Tag: mubadala

  • Akademisi Ungkap Opsi Teknis Gas Andaman ke Darat

    acehtoday.id/ | Banda Aceh – Polemik rencana pengolahan gas Lapangan Tangkulo, Wilayah Kerja South Andaman, memasuki babak baru, di tengah pandangan bahwa karakteristik gas laut dalam menjadi kendala untuk dialirkan ke daratan.

    Akademisi Teknik Pertambangan Universitas Syiah Kuala (USK), Dr. Teuku Andika, Ph.D., menilai tantangan tersebut masih dapat diatasi melalui teknologi perpipaan khusus yang telah lama digunakan di industri migas.

    Menurut Andika, gas dari lapangan laut dalam memang memiliki karakteristik lebih kompleks karena mengandung hidrogen sulfida (H₂S) dan karbon dioksida (CO₂) yang dapat memicu korosi pada jaringan pipa jika menggunakan material konvensional.

    "Kalau memakai pipa biasa memang berisiko tinggi, namun secara teknis masih ada solusi tinggal menggunakan pipa berbahan Corrosion Resistant Alloy (CRA) yang memang dirancang untuk fluida korosif," katanya kepada acehtoday.id/, Kamis (9/7).

    Ia menjelaskan, apabila kadar H₂S tidak terlalu tinggi, pipa berbahan Super Duplex 2507 masih dapat digunakan.

    Sementara untuk gas dengan kandungan H₂S yang sangat tinggi, industri migas lazim menggunakan material Inconel 625 atau Inconel 825 yang memiliki ketahanan lebih baik terhadap korosi.

    "Teknologinya sudah tersedia, konsekuensinya memang investasi menjadi lebih mahal dibanding pipa biasa, tetapi bukan berarti gas tidak bisa dialirkan ke darat," ujarnya.

    Andika menilai perdebatan mengenai pengembangan Blok Andaman seharusnya tidak berhenti pada pertanyaan apakah gas bisa dibawa ke daratan atau tidak.

    Yang lebih penting adalah menentukan skema pengembangan yang mampu menghadirkan manfaat ekonomi terbesar bagi Aceh.

    Menurut dia, apabila gas dapat diproses di darat melalui KEK Arun, peluang menghidupkan kembali kawasan industri berbasis migas akan terbuka.

    Selain mendorong investasi industri hilir, skema tersebut juga dinilai berpotensi menciptakan lapangan kerja, mengoptimalkan infrastruktur eks PT Arun NGL, serta memperkuat rantai nilai ekonomi di Aceh.

    Ia mengakui pembangunan jaringan pipa khusus memang membutuhkan biaya lebih besar dan tenaga pengelasan dengan kompetensi tinggi.

    Namun hal itu merupakan tantangan teknis yang lazim dalam pengembangan lapangan gas laut dalam.

    “Kalau orientasinya hanya biaya proyek, tentu ada pilihan yang lebih murah, tetapi kalau orientasinya membangun industri dan memberikan nilai tambah bagi daerah, maka semua opsi teknis seharusnya dikaji secara komprehensif,” katanya.

    Andika juga menyoroti pentingnya keterlibatan tenaga ahli lokal dalam pembahasan pengembangan Blok Andaman.

    Menurutnya, perguruan tinggi di Aceh memiliki sumber daya yang mampu memberikan masukan teknis kepada Pemerintah Aceh dalam proses negosiasi maupun penyusunan strategi pengembangan proyek.

    Akademisi : Perlu Kajian Menyeluruh

    Meski demikian, Andika mengingatkan bahwa keputusan akhir tetap harus didasarkan pada hasil kajian teknis dan keekonomian secara menyeluruh.

    Data mengenai kandungan H₂S dan CO₂ dari lapangan menjadi faktor penting dalam menentukan spesifikasi material pipa maupun desain fasilitas produksi.

    “Yang harus dilihat adalah data laboratorium fluida, dari situ baru bisa ditentukan material yang paling tepat, jadi tantangannya bukan semata-mata apakah bisa atau tidak, tetapi bagaimana memilih teknologi yang sesuai dengan karakteristik gas dan tujuan pembangunan yang ingin dicapai,” ujarnya.

    Sebelumnya, Kepala SKK Migas menyampaikan bahwa karakteristik gas laut dalam dengan kandungan H₂S dan CO₂ menjadi salah satu pertimbangan utama sehingga pengolahan di fasilitas terapung (offshore) dinilai lebih layak dalam skema pengembangan saat ini.

    Langkah tersebut berbeda dengan skema Plan of Development (PoD) yang diharapkan Pemerintah Aceh, dalam PoD tersebut, Pemerintah Aceh mengusulkan skenario pengolahan gas mentah di darat (Onshore) pada Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Arun yang memiliki infrastruktur existing bekas PT Arun NGL yang merupakan Proyek Strategis Nasional sesuai RPJMN 2025-2029 dan Asta Cita Prabowo-Gibran.

