Jelang Tenggat Agustus, Sensus Ekonomi Aceh Catat Progres Hampir 60 Persen

acehtoday.id/ | Banda Aceh – Badan Pusat Statistik (BPS) Aceh menyatakan progres pendataan Sensus Ekonomi 2026 di Aceh telah mendekati 60 persen per pertengahan Juli. Petugas masih terus menyisir rumah tangga dan bangunan usaha secara langsung untuk mengejar tenggat waktu yang ditetapkan hingga 31 Agustus mendatang.

Ketua Tim Sekretariat Sensus Ekonomi (SE) 2026 BPS Aceh, Akhmad Sugito, menyampaikan hal itu dalam Workshop Wartawan Tantangan Besar Sensus Ekonomi 2026 di Banda Aceh, Selasa (21/7/2026). Ia menegaskan keberhasilan sensus tidak diukur dari besarnya anggaran atau jumlah petugas yang diterjunkan, melainkan dari kelengkapan cakupan data yang berhasil dihimpun.

Rumah Tangga Ikut Jadi Sasaran Pendataan

Akhmad menjelaskan, perubahan pola usaha masyarakat dalam satu dekade terakhir membuat rumah tangga turut menjadi sasaran pendataan. Jika sepuluh tahun lalu berusaha identik dengan memiliki toko, kini banyak aktivitas ekonomi lahir dari rumah bahkan hanya bermodal gawai seiring pesatnya perkembangan ekonomi digital.

Karena itu, ia meminta masyarakat tidak perlu khawatir apabila petugas mendatangi rumah meski tidak memiliki toko atau tempat usaha. Pendataan dilakukan agar tidak ada aktivitas ekonomi yang terlewat, termasuk usaha rumahan yang tidak terlihat dari luar.

Sensus Ekonomi 2026 merupakan sensus ekonomi kelima yang digelar BPS berdasarkan amanat Undang-Undang Nomor 16 Tahun 1997 tentang Statistik, dan dilaksanakan setiap sepuluh tahun sekali.

Akhmad menyebut sensus ini ibarat “economic check-up” untuk melihat kondisi ekonomi secara utuh, sehingga pemerintah memiliki dasar akurat dalam menyusun kebijakan pembangunan.

Selain memotret struktur ekonomi secara umum, sensus tahun ini juga memberi perhatian khusus pada perkembangan ekonomi digital dan ekonomi berbasis lingkungan.

Data tersebut dinilai penting karena setiap daerah memiliki karakteristik ekonomi berbeda sehingga memerlukan kebijakan yang sesuai dengan potensi masing-masing wilayah.

Dalam pelaksanaannya, BPS menerapkan metode door to door dengan petugas mendatangi setiap bangunan menggunakan aplikasi digital di telepon genggam, tanpa lagi memakai kuesioner kertas seperti sensus sebelumnya.

Untuk perusahaan atau usaha tertentu, BPS juga menyediakan metode Computer-Assisted Web Interviewing (CAWI) sehingga pelaku usaha dapat mengisi data secara mandiri melalui situs yang disediakan.

Keamanan Data Dijamin, Masyarakat Diminta Jujur

Akhmad memastikan seluruh petugas lapangan dilengkapi rompi resmi, surat tugas, serta kartu identitas berkode QR sehingga masyarakat dapat memverifikasi keaslian petugas sebelum memberikan data.

Ia juga menegaskan seluruh data responden dijamin kerahasiaannya sesuai ketentuan statistik yang berlaku.

Ia mengajak masyarakat menerapkan prinsip TIR, yakni Terima kedatangan petugas, Isi data dengan jujur dan benar, serta yakin bahwa Rahasia data tetap terjaga.

Data hasil sensus nantinya tidak hanya menjadi dasar pemerintah dalam merancang kebijakan ekonomi, tetapi juga akan digunakan BPS sebagai kerangka sampel berbagai survei ekonomi selama sepuluh tahun ke depan.

“Kami berharap dukungan dari seluruh masyarakat agar pelaksanaan Sensus Ekonomi 2026 di Aceh dapat berjalan optimal dan menghasilkan potret ekonomi yang akurat,” pungkas Akhmad.**

Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *