Kategori: Simeulue

  • 12 Tahun Penantian, Pelabuhan Pulau Siumat Simeulue Segera Dibangun

    acehtoday.id/ | Simeulue – Pemerintah Kabupaten Simeulue akhirnya memastikan pembangunan Pelabuhan Pulau Siumat, Kecamatan Simeulue Timur, dengan anggaran Rp600 juta dari Dana Otonomi Khusus Aceh (DOKA) tahun 2026. Kepastian ini menjadi angin segar bagi warga pulau setelah belasan tahun fasilitas pelabuhan setempat rusak parah.

    Kepala Dinas Perhubungan Kabupaten Simeulue, Renil Muriansyah Putra, menyampaikan hal itu, Senin (20/7/2026). Ia menyebut Review Detail Engineering Design (DED) pelabuhan tersebut telah tuntas dan proses selanjutnya akan masuk tahap lelang. Pelabuhan baru itu direncanakan dibangun sepanjang 24 meter.

    “Review DED-nya sudah selesai dan akan masuk pada tahap lelang. Pelabuhan yang akan dibangun itu sepanjang 24 meter. Kita doakan tidak ada kendala, karena geografi posisi pelabuhan itu lumayan ekstrem dan rawan cuaca buruk,” ujar Renil.

    Warga Kesulitan Akses Kesehatan Selama Belasan Tahun

    Pelabuhan Pulau Siumat diperkirakan telah rusak selama 12 tahun, atau setara masa tiga periode Bupati Simeulue, tiga periode anggota DPRK Simeulue, tiga periode Gubernur Aceh, serta tiga periode Presiden RI. Kondisi itu membuat warga setempat menjuluki fasilitas tersebut sebagai “Pelabuhan Maut” atau “Pelabuhan Neraka”, karena menjadi satu-satunya akses sandar kapal penumpang maupun barang di pulau itu.

    Camat Simeulue Timur, Ali Afwan, mengatakan warga sudah lama menantikan pembangunan pelabuhan tersebut. Ia menyebut kerusakan pelabuhan selama ini menyulitkan warga, terutama saat ada yang sakit berat dan harus dirujuk ke RSUD Simeulue.

    Kesulitan serupa juga dirasakan Kurniawan (40), warga Pulau Siumat. Ia mengatakan warga yang hendak dibawa ke RSUD di Sinabang menghadapi tantangan berat saat melintasi pelabuhan yang rusak itu. Menurutnya, ketika cuaca buruk, transportasi laut jenis apa pun tidak bisa bersandar di pelabuhan tersebut.

    Sempat Ada Dermaga Apung Darurat, Hancur Diterjang Cuaca Ekstrem

    Sebelum ada kepastian anggaran DOKA, warga desa Pulau Siumat sempat membangun dermaga apung darurat menggunakan anggaran desa. Namun, dermaga tersebut hanya bertahan sekitar tiga bulan sebelum hancur diterjang cuaca ekstrem pada awal Juni 2026.

    “Pernah dibuat dermaga apung darurat, tapi usianya tidak lama karena diterjang cuaca ekstrem,” kata Ali Afwan.

    Pulau Siumat berada dalam wilayah administrasi Kecamatan Simeulue Timur, terpisah dari daratan Pulau Simeulue, dan hanya dapat dijangkau dengan transportasi laut selama tiga jam pelayaran. Pulau ini dihuni sekitar 120 kepala keluarga, dengan fasilitas pendidikan Sekolah Satu Atap yang menampung 82 siswa, fasilitas Puskesmas Pembantu, serta akses listrik dan jaringan komunikasi.

    Dengan luas sekitar 3,97 kilometer persegi dan jarak sekitar 11 mil laut dari Pulau Simeulue, Pulau Siumat mengandalkan sumber daya alam berupa perkebunan cengkih, kelapa, dan sayur-mayur milik warga, serta hasil tangkapan ikan. Kepastian anggaran pembangunan pelabuhan ini diharapkan dapat mengakhiri belasan tahun kesulitan akses transportasi laut yang dialami warga setempat.**

  • Jalan Simpang Koridor Simeulue Resmi Dibangun, Pemerintah Kucurkan Anggaran Rp8,6 Miliar

    acehtoday.id/ | Simeulue – Dana Otonomi Khusus Aceh (DOKA) senilai Rp8.604.000.000 pada tahun anggaran 2026 dialokasikan untuk pembangunan Jalan Simpang Koridor di Teluk Dalam, Kabupaten Simeulue. Proyek Pembangunan Lanjutan Peningkatan Jalan Simpang Koridor sepanjang 2,06 kilometer ini saat ini masih dalam tahap proses sistem E-Katalog (Purchasing), sebelum dalam waktu dekat memasuki tahap penandatanganan kontrak pelaksanaan pekerjaan.

    Kepala Dinas Pekerjaan Umum Penataan Ruang Kabupaten Simeulue, Samsuar, membenarkan kegiatan proyek yang bersumber dari DOKA tersebut kepada acehtoday.id/, Jumat (17/7/2026).

