Penulis: Elza Putri Lestari

  • Pemko Banda Aceh Revitalisasi Pasar Smep Jadi Ikon Wisata Multietnis dan Pusat Ekonomi Baru

    acehtoday.id/ | Banda Aceh – Pemerintah Kota Banda Aceh memastikan revitalisasi kawasan Pasar Smep atau Peunayong akan mengusung konsep kawasan perdagangan, wisata sejarah, dan ruang publik multietnis untuk menghidupkan kembali ekonomi masyarakat.

    Hal itu disampaikan Wali Kota Banda Aceh, Illiza Saaduddin Djamal saat meninjau lokasi revitalisasi Pasar Smep di Peunayong, Selasa (21/7/2026).

    Menurut Illiza, kawasan tersebut awalnya dibangun sebagai lokasi relokasi pedagang pasca tsunami. Namun, seiring waktu kondisinya semakin kumuh, banyak kios kosong, dan aktivitas ekonomi terus menurun.

    “Tempat ini kita kembalikan fungsinya. Perdagangannya harus hidup, nilai sejarahnya tetap ada, dan menjadi ikon yang mencerminkan keberagaman sejarah Kota Banda Aceh,” kata Illiza.

    Ia mengatakan, desain baru kawasan tidak hanya mengangkat identitas Chinatown, tetapi juga merepresentasikan hubungan sejarah Aceh dengan berbagai bangsa, seperti Tionghoa, Turki, hingga India.

    “Awalnya desainnya hanya satu etnis yang diangkat, tapi kita punya sejarah yang sangat beragam dan itu ingin kita tampilkan di kawasan ini,” ujarnya.

    Dalam konsep revitalisasi tersebut, pemerintah akan menghadirkan pertokoan, pusat UMKM, cafe, ruang pertunjukan, amfiteater, hingga area penyelenggaraan berbagai kegiatan budaya.

    Menurut Illiza, kawasan itu nantinya diharapkan menjadi destinasi wisata baru sekaligus mampu menggerakkan perekonomian masyarakat.

    “Tempat ini diharapkan bisa menjadi ruang ekonomi masyarakat, tujuan wisata, sekaligus memiliki nilai sejarah yang tetap terjaga,” lanjutnya.

    Illiza menjelaskan program ini merupakan salah satu program prioritas yang telah dijanjikan kepada masyarakat sejak masa kampanye.

    Ia menyebut proses penataan berjalan tanpa penolakan karena mendapat dukungan para pedagang yang sejak lama menginginkan kawasan tersebut diperbaiki.

    “Sebelum direvitalisasi tempat ini sudah sangat kumuh. Alhamdulillah pedagang mendukung, mereka bersedia pindah sementara tanpa gejolak apa pun,” ujarnya.

    Menurut Illiza, total perencanaan awal pembangunan Rp10 miliar, sementara alokasi anggaran yang digunakan untuk revitalisasi Rp3,7 miliar.

    Adapun Pemerintah Kota Banda Aceh telah mengusulkan tambahan anggaran pada tahun depan agar proyek tersebut dapat diselesaikan.

    “Mudah-mudahan ada tambahan anggaran, baik dari transfer daerah, provinsi, pemerintah pusat, maupun sumber lainnya sehingga tahun depan bisa kita tuntaskan,” ucap Illiza.

    Wali Kota Banda Aceh, Illiza Saaduddin Djamal saat meninjau lokasi revitalisasi Pasar Smep di Peunayong, Selasa (21/7/2026). 

    Revitalisasi Pasar Smep Guna Kembangkan Ekonomi

    Selain revitalisasi kawasan, Pemerintah Kota Banda Aceh juga tengah merancang pengembangan aktivitas ekonomi malam melalui konsep Car Free Night di kawasan Peunayong.

    Nantinya kawasan tersebut akan diisi dengan jajanan malam, pasar produk UMKM, hingga berbagai kegiatan seni dan hiburan.

    “Kita ingin ekonomi malam tumbuh. Akan ada ruang bagi pedagang, kuliner, dan berbagai event sehingga kawasan ini benar-benar hidup,” ujarnya.

    Ia menambahkan pengelolaan kawasan akan dilakukan bersama para pedagang dengan konsep yang lebih modern, bersih, higienis, halal dan tertib.

    “Kita ingin setelah aktivitas selesai, kawasan langsung bersih. Pengelolaan sampah, kebersihan, hingga standar higienis harus menjadi perhatian bersama,” sambungnya.

    Dalam kesempatan itu, Illiza juga mengungkapkan Terminal Keudah yang saat ini sedang dibersihkan sementara akan dimanfaatkan sebagai lokasi penyelenggaraan berbagai kegiatan dan event kota.

    Menurutnya, rencana menghadirkan investor di kawasan tersebut belum membuahkan hasil sehingga pemerintah memilih memanfaatkan aset tersebut sebagai ruang publik.

    “Untuk sementara kita bersihkan dulu agar bisa digunakan untuk berbagai event. Kota ini membutuhkan ruang kegiatan yang lebih besar,” ujarnya.

    Selain itu, Pemerintah Kota Banda Aceh juga akan menata kembali kawasan Taman Telepon atau Sentral Telepon sebagai situs sejarah lahirnya jaringan telepon di Indonesia yang berusia lebih dari 100 tahun.

    Illiza menyebut rencana revitalisasi situs sejarah peninggalan sejak zaman Belanda tersebut akan diperindah dengan berbagai fasilitas termasuk taman bunga agar dapat dinikmati masyarakat dan memperelok tata kota.

    “Kita ingin modernitas berjalan, old townnya juga dapat, jejak sejarah tetap terjaga sehingga menjadi warisan untuk generasi mendatang,” pungkasnya.

  • Ekonom: Hilirisasi Gas Aceh Bisa Ciptakan Industri Petrokimia

    acehtoday.id/ | Banda Aceh – Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Syiah Kuala (USK), Prof Aliasuddin, menyoroti pentingnya hilirisasi gas di Aceh untuk mendongkrak ekonomi dan kesejahteraan masyarakat. Ia berharap gas alam yang dihasilkan Aceh tidak seluruhnya dikirim ke luar daerah, melainkan sebagian diolah di Aceh agar mampu menciptakan industri baru.

    Hal itu disampaikan Aliasuddin dalam Workshop Wartawan Tantangan Besar Sensus Ekonomi 2026 yang digelar Badan Pusat Statistik (BPS) Aceh di Banda Aceh, Selasa (21/7/2026).

    Gas Diolah di Aceh Bisa Buka Lapangan Kerja Baru

    Menurut Aliasuddin, pengolahan gas dapat melahirkan berbagai industri turunan seperti petrokimia, pupuk, hingga plastik yang mampu menyerap banyak tenaga kerja. Ia meyakini hilirisasi gas dapat mengubah struktur ekonomi Aceh secara signifikan.

    “Kalau gas diolah di Aceh, struktur ekonomi kita akan berubah. Anak-anak kita tidak perlu lagi mencari pekerjaan ke luar daerah karena industrinya tumbuh di sini,” kata Aliasuddin.

    Ia juga mengingatkan agar pembangunan ekonomi Aceh tidak hanya bertumpu pada pengembangan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), tetapi juga perlu didukung investasi berskala besar yang mampu memberikan dorongan signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi daerah.

    Aliasuddin menyebut Aceh memiliki potensi minyak dan gas yang sangat besar, mulai dari kawasan Andaman hingga Pidie Jaya. Ia menyebut hampir seluruh kawasan pesisir timur dan sebagian wilayah barat selatan Aceh memiliki cadangan migas.

    Namun, potensi tersebut dinilai belum memberikan dampak maksimal terhadap perekonomian daerah karena belum diikuti pembangunan industri pengolahan.

    Sensus Ekonomi Jadi Dasar Penentuan Lokasi Industri

    Selain migas, Aliasuddin turut menyinggung pentingnya hilirisasi komoditas lain seperti kelapa sawit dan kakao. Menurutnya, Aceh masih terlalu bergantung pada penjualan bahan baku, padahal nilai ekonominya akan jauh lebih tinggi apabila diolah menjadi produk jadi seperti kosmetik, deterjen, obat-obatan, maupun produk pangan.

    Ia menegaskan, seluruh upaya hilirisasi tersebut harus diawali dengan data ekonomi yang akurat melalui Sensus Ekonomi 2026. Data yang lengkap, menurutnya, akan menjadi acuan pemerintah dalam menentukan industri apa yang perlu dibangun serta lokasi yang paling tepat untuk pengembangannya.

    “Kalau data potensi ekonomi kita tidak lengkap, bagaimana pemerintah menentukan industri apa yang harus dibangun dan di mana lokasi yang paling tepat. Karena itu sensus ekonomi menjadi sangat penting,” tutup Aliasuddin.**

  • Ekonom USK: Sensus Ekonomi Jadi Momentum Transformasi Ekonomi Aceh

    acehtoday.id/ | Banda Aceh – Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Syiah Kuala (USK), Prof Aliasuddin, menilai Sensus Ekonomi 2026 menjadi momentum penting untuk mendorong hilirisasi industri di Aceh. Data hasil sensus dinilai dapat memetakan potensi riil perekonomian daerah sekaligus menjadi dasar transformasi ekonomi dari sektor hulu menuju industri pengolahan.

    Hal itu disampaikan Aliasuddin saat menjadi narasumber dalam Workshop Wartawan Tantangan Besar Sensus Ekonomi 2026 yang digelar Badan Pusat Statistik (BPS) Aceh di Banda Aceh, Selasa (21/7/2026).

    Ia menjelaskan, data sensus jauh lebih akurat dibandingkan survei berbasis sampel karena mampu menggambarkan kondisi ekonomi secara menyeluruh. Menurutnya, hasil sensus nantinya akan menjadi dasar pemerintah dalam menentukan arah pembangunan ekonomi, menarik investasi, hingga membuka lapangan kerja yang sesuai dengan potensi daerah.

    Ekonomi Aceh Masih Bergantung pada Bahan Mentah

    Aliasuddin menilai struktur ekonomi Aceh saat ini masih terlalu bergantung pada sektor pertanian yang sebagian besar menjual komoditas dalam bentuk bahan mentah. Kondisi tersebut, menurutnya, membuat nilai tambah ekonomi yang dinikmati masyarakat masih rendah.

    Ia mencontohkan komoditas kelapa sawit yang hingga kini mayoritas masih dijual dalam bentuk crude palm oil (CPO), padahal berpotensi diolah menjadi berbagai produk bernilai tinggi seperti kosmetik, deterjen, obat-obatan, hingga produk industri lainnya.

    “Kita masih menjual CPO. Padahal kalau diolah menjadi produk turunannya, nilai ekonominya jauh lebih tinggi. Di sinilah pentingnya investasi dan data yang akurat,” ujarnya.

    Selain sawit, Aliasuddin juga menyinggung komoditas kakao Aceh yang menurutnya masih lebih banyak dipasarkan sebagai bahan baku dibandingkan diolah menjadi produk premium. Kondisi ini, menurut Aliasuddin, menunjukkan Aceh masih kehilangan banyak potensi nilai ekonomi dari dua komoditas unggulannya.

    Data Sensus Jadi Acuan Investasi dan Kebijakan Daerah

    Aliasuddin menegaskan pentingnya keakuratan data dalam menentukan arah kebijakan. “Statistik tidak pernah bohong, tetapi pembohong bisa menggunakan statistik. Karena itu sensus sangat penting untuk memberikan gambaran ekonomi yang sebenarnya,” katanya.

    Ia menambahkan, tanpa data ekonomi yang lengkap, pemerintah akan kesulitan menentukan sektor mana yang layak dikembangkan menjadi industri pengolahan. Sensus Ekonomi, menurutnya, juga dapat menunjukkan persebaran potensi ekonomi di setiap wilayah sehingga menjadi acuan bagi investor maupun pemerintah dalam menyusun kebijakan pembangunan.

    “Kalau potensi ekonominya tergambar dengan baik, kita bisa mengetahui industri apa yang cocok dikembangkan dan di mana lokasi yang paling potensial,” pungkas Aliasuddin.**

  • Jelang Tenggat Agustus, Sensus Ekonomi Aceh Catat Progres Hampir 60 Persen

    acehtoday.id/ | Banda Aceh – Badan Pusat Statistik (BPS) Aceh menyatakan progres pendataan Sensus Ekonomi 2026 di Aceh telah mendekati 60 persen per pertengahan Juli. Petugas masih terus menyisir rumah tangga dan bangunan usaha secara langsung untuk mengejar tenggat waktu yang ditetapkan hingga 31 Agustus mendatang.

    Ketua Tim Sekretariat Sensus Ekonomi (SE) 2026 BPS Aceh, Akhmad Sugito, menyampaikan hal itu dalam Workshop Wartawan Tantangan Besar Sensus Ekonomi 2026 di Banda Aceh, Selasa (21/7/2026). Ia menegaskan keberhasilan sensus tidak diukur dari besarnya anggaran atau jumlah petugas yang diterjunkan, melainkan dari kelengkapan cakupan data yang berhasil dihimpun.

    Rumah Tangga Ikut Jadi Sasaran Pendataan

    Akhmad menjelaskan, perubahan pola usaha masyarakat dalam satu dekade terakhir membuat rumah tangga turut menjadi sasaran pendataan. Jika sepuluh tahun lalu berusaha identik dengan memiliki toko, kini banyak aktivitas ekonomi lahir dari rumah bahkan hanya bermodal gawai seiring pesatnya perkembangan ekonomi digital.

    Karena itu, ia meminta masyarakat tidak perlu khawatir apabila petugas mendatangi rumah meski tidak memiliki toko atau tempat usaha. Pendataan dilakukan agar tidak ada aktivitas ekonomi yang terlewat, termasuk usaha rumahan yang tidak terlihat dari luar.

    Sensus Ekonomi 2026 merupakan sensus ekonomi kelima yang digelar BPS berdasarkan amanat Undang-Undang Nomor 16 Tahun 1997 tentang Statistik, dan dilaksanakan setiap sepuluh tahun sekali.

    Akhmad menyebut sensus ini ibarat “economic check-up” untuk melihat kondisi ekonomi secara utuh, sehingga pemerintah memiliki dasar akurat dalam menyusun kebijakan pembangunan.

    Selain memotret struktur ekonomi secara umum, sensus tahun ini juga memberi perhatian khusus pada perkembangan ekonomi digital dan ekonomi berbasis lingkungan.

    Data tersebut dinilai penting karena setiap daerah memiliki karakteristik ekonomi berbeda sehingga memerlukan kebijakan yang sesuai dengan potensi masing-masing wilayah.

    Dalam pelaksanaannya, BPS menerapkan metode door to door dengan petugas mendatangi setiap bangunan menggunakan aplikasi digital di telepon genggam, tanpa lagi memakai kuesioner kertas seperti sensus sebelumnya.

    Untuk perusahaan atau usaha tertentu, BPS juga menyediakan metode Computer-Assisted Web Interviewing (CAWI) sehingga pelaku usaha dapat mengisi data secara mandiri melalui situs yang disediakan.

    Keamanan Data Dijamin, Masyarakat Diminta Jujur

    Akhmad memastikan seluruh petugas lapangan dilengkapi rompi resmi, surat tugas, serta kartu identitas berkode QR sehingga masyarakat dapat memverifikasi keaslian petugas sebelum memberikan data.

    Ia juga menegaskan seluruh data responden dijamin kerahasiaannya sesuai ketentuan statistik yang berlaku.

    Ia mengajak masyarakat menerapkan prinsip TIR, yakni Terima kedatangan petugas, Isi data dengan jujur dan benar, serta yakin bahwa Rahasia data tetap terjaga.

    Data hasil sensus nantinya tidak hanya menjadi dasar pemerintah dalam merancang kebijakan ekonomi, tetapi juga akan digunakan BPS sebagai kerangka sampel berbagai survei ekonomi selama sepuluh tahun ke depan.

    “Kami berharap dukungan dari seluruh masyarakat agar pelaksanaan Sensus Ekonomi 2026 di Aceh dapat berjalan optimal dan menghasilkan potret ekonomi yang akurat,” pungkas Akhmad.**

  • Empat Ruko di Lamdingin Terbakar, Diduga Akibat Korsleting Listrik

    acehtoday.id/ | Banda Aceh – Empat unit rumah toko (ruko) di Gampong Lamdingin, Kecamatan Kuta Alam, Banda Aceh, terbakar pada Senin (21/7/2026) malam. Peristiwa yang terjadi sekitar pukul 19.00 WIB itu diduga dipicu korsleting listrik dari salah satu bangunan sebelum api merembet ke ruko di sekitarnya.

    Badan Penanggulangan Bencana Aceh (BPBA) melaporkan, api dengan cepat membesar lantaran posisi antar ruko yang saling berdempetan. Kondisi tersebut membuat kobaran api sulit dilokalisasi dan langsung menjalar ke bangunan di sampingnya hanya dalam hitungan menit.

    Akibat kejadian tersebut, dua unit ruko dilaporkan habis terbakar, sementara dua unit lainnya mengalami kerusakan sebagian. Ruko-ruko yang terdampak diketahui milik atau disewa oleh Rahmad (35) dan Yuli Andriansyah. Meski kerugian material cukup besar, tidak ditemukan korban jiwa maupun warga yang harus mengungsi akibat insiden ini.

    Tujuh Unit Damkar Dikerahkan ke Lokasi

    Menerima laporan kebakaran, Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan (DPKP) Kota Banda Aceh segera menerjunkan tujuh unit armada pemadam ke lokasi kejadian di Lamdingin. Petugas langsung berjibaku memadamkan api yang saat itu telah membakar sebagian bangunan ruko.

    Setelah bekerja keras selama sekitar satu setengah jam, tim pemadam akhirnya berhasil mengendalikan si jago merah pada pukul 20.30 WIB. Proses pemadaman yang cukup lama itu tidak lepas dari kondisi bangunan yang berdempetan sehingga api mudah menjalar dari satu ruko ke ruko lainnya.

    Empat rumah dan toko (ruko) di Gampong Lamdingin, Kecamatan Kuta Alam terbakar pukul 19.00 WIB, Senin (21/7/2026). Sumber foto: Badan Penanggulangan Bencana Aceh (BPBA).
    Empat rumah dan toko (ruko) di Gampong Lamdingin, Kecamatan Kuta Alam terbakar pukul 19.00 WIB, Senin (21/7/2026).
    Sumber foto: Badan Penanggulangan Bencana Aceh (BPBA).

    Penyebab Kebakaran Masih Diselidiki

    Hingga berita ini diturunkan, penyebab pasti kebakaran di Lamdingin tersebut masih dalam penanganan pihak berwenang. Namun demikian, dugaan sementara mengarah pada korsleting listrik yang berasal dari salah satu ruko sebagai pemicu awal munculnya api, sebelum akhirnya merembet dan membesar ke bangunan-bangunan di sekitarnya.

    Kejadian ini kembali mengingatkan warga, khususnya para pemilik ruko dan bangunan yang berdempetan, agar lebih memperhatikan instalasi listrik di tempat usaha maupun tempat tinggal masing-masing. Kepadatan bangunan seperti di kawasan Lamdingin membuat risiko kebakaran menjalar semakin tinggi apabila tidak ditangani secara cepat.

    Pihak berwenang hingga kini masih melakukan pendalaman lebih lanjut untuk memastikan penyebab pasti dari peristiwa kebakaran yang melanda empat ruko di Gampong Lamdingin, Kecamatan Kuta Alam, tersebut.**

  • Waspada Karhutla, 93 Titik Panas Muncul di Aceh

    acehtoday.id/ | Banda Aceh – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat adanya peningkatan titik panas di wilayah Aceh. Hingga 19 Juli, tercatat sebanyak 93 titik panas tersebar di berbagai daerah di provinsi ini, menyusul kondisi cuaca yang cukup panas secara merata.

    Prakiraan Cuaca BMKG Kelas I Sultan Iskandar Muda, Nabila, menyampaikan bahwa kondisi global saat ini masih berada dalam status netral sehingga belum ada potensi dampak El Nino yang dirasakan di kawasan Aceh. Meski begitu, ia menegaskan lonjakan titik panas tetap perlu diwaspadai oleh masyarakat.

    Berdasarkan data BMKG, titik panas dengan tingkatan sedang terpantau di sejumlah wilayah, di antaranya Aceh Barat, Aceh Besar, Aceh Selatan, Aceh Jaya, Aceh Singkil, Gayo Lues, Lhokseumawe, Subulussalam, Nagan Raya, dan Pidie.

    Sementara itu, titik panas dengan tingkatan lebih tinggi terdeteksi secara spesifik di tiga kecamatan, yakni Pantan Cuaca di Gayo Lues, Darul Makmur di Nagan Raya, dan Muara Tiga di Pidie.

    Kondisi cuaca panas yang terjadi secara merata ini membuat BMKG memberi peringatan khusus kepada masyarakat agar mewaspadai potensi meningkatnya kejadian kebakaran lahan.

    Nabila menekankan pentingnya menghindari kebiasaan membuka lahan dengan cara membakar, membakar sampah sembarangan, maupun membuang puntung rokok tanpa memastikannya benar-benar padam.

    Laporan Sebaran titik panas di provinsi Aceh. Sumber foto: bmkg.go.id
    Laporan Sebaran titik panas di provinsi Aceh.
    Sumber foto: bmkg.go.id

    BMKG Imbau Warga Waspadai Dehidrasi hingga Hujan Lebat Mendadak

    Selain peringatan soal risiko kebakaran lahan, BMKG turut mengimbau masyarakat untuk menjaga kondisi fisik selama beraktivitas di tengah cuaca panas. Nabila menyarankan warga menggunakan pelindung seperti jaket, kacamata anti-UV, dan topi, serta memastikan asupan air mineral tercukupi agar terhindar dari dehidrasi.

    Di sisi lain, BMKG juga mengingatkan potensi hujan dengan intensitas lebat yang dapat turun secara tiba-tiba pada sore hingga malam hari selama musim kemarau berlangsung. Menurut Nabila, kondisi ini dipicu oleh pemanasan intens yang terjadi pada siang hari, sehingga berpotensi memicu perubahan cuaca secara mendadak.

    Menutup keterangannya, Nabila mengimbau masyarakat untuk selalu berhati-hati saat beraktivitas di luar ruangan, terutama ketika berkendara dalam kondisi cuaca buruk. Ia menyebut cuaca ekstrem tersebut berpotensi disertai angin kencang, banjir, hingga tanah longsor, sehingga kewaspadaan perlu terus ditingkatkan selama periode ini.**

  • Kopi Liberika Tangse Nyaris Punah, Kini Dilirik Malaysia

    acehtoday.id/ | Banda Aceh – Selama ini nama kopi Gayo begitu lekat sebagai ikon kopi Aceh di kancah dunia. Namun di balik popularitas tersebut, ada satu varietas kopi lain yang selama puluhan tahun nyaris luput dari perhatian, yakni kopi liberika yang tumbuh di Tangse, Kabupaten Pidie. Kopi ini hanya menyumbang sekitar satu persen dari populasi kopi dunia dan bahkan belum banyak dikenal di daerah asalnya sendiri.

    Owner Barika Coffee, Anugrah, mengungkapkan hal itu saat memaparkan perkembangan kopi liberika Tangse, Senin (20/7/2026). Menurutnya, kopi liberika merupakan komoditas langka yang berpotensi meningkatkan kesejahteraan petani sekaligus menjaga kelestarian lingkungan.

    Selama ini, kata dia, persoalan utamanya bukan pada kualitas, melainkan minimnya upaya memperkenalkan kopi tersebut kepada publik.

    Kopi liberika sendiri dikenal di kalangan warga Tangse dengan sebutan kopi panah, karena memiliki cita rasa khas menyerupai buah nangka. Anugrah menjelaskan, kopi ini sudah dibudidayakan di Tangse sejak zaman penjajahan Belanda.

    Sayangnya, bertahun-tahun lamanya petani setempat menjual kopi tersebut dengan harga rendah akibat minimnya edukasi soal budi daya dan penanganan pascapanen. Banyak petani memetik seluruh buah kopi tanpa menyortir tingkat kematangannya, sehingga kualitas yang dihasilkan pun rendah.

    Untuk mengatasi persoalan tersebut, Barika Coffee kini mendampingi petani dengan membeli buah kopi merah berkualitas dengan harga dua kali lipat dari harga pasar. Selain itu, petani juga dibekali edukasi mengenai teknik panen serta penanganan pascapanen agar menghasilkan cita rasa terbaik.

    Menurut Anugrah, langkah ini diharapkan memberi nilai tambah bagi petani, sebab peningkatan kualitas akan berbanding lurus dengan kenaikan harga jual.

    Lebih jauh, pengembangan kopi liberika ini disebut tak semata bertujuan bisnis, melainkan juga menjadi upaya membuka lapangan kerja dan meningkatkan ekonomi masyarakat Tangse.

    Anugrah menyampaikan bila kopi ini memiliki nilai ekonomi yang baik, masyarakat tidak perlu lagi bergantung pada aktivitas pertambangan, sehingga hutan pun tetap terjaga seiring meningkatnya kesejahteraan warga.

