acehtoday.id/ | Simeulue – Pemerintah Kabupaten Simeulue akhirnya memastikan pembangunan Pelabuhan Pulau Siumat, Kecamatan Simeulue Timur, dengan anggaran Rp600 juta dari Dana Otonomi Khusus Aceh (DOKA) tahun 2026. Kepastian ini menjadi angin segar bagi warga pulau setelah belasan tahun fasilitas pelabuhan setempat rusak parah.
Kepala Dinas Perhubungan Kabupaten Simeulue, Renil Muriansyah Putra, menyampaikan hal itu, Senin (20/7/2026). Ia menyebut Review Detail Engineering Design (DED) pelabuhan tersebut telah tuntas dan proses selanjutnya akan masuk tahap lelang. Pelabuhan baru itu direncanakan dibangun sepanjang 24 meter.
“Review DED-nya sudah selesai dan akan masuk pada tahap lelang. Pelabuhan yang akan dibangun itu sepanjang 24 meter. Kita doakan tidak ada kendala, karena geografi posisi pelabuhan itu lumayan ekstrem dan rawan cuaca buruk,” ujar Renil.
Warga Kesulitan Akses Kesehatan Selama Belasan Tahun
Pelabuhan Pulau Siumat diperkirakan telah rusak selama 12 tahun, atau setara masa tiga periode Bupati Simeulue, tiga periode anggota DPRK Simeulue, tiga periode Gubernur Aceh, serta tiga periode Presiden RI. Kondisi itu membuat warga setempat menjuluki fasilitas tersebut sebagai “Pelabuhan Maut” atau “Pelabuhan Neraka”, karena menjadi satu-satunya akses sandar kapal penumpang maupun barang di pulau itu.
Camat Simeulue Timur, Ali Afwan, mengatakan warga sudah lama menantikan pembangunan pelabuhan tersebut. Ia menyebut kerusakan pelabuhan selama ini menyulitkan warga, terutama saat ada yang sakit berat dan harus dirujuk ke RSUD Simeulue.
Kesulitan serupa juga dirasakan Kurniawan (40), warga Pulau Siumat. Ia mengatakan warga yang hendak dibawa ke RSUD di Sinabang menghadapi tantangan berat saat melintasi pelabuhan yang rusak itu. Menurutnya, ketika cuaca buruk, transportasi laut jenis apa pun tidak bisa bersandar di pelabuhan tersebut.
Sempat Ada Dermaga Apung Darurat, Hancur Diterjang Cuaca Ekstrem
Sebelum ada kepastian anggaran DOKA, warga desa Pulau Siumat sempat membangun dermaga apung darurat menggunakan anggaran desa. Namun, dermaga tersebut hanya bertahan sekitar tiga bulan sebelum hancur diterjang cuaca ekstrem pada awal Juni 2026.
“Pernah dibuat dermaga apung darurat, tapi usianya tidak lama karena diterjang cuaca ekstrem,” kata Ali Afwan.
Pulau Siumat berada dalam wilayah administrasi Kecamatan Simeulue Timur, terpisah dari daratan Pulau Simeulue, dan hanya dapat dijangkau dengan transportasi laut selama tiga jam pelayaran. Pulau ini dihuni sekitar 120 kepala keluarga, dengan fasilitas pendidikan Sekolah Satu Atap yang menampung 82 siswa, fasilitas Puskesmas Pembantu, serta akses listrik dan jaringan komunikasi.
Dengan luas sekitar 3,97 kilometer persegi dan jarak sekitar 11 mil laut dari Pulau Simeulue, Pulau Siumat mengandalkan sumber daya alam berupa perkebunan cengkih, kelapa, dan sayur-mayur milik warga, serta hasil tangkapan ikan. Kepastian anggaran pembangunan pelabuhan ini diharapkan dapat mengakhiri belasan tahun kesulitan akses transportasi laut yang dialami warga setempat.**
Tinggalkan Balasan