    “Sedang dalam proses kegiatan yang bersumber dari DOKA tahun anggaran 2026 itu,” tulis Samsuar melalui pesan singkat WhatsApp.

    Ruas Jalan Pintas Penghubung Teluk Dalam dan Simeulue Barat

    Berdasarkan sumber-sumber yang dihimpun acehtoday.id/, ruas jalan yang dibangun dengan anggaran DOKA tersebut merupakan jalur yang menghubungkan Kecamatan Teluk Dalam dan Kecamatan Simeulue Barat.

    Terdapat dua ruas jalan di kawasan tersebut, yakni satu ruas jalan yang telah lama diaspal dan melintasi sejumlah desa berpenghuni di Kecamatan Teluk Dalam, namun membutuhkan waktu tempuh sekitar satu jam perjalanan.

    Sementara itu, ruas jalan yang akan dibangun dengan anggaran DOKA memiliki rute perjalanan yang jauh lebih singkat, hanya membutuhkan sekitar 15 menit. Kondisi ini membuat rute tersebut nyaris tidak pernah sepi selama 24 jam, karena terus digunakan para pelintas sebagai jalur alternatif yang lebih cepat.

    Rute Simpang Koridor yang menerobos hutan dan pegunungan itu sendiri pertama kali dibuka dan dibangun pada masa kepemimpinan Bupati Darmili, meski data serapan anggaran pada periode tersebut tidak ditemukan.

    Pembangunan kemudian berlanjut secara bertahap: pada 2018 pemerintah menggelontorkan anggaran Rp2,7 miliar, dilanjutkan pada 2020 sebesar Rp4,4 miliar, dan terbaru pada 2026 sebesar Rp8,6 miliar.

    Sekda Simeulue Minta Percepatan Realisasi Anggaran

    Sekretaris Daerah (Sekda) Simeulue, Asludin, meminta seluruh pihak Satuan Kerja Perangkat Kabupaten (SKPK) Teknis untuk mempercepat realisasi penyerapan tahap I kegiatan fisik yang bersumber dari DOKA dan Dana Alokasi Umum (DAU), dengan mengacu pada jadwal yang telah ditetapkan sesuai aturan yang berlaku.

    “Seluruh SKPK harus pedomani Surat Edaran Bupati Simeulue, nomor: 900/17/2026, tanggal 3 Juli 2026. Supaya harus mempercepat realisasinya penyerapannya,” kata Asludin.**

  • Keropos Berat Jembatan Kuala Babek Kolok, Ancam Keselamatan Pelintas

    acehtoday.id/ | Simeulue – Fasilitas Jembatan Kuala Babek Kolok, Kecamatan Simeulue Timur, Kabupaten Simeulue, telah rusak dan keropos berat yang mengancam keselamatan pelintas.

    Jembatan Kuala Babek Kolok yang telah usak dan kropos berat itu, merupakan akses satu-satunya yang menghubungkan kepelabuhan kapal feri sehingga rutin dilintasi kenderaan bermuatan berat.

    Diketahui rusak dan kropos berat jembatan yang rutin dilindas kenderaan bermuatan berat, yang turun dari kapal feri maupun kenderan yang hendak naik kapal feri, disampaikan Fendi (58) warga Kota Sinabang, kepada acehtoday.id/. Selasa (14/7/2026).

    "Jembatan itu sangat mengancam keselamatan, karena kalau kita lihat diatas permukaan jembatan memang bagus, tapi bila kita lihat kelantani bawah jembatan itu, sudah rusat dan kropos berat. Apa harus ada tumbal korban jiwa dulu disitu baru dibuat Pemerintah," kata Fendi.

    Fendi juga mengingatkan masyarakat, terutama pengendara bermuatan berat saat melintasi Jembatan Kuala Babek Kolok itu, supaya tidak tertipu dengan mulusnya permukaan jembatan itu, yang telah berulangkali ditambal sulam oleh Pemerintah.

    Terkait rusak dan kropos berat lantai bawah jembatan itu, juga dibenarkan Kepala Bidang (Kabid) Bina Marga Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Kabupaten Simeulue adalah Irawan Fuady, ST, keoada SeutarAceh.id. Selasa (13/7/2026).

    “Iya benar, sekitar 60 kerusakan jembatan Kuala Babek Kolok itu, terutama struktir fisik bagian bawah. Betul jembatan itu merupakan satu-satunya jalur rutin yang dilintasi kenderaan bermuatan berat, terutama kenderaan bermuatan yang baru turun dari kapal feri,” kata Irawan Fuady.

    Fasilitas Jembatan Kuala Babek Kolok, Kecamatan Simeulue Timur, Kabupaten Simeulue, telah rusak dan kropos berat yang mengancam keselamatan pelintas. Foto: acehtoday.id/

    Rencana Perbaikan Jembatan Kuala Babek Kolok

    Dalam kesempatan itu juga Irawan Fuady sepakat dengan kekhawatiran yang disampaikan Fendi, namun pihaknya telah melakukan upaya langkah awal dengan perncanaan Detail Engineering Design (DED) untuk dapat masuk dalam DPA Perubahan 2026.

