Penulis: Ahmadi

  • 12 Tahun Penantian, Pelabuhan Pulau Siumat Simeulue Segera Dibangun

    acehtoday.id/ | Simeulue – Pemerintah Kabupaten Simeulue akhirnya memastikan pembangunan Pelabuhan Pulau Siumat, Kecamatan Simeulue Timur, dengan anggaran Rp600 juta dari Dana Otonomi Khusus Aceh (DOKA) tahun 2026. Kepastian ini menjadi angin segar bagi warga pulau setelah belasan tahun fasilitas pelabuhan setempat rusak parah.

    Kepala Dinas Perhubungan Kabupaten Simeulue, Renil Muriansyah Putra, menyampaikan hal itu, Senin (20/7/2026). Ia menyebut Review Detail Engineering Design (DED) pelabuhan tersebut telah tuntas dan proses selanjutnya akan masuk tahap lelang. Pelabuhan baru itu direncanakan dibangun sepanjang 24 meter.

    “Review DED-nya sudah selesai dan akan masuk pada tahap lelang. Pelabuhan yang akan dibangun itu sepanjang 24 meter. Kita doakan tidak ada kendala, karena geografi posisi pelabuhan itu lumayan ekstrem dan rawan cuaca buruk,” ujar Renil.

    Warga Kesulitan Akses Kesehatan Selama Belasan Tahun

    Pelabuhan Pulau Siumat diperkirakan telah rusak selama 12 tahun, atau setara masa tiga periode Bupati Simeulue, tiga periode anggota DPRK Simeulue, tiga periode Gubernur Aceh, serta tiga periode Presiden RI. Kondisi itu membuat warga setempat menjuluki fasilitas tersebut sebagai “Pelabuhan Maut” atau “Pelabuhan Neraka”, karena menjadi satu-satunya akses sandar kapal penumpang maupun barang di pulau itu.

    Camat Simeulue Timur, Ali Afwan, mengatakan warga sudah lama menantikan pembangunan pelabuhan tersebut. Ia menyebut kerusakan pelabuhan selama ini menyulitkan warga, terutama saat ada yang sakit berat dan harus dirujuk ke RSUD Simeulue.

    Kesulitan serupa juga dirasakan Kurniawan (40), warga Pulau Siumat. Ia mengatakan warga yang hendak dibawa ke RSUD di Sinabang menghadapi tantangan berat saat melintasi pelabuhan yang rusak itu. Menurutnya, ketika cuaca buruk, transportasi laut jenis apa pun tidak bisa bersandar di pelabuhan tersebut.

    Sempat Ada Dermaga Apung Darurat, Hancur Diterjang Cuaca Ekstrem

    Sebelum ada kepastian anggaran DOKA, warga desa Pulau Siumat sempat membangun dermaga apung darurat menggunakan anggaran desa. Namun, dermaga tersebut hanya bertahan sekitar tiga bulan sebelum hancur diterjang cuaca ekstrem pada awal Juni 2026.

    “Pernah dibuat dermaga apung darurat, tapi usianya tidak lama karena diterjang cuaca ekstrem,” kata Ali Afwan.

    Pulau Siumat berada dalam wilayah administrasi Kecamatan Simeulue Timur, terpisah dari daratan Pulau Simeulue, dan hanya dapat dijangkau dengan transportasi laut selama tiga jam pelayaran. Pulau ini dihuni sekitar 120 kepala keluarga, dengan fasilitas pendidikan Sekolah Satu Atap yang menampung 82 siswa, fasilitas Puskesmas Pembantu, serta akses listrik dan jaringan komunikasi.

    Dengan luas sekitar 3,97 kilometer persegi dan jarak sekitar 11 mil laut dari Pulau Simeulue, Pulau Siumat mengandalkan sumber daya alam berupa perkebunan cengkih, kelapa, dan sayur-mayur milik warga, serta hasil tangkapan ikan. Kepastian anggaran pembangunan pelabuhan ini diharapkan dapat mengakhiri belasan tahun kesulitan akses transportasi laut yang dialami warga setempat.**

  • Tradisi Melawat, Cara Warga Simeulue Merawat Keharmonisan

    acehtoday.id/ | Simeulue – Tradisi melawat antar kampung di Simeulue masih lestari,  praktik kebudayaan ini menjadi tali untuk memperkuat silaturahmi masyarakat di pulau terluar Indonesia itu.

    Tradisi “melawat” yang masih terjaga hingga saat ini, juga sama dengan menjaga kearifan lokal tentang "smong" yang turun temurun terjaga dalam kehidupan sehari-hari masyarakat pulau Simeulue.

    "Tradisi melawat antar kampung ini, sudah berlangsung lama di daerah kita. Mungkin sama usianya dengan kearifan lokal smong. Sebab dengan usia saya sudah 67 tahun, masih sering mengikuti acara melawat," kata Agusri (67) warga Kecamatan Simeulue Tengah, kepada acehtoday.id/.

    Hal senada juga diperkuat Camat Simeulue Cut, Feri Puput Hidayat, "Melawat antar kampung itu, salah satu wujud nyata dari bentuk persatuan, kekompakan, keharmonisan dan silatrurtahmi masyarakat di era modren ini. Tradisi melawat sudah sangat lama berangsung dalam masyarakat," katanya, kepada acehtoday.id/ Minggu (19/7/2026).

