Mendagri Luruskan Polemik Penanganan Bencana Aceh di Jembatan Enang-Enang

Written by

in

acehtoday.id/ | Bener Meriah – Polemik soal penanganan bencana Aceh di kawasan Jembatan Enang-Enang, Kabupaten Bener Meriah, akhirnya diluruskan langsung oleh Menteri Dalam Negeri Muhammad Tito Karnavian. Ia menegaskan pemerintah sudah lebih dulu turun tangan menangani akses jembatan tersebut, bukan dibiarkan seperti kabar yang beredar di masyarakat.

Sebagai Ketua Satuan Tugas Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi Pascabencana Sumatera, Tito meninjau langsung lokasi dan berdialog dengan warga setempat. Dari peninjauan itu terungkap bahwa jembatan lama sebenarnya tidak hancur diterjang banjir bandang. Yang rusak adalah tanah penyangganya, sehingga struktur jembatan miring dan berisiko dilintasi.

Balai Pelaksanaan Jalan Nasional Aceh, Kementerian PU, menilai kondisi tanah masih labil dan meminta warga memakai jalur alternatif. Namun warga enggan karena jalur itu memutar jauh dan berlubang, sehingga mereka membuat akses sementara di bagian jembatan yang ambles.

Jalan Enang-enang
Kondisi jalan Enang-Enang setelah bencana alam November 2025 lalu. Foto Dok BPJN Aceh

“Karena dia melihat bahwa jembatan ini rawan, miring sekali, dan longsor tanahnya di satu sisi itu banyak sekali longsornya,” ujar Tito, Senin (13/7), di Kantor Kemendagri, Jakarta.

Melalui mediasi Satgas PRR, disepakati jembatan lama tetap dipertahankan dengan penguatan struktur sebagai solusi sementara, khusus untuk kendaraan roda dua dan kendaraan ringan. Pemerintah juga akan membangun jembatan baru yang lebih kokoh serta memperbaiki jalur alternatif, dengan pengerjaan jembatan pendukung mulai Juli 2026.

“Bukan pemerintah tidak memperhatikan, tapi beda pendapat antara Balai PU dengan masyarakat,” tegas Tito.

Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *