Bulan: Juli 2026

  • Nobar Piala Dunia 2026 di Hermes Palace, Wisatawan Nikmati Sarapan Sambil Nonton Bola

    acehtoday.id/ | Banda AcehHermes Palace Hotel Banda Aceh menggelar nonton bareng (nobar) Piala Dunia 2026 yang menyita perhatian tamu hotel, termasuk wisatawan yang sedang berlibur di Aceh. Salah satunya Zulfadh, warga Marindal, Medan, yang sengaja memilih menginap di hotel tersebut bersama keluarga saat momen Piala Dunia berlangsung.

    Pada Selasa (30/6/2026), Zulfadh menyaksikan laga Belanda melawan Maroko melalui layar tancap berukuran 1,5 x 2 meter yang dipasang di area restoran, sambil menikmati sarapan yang disediakan hotel. Ia menilai pertandingan berjalan sengit karena kedua tim tampil menyerang sejak awal, dan memprediksi laga berakhir dengan skor 4-3 untuk Belanda.

    Namun hasil pertandingan itu Belanda kalah melalui adu pinalti. Zulfadh terkesan dengan penampilan Achraf Hakimi, kapten Maroko yang tidak kenal menyerah. Meski demikian Argentina tetap menjadi tim favoritnya untuk menjuarai turnamen.

    Menurut Zulfadh, nobar di hotel memberi kenyamanan lebih dibanding di warung kopi karena bebas asap rokok dan lingkungannya lebih bersih, sehingga cocok ditonton bersama keluarga.

    Public Relation Hermes Palace, Agustia Adha
    Public Relation Hermes Palace, Agustia Adha

    Public Relation Hermes Palace, Agustia Adha, menjelaskan bahwa nobar Piala Dunia 2026 bukan sekadar hiburan, melainkan bagian dari strategi bisnis hotel untuk memperkuat pengalaman tamu dan citra merek. Ia menyebut turnamen kali ini istimewa karena untuk pertama kalinya diikuti 48 negara, format terbesar sepanjang sejarah Piala Dunia.

    Agustia menambahkan, acara ini dirancang untuk mendongkrak traffic dan pendapatan tambahan lewat event experience, sekaligus menyasar komunitas pencinta bola, travel agent, klien korporat, pelanggan loyal, hingga generasi muda. Dekorasi bertema pertandingan, sajian kuliner khas, serta layanan hotel yang menyatu dengan suasana kebersamaan turut menjadi nilai tambah bagi pengunjung.

    Kegiatan nobar ini juga diharapkan mendorong aktivitas pariwisata lokal di Banda Aceh sekaligus membuka ruang promosi digital, mengingat dokumentasi foto dan video acara akan digunakan sebagai konten media sosial hotel untuk menjangkau calon tamu baru.

    Agustia menegaskan, nobar Piala Dunia 2026 merupakan bentuk experiential marketing yang memadukan hiburan, keterlibatan pelanggan, dan peluang bisnis dalam satu momentum olahraga global.

    Laporan : Zaky

  • SEI Desak Dinas Pendidikan Diperiksa Soal Kasus TPPO Aceh

    acehtoday.id/ | Banda Aceh – Sumatera Environmental Initiative (SEI) mengungkap dugaan praktik perekrutan dan penempatan lulusan sekolah secara ilegal untuk bekerja di kapal berbendera asing yang melibatkan tujuh sekolah di Provinsi Aceh.

    Temuan ini dipaparkan Peneliti SEI, Crisna Akbar, dalam kegiatan Evening Talk bertema “Melihat Arah Penegakan Hukum Tindak Pidana Perdagangan Orang (TPPO) terhadap Pekerja Migran Aceh” di Banda Aceh, Selasa (30/6/2026).

    Berdasarkan hasil penelusuran dan investigasi SEI dalam beberapa waktu terakhir, praktik ini ditemukan menyebar di sejumlah wilayah pantai timur Aceh.

    “Ada lima sekolah di wilayah pantai timur yang terindikasi perekrutan dan penempatan secara non prosedural untuk bekerja diatas kapal berbendera asing,” kata Crisna.

    Kelima sekolah tersebut, menurut Crisna, tersebar di Aceh Besar, Pidie, Pidie Jaya, Bireuen, Lhokseumawe, dan Aceh Utara.

