acehtoday.id/ – Ancaman pembunuhan dari Israel membuat Mojtaba Khamenei, Pemimpin Tertinggi Iran saat ini, dipastikan tidak akan hadir dalam rangkaian upacara pemakaman ayahnya, mendiang Ayatollah Ali Khamenei, yang berlangsung sejak 4 hingga 9 Juli 2026 di berbagai lokasi di Iran dan Irak.
Kabar tersebut disampaikan Ayatollah Hakim Elahi, perwakilan Pemimpin Tertinggi Iran untuk India, dalam wawancara yang dilansir India Today, Kamis (2/7/2026). Menurutnya, pihak keamanan Iran melarang Mojtaba tampil di depan publik meski secara pribadi ia ingin hadir dan bertemu warganya.
“Situasinya sangat berbahaya dan kami tidak bisa menjamin keamanannya,” ujar Elahi menirukan pernyataan aparat keamanan Iran kepada Mojtaba.
Kekhawatiran itu bukan tanpa alasan. Menteri Pertahanan Israel, Israel Katz, sebelumnya menyebut Mojtaba sebagai target pembunuhan berikutnya, sebagaimana dilaporkan The Times of Israel.
Ancaman ini langsung dibalas keras oleh Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, yang menegaskan lewat platform X pada Rabu (1/7/2026) bahwa setiap serangan terhadap rakyat atau pemimpin Iran akan dijawab dengan respons cepat dan tegas. Araghchi juga mengingatkan bahwa Amerika Serikat telah terikat Nota Kesepahaman 14 poin yang mewajibkan penghentian permusuhan di Timur Tengah, termasuk menahan langkah agresif Israel.
Ini bukan kali pertama Mojtaba menghindari tampil di ruang publik akibat ancaman keamanan. Ia juga absen pada pemakaman istrinya, Zahra Haddad-Adel, yang tewas bersama Ayatollah Ali Khamenei dalam serangan udara gabungan AS-Israel pada 28 Februari 2026 di kediaman mereka.
Di tengah situasi ini, perundingan diplomatik tetap berjalan. Pada 1 Juli, Qatar dan Pakistan memfasilitasi pertemuan terpisah dengan tim perunding AS dan Iran di Doha, membahas implementasi MoU 14 poin dengan perkembangan yang disebut positif.
Juru bicara Kementerian Luar Negeri Qatar, Majed Al Ansari, menyatakan seluruh pihak sepakat melanjutkan pembicaraan setelah prosesi pemakaman Khamenei rampung.
Ketua Parlemen Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf, turut menyerukan warga untuk hadir massal memberi penghormatan terakhir kepada Ali Khamenei, pemimpin dengan masa jabatan terlama dalam sejarah Iran modern.