    Agusri dan Camat Simeulue Cut, memaparkan bukti nyata dari tradisi "melawat" antar kampung itu, selain terjalin silaturrahmi, memperkuat persatuan, terjaga budaya dan adat istiadat serta semakin kokoh kekompakan, keharmonisan sesama masyarakat antar kampung.

    Keduanya merincikan tradisi "melawat" yakni masyarakat dalam jumlah banyak dari salah satu kampung berkunjung (melawat) ke kampung lainnnya, dalam bentuk misi dunia olahraga, misi kesenian, misi adat istiadat, misi budaya yang bernuansa islami.

    Makna dan Bentuk Tradisi Melawat Antar Kampung

    Tradisi Melawat, Cara Warga Simeulue Merawat Keharmonisan
    Memuliakan dan menghormati rombongan tamu yang "melawat", warga kampung setempat sambut dengan kemeriahan yang disertai antraksi silat. Sabtu (25/72026). Ahmadi – acehtoday.id/

    Biasanya jadwal kunjungan atau melawat antar kampung itu, diawali dengan komunikasi dan kesepakatan resmi antar pemerintahan dalam kampung, sehingga durasi kunjungan itu ada jadwal kunjungan menginap juga ada hanya kunjungan melawat sehari.

    Dari pihak kampung penerima kunjungan (melawat), menyebut "tamu", sehingga dilakukan penyambutan yang terbaik dan resmi yang terbaik, bahkan tak semeriah menyambut tamu pejabat tingkat Kecamatan, pejabat Kabupaten, pejabat provinsi atau pejabat pusat.

    Masyarakat tanpa batasan usia dan jenis kelamin, tumpah ruah dan antusias meramaikan, menyambut tamu melawat itu, serta telah mempersiapkan beragam suguhan antraksi adat istiadat, budaya serta jamuan makanan dan buah-buahan terbaik.

    Tidak hanya jamuan makanan, bahkan masyarakat kompak dan bertanggjawab untuk memuliakan tamu melawat, dengan menyediakan tempat menginap kepada tamu melawat yang dipisahkan tempat antara laki-laki dan perempuan.

    "Saking memuliakan tamu melawat itu, masyarakat kompak bahu membahu dan bertanggungjawab memberikan yang terbaik kepada tamu melawat kekampungnya, karena nantinya ada balasan kunjungan melawat. Dari tradisi melawat ini semakin kokoh persatuan dan keharmonisan," tutur Camat Simeulue Cut.

    Musim tradisi melawat itu biasanya sebut Feri Puput Hidayat, setelah musim panen padi maupun setelah musim panen cengkeh serta menjelang bakal diadakan event besar bidang olahraga ditingkat kecamatan atau tingkat Kabupaten.

    Menjelang akan diadakan salah satu event besar bidang olahraga ditingkat kecamatan atau tingkat Kabupaten itu, maka tradisi melawat itu, dimamfaatkan sebagai uji tanding persahabatan oleh klub bola kaki maupun klub bola volly antara kedua kampung.

    Dampak positif dari tradisi melawat itu, selain mampu menumbuhkan ikatan persaudaraan, juga dapat mengadopsi kemajuan diberbagai sektor bidang yang ada di kampung yang dikunjungi itu, nantinya setelah selesai melawat akan diaplikasikan untuk pembangunan dalam kampungnya sendiri.

    "Dampak positif dari tradisi melawat ini sangat banyak, salah satunya masing-masing kampung dapat menilai kemajuan di kampung yang dikunjungi dan kemudian diaplikasikan dalam kampungnya. Namun kita berharap kedepannya tradisi melawat ini tetap terjaga sesuai norma-norma syariat islam," tutup Camat Simeulue Cut.

    Pengakuan dari sejumlah narasumber acehtoday.id/, yang juga mengaku iri karena tidak perna ikut acara tradisi melawat, disebabkan karena tuntutan pendidikan diluar daerah dan kemudian setelah selesai pendidikan, harus aktif bekerja disektor Pemerintahan.

    "Sebenarnya saya iri, ketika teman-teman berbicara tradisi melawat antar kampung, sebab saya tidak perna merasakan kebahagian dan kesuksesan dari acara melawat itu. Sejak kecil saya sekolah diluar daerah dan setelah sekolah, pulang kampung bekerja di pemerintahan," kata Helmi (57) warga Kota Sinabang.

    Simeulue Usulkan 1 Juta Bibit Cengkeh untuk Kembalikan Kejayaan "Petrodollar"

    Sedangkan Efendi (62) yang kini menetap di Kota Sinabang, mengaku kepada acehtoday.id/, Minggu (19/7/2026), pada masa mudanya perna mengikuti acara melawat hampir satu bulan dari kampung ke kampung di 10 Kecamatan dalam Kabupaten Simeulue.

    "Dulu hampir satu bulan saya mengikuti acara melawat ke berbagai kampung. Banyak pengalaman dan ilmu yang kita dapatkan serta juga kita dapat mengetahui bahwa dikampung yang kita kunjungi itu ternyata ada famili, juga menambah teman," kata Efendi.

    Efendi juga menilai meskipun tradisi melawat itu sangat familiar di kalangan masyarakat lokal, namun khususnya di pusat ibukota Kabupaten Simeulue, terlihat jarang digelar tradisi melawat karena kesibukan profesi serta penduduknya yang beragam etnis dari luar daerah.

    "Tidak bisa kita pungkiri, di pusat kota Kabupaten Simeulue terlihat jarang acara melawat, mungkin faktor kesibukan, profesi dan karena penduduknya beragam etnis dari luar daerah, yang mungkin tidak ada acara tradisi melawat di daerah asalnya," imbuh Efendi.

    Efendi juga meminta pihak jajaran Pemerintah Kabupaten Simeulue maupun pihak Lembaga Vertikal, harus hadir untuk peduli, menjaga dan merawat budaya tradisi melawat salah satu cara merawat keharmonisan dalam daerah. Sebab tradisi "melawat" mungkin sama usianya dengan kearifan lokal turun temurun tentang "smong".

  • Jalan Simpang Koridor Simeulue Resmi Dibangun, Pemerintah Kucurkan Anggaran Rp8,6 Miliar

    acehtoday.id/ | Simeulue – Dana Otonomi Khusus Aceh (DOKA) senilai Rp8.604.000.000 pada tahun anggaran 2026 dialokasikan untuk pembangunan Jalan Simpang Koridor di Teluk Dalam, Kabupaten Simeulue. Proyek Pembangunan Lanjutan Peningkatan Jalan Simpang Koridor sepanjang 2,06 kilometer ini saat ini masih dalam tahap proses sistem E-Katalog (Purchasing), sebelum dalam waktu dekat memasuki tahap penandatanganan kontrak pelaksanaan pekerjaan.

    Kepala Dinas Pekerjaan Umum Penataan Ruang Kabupaten Simeulue, Samsuar, membenarkan kegiatan proyek yang bersumber dari DOKA tersebut kepada acehtoday.id/, Jumat (17/7/2026).

    “Sedang dalam proses kegiatan yang bersumber dari DOKA tahun anggaran 2026 itu,” tulis Samsuar melalui pesan singkat WhatsApp.

    Ruas Jalan Pintas Penghubung Teluk Dalam dan Simeulue Barat

    Berdasarkan sumber-sumber yang dihimpun acehtoday.id/, ruas jalan yang dibangun dengan anggaran DOKA tersebut merupakan jalur yang menghubungkan Kecamatan Teluk Dalam dan Kecamatan Simeulue Barat.

    Terdapat dua ruas jalan di kawasan tersebut, yakni satu ruas jalan yang telah lama diaspal dan melintasi sejumlah desa berpenghuni di Kecamatan Teluk Dalam, namun membutuhkan waktu tempuh sekitar satu jam perjalanan.

    Sementara itu, ruas jalan yang akan dibangun dengan anggaran DOKA memiliki rute perjalanan yang jauh lebih singkat, hanya membutuhkan sekitar 15 menit. Kondisi ini membuat rute tersebut nyaris tidak pernah sepi selama 24 jam, karena terus digunakan para pelintas sebagai jalur alternatif yang lebih cepat.

    Rute Simpang Koridor yang menerobos hutan dan pegunungan itu sendiri pertama kali dibuka dan dibangun pada masa kepemimpinan Bupati Darmili, meski data serapan anggaran pada periode tersebut tidak ditemukan.

    Pembangunan kemudian berlanjut secara bertahap: pada 2018 pemerintah menggelontorkan anggaran Rp2,7 miliar, dilanjutkan pada 2020 sebesar Rp4,4 miliar, dan terbaru pada 2026 sebesar Rp8,6 miliar.

    Sekda Simeulue Minta Percepatan Realisasi Anggaran

    Sekretaris Daerah (Sekda) Simeulue, Asludin, meminta seluruh pihak Satuan Kerja Perangkat Kabupaten (SKPK) Teknis untuk mempercepat realisasi penyerapan tahap I kegiatan fisik yang bersumber dari DOKA dan Dana Alokasi Umum (DAU), dengan mengacu pada jadwal yang telah ditetapkan sesuai aturan yang berlaku.

    “Seluruh SKPK harus pedomani Surat Edaran Bupati Simeulue, nomor: 900/17/2026, tanggal 3 Juli 2026. Supaya harus mempercepat realisasinya penyerapannya,” kata Asludin.**

  • Keropos Berat Jembatan Kuala Babek Kolok, Ancam Keselamatan Pelintas

    acehtoday.id/ | Simeulue – Fasilitas Jembatan Kuala Babek Kolok, Kecamatan Simeulue Timur, Kabupaten Simeulue, telah rusak dan keropos berat yang mengancam keselamatan pelintas.

    Jembatan Kuala Babek Kolok yang telah usak dan kropos berat itu, merupakan akses satu-satunya yang menghubungkan kepelabuhan kapal feri sehingga rutin dilintasi kenderaan bermuatan berat.

    Diketahui rusak dan kropos berat jembatan yang rutin dilindas kenderaan bermuatan berat, yang turun dari kapal feri maupun kenderan yang hendak naik kapal feri, disampaikan Fendi (58) warga Kota Sinabang, kepada acehtoday.id/. Selasa (14/7/2026).