    Terkait hal ini, Gubernur Aceh bahkan telah menyurati Presiden Prabowo Subianto sejak pekan lalu.

    “Gubernur Mualem mengusulkan yang terbaik untuk negara ini, khususnya untuk Aceh. Sekarang kita menunggu respon Pemerintah Pusat,” kata Juru Bicara Pemerintah Aceh, Nurlis Effendi, Senin, 6 Juli 2026.

    Nurlis mengatakan di kawasan Andaman memiliki enam blok migas utama, yakni Andaman I, Andaman II, Andaman III, Central Andaman, South Andaman, dan South West Andaman.

    Akademisi Teknik Pertambangan Universitas Syiah Kuala (USK), Teuku Andika Rama Putra. Foto : acehtoday.id/

     

     

  • Mubadala Siap Produksi Gas Andaman, Cadangan Raksasa 10 TCF Jadi Harapan Baru Energi Indonesia

    Mubadala Siap Produksi Gas Andaman, Cadangan Raksasa 10 TCF Jadi Harapan Baru Energi Indonesia

    acehtoday.id/ | Banda Aceh – Mubadala Energy terus mempercepat pengembangan proyek gas raksasa di Blok South Andaman, Aceh, yang memiliki potensi cadangan mencapai 8 hingga 10 Trillion Cubic Feet (TCF), proyek strategis tersebut kini ditargetkan memasuki tahap produksi perdana (first gas) pada tahun 2028.

    Penemuan cadangan gas di kawasan Laut Andaman dalam beberapa tahun terakhir menjadi salah satu temuan terbesar di Asia Tenggara.

    Pemerintah pusat menilai proyek ini akan memainkan peran penting dalam mendukung ketahanan energi sekaligus mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap impor energi di masa mendatang.

    Mubadala Sebut Cadangan Gas Raksasa di Lepas Pantai Aceh

    Cadangan gas tersebut berasal dari temuan sumur Layaran-1 dan Tangkulo-1 yang berada di wilayah kerja South Andaman, sekitar 65 kilometer lepas pantai utara Sumatra.

    Temuan Layaran-1 diperkirakan menyimpan lebih dari 6 TCF gas, sementara Tangkulo-1 menambah potensi sekitar 2 TCF sehingga total sumber daya yang telah teridentifikasi mencapai sekitar 8 TCF dan masih berpotensi bertambah melalui eksplorasi lanjutan.

    Chief Executive Officer Mubadala Energy, Mansoor Mohammed Al Hamed, menyebut keberhasilan eksplorasi di South Andaman sebagai pencapaian penting yang dapat mengubah masa depan energi kawasan.

    “Penemuan ini berpotensi mentransformasi lanskap energi Indonesia dan Asia Tenggara,” ujar Mansoor Mohammed Al Hamed dalam keterangan resmi Mubadala Energy.

    Pernyataan tersebut menunjukkan besarnya nilai strategis proyek South Andaman yang saat ini menjadi salah satu fokus utama pengembangan migas nasional.

    Target Produksi 2028

    Mubadala Energy bersama mitra kerjanya saat ini tengah mempercepat tahapan studi teknik, perencanaan pengembangan lapangan, hingga proses pengambilan keputusan investasi final (Final Investment Decision/FID).

    Pemerintah melalui SKK Migas menargetkan produksi gas pertama dari South Andaman dapat dimulai pada periode 2028 hingga 2029, kehadiran proyek ini diharapkan mampu memenuhi kebutuhan gas domestik yang terus meningkat, terutama untuk sektor industri, pembangkit listrik, pupuk, dan petrokimia.

    Kepala SKK Migas, Dwi Soetjipto, sebelumnya menyatakan bahwa penemuan gas di South Andaman merupakan kabar positif bagi industri hulu migas Indonesia.

    “Ini memberikan dorongan positif bagi SKK Migas dan industri hulu migas dalam mendukung ketahanan energi nasional,” kata Dwi Soetjipto.

    Besarnya cadangan yang ditemukan juga mendapat perhatian langsung dari Presiden Prabowo Subianto.

    Dalam beberapa kesempatan, Presiden menyebut potensi gas di kawasan Andaman sebagai salah satu penemuan terbesar di Asia Tenggara dalam beberapa dekade terakhir.

    Jika seluruh tahapan berjalan sesuai rencana, proyek South Andaman tidak hanya akan menjadi salah satu investasi energi terbesar di Aceh, tetapi juga berpotensi menjadi tulang punggung baru ketahanan energi Indonesia.

    Kehadiran produksi gas dari Laut Andaman diyakini dapat membantu mewujudkan target swasembada energi nasional sekaligus meningkatkan daya tarik investasi migas di Tanah Air.