertalite meningkat pada waktu yang bersamaan di beberapa titik.

    Area Manager Communication, Relations & CSR Pertamina Patra Niaga Regional Sumbagut, Fahrougi Andriani Sumampouw, mengatakan pihaknya terus mengoptimalkan penyaluran BBM guna memastikan kebutuhan energi masyarakat tetap terpenuhi.

    “Pertamina memastikan tidak terdapat gangguan distribusi BBM ke SPBU di wilayah Kota Langsa. Stok BBM terus dimonitor dan dilakukan pengiriman secara berkala sesuai kebutuhan masyarakat agar layanan energi tetap berjalan optimal,” kata Fahrougi, Rabu (17/6/2026).

    Ia menjelaskan, peningkatan pasokan dilakukan melalui penguatan operasional terminal BBM dan armada mobil tangki yang terus disiagakan untuk menjaga kelancaran distribusi ke SPBU.

    Menurutnya, Pertamina terus melakukan pemantauan terhadap kondisi stok dan pola konsumsi masyarakat di lapangan agar penyaluran BBM dapat disesuaikan dengan kebutuhan aktual.

    Pertamina juga mengimbau masyarakat agar menggunakan BBM secara bijak sesuai kebutuhan serta memilih jenis bahan bakar yang sesuai dengan spesifikasi kendaraan.

    Masyarakat diminta tidak melakukan pembelian berlebihan atau panic buying karena ketersediaan pasokan BBM di Kota Langsa dipastikan tetap terjaga.

    Ke depan, Pertamina Patra Niaga Regional Sumbagut akan terus melakukan monitoring dan evaluasi secara berkala terhadap penyaluran BBM di lapangan guna memastikan kebutuhan energi masyarakat di Kota Langsa dapat terpenuhi dengan baik dan layanan distribusi tetap berjalan optimal.**

  • Pertamina Pastikan Stok BBM Pertalite Aman, Imbau Masyarakat Jangan Panik

    Pertamina Pastikan Stok BBM Pertalite Aman, Imbau Masyarakat Jangan Panik

    acehtoday.id/ | Banda Aceh – Pertamina Patra Niaga memastikan stok Bahan Bakar Minyak (BBM) bersubsidi jenis Pertalite dalam kondisi aman dan tercukupi di seluruh jaringan Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) Indonesia.

    Hal ini disampaikan manajemen Pertamina Patra Niaga sebagai bentuk imbauan  kepada masyarakat agar jangan punic buying pasca naiknya harga BBM non-subsidi Pertamak.

    Pertamina menjamin kebutuhan energi masyarakat tetap terpenuhi di tengah komitmen perusahaan dalam menjalankan penugasan penyaluran BBM bersubsidi dari pemerintah secara tepat sasaran.

    Sekretaris Perusahaan Pertamina Patra Niaga, Roberth MV Dumatubun, menyatakan seluruh sistem logistik dan infrastruktur yang terintegrasi telah disiagakan untuk mendukung kelancaran distribusi BBM bersubsidi.

    Pengelolaan rantai pasok energi itu dioptimalkan melalui pengawasan ketat pada terminal BBM, armada distribusi, hingga lembaga penyalur di setiap daerah.

    “Selain memastikan stok Pertalite dalam kondisi tersedia dan distribusi ke seluruh SPBU berjalan normal, Pertamina Patra Niaga juga terus melakukan pemantauan secara realtime terhadap kondisi stok dan penyaluran BBM di seluruh wilayah agar kebutuhan masyarakat dapat terpenuhi dengan baik,” ujar Roberth dalam keterangan resmi, Jumat (12/6/2026).

    Roberth menyatakan, jaringan infrastruktur energi Pertamina yang membentang dari Sabang hingga Merauke, siap melakukan respons cepat melalui skema penguatan distribusi jika terjadi lonjakan konsumsi di wilayah tertentu.

