acehtoday.id/ | Banda Aceh – Polda Aceh hingga kini belum menerima hasil pemeriksaan Laboratorium Forensik (Labfor) terkait penyebab pasti ledakan mesin KMP Aceh Hebat 2. Kepolisian memastikan proses penyidikan kasus yang menewaskan tiga taruna Politeknik Pelayaran Malahayati dan melukai belasan orang lainnya masih terus berjalan.
Kabid Humas Polda Aceh, Kombes Pol Joko Krisdiyanto, mengungkapkan bahwa hasil pemeriksaan Labfor menjadi salah satu dasar penting bagi penyidik untuk menentukan penyebab ledakan sekaligus arah penyidikan selanjutnya.
“Tim penyidik telah berkoordinasi dengan Laboratorium Forensik untuk melakukan pemeriksaan di lokasi kejadian. Hasil pemeriksaan tersebut sangat penting karena akan menjadi salah satu dasar dalam mengungkap penyebab ledakan sekaligus menentukan arah penyidikan,” kata Joko kepada acehtoday.id/, Jumat (4/7/2026).
Dua pekan pascaledakan, penyidik Ditreskrimum Polda Aceh telah memeriksa sedikitnya 12 saksi. Mereka terdiri dari petugas PT ASDP Indonesia Ferry, pihak Politeknik Pelayaran selaku korban, serta sejumlah saksi lain yang mengetahui peristiwa tersebut.
Joko menyebut penyidik masih mendalami seluruh kemungkinan penyebab ledakan, termasuk menelusuri ada tidaknya unsur kelalaian maupun tindak pidana berdasarkan alat bukti yang telah dikumpulkan.
Garis Polisi Dicabut, Kapal Bersiap Diinspeksi
Meski penyidikan masih berjalan, garis polisi di ruang mesin KMP Aceh Hebat 2 telah dicabut setelah olah tempat kejadian perkara (TKP) dengan status quo rampung dilakukan. Kepala KSOP Kelas IV Malahayati, Capt. Amfami, menjelaskan pencabutan garis polisi dilakukan setelah penyelidikan awal selesai, ditambah adanya permohonan Pemerintah Aceh agar kapal bisa kembali dioperasikan mengingat tingginya arus penumpang lintasan Banda Aceh–Sabang selama libur sekolah.
"Setelah pelepasan police line kita akan inspeksi lagi untuk memastikan kelaikan kapal. Kita juga akan melibatkan Biro Klasifikasi Indonesia (BKI). Kalau hasil pemeriksaan BKI menyatakan kapal layak, kemungkinan dalam dua hari kapal sudah bisa beroperasi," ujar Amfami kepada acehtoday.id/.
Amfami menambahkan, pompa hidrolik yang sebelumnya diduga bermasalah telah diuji dan ternyata masih dapat berfungsi secara manual. Meski demikian, pengoperasian kapal tetap menunggu persetujuan resmi dari BKI.
“Tadi pompanya sudah dites, ternyata masih bisa hidup secara manual. Yang bermasalah kemarin sistem otomatisnya. Tetapi kita tetap menunggu persetujuan BKI sebelum kapal kembali beroperasi,” katanya.
Polda Janji Penyidikan Profesional dan Objektif
Polda Aceh menegaskan proses penyidikan akan terus dilakukan secara profesional dan objektif. Pihaknya berjanji akan menyampaikan perkembangan penanganan perkara kepada publik setelah hasil pemeriksaan Labfor diterima dan dianalisis penyidik.
Insiden ledakan di ruang mesin KMP Aceh Hebat 2 terjadi saat kegiatan praktik taruna Politeknik Pelayaran Malahayati berlangsung. Peristiwa itu mengakibatkan 15 orang mengalami luka bakar, sementara tiga taruna yakni Fahri Herdi Eko, Muhammad Bilal Ramzi, dan Muhammad Zulfikar meninggal dunia setelah sempat menjalani perawatan intensif di RSUD Zainoel Abidin Banda Aceh.**