Tag: pidie

  • RTA Pidie Resmi Dilantik, Santri Diminta Adaptif

    RTA Pidie Resmi Dilantik, Santri Diminta Adaptif

    acehtoday.id/ | Sigli – Pengurus Cabang Rabithah Thaliban Aceh (RTA)Pidie periode 2024-2028 resmi dilantik dalam sebuah prosesi yang berlangsung di Hotel Safira, Kota Sigli, Kabupaten Pidie, Minggu (12/7/2026).

    Pelantikan dilakukan langsung oleh Ketua Umum Pengurus Besar (PB) Rabithah Thaliban Aceh, Tgk. Miswar Ibrahim Njong, dan dihadiri para ulama, pimpinan dayah, pimpinan ormas, tokoh masyarakat, unsur pemerintah, serta keluarga besar Rabithah Thaliban Aceh.

    Dalam sambutannya, Miswar Ibrahim Njong menegaskan bahwa pelantikan ini bukan sekadar agenda seremonial organisasi, melainkan momentum untuk memperkuat konsolidasi santri dan ulama muda dalam menghadapi perubahan sosial yang berlangsung sangat cepat.

    “Santri harus tetap kokoh menjaga nilai-nilai Islam, tetapi pada saat yang sama juga harus adaptif terhadap perubahan masyarakat. Perubahan sosial berjalan begitu cepat. Cara masyarakat belajar, berkomunikasi, dan memperoleh informasi telah berubah. Karena itu, pendekatan dakwah juga harus terus berkembang agar tetap relevan dengan kebutuhan umat,” ujarnya.

    Menurutnya, santri dan tengku dayah dituntut terus meningkatkan kapasitas diri agar mampu membaca perkembangan zaman tanpa kehilangan identitas dan tradisi keilmuan yang menjadi karakter utama dayah.

    Ia menjelaskan, tantangan dakwah saat ini tidak lagi terbatas pada mimbar-mimbar pengajian di masjid atau dayah, melainkan telah meluas ke berbagai sektor kehidupan, mulai dari dunia pendidikan, media digital, ruang-ruang komunitas, lingkungan birokrasi, dunia usaha, hingga berbagai platform media sosial.

    Menurut Miswar, apabila santri tidak mampu hadir dan mengambil peran di ruang-ruang baru tersebut, ruang itu berpotensi diisi oleh pihak-pihak yang belum tentu memiliki otoritas keilmuan dan tanggung jawab moral dalam menyampaikan ajaran agama.

    “Santri harus hadir di mana masyarakat berada. Dan memperjuangkan kesulitan-kesulitan hidup bersama masyarakat. Dakwah tidak cukup menunggu masyarakat datang ke dayah, tetapi juga harus mampu menjangkau masyarakat di ruang-ruang baru tempat mereka hidup, bekerja, berdiskusi, dan membangun masa depan,” katanya.

    Dalam kesempatan itu, Miswar juga mengajak kalangan dayah untuk terus memperkuat kapasitas intelektual, memperluas wawasan, serta memahami dinamika sosial yang berkembang di tengah masyarakat.

    prosesi pelantikan RTA Pidie (Foto: Dok. RTA untuk acehtoday.id/)

    RTA Perkuat Peran

    Ia menilai, ulama muda tidak cukup hanya menguasai ilmu-ilmu keislaman, tetapi juga perlu memahami persoalan kontemporer agar mampu memberikan solusi yang relevan dan membimbing masyarakat dengan pendekatan bijaksana.

    Ia menambahkan, Rabithah Thaliban Aceh harus terus memperkuat perannya sebagai organisasi kaderisasi ulama muda yang tak hanya melahirkan generasi berilmu, tetapi juga memiliki kepemimpinan, kepedulian sosial, serta kemampuan membangun komunikasi dengan berbagai elemen masyarakat.

    Menutup sambutannya, Ketua Umum PB RTA berpesan kepada seluruh pengurus yang baru dilantik agar menjaga kekompakan dan soliditas organisasi, memperkuat budaya musyawarah, serta memberikan dukungan penuh kepada kepengurusan yang telah diamanahkan.

    Menurutnya, kekuatan organisasi tidak hanya ditentukan oleh kualitas pemimpinnya, tetapi juga oleh loyalitas, kerja sama, dan semangat kolektif seluruh pengurus dalam menggerakkan dakwah dan pengabdian kepada masyarakat.

    Pelantikan ini diharapkan menjadi titik awal bagi lahirnya berbagai program kaderisasi, penguatan kapasitas santri, dan perluasan gerakan dakwah yang mampu menjawab tantangan perubahan sosial sekaligus memperkuat peran dayah dalam kehidupan masyarakat Aceh.**

  • Modus Baru Menjerat Keluarga PMI Bermasalah di Malaysia, BP3MI Aceh Minta Masyarakat Waspada

    Modus Baru Menjerat Keluarga PMI Bermasalah di Malaysia, BP3MI Aceh Minta Masyarakat Waspada

    acehtoday.id/ | Banda Aceh – Kasus dugaan penipuan yang menimpa keluarga seorang Pekerja Migran Indonesia (PMI) asal Kabupaten Pidie yang menjadi korban kekerasan di Malaysia mendapat perhatian dari Balai Pelayanan Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (BP3MI) Aceh.

    Kepala BP3MI Aceh, Siti Rolijah, mengungkapkan bahwa pihaknya sejak awal telah berkomunikasi langsung dengan orang tua PMI tersebut dan memastikan kondisi korban dalam keadaan aman setelah mendapatkan penanganan dari Perwakilan Republik Indonesia di Malaysia.

    Menurutnya, pascakejadian kekerasan yang dialami PMI tersebut, korban telah ditangani oleh Konsulat Jenderal Republik Indonesia (KJRI) Johor Bahru dan saat ini ditempatkan di rumah singgah atau tempat tinggal sementara milik KJRI.

    “BP3MI Aceh sebelumnya telah terhubung dengan orang tua PMI yang menjadi korban. Kami telah menyampaikan bahwa pasca kasus kekerasan tersebut, anak mereka sudah ditangani oleh Perwakilan RI melalui KJRI Johor Bahru. Kondisinya aman dan saat ini ditempatkan di tempat tinggal sementara KJRI sehingga keluarga tidak perlu khawatir,” kata Siti Rolijah saat dikonfirmasi acehtoday.id/, Senin (22/6/2026).

    Di tengah upaya pemulihan korban, keluarga justru diduga menjadi sasaran penipuan oleh oknum yang mengatasnamakan pejabat daerah untuk meminta sejumlah uang dengan dalih membantu proses penanganan dan pemulangan korban.

    Atas kejadian tersebut, BP3MI Aceh menyatakan keprihatinannya. Siti Rolijah mengingatkan masyarakat, khususnya keluarga PMI yang memiliki anggota keluarga bermasalah di luar negeri, agar tidak mudah percaya terhadap pihak-pihak yang menghubungi dan meminta uang dengan mengatasnamakan pejabat pemerintah maupun lembaga tertentu.

    “BP3MI turut prihatin atas kasus penipuan ini. Kami berharap keluarga PMI maupun masyarakat tidak langsung percaya apabila ada oknum yang mengatasnamakan pejabat atau pihak tertentu untuk meminta sejumlah uang. Setiap informasi terkait bantuan, pemulangan, maupun biaya-biaya tertentu harus dikroscek dan dikonfirmasi terlebih dahulu kepada instansi pemerintah yang berwenang,” ujarnya.

    Ia menegaskan bahwa dalam berbagai kasus perlindungan PMI, pemerintah memiliki mekanisme resmi yang dapat diakses oleh keluarga korban. Karena itu, setiap komunikasi yang mencurigakan sebaiknya segera diverifikasi kepada pemerintah daerah, BP3MI, atau perwakilan RI yang menangani kasus tersebut.

    Kasus ini menjadi pengingat bahwa keluarga PMI yang sedang menghadapi situasi sulit kerap menjadi target empuk para pelaku penipuan.

    Kondisi psikologis keluarga yang sedang cemas menunggu kabar anggota keluarganya di luar negeri sering dimanfaatkan oleh oknum tidak bertanggung jawab untuk memperoleh keuntungan.

    BP3MI Aceh mengimbau masyarakat agar lebih waspada terhadap berbagai modus penipuan yang memanfaatkan nama pejabat, lembaga pemerintah, maupun perwakilan Indonesia di luar negeri. Verifikasi informasi sebelum melakukan transfer uang menjadi langkah penting untuk mencegah jatuhnya korban baru.**

  • Pelaku Catut Nama Bupati Pidie, Keluarga Korban Kekerasan di Malaysia Tertipu

    acehtoday.id/ | Pidie – Keluarga YA (34), warga Kecamatan Sakti, Kabupaten Pidie, yang menjadi korban dugaan penganiayaan oleh majikannya di Johor, Malaysia, kembali tertimpa musibah. Mereka menjadi korban penipuan berkedok bantuan sosial dengan kerugian mencapai Rp2,8 juta setelah pelaku mencatat nama bupati Pidie

    Anggota DPD RI asal Aceh, Haji Uma, mengatakan pelaku menghubungi keluarga korban melalui WhatsApp dengan mencatut nama dan foto Bupati Pidie. Pelaku mengirim bukti transfer senilai Rp5,8 juta yang diklaim sebagai bantuan untuk keluarga YA.

    Karena percaya, keluarga korban kemudian mentransfer kembali Rp2,8 juta ke rekening yang disebut milik anak yatim. Namun belakangan diketahui dana bantuan tersebut tidak pernah masuk ke rekening korban.

    “Setelah menyadari dirinya ditipu, korban mencoba menghubungi nomor pelaku, namun sudah tidak aktif,” kata Haji Uma, Minggu (21/6/2026).

    Haji Uma mengecam aksi tersebut dan mengimbau masyarakat agar lebih waspada terhadap berbagai modus penipuan yang memanfaatkan isu atau musibah yang sedang menjadi perhatian publik.

    Sebelumnya, YA merupakan salah satu dari tiga warga Aceh yang diduga menjadi korban kekerasan oleh majikan mereka di Johor, Malaysia. Saat ini kasus tersebut masih dalam pendampingan KJRI Johor Bahru.