acehtoday.id/| Jakarta – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memutakhirkan prediksi musim kemarau 2026 dengan mengungkap adanya potensi fenomena El Nino yang mulai berkembang pada pertengahan tahun ini. Kondisi tersebut diperkirakan akan memengaruhi pola hujan di Indonesia sehingga sebagian besar wilayah berpotensi mengalami musim kemarau yang lebih kering dan berlangsung lebih lama dibandingkan kondisi normal.
Kepala BMKG, Teuku Faisal Fathani, mengatakan pemutakhiran prediksi musim kemarau 2026 dilakukan untuk memberikan informasi iklim yang lebih akurat sebagai dasar perencanaan dan mitigasi risiko di berbagai sektor pembangunan.
“BMKG secara rutin menyampaikan informasi terkait iklim untuk mendukung perencanaan dan pengambilan keputusan di berbagai sektor pembangunan berupa prediksi hujan bulanan, buletin iklim, prediksi musim hujan dan kemarau, serta berbagai produk iklim sektoral lainnya,” ujar Teuku Faisal dalam konferensi pers di Jakarta, Rabu (10/6/2026).
Ia menjelaskan, salah satu informasi penting dalam pemutakhiran tersebut adalah meningkatnya peluang terjadinya El Nino pada pertengahan 2026. BMKG memprediksi peluang El Nino dengan intensitas moderat mencapai 98 persen, sedangkan peluang El Nino kategori kuat mencapai 62 persen.
Menurut Teuku Faisal, awal musim kemarau 2026 diperkirakan berlangsung secara bertahap. Dalam waktu terdekat, musim kemarau mulai terjadi pada Juni 2026 di 198 Zona Musim atau mencakup 31,6 persen wilayah Indonesia. Selanjutnya, pada Juli 2026 musim kemarau diprediksi terjadi di 66 zona musim atau sekitar 7,26 persen luas daratan Indonesia.
Dibandingkan dengan kondisi normal periode 1991–2020, sebagian besar wilayah Indonesia diprediksi mengalami awal musim kemarau yang lebih cepat. “Sebanyak 308 zona musim atau sekitar 39,7 persen wilayah diperkirakan memasuki musim kemarau lebih awal dari biasanya, sedangkan 165 zona musim atau 17,03 persen wilayah diprediksi mengalami awal musim kemarau yang relatif sama dengan kondisi normal,” sebutnya.
BMKG juga memperkirakan sifat musim kemarau tahun ini cenderung lebih kering. Akumulasi curah hujan selama periode kemarau di 482 zona musim atau sekitar 56,18 persen wilayah Indonesia diprediksi berada pada kategori bawah normal.
Untuk puncak musim kemarau, sebagian besar wilayah Indonesia diperkirakan mengalaminya pada Agustus 2026. BMKG mencatat sebanyak 369 ZOM atau 48,84 persen wilayah diprediksi memasuki puncak musim kemarau pada bulan tersebut.
Selain itu, durasi musim kemarau tahun ini diperkirakan lebih panjang dibandingkan rata-rata klimatologis. Sebanyak 437 ZOM atau 48,77 persen wilayah Indonesia diprediksi mengalami musim kemarau yang berlangsung lebih lama dari normal.
Teuku Faisal menegaskan bahwa informasi pemutakhiran prediksi musim kemarau 2026 diharapkan dapat menjadi acuan dalam memperkuat langkah antisipasi dan adaptasi terhadap risiko iklim.
“Penyusunan informasi pemutakhiran ini dimaksudkan sebagai referensi dalam mendukung perencanaan dan mitigasi risiko di berbagai sektor antara lain pangan, sumber daya air, energi, lingkungan, kehutanan, kebencanaan, serta perikanan,” katanya.
Di sisi lain, ia menilai musim kemarau juga dapat menghadirkan sejumlah peluang apabila dikelola dengan baik, seperti peningkatan produktivitas komoditas hortikultura pada wilayah yang memiliki kecukupan air, peningkatan produksi garam, hingga potensi meningkatnya hasil tangkapan ikan di wilayah perairan yang dipengaruhi fenomena upwelling.
BMKG berharap pemerintah pusat dan daerah, pelaku usaha, serta masyarakat dapat memanfaatkan informasi iklim tersebut sebagai dasar dalam menyusun strategi yang adaptif dan kebijakan jangka menengah maupun jangka panjang.