    Pengawasan itu diperkuat melalui koordinasi intensif bersama jaringan unit operasi di delapan cabang kantor wilayah (Regional 1–8) Pertamina Patra Niaga.

    Di samping menjaga keandalan pasokan, Pertamina Patra Niaga menegaskan komitmennya untuk menyalurkan BBM subsidi sesuai dengan regulasi baku yang ditetapkan oleh pemerintah.

    Pihak manajemen Pertamina Patra Niaga mengimbau konsumen (masyarakat)agar lebih bijak dalam memanfaatkan energi bersubsidi. “Kami mengimbau masyarakat untuk bijak menggunakan energi dengan membeli BBM sesuai kebutuhan dan sesuai dengan peruntukannya serta sesuai dengan jenis kendaraan yang digunakan,” pungkas Roberth.

  • Kenaikan Harga BBM Ancam Daya Beli Masyarakat Kelas Menengah

    Kenaikan Harga BBM Ancam Daya Beli Masyarakat Kelas Menengah

    acehtoday.id/ | Jakarta – Pemerintaha Indonesia melalui Pertamina resmi menaikkan harga BBM non-subsidi pertamax dari sebelumnya dijual dengan harga Rp12.300 menjadi Rp 16.250 hingga Rp 17.000 per liter.

    Anggota Komisi VI DPR RI Budi S Kanang menilai kenaikan harga BBM non-subsidi di tengah pelemahan rupiah berpotensi menekan daya beli masyarakat kelas menengah. Menurutnya, kelompok ini menjadi salah satu pihak yang paling rentan karena tidak mendapatkan perlindungan seperti subsidi atau operasi pasar yang umumnya menyasar masyarakat berpenghasilan rendah.

    “Kelas menengah ini yang pasti berdampak. Kalau kelas menengah ke bawah masih ada subsidi, operasi pasar, dan lain sebagainya. Kelas menengah tidak mungkin mendapatkan itu,” ujar Kanang di Gedung Nusantara I, Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, sebagaimana dikutip dari laman dpr.go.id, Kamis (11/6/2026).

    Budi mengatakan, dampak pelemahan rupiah tidak bisa dipandang ringan. Ia menilai pergerakan kurs yang terus melemah dan penurunan indeks harga saham gabungan (IHSG) telah menambah tekanan ekonomi rumah tangga, termasuk melalui kenaikan harga barang konsumsi sehari-hari.

    “Dampak daripada dolar yang membumbung tinggi, IHSG yang merosot, ini juga menjadi beban rakyat. Kenyataannya akibat pelemahan rupiah, beberapa kebutuhan konsumsi harian masyarakat juga meningkat,” katanya.

    Ia memperingatkan bahwa jika tekanan biaya hidup terus meningkat sementara perlindungan sosial tidak menjangkau kelompok menengah, maka sebagian masyarakat berisiko turun kelas secara ekonomi. “Kelas menengah ini akan banyak yang turun menjadi tidak mampu. Dan kalau sudah turun, naik lagi itu susah. Ini yang harus hati-hati,” tegas politisi Fraksi PDI-Perjuangan tersebut.

    Menurut Budi, pemerintah perlu melihat persoalan ini secara lebih menyeluruh, tidak hanya dari sisi stabilitas makro, tetapi juga dari dampaknya terhadap kemampuan belanja rumah tangga. Ia menilai komunikasi kebijakan terkait penyesuaian harga BBM non-subsidi juga perlu diperbaiki agar DPR dan publik mendapatkan penjelasan yang memadai mengenai alasan dan konsekuensi kebijakan tersebut.

    Budi menambahkan, pemerintah perlu menjaga agar tekanan biaya hidup tidak semakin menggerus konsumsi masyarakat. Menurutnya, konsumsi rumah tangga merupakan salah satu penopang penting pertumbuhan ekonomi nasional, sehingga perlindungan terhadap daya beli kelompok menengah perlu menjadi bagian dari strategi stabilisasi ekonomi ke depan.

    “Kita harus menjaga agar daya beli tidak terus tergerus. Kalau konsumsi rumah tangga melemah, dampaknya akan menjalar ke banyak sektor,” pungkasnya.

  • Naikkan Harga BBM Nonsubsidi Pertamax, Pertamina Jamin Pasokan Aman

    Naikkan Harga BBM Nonsubsidi Pertamax, Pertamina Jamin Pasokan Aman

    acehtoday.id/ | Banda Aceh – PT Pertamina Patra Niaga resmi menaikkan harga bakar minyak (BBM) nonsubsidi untuk produk Pertamax dan Pertamax Green 95 yang mulai berlaku pada Rabu (10/6/2026).

    Berdasarkan daftar harga BBM retail nonsubsidi terbaru di Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) per 10 Juni 2026, harga Pertamax (RON 92) mengalami kenaikan dari Rp12.300 per liter menjadi Rp16.250 per liter.

    Sementara itu, untuk produk Pertamax Green 95 (RON 95), harga disesuaikan dari Rp12.900 per liter menjadi Rp17.000 per liter.

    Namun harga Pertamax (RON 92) yang dijual di Provinsi Aceh jauh lebih tinggi dari harga tersebut. Sesuai yang tertera di laman mypertamina.id, harga Pertamax  di tembus Rp 16.650 per liter.

    Di sisi lain, Pertamina Patra Niaga menegaskan tidak ada perubahan harga untuk jenis BBM nonsubsidi lainnya.

    Harga Pertamax Turbo (RON 98) tetap bertahan di angka Rp20.750 per liter, Dexlite (CN 51) Rp23.000 per liter, dan Pertamina Dex (CN 53) seharga Rp24.800 per liter.

    Sebagai bentuk komitmen dalam menjalankan penugasan pemerintah, harga BBM bersubsidi jenis Pertalite dan Biosolar juga dipastikan tidak berubah, masing-masing tetap Rp10.000 per liter dan Rp6.800 per liter.

    Jamin Pasokan Aman

    Corporate Secretary Pertamina Patra Niaga, Roberth MV Dumatubun mengatakan, kebijakan kanaikan harga BBM nonsubsidi tersebut diambil setelah melalui proses koordinasi dengan pemerintah selaku regulator, serta didasarkan pada mekanisme evaluasi berkala yang mempertimbangkan fluktuasi harga minyak dunia dan perkembangan harga pasar keekonomian saat ini.

    Ia menegaskan kebijakan ini untuk memastikan keandalan pasokan energi nasional di tengah dinamika pasar global. Menurutnya, penyesuaian harga merupakan bagian dari implementasi tata kelola energi yang bertujuan menjaga keseimbangan antara keberlangsungan bisnis, kualitas layanan, dan kepastian pasokan energi bagi seluruh lapisan masyarakat.

    “Penyesuaian harga Pertamax dan Pertamax Green dilakukan setelah melalui proses evaluasi sesuai formula harga yang ditetapkan pemerintah. Harga jual tersebut diputuskan dengan tetap dikoordinasikan dengan pemerintah sebagai regulator, dan menjadi bagian dari upaya menjaga keberlanjutan penyediaan energi dan distribusi BBM berkualitas bagi masyarakat terus berjalan optimal,” ujar Roberth dalam keterangan resmi, Selasa (9/6/2026).

    Pihak manajemen Pertamina Patra Niaga menjamin ketersediaan stok di lapangan pasca-pengumuman kenaikan harga. Roberth menegaskan, pasokan untuk Pertamax dan Pertamax Green berada dalam kondisi aman dan tersebar di seluruh jaringan distribusi resmi.

    Ia turut mengimbau masyarakat untuk mengakses kanal resmi perusahaan atau menggunakan aplikasi MyPertamina guna mendapatkan pembaruan informasi harga secara berkala.

    Pengumuman penyesuaian harga itu disampaikan secara resmi dalam kegiatan pemaparan kinerja, dan evaluasi distribusi energi berkala yang dihadiri oleh jajaran direksi Pertamina Patra Niaga dan perwakilan pemangku kepentingan terkait di Jakarta.

  • BBM Naik 32 Persen, Ini Sektor yang Paling Terdampak

    BBM Naik 32 Persen, Ini Sektor yang Paling Terdampak

    acehtoday.id/  – Kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) non-subsidi jenis Pertamax dan Pertamax Green yang mulai berlaku pada 10 Juni 2026 diperkirakan akan memberikan dampak paling besar terhadap sektor transportasi dan logistik.

    Mengutip dari laman PT Pertamina Persero harga Pertamax (RON 92) dari Rp12.300 menjadi Rp16.250 per liter, sementara Pertamax Green (RON 95) naik dari Rp12.900 menjadi Rp17.000 per liter.

    Kenaikan tersebut dilakukan setelah evaluasi harga sesuai formula yang ditetapkan pemerintah dan mempertimbangkan perkembangan harga minyak dunia.

    Pengamat ekonomi menilai sektor transportasi menjadi yang pertama merasakan dampak karena bergantung langsung pada konsumsi BBM dalam kegiatan operasional sehari-hari. Kenaikan harga bahan bakar otomatis meningkatkan biaya perjalanan, distribusi, dan layanan transportasi.

    Pelaku usaha travel, rental kendaraan, jasa pengiriman barang, hingga pengemudi transportasi berbasis aplikasi diperkirakan harus mengeluarkan biaya operasional yang lebih besar dibanding sebelumnya, kondisi ini berpotensi menekan keuntungan usaha jika tidak diimbangi dengan penyesuaian tarif.

    Tidak hanya transportasi penumpang, sektor logistik juga menghadapi tantangan serupa. Kendaraan distribusi yang menggunakan BBM non-subsidi akan mengalami peningkatan biaya operasional yang pada akhirnya dapat memengaruhi harga barang di pasaran.

    Efek berantai dari kenaikan biaya distribusi berpotensi dirasakan masyarakat melalui kenaikan harga sejumlah kebutuhan pokok maupun barang konsumsi lainnya. Meski tidak terjadi secara langsung, biaya transportasi yang lebih mahal sering kali menjadi salah satu faktor pendorong inflasi.

    Sektor pariwisata juga diperkirakan ikut terdampak. Pelaku usaha wisata yang mengandalkan kendaraan operasional untuk melayani wisatawan harus menyiapkan anggaran lebih besar untuk transportasi. Jika biaya tersebut dibebankan kepada konsumen, harga paket wisata dan jasa perjalanan berpotensi mengalami penyesuaian.

     

    Seputaraceh.id  – BBM naik non-subsidi jenis Pertamax dan Pertamax Green yang mulai berlaku pada 10 Juni 2026 diperkirakan akan memberikan dampak paling besar terhadap sektor transportasi dan logistik.
    Tangkapan Layar Harga BBM per Tanggal 10 Juni 2026

    BBM Naik, Usaha Mikro dan UMKM kena Imbas

    Sementara itu, sektor usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) yang bergantung pada mobilitas tinggi juga perlu mengantisipasi kenaikan biaya operasional. Mulai dari usaha kuliner, perdagangan, hingga jasa antar barang dapat merasakan dampak tidak langsung dari kenaikan harga BBM.

    Meski demikian, BBM bersubsidi seperti Pertalite dan Solar subsidi masih dipertahankan pada harga sebelumnya. Pertalite tetap dijual Rp10.000 per liter, sedangkan Solar subsidi berada di angka Rp6.800 per liter.

    Dengan kondisi tersebut, sektor transportasi dan logistik diperkirakan menjadi dua sektor yang paling cepat dan paling besar merasakan dampak kenaikan harga BBM non-subsidi. Dampaknya bahkan berpotensi menjalar ke berbagai sektor ekonomi lainnya melalui kenaikan biaya distribusi dan operasional usaha.