Omset Turun Drastis, Cikgu Kopi Saree Pilih Setia ke Karyawan

acehtoday.id/ | Aceh Besar – Pemilik Cikgu Kopi Arabika Gayo di kawasan Saree memilih bertahan di tengah anjloknya omset sejak Jalan Tol Sigli-Banda Aceh mulai difungsikan. Meski pendapatan turun drastis, ia enggan melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK) terhadap para karyawannya.

Pemilik usaha yang akrab disapa Cikgu, bernama asli Bustami, mengatakan bahwa sebelum tol beroperasi, usahanya mempekerjakan sekitar 30 karyawan. Kini jumlah tersebut tinggal 16 orang, bukan karena dirumahkan, melainkan karena sebagian memilih mengundurkan diri akibat kondisi usaha yang terus menurun.

"Saya tidak mau memberhentikan karyawan. Apa yang ada kami makan bersama di sini. Posisi kami sekarang bertahan, bukan menyerah," kata Cikgu saat ditemui acehtoday.id/, Jumat (17/7/2026).

Omset Anjlok Sejak Tol Dibuka, Bukan Akibat Banjir

Menurut Cikgu, penurunan omset terjadi tepat setelah jalan tol dibuka, bukan karena banjir yang sempat melanda kawasan tersebut beberapa waktu lalu. “Kalau kami penyebabnya adalah tol. Begitu tol dibuka, langsung turun. Seandainya tol dibuka sebelum banjir pun hasilnya tetap begini,” ucapnya.

Ia menilai Jalan Tol Sigli-Banda Aceh telah mengalihkan arus kendaraan yang selama puluhan tahun menjadi sumber utama pelanggan bagi pelaku UMKM di Saree. Meski saat ini ruas Padang Tiji-Seulimeum masih digratiskan, Cikgu tidak yakin kondisi akan berubah signifikan ketika tarif mulai diberlakukan.

“Mungkin nanti ada yang kembali lewat jalan lama karena mempertimbangkan biaya tol pulang-pergi. Tapi menurut saya persentasenya kecil, mungkin hanya sekitar lima persen,” tambahnya.

Meski dihadapkan pada situasi sulit, Cikgu menegaskan tidak menolak keberadaan pembangunan jalan tol. Ia memahami bahwa infrastruktur tersebut dibutuhkan untuk mempercepat mobilitas masyarakat. Namun, menurutnya, pembangunan seharusnya tetap disertai kebijakan yang melindungi pelaku usaha lokal.

“Kami juga ingin Aceh maju. Kami juga ingin ada jalan tol. Tapi pemerintah harus memikirkan bagaimana UMKM di Saree tetap hidup,” ujarnya.

Bagi Cikgu, mengembalikan Saree seperti sedia kala bukan hal yang mungkin dilakukan. Namun ia berharap pemerintah dapat memikirkan solusi konkret bagi UMKM yang terdampak. “Kalau ditanya bagaimana supaya kembali seperti dulu, ya tidak mungkin. Kecuali tol ditutup, tentu itu juga tidak mungkin. Yang kami harapkan sekarang adalah pemerintah benar-benar memikirkan solusi bagi UMKM yang terdampak,” pungkasnya.**

Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *