acehtoday.id/ | Banda Aceh — Majelis Seniman Aceh (MaSA) mengusulkan pembentukan Mal Seni Aceh dan menghidupkan kembali Festival Sastra dan Hikayat sebagai agenda resmi Pemerintah Aceh pada 2027. Usulan itu disampaikan langsung dalam audiensi bersama Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Aceh, Dedy Yuswadi, yang berlangsung di kantor Disbudpar Aceh, Kuta Alam, Banda Aceh, Kamis (2/7/2026).
Organisasi yang menaungi sekitar 40–50 komunitas seni di Aceh ini tidak hanya membawa satu gagasan. Dalam pertemuan tersebut, MaSA memaparkan empat poin utama: dukungan resmi terhadap Perayaan Internasional Laksamana Keumalahayati, penyelenggaraan Festival Sastra dan Hikayat, pendirian Mal Seni Aceh, serta penguatan pelestarian cagar budaya dan sanggar seni yang selama ini kerap luput dari perhatian.
Ketua MaSA, Chairian Ramli, menjelaskan bahwa Perayaan Internasional Laksamana Keumalahayati sejatinya sudah berjalan tiga tahun berturut-turut, namun murni digagas dan dibiayai secara mandiri oleh para seniman bersama berbagai pihak.
Ia menilai pengakuan dunia internasional terhadap sosok Keumalahayati adalah kebanggaan bagi Aceh, sehingga sudah saatnya negara turun tangan memberi dukungan penuh.
“Kami ingin kegiatan ini menjadi agenda bersama pemerintah, sehingga pengakuan internasional terhadap Keumalahayati dapat terus dijaga dan memberi manfaat bagi generasi muda serta promosi budaya Aceh,” ujar Chairian.
Mal Seni Aceh Jadi Ruang Kreatif Baru
Salah satu gagasan yang menjadi sorotan dalam audiensi ini adalah usulan pembentukan Mal Seni Aceh. Konsepnya dirancang sebagai ruang kreatif terpadu yang mewadahi pertunjukan seni, pameran, pelatihan, hingga edukasi budaya bagi masyarakat luas.
Bagi MaSA, kehadiran mal seni semacam ini bukan sekadar tempat berkumpul, melainkan juga strategi memperkuat ekonomi kreatif berbasis budaya lokal sekaligus memberi ruang berkarya yang lebih layak bagi para seniman Aceh.
Tak hanya soal ruang fisik, MaSA turut menyoroti pentingnya melestarikan tradisi literasi Aceh lewat penyelenggaraan kembali Festival Sastra dan Hikayat. Festival ini dipandang relevan untuk menjaga warisan budaya dunia yang berkaitan erat dengan sosok pujangga Hamzah Fansuri, sekaligus menjadi jembatan pengenalan sastra klasik Aceh kepada generasi muda.
Disbudpar Buka Ruang Kolaborasi, Tunggu Proposal Resmi
Menanggapi seluruh usulan tersebut, Kepala Disbudpar Aceh Dedy Yuswadi menyambut positif aspirasi yang disampaikan MaSA. Ia menegaskan pihaknya terbuka untuk berkolaborasi dengan komunitas seni dan budaya, meski mengakui kondisi anggaran daerah tahun 2026 masih sangat terbatas untuk mengakomodasi seluruh usulan secara langsung.
Sebagai langkah lanjutan, Dedy meminta MaSA menyampaikan seluruh gagasan tersebut dalam bentuk proposal resmi agar dapat dibahas dan diperjuangkan dalam penyusunan anggaran tahun 2027.
“Kami membuka ruang kolaborasi. Silakan ajukan proposal resmi agar dapat kami perjuangkan dalam penyusunan anggaran 2027,” kata Dedy.
Turut Bahas Pemulihan Cagar Budaya Pascabanjir
Selain empat usulan utama, pertemuan ini juga membahas kondisi cagar budaya dan sanggar seni yang terdampak banjir. Kedua pihak sepakat bahwa sinergi antara pemerintah dan komunitas budaya menjadi kunci penting untuk memajukan kebudayaan Aceh secara berkelanjutan ke depan.
Audiensi tersebut dihadiri Kabid Bahasa dan Seni Disbudpar Aceh, Hj Nurlela Hamzah, yang mendampingi Dedy Yuswadi. Sementara dari pihak MaSA, hadir Chairian Ramli bersama Thayeb Loh Angen, Ahli Filologi sekaligus Ketua Masyarakat Pernaskahan Nusantara Aceh (Mamasa) Hermansyah, Sarjev, Joe Samalanga, Nuril Akmal, dan Ipoel MASA.**