    "Jembatan itu sangat mengancam keselamatan, karena kalau kita lihat diatas permukaan jembatan memang bagus, tapi bila kita lihat kelantani bawah jembatan itu, sudah rusat dan kropos berat. Apa harus ada tumbal korban jiwa dulu disitu baru dibuat Pemerintah," kata Fendi.

    Fendi juga mengingatkan masyarakat, terutama pengendara bermuatan berat saat melintasi Jembatan Kuala Babek Kolok itu, supaya tidak tertipu dengan mulusnya permukaan jembatan itu, yang telah berulangkali ditambal sulam oleh Pemerintah.

    Terkait rusak dan kropos berat lantai bawah jembatan itu, juga dibenarkan Kepala Bidang (Kabid) Bina Marga Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Kabupaten Simeulue adalah Irawan Fuady, ST, keoada SeutarAceh.id. Selasa (13/7/2026).

    “Iya benar, sekitar 60 kerusakan jembatan Kuala Babek Kolok itu, terutama struktir fisik bagian bawah. Betul jembatan itu merupakan satu-satunya jalur rutin yang dilintasi kenderaan bermuatan berat, terutama kenderaan bermuatan yang baru turun dari kapal feri,” kata Irawan Fuady.

    Fasilitas Jembatan Kuala Babek Kolok, Kecamatan Simeulue Timur, Kabupaten Simeulue, telah rusak dan kropos berat yang mengancam keselamatan pelintas. Foto: acehtoday.id/

    Rencana Perbaikan Jembatan Kuala Babek Kolok

    Dalam kesempatan itu juga Irawan Fuady sepakat dengan kekhawatiran yang disampaikan Fendi, namun pihaknya telah melakukan upaya langkah awal dengan perncanaan Detail Engineering Design (DED) untuk dapat masuk dalam DPA Perubahan 2026.

    Sedangkan kebutuhan anggaran untuk biaya pembangunan baru Jembatan Kuala Babek Kolok, Kecamatan Simeulue Timur, sepanjang 12 meter itu, diperkirakan membutuhkan anggaran sekitar Rp4-5 miliar.

    “Bila terkabul dan tertampung, maka telah teratasi satu permasalahan yang sangat vital untuk menyelamatkan pelintas dijalur pintu masuk wilayah Kabupaten Simeulue,” imbuh Irawan Fuady.

  • Kejati Aceh Tahan Dua Tersangka Korupsi Irigasi Sigulai Simeulue Barat, Negara Rugi Rp 2,2 Miliar

    acehtoday.id/| Simeulue – Kejati Aceh menahan dua tersangka korupsi irigasi Sigulai Simeulue Barat, Kabupaten Simeulue. Kedua tersangka akan menjalani proses persidangan.

    Dalam keterangan resmi Kasi Penerangan Hukum dan Humas Kejati Aceh Ali Rasab Lubis, Rabu (15/7/2026) mengatakan kedua tersangka yang ditahan yakni inisial S dengan jabatan sebagai Kades Sigulai Priode 2019-2025 dan DS yang berstatus PNS yang bertugas pada Kantor Wilayah Badan Pertanahan Nasional (BPN) Aceh.

    Perkara ini berawal dari kegiatan pengadaan tanah pembangunan daerah Irigasi Sigulai, tahun anggaran 2019 yang bersumber dari Dana Otonomi Khusus dengan pagu anggaran sebesar Rp39.956.500.000,- untuk pengadaan lahan seluas 885.216,67 m² atau 88,52 hektar.

    Berdasarkan hasil penyidikan, ditemukan adanya dugaan penyimpangan dalam proses pengadaan tanah, khususnya pada lokasi sekitar rencana bendung di Desa Sigulai, Kecamatan Simeulue Barat, Kabupaten Simeulue.

    Modus Korupsi Irigasi Sigulai Simeulue Barat

    Data awal menunjukkan terdapat 26 bidang tanah, yang terdiri dari 25 bidang milik masyarakat dan 1 bidang tanah desa. Namun dalam pelaksanaannya, jumlah tersebut berubah menjadi 77 bidang tanah.

    Kajati Aceh Tahan Dua Tersangka Korupsi Irigasi Sigulai Simeulue Barat
    Personel Kejaksaan Tinggi Aceh, menahan tersangka S dan DS Kasus Korupsi Irigasi Sigulai, Kecamatan Simeulue Barat,a Kavuoaten Simeulue, Selasa (14/7/2026). Foto Dok Kejati Aceh

    Termasuk perubahan status tanah desa menjadi 32 bidang kepemilikan perseorangan.Perubahan tersebut diduga dilakukan melalui penerbitan Surat Pernyataan Penguasaan Fisik Bidang Tanah (Sporadik) dan dokumen pendukung lainnya yang tidak sesuai dengan ketentuan
    peraturan perundang-undangan.

    Dokumen tersebut kemudian dijadikan dasar dalam proses penilaian, penetapan pihak yang berhak, hingga pembayaran ganti kerugian atas objek pengadaan tanah.

    Akibat perbuatan tersebut, pembayaran ganti rugi yang seharusnya diberikan atas satu bidang Tanah Desa berubah menjadi pembayaran kepada 32 pihak perseorangan yang diduga tidak berhak menerima ganti kerugian.

    Berdasarkan hasil perhitungan kerugian keuangan negara oleh ahli, perbuatan para tersangka mengakibatkan kerugian keuangan negara sebesar Rp2.219.604.880. Dari jumlah tersebut, sekitar Rp1.259.110.000,- digunakan untuk kepentingan umum di Desa Sigulai, sedangkan sekitar Rp974.969.503,- diterima oleh 32 pihak perseorangan.

    Hingga saat ini telah dilakukan pengembalian kerugian negara sebesar Rp301.353.878. Perbuatan para tersangka diduga bertentangan dengan ketentuan Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2012 tentang Pengadaan Tanah bagi Pembangunan untuk Kepentingan Umum.

    Peraturan Presiden Nomor 71 Tahun 2012 beserta perubahannya, serta Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 1 Tahun 2016 tentang Pengelolaan Aset Desa. Berdasarkan alat bukti yang telah diperoleh, Tim Penyidik Kejaksaan Tinggi Aceh.

    Menetapkan S dan DS sebagai tersangka serta melakukan penahanan selama 20 hari hari, terhitung sejak tanggal 14 Juli 2026 sampai dengan 2 Agustus 2026 di Rumah Tahanan Negara Kelas IIB Banda Aceh.

  • Hari Pertama Sekolah, Kacabdin Simeulue Warning Kepsek yang Absen

    acehtoday.id/ | Simeulue – Hari pertama masuk sekolah tahun ajaran baru 2026-2027 tingkat SLTA sederajat langsung diwarnai peringatan tegas dari Kacabdin Aceh Wilayah Kabupaten Simeulue kepada seluruh kepala sekolah di wilayahnya.

    Peringatan tersebut disampaikan Kepala Cabang Dinas Pendidikan (Kacabdin) Aceh Wilayah Kabupaten Simeulue, M. Daud H, S.Ag., M.Pd, saat pertemuan singkat dengan ratusan orang tua murid baru di SMA Negeri 1 Sinabang, Senin (13/7/2026).

    M. Daud menegaskan, apabila ada kepala sekolah tingkat SLTA sederajat yang tidak hadir selama dua hari berturut-turut sejak dimulainya tahun ajaran baru, maka jabatannya akan langsung diganti dengan status Pelaksana Tugas (Plt).

    “Tahun ajaran baru 2026-2027 tingkat SLTA sederajat, resmi dimulai hari ini. Saya peringatkan kepada para sekolah tingkat SLTA sederajat yang ada di Kabupaten Simeulue, bila tidak hadir hari ini dan besok, akan saya Plt-kan jabatan kepala sekolah dan saya tidak main-main,” kata M. Daud.

    Cabdin Simeulue Awasi 36 SLTA Sederajat di 10 Kecamatan

    M. Daud menjelaskan, saat ini Cabang Dinas Pendidikan (Disdik) Aceh Wilayah Kabupaten Simeulue memiliki kewenangan dan tanggung jawab terhadap 36 SLTA sederajat, termasuk di dalamnya 8 SMK, yang tersebar di 10 kecamatan dalam wilayah kepulauan tersebut.

    “Cabdin Aceh Wilayah Kabupaten Simeulue, memiliki kewenangan dan tanggung jawab terhadap 36 SLTA sederajat, termasuk 8 SMK. Orang tua murid merupakan mitra sekolah, maka kita harus saling komunikasi untuk pendidikan dan masa depan generasi bangsa,” imbuh M. Daud.

    Orang Tua Diminta Bijak Penuhi Permintaan Anak

    Selain menegur kepala sekolah, M. Daud turut mengingatkan para orang tua murid agar tidak selalu merestui setiap permintaan anak-anaknya. Menurutnya, kebiasaan tersebut berpotensi menjerumuskan orang tua ke dalam lilitan utang piutang.

    Peringatan ini disampaikan langsung di hadapan ratusan orang tua murid baru yang hadir dalam pertemuan di SMA Negeri 1 Sinabang, sebagai bagian dari upaya membangun komunikasi yang lebih erat antara pihak sekolah dan keluarga siswa sejak awal tahun ajaran.

  • Lima Tahun Berjuang, Warga Simeulue Ini Akhirnya Sukses “Ciptakan” Sapi Unggul Sendiri

    acehtoday.id/ | Simeulue – Selama lima tahun, tak sia-sia upaya Izman Nazara (49), warga Desa Ganting, Kecamatan Simeulue Timur, Kabupaten Simeulue untuk mendapatkan sapi unggul yang bernilai mahal.

    Perdana dan sukses kembangkan sapi unggul yang bernilai mahal itu, dari hasil penantian panjang upaya Izman Nazara bersama tim teknis ahli dari Dinas Perkebunan, Peternakan dan Kesehatan Hewan, Kabupaten Simeulue.

    Hasil program kawin suntik atau Inseminasi Buatan (IB) itu, menghasilkan dua ekor Sapi Berkualitas atau sapi unggul, yakni sapi betina unggul jenis simental, telah berusia 11 bulan, dengan bobot badan encapai 300 kilogram dan sapi jantan unggul jenis limousin yang berusia sehari sejak lahir,  memiliki bobot badan 30 Kilogram.