    Sedangkan kebutuhan anggaran untuk biaya pembangunan baru Jembatan Kuala Babek Kolok, Kecamatan Simeulue Timur, sepanjang 12 meter itu, diperkirakan membutuhkan anggaran sekitar Rp4-5 miliar.

    “Bila terkabul dan tertampung, maka telah teratasi satu permasalahan yang sangat vital untuk menyelamatkan pelintas dijalur pintu masuk wilayah Kabupaten Simeulue,” imbuh Irawan Fuady.

  • Hari Pertama Sekolah, Kacabdin Simeulue Warning Kepsek yang Absen

    acehtoday.id/ | Simeulue – Hari pertama masuk sekolah tahun ajaran baru 2026-2027 tingkat SLTA sederajat langsung diwarnai peringatan tegas dari Kacabdin Aceh Wilayah Kabupaten Simeulue kepada seluruh kepala sekolah di wilayahnya.

    Peringatan tersebut disampaikan Kepala Cabang Dinas Pendidikan (Kacabdin) Aceh Wilayah Kabupaten Simeulue, M. Daud H, S.Ag., M.Pd, saat pertemuan singkat dengan ratusan orang tua murid baru di SMA Negeri 1 Sinabang, Senin (13/7/2026).

    M. Daud menegaskan, apabila ada kepala sekolah tingkat SLTA sederajat yang tidak hadir selama dua hari berturut-turut sejak dimulainya tahun ajaran baru, maka jabatannya akan langsung diganti dengan status Pelaksana Tugas (Plt).

    “Tahun ajaran baru 2026-2027 tingkat SLTA sederajat, resmi dimulai hari ini. Saya peringatkan kepada para sekolah tingkat SLTA sederajat yang ada di Kabupaten Simeulue, bila tidak hadir hari ini dan besok, akan saya Plt-kan jabatan kepala sekolah dan saya tidak main-main,” kata M. Daud.

    Cabdin Simeulue Awasi 36 SLTA Sederajat di 10 Kecamatan

    M. Daud menjelaskan, saat ini Cabang Dinas Pendidikan (Disdik) Aceh Wilayah Kabupaten Simeulue memiliki kewenangan dan tanggung jawab terhadap 36 SLTA sederajat, termasuk di dalamnya 8 SMK, yang tersebar di 10 kecamatan dalam wilayah kepulauan tersebut.

    “Cabdin Aceh Wilayah Kabupaten Simeulue, memiliki kewenangan dan tanggung jawab terhadap 36 SLTA sederajat, termasuk 8 SMK. Orang tua murid merupakan mitra sekolah, maka kita harus saling komunikasi untuk pendidikan dan masa depan generasi bangsa,” imbuh M. Daud.

    Orang Tua Diminta Bijak Penuhi Permintaan Anak

    Selain menegur kepala sekolah, M. Daud turut mengingatkan para orang tua murid agar tidak selalu merestui setiap permintaan anak-anaknya. Menurutnya, kebiasaan tersebut berpotensi menjerumuskan orang tua ke dalam lilitan utang piutang.

    Peringatan ini disampaikan langsung di hadapan ratusan orang tua murid baru yang hadir dalam pertemuan di SMA Negeri 1 Sinabang, sebagai bagian dari upaya membangun komunikasi yang lebih erat antara pihak sekolah dan keluarga siswa sejak awal tahun ajaran.

  • Lima Tahun Berjuang, Warga Simeulue Ini Akhirnya Sukses “Ciptakan” Sapi Unggul Sendiri

    acehtoday.id/ | Simeulue – Selama lima tahun, tak sia-sia upaya Izman Nazara (49), warga Desa Ganting, Kecamatan Simeulue Timur, Kabupaten Simeulue untuk mendapatkan sapi unggul yang bernilai mahal.

    Perdana dan sukses kembangkan sapi unggul yang bernilai mahal itu, dari hasil penantian panjang upaya Izman Nazara bersama tim teknis ahli dari Dinas Perkebunan, Peternakan dan Kesehatan Hewan, Kabupaten Simeulue.

    Hasil program kawin suntik atau Inseminasi Buatan (IB) itu, menghasilkan dua ekor Sapi Berkualitas atau sapi unggul, yakni sapi betina unggul jenis simental, telah berusia 11 bulan, dengan bobot badan encapai 300 kilogram dan sapi jantan unggul jenis limousin yang berusia sehari sejak lahir,  memiliki bobot badan 30 Kilogram.

    Sukses dan perdana dikembangkan Sapi Berkualitas jenis limousin dan sapi unggul simental dari hasil Inseminasi Buatan (IB) Kabupaten Simeulue itu, dijelaskan Izman Nazara, yang ditemui acehtoday.id/, Minggu (12/7/2026.

    "Sejak tahun 2022 lalu, saya berupaya untuk mendapatkan sapi unggulan dari hasil program kawin suntik ini. Alhamdulillah, tidak sia-sia dan kini sapi betina unggul jenis simental berusia 11 bulan dan sapi jantan unggul jenis limousin yang lahir sekitar 20 jam lalu," kata Izman Nazara dengan mata berbinar.

    Masih menurut Izman Nazara, menceritakan upayanya itu sempat beberapa kali gagal, namun tidak membuatnya patah arang, dan mengikuti setiap detail intruksi dari tim teknis ahli Dinas Perkebunan, Peternakan dan Kesehatan Hewan, Kabupaten Simeulue.

    Lima Tahun Berjuang, Warga Simeulue Ini Akhirnya Sukses "Ciptakan" Sapi Unggul Sendiri

    Dia juga mengisahkan pengalamannya perna gagal total, karena sapi indukan yang telah mendapat Inseminasi Buatan (IB) itu, tidak ekstra dijaga, tidak dikandangkan bahkan dilepas liarkan, sehingga sapi yang sedang bunting benih unggul itu mati.

    Diperparah lagi kegagalannya itu mendapat cibiran dari oknum warga, karena dinilai telah menghabiskan uang pribadinya sekitar Rp30 juta, termasuk dirinya membeli sapi betina yang masih satu garis keturunan dengan sapi unggul.

    "Bila ingin mendapat Sapi Berkualitas dari hasil program kawin suntik, wajib harus ekstra 24 jam dijaga, dikandangkan dan harus disediakan pakannya serta ikuti intruksi dari tim teknis termasuk bibit IB sapi unggulnya juga gratis telah disediakan dari Dinas Peternakan," imbuhnya.

    Kini Izman Nazara sedang menunggu kelahiran ketiga Sapi Berkualitas dari hasil program kawin suntik, sedangkan sapi betina Simental masih berusia 11 bulan dibanderol Rp20 juta dan sapi jantan Limousin yang baru berusia sekitar 20 jam itu, juga dibanderol sekitar Rp10 juta.

    "Kita ikuti setiap intruksi tim teknis, pasti tidak gagal. Saat ini juga saya sedang menantikan kelahiran sapi unggul yang ketiga, maka sudah saya siapkan satu hektar khusus pakan dan satu hektar untuk lanjutan lokasi sarana pengembangan sapi unggul," tutup Izman Nazara.

    Perdana Inseminasi Buatan Sukses jadikan Sapi Unggul

    Perdana dan sukses Inseminasi Buatan (IB) Sapi Unggul yang diusahakan oleh warga lokal itu, dibenarkan Kepala Dinas Perkebunan, Peternakan dan Kesehatan Hewan, Kabupaten Simeulue, Syuhelmi.SP.

    "Alhamdulillah, hasil program kawin suntik Sapi Berkualitas perdana telah berhasil dan sukses. Hasilnya telah lahir sapi betina unggul jenis Simental dan sapi jantan unggul jenis Limousin," kata Syuhelmi kepada acehtoday.id/, Minggu (12/7/2026).

    Dengan keberhasilan tersebut, Syuhelmi mengajak masyarakat Kabupaten Simeulue, untuk mengembangkan sapi dengan metode Inseminasi Buatan (IB), pihak Disbunakkeswan setempat telah sediakan secara gratis bibit atau frozen semen sapi unggul.

    "Kita harapkan Masyarakat Kabupaten Simeulue, dapat beralih ke peternakan metode hasil program kawin suntik untuk mendapatkan sapi unggul. Bibit atau frozen semen sapi unggul itu telah tersedia gratis termasuk tenaga tim teknisnya," imbuh Syuhelmi.

    Syuhelmi menyebutkan, sapi unggul yang berhasil perdana dikembangkan oleh Izman Nazara itu, jenis sapinya sama dengan sapi kurban Bantuan Presiden Prabowo Subianto untuk Meugang Puasa dan sapi Kurban Lebaran Haji lalu kepada masyarakat Kabupaten Simeulue

    "Sapi unggul yang dikembangkan Izman Nazara itu, sama jenis sapinya dengan sapi Bantuan Presiden Prabowo Subianto untuk Meugang Puasa dan sapi Kurban Lebaran Haji," tutup Syuhelmi.

    Keberhasilan pengembangan sapi melalui hasil program kawin suntik di Kabupaten Simeulue diharapkan menjadi contoh bagi peternak lain untuk meningkatkan kualitas ternak secara bertahap. Selain menghasilkan sapi dengan bobot dan nilai jual yang lebih tinggi, metode ini juga dinilai mampu mempercepat peningkatan populasi sapi unggul sehingga dapat mendukung ketahanan pangan serta meningkatkan pendapatan peternak di daerah.

  • Api Hanguskan Losmen dan Ruko, di Ibukota Kabupaten Simeulue

    acehtoday.id/ | Simeulue – Bencana kebakaran meludeskan Losmen (Penginapan) dan sejumlah Rumah Toko (Ruko) di Kota Sinabang, ibukota Kabupaten Simeulue.

    Bencana kebakaran itu, terjadi sekitar pukul 01:10 WIB, Selasa (7/7/2026), yang menghanguskan satu unit losmen (penginapan) dan ruko milik warg serta dilaporkanntidak ada korban jiwa maupun luka-luka.

    Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Simeulue mengerahkan sejumlah armada pemadam kebakaran serta fasilitas gound tank yang terpaut sekitar 100 meter dari lokasi kejadian dibantu TNI Polri dan masyarakat.

    Serta dengan memamfaatkan fasilitas Ground Water Tank (GWT), yang terpaut sekitar 100 meter dari lokasi kejadian musibah kebakaran, sehingga api berhasil dipadamkan sekitar pukul 02:29 WIB.

    Api menghanguskan Losmen dan Ruko di Kota Sinabang, Ibukota Kabupaten Simeulue. Selasa (7/7/2026). Ahmadi - SeputarAceh.id
    Api menghanguskan Losmen dan Ruko di Kota Sinabang, Ibukota Kabupaten Simeulue. Selasa (7/7/2026). Ahmadi – acehtoday.id/

    Terkait bencana kebakaran itu itu, dijelaskan Kepala Pelaksana (Kalaksa) BPBD Simeulue, T. Ridwan, SP, yang ditemui SeputarAceh.com, di lokasi bencana Kebakaran, Selasa (7/7/2026).

    “Bencana kebakaran ini terjadi semalam. Api berhasil kita dipadamkan dengan mengerahkan sejumlah unit armada damkar, dibantu TNI Polri dan warga serta juga memamfaatkan fasilitas ground water tank yang terpaut sekitar 100 meter dari lokasi kejadian. Alhamdulillah api pada sekitar pukul 02:29 WIB,” kata, T. Ridwan.

    Lebih lanjut Kalaksa BPBD Simeulue menambahkan, setimasi sementara dampak bencana kebakaran itu, yakni satu unit losmen dan 4 unit ruko hangus, serta korban kebakaran sebanyak 5 Kepala Keluarga (KK).

    Kalaksa BPBD Simeulue, kembali merincikan, dari data sementara korban kebakaran itu, sebanyak 44 jiwa dan sudah termasuk karyawan losmen maupun korban yang sedang menginap pada Losmen Simeulue itu.

    Saat ini BPBD Simeulue masih melakukan pendataan, sehingga belum diketahui total kerugian dari dampak bencana kebakaran dengan lokasi yang padat pemukiman penduduk, serta asal muasal api juga belum diketahui.

    Pihak Pemerintah Kabupaten Simeulue, menerapkan masa tanggap darurat selama 7 hari serta mendirikan tenda darurat, juga termasuk siagakan posko kebakaran serta disediakan makanan kepada korban bencana kebakaran.

    “Pemda Simeulue tetapkan masa tanggap darurat selama 7 hari. Bencana kebakaran itu tidak ada korban jiwa maupun luka-luka. Untuk sementara korban kebakaran memilih menginap di rumah familinya.

  • Belasan Ribu Petani Simeulue, Serentak Turun Humasa Sebbel

    acehtoday.id/ | Simeulue – Sebanyak 19.780 petani aktif di 10 Kecamatan Kabupaten Simeulue serentak turun ke sawah dalam kegiatan bertajuk Humasa Sebbel Khumaha Heba, sebagai upaya mengejar target dua kali tanam dan panen padi dalam setahun guna memenuhi kebutuhan pangan di 138 desa se-kabupaten kepulauan itu.

    “Ada sekitar 19.780 petani aktif, yang serentak turun kesawah atau Humasa Sebbel Khumaha Heba di seluruh Kecamatan dalam Kabupaten Simeulue,” kata Plt Kepala Dinas Pertanian dan Pangan (Distanpan) Kabupaten Simeulue, Kasirman kepada acehtoday.id/, Minggu (5/7/2026).

    Turun serentak mengolah sawah itu, pihaknya targetkan dalam satu tahun sebanyak dua kali menanam padi dan dua kali panen padi, sehingga kebutuhan pangan jenis beras dapat terpenuhi di 10 Kecamatan atau 138 desa dalam wilayah kepulauan.

    Kegiatan serentak turun ke sawah Humasa Sebbel Khumaha Heba itu, dinyatakan sebagai salah satu andalan utama Pemerintah Kabuoaten Simeulue untuk program resmi Ekonomi Biru dari sektor bidang Pertanian.

    Dengan Sumber Daya Manusia SDM) dan Sumber Daya Alam (SDA) Pertanian yang tersebar di 10 Kecamatan dalam wilayah Kabupaten Simeulue itu, juga Kasirman tidak menapi, sejumlah kendala yang menghadang untuk kegiatan Humasa Sebbel Khumaha Heba.

    Kendala yang menghadang untuk pelaksanaan serentak turun keswah itu, yakni faktor cuaca, minim alsintan, serangan hama, masih banyak areal sawah dengan sistem tadah hujan atau tidak tersedia fasilitas irigasi.

    Kemudian kendala lainnya yang tidak bisa dihindari, yakni belum maksimal tersedia alsintan jenis Hand Traktor roda dua, termasuk masih banyak areal sawah yang belum dapat masuk alsintan moderen jenis roda empat.

