acehtoday.id/ | Jakarta – Sidang Kabinet Paripurna yang dipimpin Presiden Prabowo Subianto di Istana Negara, Jakarta, Senin (20/7/2026), menjadi ajang pemaparan capaian ekonomi pemerintah menjelang dua tahun masa jabatannya.
Di hadapan seluruh menteri Kabinet Merah Putih, Prabowo menyebut lembaganya telah menuntaskan 108 hingga 110 masalah kronis bangsa dalam 18 bulan pertama pemerintahan, sebuah pencapaian yang menurutnya jarang dicatat oleh negara lain dalam kurun waktu sesingkat itu.
Rapat evaluasi pertengahan tahun ini digelar rutin menjelang peringatan 17 Agustus, sesuai tradisi kepresidenan menyampaikan laporan kerja kepada publik. Prabowo memaparkan sejumlah angka kunci di bidang ekonomi.
Seperti mengutip dari laman resmi Presidenri.go.id, Prabowo mengatakan dana kedaulatan Danantara, yang mengonsolidasikan aset dan tabungan negara, kini tercatat bernilai lebih dari 1.000 miliar dolar AS. Di sisi lain, konsolidasi 250 badan usaha milik negara dari total 1.077 BUMN telah menghemat biaya operasional hingga Rp50 triliun per Juli 2026.
Presiden juga menyoroti berdirinya PT Danantara Sumberdaya Indonesia (DSI), instrumen ekspor satu pintu untuk komoditas strategis seperti nikel dan kelapa sawit, yang mulai beroperasi penuh 1 Juli 2026.
Dalam waktu kurang dari dua bulan, DSI telah mengelola devisa lebih dari 10,5 miliar dolar AS, sekaligus menutup celah selisih harga ekspor yang selama ini disebut mencapai 40 persen dari nilai sebenarnya.
Kebijakan itu, kata Prabowo, lahir dari temuan kebocoran kekayaan negara akibat praktik under-invoicing dan transfer pricing yang berlangsung selama puluhan tahun.
Prabowo menegaskan kebijakannya berpijak pada Pasal 33 dan 34 UUD 1945, yang mengamanatkan penguasaan negara atas kekayaan alam demi kemakmuran rakyat. Ia membela Program Makan Bergizi Gratis dan berbagai bantuan sosial yang selama ini dikritik sebagai pemborosan.
“Kita percaya kepada kekuatan kita sendiri, kita percaya kepada fundamental kita sendiri,” kata Prabowo dalam taklimatnya.
Di bidang lain, pemerintah mencatat bank emas nasional kini mengelola 153 ton emas senilai 20 miliar dolar AS, sementara program Koperasi Desa Merah Putih ditargetkan mencapai 30 ribu unit pada akhir 2026 untuk memangkas rantai distribusi bahan pokok yang selama ini menyerap margin hingga 40 persen di tangan tengkulak.

Tinggalkan Balasan