    Dilirik Malaysia, Diklaim Lebih Tahan Perubahan Iklim

     Owner Barika, Anugrah memegang produk kopi Liberika di depan booth Barika    (Sumber foto: Seputaraceh.id/Elza)
    Owner Barika, Anugrah memegang produk kopi Liberika di depan booth Barika (Sumber foto: acehtoday.id/Elza

    Salah satu keunggulan kopi liberika, menurut Anugrah, adalah daya adaptasinya terhadap perubahan iklim yang dinilai lebih baik dibanding jenis kopi lain. Kopi ini disebut memiliki ketahanan tinggi terhadap kenaikan suhu maupun perubahan cuaca, sehingga banyak dijuluki sebagai salah satu kopi masa depan.

    Ia mencontohkan, arabika kian bergeser ke dataran yang lebih tinggi akibat perubahan iklim, sementara liberika justru mampu bertahan pada kondisi cuaca yang berubah-ubah. Kondisi inilah yang disebutnya mulai menarik perhatian sejumlah negara terhadap varietas tersebut.

    Anugrah mengungkapkan, bibit liberika asal Tangse bahkan telah menarik minat Malaysia. Sejumlah pihak dari negara tersebut diketahui datang langsung ke Tangse untuk mempelajari varietas kopi ini, bahkan turut membawa bibit untuk dikembangkan di negaranya.

    Ia pun mengingatkan agar Aceh tidak sampai kehilangan identitas atas komoditas unggulannya sendiri akibat minimnya perhatian, sebagaimana yang pernah terjadi pada sejumlah komoditas lain yang justru lebih dikenal luas di negara lain.

    Sebagai langkah awal memperkenalkan kopi ini, Barika Coffee telah menghadirkan sejumlah menu berbahan dasar liberika, seperti sanger, americano, dan kopi susu di gerainya. Kopi dalam bentuk biji maupun bubuk turut dipasarkan sebagai oleh-oleh, dengan target dapat masuk ke hotel, kedai kopi, toko suvenir, hingga platform perdagangan daring.

    Menariknya, kopi liberika di tangan Anugrah diolah menggunakan mesin espresso layaknya kopi arabika dan robusta modern, bukan lagi dengan metode saring manual.

    Dari sisi rasa, kopi ini digambarkan berbeda dari arabika maupun robusta. Aroma dan cita rasanya dapat berubah seiring waktu penyimpanan, mulai dari nuansa nangka, durian, kelengkeng, hingga kacang, namun tetap mempertahankan karakter khasnya serta terasa creamy dan aman di lambung.

    Ia bahkan menyarankan cara menikmati kopi liberika dengan menyeruputnya hingga ujung lidah lalu meratakannya di langit-langit, agar rasanya terasa lebih nendang.

    Di akhir penjelasannya, Anugrah berharap kampanye pengenalan kopi liberika dapat dilakukan secara bersama-sama oleh pelaku usaha, media, pemerintah, hingga masyarakat luas. Menurutnya, yang ingin diangkat bukan sekadar nama Barika, melainkan Liberika Tangse secara keseluruhan, sebab semakin dikenal kopi ini, semakin besar pula manfaat yang dirasakan petani dan lingkungan sekitar.**

  • Usai Video Joget Viral, Tiga Anggota Satpol PP Bireuen Dijatuhi Sanksi Tegas

    acehtoday.id/ | Bireuen – Majelis Kode Etik (MKE) Satuan Polisi Pamong Praja dan Wilayatul Hisbah (Satpol PP-WH) Kabupaten Bireuen menjatuhkan sanksi kepada tiga anggotanya yang terbukti melanggar kode etik, setelah menjalani proses pemeriksaan internal terkait pembuatan video joget yang mencoreng citra institusi.

    Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Satpol PP dan WH Kabupaten Bireuen, Musni Syahputra, mengatakan ketiga anggota tersebut telah dipanggil dan diperiksa melalui sidang Majelis Kode Etik.

    “Ketiga pelaku tersebut sudah dipanggil dan diperiksa oleh Satpol PP-WH Kabupaten Bireuen. Pemeriksaan dilakukan melalui Majelis Kode Etik (MKE) Satpol PP-WH Kabupaten Bireuen,” kata Musni, Sabtu (18/7/2026).

    Berdasarkan hasil pemeriksaan, keterangan para pihak, serta alat bukti yang diajukan dalam persidangan, Majelis Kode Etik menyimpulkan ketiga anggota tersebut terbukti melakukan pelanggaran etika kepribadian karena bersikap dan berperilaku yang dinilai mencoreng citra, kehormatan, dan martabat institusi Satpol PP.

    Menurut Musni, perbuatan tersebut bertentangan dengan Pasal 10 huruf (l) Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 16 Tahun 2023 tentang Standar Operasional Prosedur Satuan Polisi Pamong Praja dan Kode Etik Polisi Pamong Praja, yang mengatur kewajiban setiap anggota untuk menjaga sikap, perilaku, kehormatan profesi, serta nama baik institusi.