    Sementara di wilayah pantai barat, indikasi serupa ditemukan di Aceh Selatan, meski dengan pola berbeda sekolah di sana tidak mengirim lulusan secara langsung, melainkan bekerja sama dengan sekolah di Aceh Besar sebagai jalur pemberangkatan, meski alumninya berasal dari Aceh Selatan.

    @acehtoday.id/ 41 pemuda Aceh diduga menjadi korban perdagangan orang dan perbudakan di kapal perikanan asing dalam tiga tahun terakhir. Mereka dijanjikan pekerjaan dengan gaji besar, namun sebagian justru mengalami kekerasan, gaji tak dibayar, hingga ada yang meninggal dunia. Ironisnya, hingga kini proses penegakan hukum masih menjadi sorotan karena belum ada tersangka yang ditetapkan. #PerdaganganOrang #Aceh #PekerjaMigran #infoaceh #SeputarAceh ♬ suara asli – Seputar Aceh

    Crisna menilai sekolah-sekolah yang terlibat praktik non prosedural ini bergerak dalam satu jaringan yang sama, sehingga kerap luput dari deteksi.

    Ia bahkan meyakini terdapat 12 aktor kunci yang terlibat dalam jaringan tersebut, apabila salah satu dari empat tersangka yang saat ini diproses Polda Aceh bersedia membuka informasi lebih lanjut. “Ada 12 aktor kunci yang terlibat, salah satunya mantan kepala dinas,” ujarnya.

    Hasil investigasi SEI juga mengungkap keterlibatan sejumlah oknum dari berbagai latar belakang, mulai dari kepala bidang di pemerintahan, guru sekolah, hingga penyuluh perikanan.

    Selain itu, ditemukan pula dugaan pemalsuan dokumen, termasuk surat keterangan kelulusan dan hasil medical check up yang tidak sesuai dengan kondisi sebenarnya calon pekerja.

    “Baru di satu sekolah ada temuan soal dokumen surat keterangan kelulusan palsu yang dikeluarkan oleh oknum di Lhokseumawe. Lalu medical check up palsu. Kita punya bukti fisiknya,” jelas Crisna.

    Ia menegaskan bahwa pengungkapan kasus ini tidak boleh berhenti hanya pada pihak sekolah maupun empat tersangka yang telah diamankan.

    Menurutnya, masih ada peran perekrut, penyalur, dan pihak-pihak lain dalam rantai penempatan yang belum terungkap sepenuhnya, termasuk keberadaan mantan penyalur pekerja migran yang kini sudah tidak aktif namun korban yang telanjur diberangkatkan hingga kini belum memperoleh hak-haknya.

    Crisna turut menyoroti lemahnya pengawasan Dinas Pendidikan terhadap praktik perekrutan lulusan di sekolah-sekolah, meski persoalan ini sebelumnya sudah pernah disampaikan kepada instansi tersebut.

    Ia juga mengkritik sikap sejumlah sekolah yang lepas tangan ketika korban bersama orang tuanya meminta pertanggungjawaban, dengan alasan proses perekrutan bukan lagi tanggung jawab sekolah karena status korban sudah menjadi alumni padahal proses perekrutan justru berlangsung saat korban masih berstatus siswa aktif.

    Atas dasar itu, SEI mendorong penyidik turut mendalami peran Dinas Pendidikan dalam perkara ini, termasuk memeriksa saksi-saksi dari instansi tersebut untuk memastikan sejauh mana pengetahuan dan pengawasan yang telah dilakukan.

    “Kami mendorong agar Dinas Pendidikan juga diperiksa dalam proses penyidikan. Perlu dipastikan apakah mereka benar-benar tidak mengetahui atau justru mengetahui adanya aktivitas tersebut,” tutup Crisna.

  • Libatkan Tujuh Sekolah di Aceh, BP3MI Ungkap Dugaan Perekrutan Ilegal Pekerja Kapal Asing

    acehtoday.id/ | Banda Aceh – Balai Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (BP3MI) Aceh telah melaporkan dua kasus dugaan pemberangkatan pekerja migran Indonesia (PMI) secara non prosedural asal Aceh kepada Polda Aceh sepanjang 2026. Kedua kasus tersebut kini masih menunggu tindak lanjut dari pihak kepolisian.

    Hal ini disampaikan Ketua Tim Pelindungan BP3MI Aceh, Fauzah Marhamah, dalam acara Evening Talk bertajuk “Melihat Arah Penegakan Hukum Tindak Pidana Perdagangan Orang (TPPO) terhadap Pekerja Migran Aceh”, Selasa (30/6/2026).

    “Tahun 2026 ini ada dua kasus yang sudah kami sampaikan ke Polda Aceh. Kasusnya masih baru dan sedang menunggu tindak lanjut dari pihak kepolisian,” ujar Fauzah.

    Ia menjelaskan, kedua laporan tersebut berkaitan dengan pemberangkatan pekerja migran asal Aceh secara non prosedural yang berpotensi mengarah pada tindak pidana perdagangan orang (TPPO). BP3MI berharap proses hukum ini dapat memberikan efek jera agar kasus serupa tidak terus berulang di kemudian hari.

    “Kami berharap keberangkatan secara ilegal ini tidak terjadi lagi dan pihak yang memberangkatkan bisa dimintai pertanggungjawaban karena memang tidak diperbolehkan memberangkatkan pekerja migran ke luar negeri di luar prosedur,” kata Fauzah.

    Dalam kesempatan yang sama, BP3MI turut menyoroti dampak bencana banjir yang melanda sejumlah daerah di Aceh belakangan ini. Menurut Fauzah, wilayah-wilayah yang terdampak banjir tersebut justru selama tiga tahun terakhir dikenal sebagai daerah kantong pekerja migran asal Aceh, baik yang berangkat secara legal maupun ilegal.

    Atas dasar itu, BP3MI Aceh kini berkoordinasi dengan pemerintah daerah untuk melakukan langkah pencegahan, agar masyarakat di daerah terdampak tidak semakin tergiur berangkat ke luar negeri melalui jalur ilegal di tengah kondisi ekonomi yang sulit pascabencana.

    “Salah satunya kami sedang merancang program peningkatan kapasitas calon pekerja migran yang disesuaikan dengan kebutuhan pekerjaan di luar negeri. Mudah-mudahan tahun ini bisa dilaksanakan di daerah-daerah kantong pekerja migran,” jelasnya.

    Fauzah juga mengungkapkan fakta yang tak kalah penting: korban yang terindikasi TPPO ternyata tidak hanya perempuan, melainkan juga laki-laki, bahkan ditemukan sejumlah kecil korban yang masih berstatus anak di bawah umur.

    Sementara itu, Malaysia tercatat masih menjadi negara tujuan utama para pekerja migran asal Aceh hingga saat ini. Berdasarkan hasil wawancara BP3MI terhadap sejumlah pekerja migran yang telah dipulangkan, mayoritas dari mereka mengaku berangkat karena ajakan keluarga, tetangga, atau kenalan yang lebih dulu bekerja di negara tersebut pola rekrutmen berantai yang kerap menjadi pintu masuk praktik pemberangkatan non prosedural.**

  • Tujuh Paket Proyek di Aceh Barat Kena Sorotan BPK RI, Ini Rincian Lengkapnya

    acehtoday.id/ | Aceh Barat – Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) Republik Indonesia menemukan kelebihan pembayaran senilai Rp153,65 juta pada tujuh paket pekerjaan konstruksi di lingkungan Pemerintah Kabupaten Aceh Barat. Temuan ini tertuang dalam Laporan Hasil Pemeriksaan (LHP) BPK Nomor 2.A/T/LHP/DJPKN-V.BA/PPD.01/05/2026 atas Laporan Keuangan Pemerintah Kabupaten Aceh Barat Tahun Anggaran 2025.

    Kelebihan bayar tersebut muncul akibat kekurangan volume pekerjaan pada sejumlah proyek, meski seluruh nilai kontrak telah dibayar lunas kepada pihak penyedia jasa. Total nilai kontrak dari tujuh paket proyek yang diperiksa mencapai sekitar Rp15,84 miliar.

    Dari sisi sektor kesehatan, temuan mencakup proyek penambahan ruang Puskesmas Kajeung dengan kelebihan bayar Rp10.112.361,25. Selain itu, RSUD Cut Nyak Dhien turut menyumbang dua temuan, yakni pembangunan fasilitas kesehatan HD, ICVCU, dan Kemoterapi senilai Rp32.333.197,80, serta pembangunan Gedung Rawat Inap sebesar Rp42.195.571,71.

    Di sektor pendidikan, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Aceh Barat tercatat pada tiga paket proyek bermasalah. Ketiganya meliputi pembangunan pagar SDN 21 Meulaboh dengan kelebihan bayar Rp43.790.638,06, pembangunan toilet SDN 22 Meulaboh sebesar Rp7.430.267,83, dan rehabilitasi ruang kelas SMPN 3 Meureubo sebesar Rp1.590.955,98.

