Tag: Nilam

  • ARC USK: Hilirisasi Kunci Selamatkan Nilam Indonesia

    acehtoday.id/ | Banda Aceh – Industri minyak nilam atau patchouli oil global tengah menghadapi tantangan besar seiring diberlakukannya sejumlah regulasi baru yang jauh lebih ketat dari pasar Uni Eropa. Kepala Atsiri Research Center Universitas Syiah Kuala (ARC USK), Syaifullah Muhammad, menegaskan Indonesia perlu segera memperkuat ekosistem rantai pasok hingga hilirisasi di dalam negeri, sekaligus memperketat standardisasi industri nilam nasional dari hulu ke hilir.

    Pernyataan tersebut disampaikan Syaifullah dalam acara Temu Mitra Kegiatan Holding UMKM yang digelar Kementerian UMKM pada Rabu, 8 Juli 2026, di Hotel Kyriad Muraya, Banda Aceh. Kegiatan ini merupakan bagian dari program holding UMKM bersama PT Razma Agro Jayana yang berfokus pada peningkatan produksi dan ekspor nilam ke pasar luar negeri.

    Turut hadir dalam acara tersebut jajaran tinggi Kementerian UMKM, di antaranya Deputi Usaha Menengah Bagus Rachman, Sekretaris Deputi Usaha Menengah Fitri Rinaldi, Asdep Kemitraan dan Rantai Pasok Metty Kumayantie, serta Asdep Produksi dan Digitalisasi Usaha Kecil Ali Alkatiry.

    Bupati Aceh Jaya beserta jajaran pemerintah daerah, Area Manager BSI Aceh Bambang Frasetia, perwakilan Bank Aceh dan Bank Indonesia, jajaran direksi PT Razma Agro Jayana, hingga para petani nilam lokal juga ikut hadir.

    Standar Ketat dari Uni Eropa Mulai Berlaku

    Dalam paparannya, Syaifullah membagikan hasil kunjungannya ke Prancis pada Mei lalu, di mana ia mengikuti sejumlah agenda penting seperti Expo SIMPPAR di Kota Grasse, pertemuan buyer dengan Sozio, kunjungan ke perusahaan wewangian multinasional Firmenich, hingga workshop parfum internasional.

    Ia menjelaskan bahwa industri wewangian dunia kini berada di bawah pengawasan regulasi yang jauh lebih ketat, khususnya di kawasan Uni Eropa. Sejumlah standar baru seperti REACH untuk penarikan produk tidak patuh, CLP untuk pelabelan, pemantauan zat oleh ECHA, hingga aturan kemasan berkelanjutan lewat PPWR dan ISO mulai diberlakukan secara masif.

    Menurut Syaifullah, proses kepatuhan ini sebenarnya sudah dimulai sejak 2025, dengan fase implementasi berjalan sepanjang 2026, batas akhir pemenuhan kepatuhan pada 2028, dan pemberlakuan penuh pada 2029 untuk berbagai bahan komponen parfum dunia, termasuk minyak nilam. Dampaknya, kewajiban dokumentasi rantai pasok atau supply chain traceability akan jauh lebih ketat ke depan.

    Situasi ini menjadi tantangan serius bagi komoditas nilam Indonesia, khususnya Aceh, yang sebagian besar proses budidaya dan penyulingannya masih dikelola secara tradisional oleh masyarakat. “Kepatuhan terhadap SOP di setiap lini produksi sudah tidak bisa ditawar lagi.

    Mulai dari pembibitan, teknik budidaya, perawatan tanaman, proses penyulingan, hingga pengemasan dan pelabelan harus memenuhi standar internasional. Jika kita gagal memenuhi standar ini, konsekuensinya berat: minyak nilam kita akan ditolak oleh buyer luar negeri,” tegas Syaifullah.

    Hilirisasi Jadi Kunci Pertahanan Ekonomi Nilam

    Sebagai solusi, Syaifullah mendorong pembinaan intensif dan terintegrasi bagi petani, penyuling, dan eksportir lokal agar mampu beradaptasi dengan standar tinggi pasar global. Ia menekankan bahwa kunci pertahanan ekonomi nilam nasional terletak pada percepatan hilirisasi di dalam negeri.

    “Kita harus memperkuat hilirisasi di dalam negeri. Dengan hilirisasi, Indonesia bisa menetapkan standar nasional sendiri untuk minyak nilam dan produk turunannya. Melalui sentuhan teknologi purifikasi dan formulasi, kita bisa memproses minyak atsiri ini menjadi produk antara maupun produk akhir,” jelas Kepala ARC USK tersebut.

    Ia menambahkan, langkah ini sekaligus menjadi jaring pengaman ekonomi bagi industri nilam nasional. Pasar domestik yang besar dapat dikelola dengan Standar Nasional Indonesia (SNI), sehingga jika minyak nilam mentah mengalami hambatan di pasar luar negeri, Indonesia bisa langsung memprosesnya sendiri menjadi produk turunan bernilai tinggi seperti parfum premium, skincare, aromaterapi, hingga produk kosmetik dan toiletries.

    Selain paparan Kepala ARC USK, kegiatan Temu Mitra ini turut menghadirkan Diah Sandita Arisanti dari Bappebti yang membahas penguatan sistem resi gudang, Area Manager BSI Aceh Bambang Frasetia yang mengulas pembiayaan syariah bagi UMKM atsiri, serta Razuan selaku Direktur PT Razma Agro Jayana yang memaparkan peta jalan operasional holding UMKM nilam menembus pasar internasional.**

  • ARC-USK dan ILO Gagas Sistem Resi Gudang untuk Lindungi Petani Nilam

    acehtoday.id/ | Jakarta — Masa depan komoditas minyak nilam Indonesia memasuki babak baru yang lebih menjanjikan. Melalui sebuah pertemuan strategis yang digelar di Gedung Badan Pengawas Perdagangan Berjangka Komoditi (Bappebti) Kementerian Perdagangan RI, Jakarta, pada Kamis (18/6/2026), Atsiri Research Center Universitas Syiah Kuala (ARC-USK) bersama International Labour Organization (ILO) dan PT Kliring Perdagangan Berjangka Indonesia (KPBI) menginisiasi penerapan Sistem Resi Gudang (Warehouse Receipt System) untuk komoditas emas cair tersebut.