    Sukses dan perdana dikembangkan Sapi Berkualitas jenis limousin dan sapi unggul simental dari hasil Inseminasi Buatan (IB) Kabupaten Simeulue itu, dijelaskan Izman Nazara, yang ditemui acehtoday.id/, Minggu (12/7/2026.

    "Sejak tahun 2022 lalu, saya berupaya untuk mendapatkan sapi unggulan dari hasil program kawin suntik ini. Alhamdulillah, tidak sia-sia dan kini sapi betina unggul jenis simental berusia 11 bulan dan sapi jantan unggul jenis limousin yang lahir sekitar 20 jam lalu," kata Izman Nazara dengan mata berbinar.

    Masih menurut Izman Nazara, menceritakan upayanya itu sempat beberapa kali gagal, namun tidak membuatnya patah arang, dan mengikuti setiap detail intruksi dari tim teknis ahli Dinas Perkebunan, Peternakan dan Kesehatan Hewan, Kabupaten Simeulue.

    Lima Tahun Berjuang, Warga Simeulue Ini Akhirnya Sukses "Ciptakan" Sapi Unggul Sendiri

    Dia juga mengisahkan pengalamannya perna gagal total, karena sapi indukan yang telah mendapat Inseminasi Buatan (IB) itu, tidak ekstra dijaga, tidak dikandangkan bahkan dilepas liarkan, sehingga sapi yang sedang bunting benih unggul itu mati.

    Diperparah lagi kegagalannya itu mendapat cibiran dari oknum warga, karena dinilai telah menghabiskan uang pribadinya sekitar Rp30 juta, termasuk dirinya membeli sapi betina yang masih satu garis keturunan dengan sapi unggul.

    "Bila ingin mendapat Sapi Berkualitas dari hasil program kawin suntik, wajib harus ekstra 24 jam dijaga, dikandangkan dan harus disediakan pakannya serta ikuti intruksi dari tim teknis termasuk bibit IB sapi unggulnya juga gratis telah disediakan dari Dinas Peternakan," imbuhnya.

    Kini Izman Nazara sedang menunggu kelahiran ketiga Sapi Berkualitas dari hasil program kawin suntik, sedangkan sapi betina Simental masih berusia 11 bulan dibanderol Rp20 juta dan sapi jantan Limousin yang baru berusia sekitar 20 jam itu, juga dibanderol sekitar Rp10 juta.

    "Kita ikuti setiap intruksi tim teknis, pasti tidak gagal. Saat ini juga saya sedang menantikan kelahiran sapi unggul yang ketiga, maka sudah saya siapkan satu hektar khusus pakan dan satu hektar untuk lanjutan lokasi sarana pengembangan sapi unggul," tutup Izman Nazara.

    Perdana Inseminasi Buatan Sukses jadikan Sapi Unggul

    Perdana dan sukses Inseminasi Buatan (IB) Sapi Unggul yang diusahakan oleh warga lokal itu, dibenarkan Kepala Dinas Perkebunan, Peternakan dan Kesehatan Hewan, Kabupaten Simeulue, Syuhelmi.SP.

    "Alhamdulillah, hasil program kawin suntik Sapi Berkualitas perdana telah berhasil dan sukses. Hasilnya telah lahir sapi betina unggul jenis Simental dan sapi jantan unggul jenis Limousin," kata Syuhelmi kepada acehtoday.id/, Minggu (12/7/2026).

    Dengan keberhasilan tersebut, Syuhelmi mengajak masyarakat Kabupaten Simeulue, untuk mengembangkan sapi dengan metode Inseminasi Buatan (IB), pihak Disbunakkeswan setempat telah sediakan secara gratis bibit atau frozen semen sapi unggul.

    "Kita harapkan Masyarakat Kabupaten Simeulue, dapat beralih ke peternakan metode hasil program kawin suntik untuk mendapatkan sapi unggul. Bibit atau frozen semen sapi unggul itu telah tersedia gratis termasuk tenaga tim teknisnya," imbuh Syuhelmi.

    Syuhelmi menyebutkan, sapi unggul yang berhasil perdana dikembangkan oleh Izman Nazara itu, jenis sapinya sama dengan sapi kurban Bantuan Presiden Prabowo Subianto untuk Meugang Puasa dan sapi Kurban Lebaran Haji lalu kepada masyarakat Kabupaten Simeulue

    "Sapi unggul yang dikembangkan Izman Nazara itu, sama jenis sapinya dengan sapi Bantuan Presiden Prabowo Subianto untuk Meugang Puasa dan sapi Kurban Lebaran Haji," tutup Syuhelmi.

    Keberhasilan pengembangan sapi melalui hasil program kawin suntik di Kabupaten Simeulue diharapkan menjadi contoh bagi peternak lain untuk meningkatkan kualitas ternak secara bertahap. Selain menghasilkan sapi dengan bobot dan nilai jual yang lebih tinggi, metode ini juga dinilai mampu mempercepat peningkatan populasi sapi unggul sehingga dapat mendukung ketahanan pangan serta meningkatkan pendapatan peternak di daerah.

  • Angka Kerugian Belum Diketahui, Baitulmal Alokasikan Bantuan Korban Kebakaran

    acehtoday.id/ | Simeulue – Memasuki hari kedua, Rabu (8/7/2026) pasca bencana musibah kebakaran di Sinabang, Ibukota Kabupaten Simeulue, belum diketahui angka kerugian.

    Belum diketahui angka kerugian, dampak bencana kebakaran itu, terungkap saat kunjungan Wakil Bupati, Nusar Amin. Sekda Simeulue, Asludin dan Asisten serta Ketua Badan Baitulmal setempat.

    Dalam pertemuan singkat yang digelar di lokasi kebakaran Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Simeulue, T. Ridwan, SP mengatakan nilai kerugian dampak bencana kebakaran tersebut belum diketahui, sebab masih menunggu tim teknis melakukan perhitungan.

    Dalam pertemuan singkat itu, yang turut dihadiri korban bencana kebakaranmdan aparat desa Sinabang. T. Ridwan kembali menyebutkan, untuk masa tanggap darurat juga dikurangi menjadi 5 hari dari sebelumnya selama 7 hari.

    Sedangkan datan bangunan yang hangus, rusak berat juga berubah menjadi 6 unit Rumah dan Toko (Ruko) dan sudah termasuk bangunan Losmen atau penginapan, milik korban sebanyak 6 Kepala Keluarga (KK) atau 9 jiwa.

    Sedangkan yang korban terdampak dari bencana kebakaran itu sebanyak, 9 Kepala Keluarga (KK) atau 31 jiwa. “Bangunan yang hangus sebanyak 6 unit milik 6 KK. Sedangkan korban terdampak kebakaran sebanyak 9 KK,” imbuh T. Ridwan.

    Kalaksa BPBD Simeulue juga menyebutkan, musibah bencana kebakaran yang terjadi sekitar pukul 01:10 WIB, Selasa (7/7/2026) tu tidak meluas, karena adanya fasilitas ground water tank yang terpaut sekitar 100 meter dari lokasi kejadian.

    “Kalau tidak ada fasilitas ground water tank itu, tidak bisa dibayangkan, mungkin bencana kebakaran ini meluas. Alhamdulillah tidak ada korban luka-luka maupun korban jiwa,” tutup T. Ridwan.

    Batulmal Simeulue Alokasikan Bantuan Kebakaran

    Masih dalam pertemuan singkat itu, pihak Baitulmal Kabupaten Simeulue, telah alokasikan bantuan korban kebakaran, untuk 6 KK masing-masing mendapat Rp2.500.000.

    Sedangkan untuk korban terdampak musibah bencana kebakaran tersebut, sebanyak 9 KK, juga telah dialokasikan bantuan untuk masing-masing mendapat bantuan Rp1.500.000.

    “Baitulmal Kabupaten Simeulue, telah alokasikan bantuan dalam bentuk uang tunai, kepada korban dan korban terdampak,” kata Wabup Nusar Amin.

    Dalam kesempatan iyu juga Wabup Simeulue, mengingatkan warga untuk waspadai potensi kebakaran dilingkungannya, terutama alat-alat memasak di dapur yang ada dalam rumah pribadi.

    “Kawasan ini padat pemukiman penduduk dan sudah berulangkali terjadi bencana kebakaran besar. Warga diharapkan lebih ekstra waspadai potensi kebakaran, terutama dari dapur rumah pribadi,” tutup Wakil Bupati Simeulue. (Ahmadi)

  • Api Hanguskan Losmen dan Ruko, di Ibukota Kabupaten Simeulue

    acehtoday.id/ | Simeulue – Bencana kebakaran meludeskan Losmen (Penginapan) dan sejumlah Rumah Toko (Ruko) di Kota Sinabang, ibukota Kabupaten Simeulue.

    Bencana kebakaran itu, terjadi sekitar pukul 01:10 WIB, Selasa (7/7/2026), yang menghanguskan satu unit losmen (penginapan) dan ruko milik warg serta dilaporkanntidak ada korban jiwa maupun luka-luka.

    Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Simeulue mengerahkan sejumlah armada pemadam kebakaran serta fasilitas gound tank yang terpaut sekitar 100 meter dari lokasi kejadian dibantu TNI Polri dan masyarakat.

    Serta dengan memamfaatkan fasilitas Ground Water Tank (GWT), yang terpaut sekitar 100 meter dari lokasi kejadian musibah kebakaran, sehingga api berhasil dipadamkan sekitar pukul 02:29 WIB.

    Api menghanguskan Losmen dan Ruko di Kota Sinabang, Ibukota Kabupaten Simeulue. Selasa (7/7/2026). Ahmadi - SeputarAceh.id
    Api menghanguskan Losmen dan Ruko di Kota Sinabang, Ibukota Kabupaten Simeulue. Selasa (7/7/2026). Ahmadi – acehtoday.id/

    Terkait bencana kebakaran itu itu, dijelaskan Kepala Pelaksana (Kalaksa) BPBD Simeulue, T. Ridwan, SP, yang ditemui SeputarAceh.com, di lokasi bencana Kebakaran, Selasa (7/7/2026).

    “Bencana kebakaran ini terjadi semalam. Api berhasil kita dipadamkan dengan mengerahkan sejumlah unit armada damkar, dibantu TNI Polri dan warga serta juga memamfaatkan fasilitas ground water tank yang terpaut sekitar 100 meter dari lokasi kejadian. Alhamdulillah api pada sekitar pukul 02:29 WIB,” kata, T. Ridwan.

    Lebih lanjut Kalaksa BPBD Simeulue menambahkan, setimasi sementara dampak bencana kebakaran itu, yakni satu unit losmen dan 4 unit ruko hangus, serta korban kebakaran sebanyak 5 Kepala Keluarga (KK).

    Kalaksa BPBD Simeulue, kembali merincikan, dari data sementara korban kebakaran itu, sebanyak 44 jiwa dan sudah termasuk karyawan losmen maupun korban yang sedang menginap pada Losmen Simeulue itu.

    Saat ini BPBD Simeulue masih melakukan pendataan, sehingga belum diketahui total kerugian dari dampak bencana kebakaran dengan lokasi yang padat pemukiman penduduk, serta asal muasal api juga belum diketahui.

    Pihak Pemerintah Kabupaten Simeulue, menerapkan masa tanggap darurat selama 7 hari serta mendirikan tenda darurat, juga termasuk siagakan posko kebakaran serta disediakan makanan kepada korban bencana kebakaran.

    “Pemda Simeulue tetapkan masa tanggap darurat selama 7 hari. Bencana kebakaran itu tidak ada korban jiwa maupun luka-luka. Untuk sementara korban kebakaran memilih menginap di rumah familinya.

  • Belasan Ribu Petani Simeulue, Serentak Turun Humasa Sebbel

    acehtoday.id/ | Simeulue – Sebanyak 19.780 petani aktif di 10 Kecamatan Kabupaten Simeulue serentak turun ke sawah dalam kegiatan bertajuk Humasa Sebbel Khumaha Heba, sebagai upaya mengejar target dua kali tanam dan panen padi dalam setahun guna memenuhi kebutuhan pangan di 138 desa se-kabupaten kepulauan itu.

    “Ada sekitar 19.780 petani aktif, yang serentak turun kesawah atau Humasa Sebbel Khumaha Heba di seluruh Kecamatan dalam Kabupaten Simeulue,” kata Plt Kepala Dinas Pertanian dan Pangan (Distanpan) Kabupaten Simeulue, Kasirman kepada acehtoday.id/, Minggu (5/7/2026).

    Turun serentak mengolah sawah itu, pihaknya targetkan dalam satu tahun sebanyak dua kali menanam padi dan dua kali panen padi, sehingga kebutuhan pangan jenis beras dapat terpenuhi di 10 Kecamatan atau 138 desa dalam wilayah kepulauan.

    Kegiatan serentak turun ke sawah Humasa Sebbel Khumaha Heba itu, dinyatakan sebagai salah satu andalan utama Pemerintah Kabuoaten Simeulue untuk program resmi Ekonomi Biru dari sektor bidang Pertanian.

    Dengan Sumber Daya Manusia SDM) dan Sumber Daya Alam (SDA) Pertanian yang tersebar di 10 Kecamatan dalam wilayah Kabupaten Simeulue itu, juga Kasirman tidak menapi, sejumlah kendala yang menghadang untuk kegiatan Humasa Sebbel Khumaha Heba.

    Kendala yang menghadang untuk pelaksanaan serentak turun keswah itu, yakni faktor cuaca, minim alsintan, serangan hama, masih banyak areal sawah dengan sistem tadah hujan atau tidak tersedia fasilitas irigasi.

    Kemudian kendala lainnya yang tidak bisa dihindari, yakni belum maksimal tersedia alsintan jenis Hand Traktor roda dua, termasuk masih banyak areal sawah yang belum dapat masuk alsintan moderen jenis roda empat.

    Kendala lainnya yang juga dinilai sangat penting, masih kurangnya akses Jalan Usaha Tani, untuk proses distribusi Alsintan yang hendak mengolah persawahan maupun akses distribusi hasil panen padi.

    "Kendala kita masih banyak, seperti yang saya sebutkan tadi. Untuk saat ini luas areal sawah yang LP2B seluas 7.172 hektar, dengan estimasi Produksi, rata-rata mencapai 5,5 ton gabah padi persatu hektar," imbuh Kasirman.

    Plt Kepala Dinas Pertanian dan Pangan (Distanpan) Kabupaten Simeulue yang merincikan jumlah anggota petani aktif yang tersebar di 138 desa dalam 10 Kecamatan, yakni Alafan sebanyak 612 petani aktif.

    Kecamatan Salang sebanyak 1.830 petani aktif. Simeulue Barat sebanyak 2.372 petani aktif. Simeulue Cut sebanyak 982 petani aktif. Simeulue Tengah sebanyak 1.056 petani aktif. Simeulue Timur sebanyak 1.381 petani aktif.

    Kecamatan Teluk Dalam sebanyak 1.029 petani aktif.Teupah Barat sebanyak 1.778 petani aktif. Teupah Selatan sebanyak 1.706 petani aktif, dan terakhir Kecamatan Teupah Tengah sebanyak 1.035 petani aktif.