    Sementara itu, satu temuan lainnya berasal dari Dinas Pariwisata, Kepemudaan, dan Olahraga (Disparpora) berupa pekerjaan lanjutan pembangunan Stadion Leuhan tahap IV, dengan kelebihan bayar sebesar Rp16.198.360,00.

    Selain persoalan kelebihan pembayaran, BPK turut menyoroti potensi masa manfaat gedung dan bangunan yang tidak sesuai perencanaan awal, yang berisiko meningkatkan biaya pemeliharaan di kemudian hari.

    BPK menilai persoalan ini bersumber dari lemahnya fungsi pengawasan dan pengendalian oleh para pengguna anggaran, yakni Kepala Dinas Kesehatan, Disdikbud, Disparpora, serta Direktur RSUD Cut Nyak Dhien, dalam pelaksanaan belanja modal.

    Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) di masing-masing instansi juga dinilai belum optimal mengendalikan kontrak, termasuk belum memiliki mekanisme efektif untuk menguji validitas dokumen tagihan MC dan kesesuaiannya dengan prestasi fisik di lapangan sebelum pembayaran dicairkan.

    Menindaklanjuti temuan tersebut, BPK merekomendasikan agar Bupati Aceh Barat memerintahkan kepala dinas terkait dan Direktur RSUD Cut Nyak Dhien untuk memproses pengembalian kelebihan pembayaran sebesar Rp153.651.352,63 sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan, kemudian menyetorkannya ke kas daerah.

    BPK juga meminta PPK, Pejabat Pelaksana Teknis Kegiatan (PPTK), dan Tim Teknis terkait untuk lebih ketat mengawasi jalannya pekerjaan konstruksi ke depan, guna memastikan hasil pekerjaan sesuai kuantitas dan spesifikasi teknis yang telah ditetapkan dalam kontrak.**

  • Belgia Hadapi Senegal, Peluang Terakhir Generasi Emas

    Seputar Aceh – Generasi emas Belgia yang tersisa di Piala Dunia 2026 menjaga asa memburu gelar Piala Dunia untuk terakhir kalinya. Misi itu akan pupus jika kalah dari Senegal.

    Sebagaimana dilaporkan oleh Kompas.id, Belgia masih menumpukan harapan memenangi Piala Dunia pada generasi emas yang tersisa di Piala Dunia 2026 ini. Gol-gol mereka di fase penyisihan grup masih dicetak dan diinspirasi oleh para pemain veteran, seperti Romelu Lukaku, Leandro Trossard, dan Kevin de Bruyne. Pemain generasi emas yang masih tersisa itu akan kembali menjadi tumpuan Belgia untuk melewati hadangan Senegal pada laga babak 32 besar di Stadion Seattle, Kamis (2/7/2026) mulai pukul 3.00 WIB.

    Belgia mengawali persaingan Piala Dunia 2026 dengan tertatih, nyaris kalah dari Mesir pada laga pertama. Mereka selamat berkat teror striker veteran Romelu Lukaku yang memaksa gol bunuh diri bek Mesir, Mohamed Hany. Belgia kemudian ditahan tanpa gol oleh Iran dan baru memastikan lolos ke fase gugur berkat kemenangan 5-1 atas Selandia Baru. Empat dari lima gol Belgia dicetak oleh generasi emas yang tersisa, De Bruyne dan Lukaku, masing-masing satu gol dan Trossard dengan brace.

    Diskusi tentang Peluang Belgia

    Performa para pemain veteran ini menunjukkan ketidakmampuan generasi penerus untuk menggantikan mereka. Jeremy Doku dan kawan-kawan belum menunjukkan kapasitas mumpuni untuk menginspirasi permainan selevel Piala Dunia. Bahkan, mereka juga sangat terbantu oleh konsistensi performa kiper veteran, Thibaut Courtois. Kiper yang kini berusia 34 tahun itu sering melakukan penyelamatan krusial saat Belgia diserang balik.

    Peran kiper Real Madrid itu akan krusial saat Belgia melawan Senegal yang berbahaya dalam counter attack. Di lini serang, Lukaku yang baru pulih dari cedera masih menjadi andalan untuk memecah pertahanan lawan. Dia pun bertekad memberikan yang terbaik dalam laga hidup mati melawan Senegal.

    Analisis Performa Tim Belgia

    Romelu Lukaku, striker berusia 33 tahun, menyatakan, ”Saya senang berada di sini karena jika Anda melihat musim saya dan bagaimana kelanjutannya, biasanya saya seharusnya tidak pernah tampil di Piala Dunia.” Lukaku menyampaikan bahwa bermain dan membantu tim adalah hal luar biasa. Meskipun kondisinya belum sepenuhnya pulih, dia telah mencetak satu gol dan satu asis dalam 121 menit bermain dan sangat efektif sebagai pemain pengganti.

    Dalam laga melawan Mesir, Belgia tertinggal 1-0, namun berhasil membalikkan keadaan. Kemenangan ini menjadi modal penting bagi Belgia sebelum menghadapi Senegal. Melihat performa yang ditunjukkan oleh tim, harapan untuk mencapai babak selanjutnya sangat bergantung pada kontribusi pemain-pemain veteran.

    Peluang dan Harapan Belgia ke Depan

    Bagi Belgia, pertandingan melawan Senegal bukan sekadar laga biasa, tetapi menjadi momen krusial dalam perjalanan mereka di Piala Dunia. Kesempatan ini adalah peluang terakhir bagi generasi emas yang tersisa untuk membuktikan diri dan mengukir sejarah. Dengan dukungan para veteran, Belgia berusaha mengatasi tantangan yang ada di depan mata.

    Dengan semua faktor tersebut, kinerja Belgia melawan Senegal akan menentukan nasib mereka di Piala Dunia ini. Semangat dan pengalaman pemain-pemain veteran diharapkan dapat membangkitkan performa tim dan melanjutkan ambisi untuk meraih gelar.

  • Irpanusir Nakhodai PW MPI Aceh, Usung Gerakan Kebudayaan

    Irpanusir Nakhodai PW MPI Aceh, Usung Gerakan Kebudayaan

    Banda Aceh – Filosofi sinar matahari pagi yang menghadirkan manfaat bagi kehidupan menjadi landasan gerakan Matahari Pagi Indonesia (MPI), organisasi kemasyarakatan yang baru saja melantik Pengurus Wilayah (PW) untuk Provinsi Aceh. Pelantikan berlangsung di Aula Anjong Mon Mata, Banda Aceh, Selasa (30/6/2026), dengan Dr. Irpanusir dipercaya memimpin kepengurusan untuk periode mendatang.

    Ketua Dewan Pertimbangan Pengurus Besar MPI, Dahnil Anshar Simanjuntak, yang memimpin langsung prosesi pelantikan, menjelaskan bahwa nama Matahari Pagi Indonesia bukan sekadar simbol. Menurutnya, semangat organisasi ini sejalan dengan nilai fastabiqul khairat, yakni berlomba-lomba menghadirkan kebaikan dan kontribusi terbaik bagi masyarakat.

    “Organisasi ini ingin menghadirkan manfaat nyata bagi masyarakat melalui aksi sosial, pendidikan, dan pemberdayaan,” ujar Dahnil di hadapan tamu undangan yang hadir dalam acara tersebut.

    Pelantikan turut dihadiri unsur Forkopimda, anggota DPRA, jajaran TNI-Polri, akademisi, tokoh agama, tokoh masyarakat, hingga perwakilan berbagai organisasi kemasyarakatan di Aceh. Kehadiran lintas elemen ini menegaskan luasnya jaringan dukungan terhadap kiprah MPI di provinsi paling barat Indonesia tersebut.

    Dalam sambutannya, Irpanusir menyampaikan bahwa kepengurusan yang baru dilantik akan segera merancang program kerja dengan empat pilar utama: penguatan nilai kebangsaan, pendidikan, kegiatan sosial, dan pemberdayaan masyarakat. Ia menegaskan MPI bukan kendaraan politik, melainkan wadah kemasyarakatan yang berupaya menghidupkan kembali semangat gotong royong di tengah masyarakat Aceh.

    “Kami ingin menghadirkan program-program yang benar-benar dirasakan masyarakat. Semangat Matahari Pagi Indonesia adalah menghadirkan manfaat dan membangun kolaborasi dengan seluruh elemen di Aceh,” kata Irpanusir.

    Sebagai bukti komitmen tersebut, Dahnil mengungkapkan bahwa MPI sejatinya telah lebih dulu menjalankan sejumlah program sosial di berbagai daerah. Di antaranya program Makan Bahagia Gratis yang didanai secara swadaya, serta kegiatan bersih-bersih rumah ibadah yang melibatkan partisipasi masyarakat setempat. Program-program ini, menurutnya, menjadi bukti nyata bahwa MPI tidak hanya berhenti pada wacana, melainkan sudah bergerak di lapangan.

    Dahnil juga menegaskan satu prinsip penting yang membedakan MPI dari organisasi kemasyarakatan pada umumnya: sifatnya yang inklusif dan terbuka bagi siapa saja, tanpa membedakan latar belakang agama, organisasi, maupun pilihan politik. Prinsip ini, menurutnya, sejalan dengan visi organisasi untuk merangkul seluruh elemen bangsa dalam gerakan kebudayaan yang mereka usung.

    Untuk merealisasikan program-programnya di Aceh, PW MPI berencana menggandeng pemerintah daerah, lembaga pendidikan, organisasi keagamaan, serta beragam komunitas lokal. Irpanusir menilai Aceh memiliki modal sosial yang khas, yakni budaya gotong royong dan nilai-nilai keislaman yang kuat, sehingga dinilai cocok menjadi landasan gerakan kebudayaan yang diusung MPI secara nasional.

    Senada dengan Irpanusir, Dahnil berharap kepengurusan baru mampu menerjemahkan filosofi Matahari Pagi Indonesia ke dalam aksi konkret yang berdampak langsung bagi masyarakat.

    Ia menegaskan bahwa saat ini organisasi tersebut memosisikan diri sepenuhnya sebagai gerakan kebudayaan yang berupaya membangun karakter bangsa melalui jalur pendidikan, aktivitas sosial, dan pemberdayaan komunitas.

    Dengan resminya kepengurusan ini, PW MPI Aceh diharapkan dapat segera bergerak menyusun agenda kerja dan memperluas jaringan kolaborasi lintas sektor di seluruh wilayah Aceh, sekaligus melanjutkan program-program sosial yang telah lebih dulu berjalan di berbagai daerah lain.**

  • Persiraja Masukkan 18 Pemain Muda Aceh ke Data Talenta PSSI, Siapkan Calon Bintang Masa Depan

    Persiraja Masukkan 18 Pemain Muda Aceh ke Data Talenta PSSI, Siapkan Calon Bintang Masa Depan

    Persiraja Banda Aceh resmi memasukkan 18 pemain muda berbakat asal Aceh ke dalam basis data talenta nasional milik PSSI. Langkah ini menjadi bagian dari upaya Persiraja membangun pembinaan pemain muda secara terarah agar mampu melahirkan pesepak bola profesional dari Aceh.

    Manajer Persiraja, Gidong, mengatakan seluruh proses administrasi dan pendataan pemain telah selesai, Selasa (30/6/2026). Dengan demikian, para pemain hasil seleksi kini telah terdaftar dalam sistem identifikasi bakat nasional PSSI.

    “Alhamdulillah, hari ini kami telah menyelesaikan seluruh proses pendataan pemain muda berbakat Aceh. Ini menjadi langkah awal Persiraja dalam menyiapkan pemain profesional melalui program Persiraja by Design,” ujar Gidong.

    Ia menjelaskan, program tersebut merupakan hasil kerja sama Persiraja dengan PSSI melalui Akademi Nasional Garuda United. Tujuannya adalah mencari, mendata, dan membina pemain muda berbakat sejak usia dini agar memiliki kesempatan berkembang hingga level profesional.

    Menurut Gidong, pembinaan yang dilakukan secara terencana akan membuka peluang lebih besar bagi pemain muda Aceh untuk berkarier di dunia sepak bola.

    “Kami berharap dari program ini nantinya akan lahir kembali pemain asal Aceh yang bisa memperkuat Tim Nasional Indonesia,” katanya.

    Sebanyak 18 pemain yang terpilih berasal dari berbagai Sekolah Sepak Bola (SSB), akademi, dan Pusat Pendidikan dan Latihan Pelajar (PPLP) Aceh. Mereka merupakan pemain kelompok usia kelahiran 2010, 2011, dan 2012 yang telah melalui proses seleksi.

    Melalui program ini, Persiraja berharap pembinaan sepak bola usia muda di Aceh semakin terarah. Para pemain yang telah masuk dalam basis data PSSI akan memiliki kesempatan lebih besar untuk terus dipantau dan dikembangkan, sehingga ke depan dapat memperkuat Persiraja, klub profesional lainnya, bahkan Tim Nasional Indonesia.

  • Dahnil Ungkap Hubungan Emosional Prabowo dengan Aceh

    Dahnil Ungkap Hubungan Emosional Prabowo dengan Aceh

    acehtoday.id/ | Banda Aceh – Ketua Dewan Pertimbangan Pengurus Besar Matahari Pagi Indonesia (MPI), Dahnil Anshar Simanjuntak, menegaskan perhatian Presiden Prabowo Subianto terhadap Aceh tidak pernah surut, meski dinamika politik nasional terus bergulir. Pernyataan ini disampaikannya saat menghadiri pelantikan Pengurus Wilayah MPI Aceh di Aula Anjong Mon Mata, Banda Aceh, Selasa (30/6/2026).

    Dahnil menuturkan, sejak masih menjabat Menteri Pertahanan hingga kini duduk sebagai Presiden, Prabowo selalu menaruh perhatian khusus terhadap Aceh. Ia mengaku pernah merasakan langsung hal ini saat bertugas sebagai juru bicara Kementerian Pertahanan, di mana dirinya kerap menjadi penghubung komunikasi antara pemerintah pusat dan Pemerintah Aceh.

    “Pesan Presiden selalu sama, Aceh harus menjadi prioritas,” ujar Dahnil di hadapan pengurus dan tamu undangan yang hadir dalam pelantikan tersebut.

    Ia menegaskan, perhatian Prabowo terhadap Aceh tidak dilandasi oleh besar-kecilnya dukungan politik yang diberikan masyarakat Aceh dalam pemilu. Menurutnya, tanggung jawab seorang presiden bersifat menyeluruh kepada seluruh rakyat Indonesia, termasuk masyarakat Aceh, tanpa terkecuali.

    “Seluruh rakyat Indonesia merupakan tanggung jawab Presiden, termasuk masyarakat Aceh,” tegasnya.

    Di kesempatan yang sama, Dahnil turut membagikan kisah pribadinya. Ia mengaku lahir di Kuala Simpang, Aceh Tamiang, dan keluarganya pernah menjadi korban konflik Aceh pada masa lalu. Pengalaman pahit tersebut, menurutnya, menjadi alasan kuat baginya untuk berharap perdamaian yang telah terbangun di Aceh dapat terus terjaga hingga kini.

    Ia mengingatkan bahwa konflik tidak pernah menghasilkan kemenangan bagi pihak mana pun, melainkan hanya menyisakan kerugian bagi semua yang terlibat.

    “Tidak ada konflik yang menghasilkan kemenangan. Semua pihak pasti mengalami kerugian,” pungkasnya.

    Dahnil menegaskan, bahwa hubungan pemerintah pusat dengan Aceh dibangun atas dasar tanggung jawab kebangsaan, bukan semata pertimbangan elektoral, sekaligus menjadi pengingat pentingnya menjaga perdamaian yang telah diperjuangkan Aceh selama ini.**

  • Dahnil Paparkan Visi Baru MPI di Hadapan Pengurus Aceh

    Dahnil Paparkan Visi Baru MPI di Hadapan Pengurus Aceh

    acehtoday.id/ | Banda Aceh – Matahari Pagi Indonesia (MPI) resmi bertransformasi dari gerakan politik menjadi gerakan kebudayaan yang berorientasi pada pembangunan manusia dan peradaban. Penegasan ini disampaikan Ketua Dewan Pertimbangan Pengurus Besar MPI, Dahnil Anshar Simanjuntak, usai melantik Pengurus Wilayah (PW) MPI Provinsi Aceh di Aula Anjong Mon Mata, Banda Aceh, Selasa (30/6/2026).

    Dahnil menjelaskan, MPI memang lahir dari dinamika politik nasional. Namun setelah babak politik itu usai, organisasi tersebut memutuskan mengalihkan fokusnya ke ranah sosial, pendidikan, budaya, dan pemberdayaan masyarakat.

    “Gerakan politik sering kali hanya melihat kepentingan jangka pendek. Sementara gerakan kebudayaan membangun masa depan bangsa melalui pendidikan, sosial, ekonomi, dan pembentukan karakter,” kata Dahnil di hadapan pengurus dan tamu undangan yang hadir.

    Ia menyoroti sejumlah program pemerintah, seperti sektor pendidikan, pembangunan sumber daya manusia, hingga program makan bergizi, sebagai bentuk investasi jangka panjang yang manfaatnya baru akan terlihat beberapa tahun ke depan. Analogi ini digunakannya untuk menggambarkan cara kerja gerakan kebudayaan yang diusung MPI tidak instan, namun berdampak lebih permanen bagi bangsa.

    Atas dasar itu, Dahnil menegaskan MPI ingin mengambil peran aktif sebagai organisasi yang memperkuat pembangunan karakter masyarakat lewat beragam kegiatan sosial dan program pemberdayaan, bukan lagi sebagai kendaraan kepentingan politik jangka pendek.

    Menutup pernyataannya, Dahnil menyampaikan harapan agar kepengurusan PW MPI Aceh yang baru saja dilantik mampu menerjemahkan semangat gerakan kebudayaan ini secara kontekstual, sesuai dengan kebutuhan dan karakteristik masyarakat Aceh.

    Ia meyakini pendekatan budaya dan sosial akan lebih efektif menjawab tantangan pembangunan di daerah dibandingkan pendekatan politik semata.

    Dahnil berharap, momentum strategis ini penting bagi pengurus baru MPI Aceh dalam menyusun program kerja ke depan, dengan penekanan pada pendidikan, pemberdayaan sosial, dan penguatan karakter bangsa sebagai fondasi utama.**

  • Irpanusir Resmi Nahkodai Matahari Pagi Indonesia Aceh, Siap Jalankan Gerakan Kebudayaan

    Irpanusir Resmi Nahkodai Matahari Pagi Indonesia Aceh, Siap Jalankan Gerakan Kebudayaan

    acehtoday.id/ | Banda Aceh – Pengurus Wilayah Matahari Pagi Indonesia (PW MPI) Provinsi Aceh resmi dilantik di Aula Anjong Mon Mata, Banda Aceh, Selasa (30/6/2026). Dr. Irpanusir didapuk sebagai nakhoda organisasi kemasyarakatan ini untuk periode ke depan, dengan misi menjalankan gerakan kebudayaan yang menyasar penguatan nilai kebangsaan di Bumi Serambi Mekkah.

    Prosesi pelantikan dipimpin langsung oleh Ketua Dewan Pertimbangan Pengurus Besar Matahari Pagi Indonesia, Dahnil Anshar Simanjuntak. Acara turut dihadiri unsur Forkopimda, anggota DPRA, jajaran TNI-Polri, akademisi, tokoh agama, tokoh masyarakat, hingga perwakilan berbagai organisasi kemasyarakatan di Aceh.

    Usai dilantik, Irpanusir menegaskan pihaknya akan segera merancang program kerja yang berfokus pada empat pilar: penguatan nilai kebangsaan, pendidikan, kegiatan sosial, dan pemberdayaan masyarakat.

    Ia menekankan bahwa MPI bukanlah kendaraan politik, melainkan wadah kemasyarakatan yang ingin menghidupkan kembali semangat gotong royong.

    “Kami ingin menghadirkan program-program yang benar-benar dirasakan masyarakat. Semangat Matahari Pagi Indonesia adalah menghadirkan manfaat dan membangun kolaborasi dengan seluruh elemen di Aceh,” ujar Irpanusir.

    Untuk merealisasikan program tersebut, PW MPI Aceh berencana menggandeng pemerintah daerah, lembaga pendidikan, organisasi keagamaan, serta beragam komunitas lokal. Menurut Irpanusir, Aceh memiliki modal sosial yang khas berupa budaya gotong royong dan nilai-nilai keislaman yang kuat, sehingga cocok menjadi landasan gerakan kebudayaan yang diusung MPI di tingkat nasional.

    Senada dengan itu, Dahnil Anshar Simanjuntak menyampaikan harapannya agar kepengurusan baru mampu menerjemahkan filosofi Matahari Pagi Indonesia ke dalam aksi konkret yang berdampak langsung bagi masyarakat.

    Ia menegaskan bahwa saat ini organisasi tersebut memosisikan diri sebagai gerakan kebudayaan yang berupaya membangun karakter bangsa lewat jalur pendidikan, aktivitas sosial, dan pemberdayaan komunitas.

    Dengan resminya kepengurusan ini, PW MPI Aceh diharapkan dapat segera bergerak menyusun agenda kerja dan memperluas jaringan kolaborasi lintas sektor di seluruh wilayah Aceh.**