    ​Langkah ini diambil sebagai jawaban atas tantangan fluktuasi harga dan kepastian modal yang selama ini membayangi para petani atsiri. Sistem Resi Gudang (SRG) ini nantinya akan berfungsi sebagai penyangga stok (stock buffer) nilam nasional. Lebih dari sekadar tempat penyimpanan, sistem ini dirancang untuk memastikan petani dan penyuling bisa mendapatkan pembayaran secara tunai dan real-time dengan harga pasar yang kompetitif, tanpa harus menunggu waktu lama.

    ​Pertemuan penting ini mempertemukan para pemangku kepentingan utama, di antaranya Ketua ARC-USK Syaifullah Muhammad, Project Manager Promise II Impact ILO Indonesia Djauhari Sitorus, National Project Coordinator Promise II Impact ILO Tomas Sugiono, Direktur Utama PT Kliring Perdagangan Berjangka Indonesia (PT KPBI) Fajar Hari Utomo, serta Kepala Biro Pembinaan dan Pengembangan Sistem Resi Gudang (SRG) Bappebti, Diah Sandita Arisanti serta sejumlah staf.

    Alur Sistem SGR ​Solusi Likuiditas Petani

    ​Dalam implementasinya, mekanisme SRG akan berjalan secara sistemis dan transparan. Petani atau penyuling cukup membawa produk minyak nilam mereka yang telah memenuhi standar pasar ke gudang khusus yang ditunjuk. Gudang ini dikelola oleh perusahaan profesional yang telah tersertifikasi oleh Bappebti dan telah menjalin kemitraan erat dengan sektor perbankan.

    ​Setelah minyak nilam divalidasi, pengelola gudang akan menerbitkan dokumen Resi Gudang kepada petani sebagai bukti kepemilikan aset yang sah. Dokumen berharga inilah yang kemudian dapat langsung ditukarkan dengan uang tunai melalui bank mitra yang telah bekerja sama.

    Sementara petani mendapatkan modalnya secara instan, perusahaan pengelola gudang secara periodik akan menjual minyak nilam tersebut kepada buyer berskala nasional maupun internasional. Melalui rantai ekosistem ini, masyarakat kecil di hulu industri dipastikan terlindungi, mendapatkan kepastian uang tunai tepat waktu, dan memperoleh harga jual yang adil.

    ARC-USK dan ILO Gagas Sistem Resi Gudang untuk Lindungi Petani Nilam
    Atsiri Research Center Universitas Syiah Kuala (ARC-USK) bersama International Labour Organization (ILO) dan PT Kliring Perdagangan Berjangka Indonesia (KPBI) menginisiasi penerapan Sistem Resi Gudang (Warehouse Receipt System) untuk komoditas emas cair tersebut.

    Dukungan Multipihak dari Hulu ke Hilir

    ​Penerapan sistem ini dinilai sangat realistis mengingat kesiapan ekosistem nilam yang sudah matang. Dalam kesempatan tersebut, Ketua ARC-USK Syaifullah Muhammad memaparkan secara detail potret industri nilam dari hulu ke hilir—mencakup tata cara pembibitan, teknik budidaya, proses penyulingan, hingga berbagai faktor penunjang yang memengaruhi stabilitas produksi nilam di Indonesia.

    ​Melihat potensi besar ini, lembaga perburuhan internasional ILO berkomitmen penuh untuk mengawal jalannya program. Project Manager Promise II Impact ILO Indonesia, Djauhari Sitorus, menegaskan dukungannya secara langsung.

    ​”ILO melalui Promise II Impact akan mensupport penerapan Sistem Resi Gudang untuk komoditas nilam,” kata Djauhari.

    ​Syaifullah Muhammad mengamini hal tersebut dengan menekankan posisi strategis nilam di mata global.

    “Nilam merupakan komoditas unggulan nasional yang sangat diperlukan oleh industri parfum dan kosmetika dunia. ARC-USK akan mendukung riset, inovasi, serta dukungan teknologi yang diperlukan agar standarisasi nilam yang diminta pasar internasional bisa dipenuhi oleh petani penyuling nilam,” papar Syaifullah.

    ​Inisiasi ini mendapat lampu hijau dan sambutan hangat dari pihak regulator. Kepala Biro Pembinaan dan Pengembangan SRG Bappebti, Diah Sandita Arisanti, menyatakan optimisme tingginya setelah melihat kesiapan data dan fisik di lapangan.

    ​”Setelah mendengar presentasi Pak Syaifullah, terlihat bahwa ekosistem nilam yang diperlukan untuk sistem SGR sudah sangat lengkap. Kami optimis nilam bisa masuk SGR. Bappebti akan segera menindaklanjuti dengan kajian sebagai kelengkapan regulasi,” pungkas Diah.

    ​Melalui sinergi solid antara akademisi, lembaga internasional, kliring berjangka, dan regulator pemerintah, Sistem Resi Gudang Nilam diharapkan dapat segera terwujud. Langkah nyata ini menjadi angin segar yang siap membawa kesejahteraan merata bagi para petani penyuling nilam di seluruh penjuru Nusantara.