    Kendala lainnya yang juga dinilai sangat penting, masih kurangnya akses Jalan Usaha Tani, untuk proses distribusi Alsintan yang hendak mengolah persawahan maupun akses distribusi hasil panen padi.

    "Kendala kita masih banyak, seperti yang saya sebutkan tadi. Untuk saat ini luas areal sawah yang LP2B seluas 7.172 hektar, dengan estimasi Produksi, rata-rata mencapai 5,5 ton gabah padi persatu hektar," imbuh Kasirman.

    Plt Kepala Dinas Pertanian dan Pangan (Distanpan) Kabupaten Simeulue yang merincikan jumlah anggota petani aktif yang tersebar di 138 desa dalam 10 Kecamatan, yakni Alafan sebanyak 612 petani aktif.

    Kecamatan Salang sebanyak 1.830 petani aktif. Simeulue Barat sebanyak 2.372 petani aktif. Simeulue Cut sebanyak 982 petani aktif. Simeulue Tengah sebanyak 1.056 petani aktif. Simeulue Timur sebanyak 1.381 petani aktif.

    Kecamatan Teluk Dalam sebanyak 1.029 petani aktif.Teupah Barat sebanyak 1.778 petani aktif. Teupah Selatan sebanyak 1.706 petani aktif, dan terakhir Kecamatan Teupah Tengah sebanyak 1.035 petani aktif.

  • Harga TBS Sawit Anjlok, Petani Simeulue Minta Pemda Turun Tangan

    acehtoday.id/ | Banda Aceh – Pelanggaran terhadap Harga Eceran Tertinggi (HET) Tandan Buah Segar (TBS) kelapa sawit masih terjadi di Kabupaten Simeulue. Padahal pemerintah telah resmi menetapkan HET komoditas ini pada angka Rp3.128 per kilogram, berlaku sejak 1 Juli 2026. Di lapangan, harga yang diterima petani di sejumlah kecamatan justru anjlok hingga 30 persen dari ketetapan tersebut.

    Ketua DPD Asosiasi Petani Kelapa Sawit Indonesia (Apkasindo) Perjuangan Kabupaten Simeulue, Hasdian Yasin, mengungkapkan kondisi ini kepada acehtoday.id/, Jumat (3/7/2026). Menurutnya, pelanggaran HET terjadi hampir merata di seluruh kecamatan penghasil sawit di Simeulue.

    Ia merinci harga TBS sawit di lapangan jauh dari harga resmi. Di Kecamatan Teupah Selatan misalnya, harga hanya Rp1.900 per kilogram. Kecamatan Salang dan Simeulue Cut berada di angka Rp2.000 per kilogram, sementara Simeulue Tengah sedikit lebih tinggi di Rp2.100 per kilogram.

    Kondisi serupa terjadi di Teupah Barat dan Teupah Tengah yang dipatok Rp2.000 per kilogram, sedangkan Simeulue Timur justru menjadi yang terendah dengan harga Rp1.850 per kilogram. Di Kecamatan Teluk Dalam, harga berkisar Rp2.000 hingga Rp2.100 per kilogram. Sementara Simeulue Barat dan Alafan mencatat harga terendah, yakni Rp1.800 hingga Rp1.850 per kilogram.

    Bahkan pemilik TBS yang mengantar langsung hasil kebunnya ke lokasi Pabrik Kelapa Sawit (PKS) milik PT Raja Marga pun hanya dihargai Rp2.205 per kilogram tetap jauh di bawah HET resmi.

    Apkasindo Desak Pemda Turun Tangan

    Menyikapi kesenjangan harga tersebut, Hasdian Yasin mendesak Pemerintah Daerah segera melakukan monitoring agar pemilik kebun tidak terus menanggung kerugian. Ia juga meminta Pemda bersama DPRK memanggil pihak manajemen PKS PT Raja Marga serta para agen pengepul yang dinilai tidak patuh terhadap HET resmi.

    “Pemda dan DPR kita harus memanggil pihak PKS PT Raja Marga dan agen pengepul TBS kelapa sawit karena tidak patuhi HET resmi. Karena saat ini telah menimbulkan keresahan pemilik kebun kelapa sawit, yang menjadi tumbal kerugian,” ujar Hasdian.

    Keluhan Petani di Lapangan

    Keresahan yang sama juga dirasakan langsung oleh petani. Aidil R (55) dan Rasman (56), pemilik kebun sawit asal Kecamatan Salang dan Teupah Barat, mengaku harga jual TBS mereka jauh dari harapan meski pemerintah sudah menetapkan HET.

    "Katanya harga TBS kelapa sawit harus sesuai HET, tapi nyatanya yang kami alami saat ini tidak sesuai fakta, kok murah TBS kelapa sawit ketika kami jual kepada agen pengepul maupun ke PKS PT Raja Marga di Lauke itu. Pemerintah dan DPR jangan diam saja, harus lindungi kami," keluh keduanya saat ditemui acehtoday.id/, Jumat (3/7/2026).

    Kepala Dinas Perkebunan, Peternakan dan Kesehatan Hewan, Kabupaten Simeulue, Syuhelmi, SP (Baju Korpri) memperlihatkan TBS Kelapa Sawit milik warga. Kamis (2/7/2026). Foto: Ahmadi

    Disbunnak Simeulue Konfirmasi Harga Rendah

    Sebelumnya, Kepala Dinas Perkebunan, Peternakan dan Kesehatan Hewan Kabupaten Simeulue, Syuhelmi, SP, juga mengonfirmasi rendahnya harga TBS sawit berdasarkan informasi yang ia terima langsung dari manajemen PKS PT Raja Marga di Lauke, Kecamatan Simeulue Tengah, Kamis (2/7/2026).

    “Masih rendah harga komoditas TBS kelapa sawit milik warga kita. Informasi hari ini yang kita terima dari pihak Pabrik Kelapa Sawit, harganya pada angka Rp2.500 persatu kilogram dibandingkan dengan harga yang ditetapkan secara resmi oleh Pemerintah, dengan harga Rp3.128 persatu kilogram,” kata Syuhelmi.

    Hingga berita ini diturunkan, belum ada tindak lanjut resmi dari Pemerintah Kabupaten Simeulue maupun pihak PKS PT Raja Marga terkait tuntutan Apkasindo dan keluhan para petani.**

  • Petani Kecewa, Harga TBS Kelapa Sawit di Simeulue Tak Sesuai HET

    acehtoday.id/ | Simeulue — Harga Tandan Buah Segar (TBS) kelapa sawit milik warga di Kabupaten Simeulue masih tertahan jauh di bawah harga resmi yang ditetapkan pemerintah. Di lapangan, TBS kelapa sawit petani lokal hanya dihargai Rp2.500 per kilogram, padahal Pemerintah telah menetapkan harga acuan sebesar Rp3.128 per kilogram selisih yang dinilai memberatkan ribuan pemilik kebun sawit di daerah itu.

    Harga Rp2.500 per kilogram tersebut berlaku khusus bagi TBS yang diantar langsung ke lokasi Pabrik Kelapa Sawit milik PT Raja Marga di Desa Lauke, Kecamatan Simeulue Tengah. Kondisi ini dibenarkan Kepala Dinas Perkebunan, Peternakan dan Kesehatan Hewan Kabupaten Simeulue, Syuhelmi, saat dikonfirmasi acehtoday.id/, Kamis (2/7/2026).

    “Masih rendah harga komoditas TBS kelapa sawit milik warga kita. Informasi hari ini yang kita terima dari pihak pabrik kelapa sawit, harganya pada angka Rp2.500 per satu kilogram dibandingkan dengan harga yang ditetapkan secara resmi oleh pemerintah, dengan harga Rp3.128 per satu kilogram,” ujar Syuhelmi.

    Ribuan Hektar Kebun, Produktivitas Masih Rendah

    Menurut data yang dipaparkan Syuhelmi, luas areal kebun kelapa sawit yang dikelola langsung oleh ribuan warga lokal mencapai 8.482 hektare, tersebar di 10 kecamatan se-Kabupaten Simeulue. Dari total luasan itu, sebanyak 3.457 hektare masih berupa tanaman yang belum menghasilkan, 3.702 hektare sudah produktif menghasilkan TBS, sementara 1.263 hektare lainnya sudah rusak dan tidak lagi berproduksi.

    Dari 3.702 hektare kebun yang produktif, hasil panen dalam setahun hanya mencapai 3.453 ton TBS, atau setara 918 kilogram per hektare. Angka ini, menurut Syuhelmi, tergolong sangat rendah jika dibandingkan dengan produktivitas kebun sawit di luar Pulau Simeulue.

    Ia menduga rendahnya produksi ini dipengaruhi oleh penggunaan bibit yang bukan varietas unggul, sistem pemupukan yang belum memadai, serta lemahnya pengendalian hama dan penyakit tanaman. Persoalan ini pun diperparah oleh kendala transportasi laut untuk pengiriman TBS ke luar daerah, yang turut memengaruhi kualitas hasil panen.

    “Prospek komoditas ini telah dirasakan oleh warga kita selaku pemilik kelapa sawit, meskipun masih banyak dihadang permasalahan maupun kendala. Kita sarankan pihak penampung supaya tidak memanfaatkan kendala, sehingga harga TBS itu tidak menimbulkan keresahan dan kekecewaan pemilik kebun kelapa sawit,” tambah Syuhelmi.

    BERITA ACARA HARGA TBS MINGGU KE-1 JULI 2026

    Petani Minta Pengawasan Diperketat

    Persoalan harga TBS yang timpang ini juga dibenarkan Ketua DPD Asosiasi Petani Kelapa Sawit Indonesia (APKASINDO) Perjuangan Kabupaten Simeulue, Hasdian Yasin. Kepada acehtoday.id/, Kamis (2/7/2026), ia menyebut kondisi tersebut memang tengah terjadi dan tidak sejalan dengan ketetapan harga resmi pemerintah.

    Hasdian bahkan mengungkap, harga di tingkat pengepul atau agen yang turun langsung ke lokasi kebun warga justru lebih rendah lagi dibandingkan harga Rp2.500 per kilogram yang berlaku di pabrik. Ia menduga ada perhitungan tidak transparan dalam praktik jual-beli di lapangan.

    “Harga TBS kelapa sawit yang berlaku saat ini di daerah kita, itu berbeda dengan yang terjadi di lapangan, lebih murah lagi saat dibeli oleh pengepul atau agen, ada dugaan hitungan siluman lainnya. Kita berharap persoalan harga TBS kelapa sawit di daerah kita lebih manusiawi,” kata Hasdian.

    Ia pun mendesak Pemerintah Kabupaten Simeulue segera mengaktifkan tim monitoring dan pengawasan harga, guna meredam persoalan yang selama ini dihadapi ribuan pemilik kebun kelapa sawit yang tersebar di 10 kecamatan.**

  • Belasan Proyek di Simeulue Berpotensi Gagal Tayang Tender

    acehtoday.id/ | Simeulue – Belasan paket proyek di Simeulue senilai Rp9,5 miliar, anggaran tahun 2026 berpotensi batal dilaksanakan tepat waktu untuk tayang tender.

    Berpotensi batal tayang tender sebanyak 12 paket proyek yang bersumber dari anggaran Otonomi Khusus (Otsus) Aceh. Anggaran Dana Otonomi Khusus Aceh (Doka), anggaran Dana Alokasi Khusus (DAK) dan anggaran dari Migas.

    Terkait berpotensi batal dilaksanakan tayang tender 12 paket proyek senilai Rp9.515.847.729 itu, dijelaskan Asisten III Bidang Perekonomian dan Pembangunan, Pemerintah Kabupaten Simeulue, Dedi Erisma, yang dihubungi acehtoday.id/, Selasa (30/6/2026.

    "Persoalan itu, bersama pak Sekda sudah kami panggil bidang tekhnisnya dari UKPBJ. Maka secara rinci yang lebih paham Kabag UKPBJ, silakan konfimasi langsung ke UKPBJ," kata Dedi Erisma.

    Potensi batal pelaksanaan tayang tender proyek itu, dibenarkan Kepala Bagian (Kabag) Unit Kerja Pengadaan Barang dan Jasa (UKPBJ) Kabupaten Simeulue, Tamsil Amin yang dihubungi terpisah acehtoday.id/, Selasa (30/6/2026).

    "Benar, berpotensi batal penayangan tender 12 paket proyek dengan total senilai Rp9.515.847.729. Karena UKPBJ Kabupaten Simeulue tidak tersedianya SDM personel Jabatan Fungsional (JF) PBJ," kata Tamsil Amin.

    Lebih lanjut Tamsil Akin menambahkan, seharusnya sudah masuk tahap tayang tender, karena awalnya sesuai dengan kesepakatan bersama dan kesiapan dokumen, bahwa pada tanggal 10 Juni 2026 sudah tayang tender proyek.

    Masih dalam komitmen bersama itu, Tamsil Amin kembali menyebutkan, dengan batas akhir tayang tender proyek yang bersamaan dengan penandatangan kontrak kerja pada tanggal 21 Juli 2026.

    Dalam kesempatan itu Tamsil Amin menambahkan, setelah dilakukan verifikasi terhadap ketersediaan SDM, jumlah personil Kelompok Kerja (Pokja) Pemilihan yang bersertifikat kompetensi aktif di UKPBJ saat ini dalam kondisi sangat terbatas.

    Selain kekosongan JF PBJ personil Pokja akibat mutasi jabatan dan Pengunduran diri selaku pokja pemilihan juga belum memilik sertifikat kompetensi sehingga tidak memiliki kuota minimal keanggotaan Pokja yang sah menurut regulasi.

    Berdasarkan kondisi objektif tersebut, maka Bagian UKPBJ Pemerintah Kabupaten Simeulue, tidak dapat memproses atau menolak sementara, setiap usulan paket tender dan mengembalikan berkasnya kepada masing – masing PPK-SKPK.

    Menolak sementara pelaksanaan metode sistem tender, hingga adanya solusi pemenuhan kuota minimal tersedia satu orang personel berstatus Jabatan Fungsional (JF) PPBJ selaku personel Pokja Pemilihan yang sah secara hukum.

    “Mengingat waktu yang sangat terbatas, PPK dari masing-masing SKPK dapat mengubah metode pengadaan dari sistem Tender ke sistem E-Purchasing atau metode E-Katalog, Negosiasi Harga dan Mini-Kompetisi,” tutup Tamsil Amin.

    Data yang diterima SeputaranAceh.id dari pihak UKPBJ Kabupaten Simeulue, sebanyak 12 paket proyek yang berpotensi gagal tender itu yakni, satu paket proyek dari Dinas Pertanian dan Tanaman Pangan.

    Selanjutnya Tiga paket proyek dari Dinas Syariat Islam dan Pendidikan Dayah. Dua paket proyek dari Dinas Kesehatan. Dua paket proyek dari Dinas Pendidikan dan terakhir 4 paket proyek daru Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Simeulue.