    Wajib Minta Maaf Terbuka dan Bersihkan Kantor Tiga Hari

    “Atas pelanggaran tersebut, Majelis Kode Etik menjatuhkan dua bentuk sanksi,” ujar Musni. Sanksi pertama berupa sanksi moral, yakni kewajiban menyampaikan permohonan maaf secara terbuka kepada masyarakat melalui media massa atas perbuatan yang telah dilakukan.

    Sanksi kedua berupa sanksi pembinaan, yaitu kewajiban membersihkan lingkungan Kantor Satpol PP dan WH Kabupaten Bireuen selama tiga hari kerja berturut-turut, sebagai bagian dari pembinaan disiplin dan penanaman kembali nilai-nilai etika profesi.

    Bentuk Komitmen Tegakkan Disiplin dan Kode Etik

    Musni menegaskan, pemberian sanksi tersebut merupakan bentuk komitmen Satpol PP-WH Kabupaten Bireuen dalam menegakkan disiplin dan kode etik di lingkungan institusinya. “Pemberian sanksi ini merupakan bentuk komitmen Satuan Polisi Pamong Praja dan Wilayatul Hisbah Kabupaten Bireuen dalam menegakkan disiplin, kode etik, serta menjaga kepercayaan masyarakat terhadap institusi,” ujarnya.

    Ia berharap sanksi tersebut tidak hanya memberikan efek pembinaan kepada ketiga anggota yang bersangkutan, tetapi juga menjadi pelajaran bagi seluruh personel agar senantiasa menjaga integritas, etika, dan profesionalisme, baik saat menjalankan tugas maupun dalam kehidupan bermasyarakat.

    “Kami telah berkoordinasi dengan Satpol PP dan WH Aceh terkait penanganan kasus tersebut,” tutup Musni.

  • Gawat! Angka HIV di Banda Aceh Capai 918 Kasus, MPU Ajak Selamatkan Generasi

    acehtoday.id/ | Banda Aceh – Ketua Majelis Permusyawaratan Ulama (MPU) Kota Banda Aceh, Tgk Syibral Malasyi, mengajak seluruh elemen masyarakat untuk memperkuat peran keluarga, sekolah, dan lingkungan dalam melindungi generasi muda dari pergaulan bebas dan perilaku berisiko, menyusul meningkatnya kasus HIV di ibu kota Provinsi Aceh tersebut.

    Menurutnya, fenomena ini perlu menjadi perhatian bersama karena tidak hanya berdampak pada aspek moral dan sosial, tetapi juga kesehatan masyarakat secara luas.

    Ia menyinggung angka kasus HIV yang telah mencapai lebih dari 918 kasus hingga pertengahan 2026 di Banda Aceh, dengan perilaku seksual berisiko disebut sebagai salah satu faktor utama penularan yang perlu dicegah melalui edukasi dan pembinaan.

    “Angka itu bukan sekadar statistik. Di balik satu angka ada seorang ayah, ada seorang ibu, ada seorang anak, ada sebuah keluarga yang menangis,” kata Syibral, Sabtu (18/7/2026).

    Ia mengingatkan masyarakat agar tidak menganggap persoalan tersebut sebagai hal yang jauh dari kehidupan sehari-hari. “Kalau hari ini kita masih berkata, ‘Itu bukan urusan kita’, mungkin besok justru rumah kita yang diuji,” ujarnya.

    Islam Larang Mendekati Zina, tapi Tetap Junjung Martabat Manusia

    Syibral menegaskan, dalam ajaran Islam, Allah SWT melarang umat-Nya mendekati zina sebagaimana termaktub dalam Surah Al-Isra ayat 32.

    Menurutnya, berbagai perilaku seperti pergaulan tanpa batas, konsumsi pornografi, penyalahgunaan narkoba, minuman keras, hingga aktivitas lain yang bertentangan dengan syariat merupakan pintu yang dapat mengantarkan seseorang kepada perbuatan yang dilarang agama.

    Ia menegaskan bahwa Islam hanya membenarkan hubungan seksual antara laki-laki dan perempuan dalam ikatan pernikahan yang sah.

    Namun demikian, ia mengingatkan agar masyarakat tetap memperlakukan setiap orang dengan akhlak yang baik, tidak melakukan perundungan, serta mengajak kepada kebaikan dengan cara yang bijaksana.

    “Orang yang bergumul dengan perilaku atau ketertarikan tersebut tetap memiliki martabat sebagai manusia dan membutuhkan nasihat, dukungan keluarga, serta jalan untuk bertaubat,” ucapnya.

    Pengawasan Media Sosial dan Peran Keluarga Jadi Kunci Pencegahan

    Menurut Syibral, meningkatnya berbagai persoalan sosial di kalangan generasi muda tidak terlepas dari lemahnya pengawasan terhadap penggunaan media sosial, mudahnya akses terhadap pornografi, serta berkurangnya pendidikan akhlak di lingkungan keluarga.

    Karena itu, ia mengajak seluruh pihak untuk memperkuat ketahanan keluarga melalui pembiasaan salat berjemaah, membangun komunikasi yang baik antara orang tua dan anak, mengawasi penggunaan gawai, serta menghidupkan kembali fungsi masjid sebagai pusat pembinaan remaja.

    Ia juga menilai upaya pencegahan HIV membutuhkan kerja sama berbagai pihak, mulai dari pemerintah, tenaga kesehatan, sekolah, dayah, tokoh masyarakat, hingga keluarga.

    “HIV dapat dicegah dengan menghindari perilaku berisiko, sementara mereka yang hidup dengan HIV juga perlu mendapatkan pengobatan dan dukungan agar tetap dapat menjalani kehidupan dengan baik,” katanya.

    Di akhir pernyataannya, Syibral mengajak masyarakat untuk bersama-sama menjaga generasi muda dengan memperkuat pendidikan agama dan akhlak.

    “Mari kita selamatkan anak-anak kita. Didik mereka dengan Al-Qur’an, dekatkan mereka dengan masjid, dan ajarkan rasa takut kepada Allah. Karena jika satu generasi rusak akhlaknya, maka runtuhlah masa depan sebuah bangsa,” tutup Syibral.**

  • Gerai Rest Area KM 37 Kosong, Janji Hutama Karya Dipertanyakan

    acehtoday.id/ | Aceh Besar – Tempat peristirahatan (rest area) kilometer (KM) 37 A rute Padang Tiji-Indrapuri terlihat lengang dan sepi pengunjung, Jumat (17/7/2026). Kondisi ini jauh dari rencana awal PT Hutama Karya yang mewacanakan rest area sebagai tempat istirahat pengguna tol sekaligus menggerakkan ekonomi masyarakat.

    Pantauan acehtoday.id/ menunjukkan, rest area yang difasilitasi toilet, musala, dan bangunan gerai usaha itu sepi tanpa aktivitas berarti. Sejumlah mobil pribadi terlihat terparkir di area musala, dengan beberapa penumpang turun sekadar menggunakan toilet maupun musala. Sementara itu, bangunan gerai usaha di sebelah toilet terlihat kosong tanpa aktivitas, hanya ada dua pemuda yang diduga pekerja tol sedang beristirahat. Kondisi serupa terlihat di rest area KM 37 B yang berada di seberangnya, sama-sama sepi dan lengang.

    Janji Gerai UMKM dan SPBU Belum Terealisasi

    Mengutip dari Antara, 10 Oktober 2023 silam, Kepala Cabang Jalan Tol Sibanceh PT Hutama Karya, Totok Masyadi, sempat menyebut bahwa gerai-gerai usaha di rest area akan diisi oleh UMKM dari area setempat. Pihaknya juga disebut akan berkoordinasi dengan pembina UMKM untuk mendapat rekomendasi daftar pelaku usaha yang akan mengisi gerai-gerai tersebut, termasuk rencana penambahan SPBU untuk melengkapi fasilitas rest area.

    Namun hingga kini, tempat istirahat bagi pemudik itu masih terlihat sepi dan lengang. Berdasarkan pantauan Serambi, rest area tersebut sempat hidup oleh aktivitas penjualan kopi dan mie pada momen libur Lebaran Idul Fitri, 8 April 2025. Di sisi lain, gerai-gerai UMKM oleh-oleh bahkan bengkel ban justru mulai tumbuh di sekitar pintu masuk tol kawasan Padang Tiji, bukan di dalam rest area itu sendiri.

    Kondisi tempat Peristirahatan (rest area) kilometer (KM) 37 A rute Padang Tiji-Indrapuri Jalan Tol Sibanceh. Sumber foto: Seputaraceh.id/Elza
    Kondisi tempat Peristirahatan (rest area) kilometer (KM) 37 A rute Padang Tiji-Indrapuri Jalan Tol Sibanceh.
    Sumber foto: acehtoday.id/Elza

    UMKM Saree Pindah Cabang Dekati Pintu Tol Padang Tiji

    Salah satu pelaku usaha yang beralih lokasi adalah Dapur Keripik Putra Seulawah 2. Seorang karyawannya, Silka, mengatakan toko tempatnya bekerja merupakan cabang yang dipindahkan dari Saree karena kondisi di lokasi lama sudah tidak lagi ramai.

    “Dari Saree pindah ke sini. Di sana sudah tutup karena sudah sepi,” kata Silka.

    Ia menjelaskan, cabang di lokasi baru mulai beroperasi sekitar tiga bulan lalu, tidak lama setelah arus kendaraan beralih ke jalan tol. Saat ini, usaha tersebut memiliki dua cabang di kawasan Indrapuri, yang dibuka agar usaha tetap berjalan seiring berkurangnya jumlah kendaraan yang melintas di Saree.

    Meski demikian, Silka mengaku kondisi penjualan di lokasi baru belum sepenuhnya stabil. Pembeli, katanya, cenderung ramai berdatangan pada akhir pekan maupun musim liburan saja.

    “Alhamdulillah masih ada rezeki, tapi belum ramai, ramai saat akhir pekan. Kalau orang sudah selesai liburan, agak sepi,” ungkapnya.

    Ia juga mengungkapkan bahwa pemilik usaha tetap merupakan warga Saree, sementara para karyawan hanya dipindahkan untuk melayani operasional di cabang baru. “Toke orang Saree. Kami hanya bekerja di sini,” tutup Silka.**