Petani Kecewa, Harga TBS Kelapa Sawit di Simeulue Tak Sesuai HET

Written by

in

,

acehtoday.id/ | Simeulue — Harga Tandan Buah Segar (TBS) kelapa sawit milik warga di Kabupaten Simeulue masih tertahan jauh di bawah harga resmi yang ditetapkan pemerintah. Di lapangan, TBS kelapa sawit petani lokal hanya dihargai Rp2.500 per kilogram, padahal Pemerintah telah menetapkan harga acuan sebesar Rp3.128 per kilogram selisih yang dinilai memberatkan ribuan pemilik kebun sawit di daerah itu.

Harga Rp2.500 per kilogram tersebut berlaku khusus bagi TBS yang diantar langsung ke lokasi Pabrik Kelapa Sawit milik PT Raja Marga di Desa Lauke, Kecamatan Simeulue Tengah. Kondisi ini dibenarkan Kepala Dinas Perkebunan, Peternakan dan Kesehatan Hewan Kabupaten Simeulue, Syuhelmi, saat dikonfirmasi acehtoday.id/, Kamis (2/7/2026).

“Masih rendah harga komoditas TBS kelapa sawit milik warga kita. Informasi hari ini yang kita terima dari pihak pabrik kelapa sawit, harganya pada angka Rp2.500 per satu kilogram dibandingkan dengan harga yang ditetapkan secara resmi oleh pemerintah, dengan harga Rp3.128 per satu kilogram,” ujar Syuhelmi.

Ribuan Hektar Kebun, Produktivitas Masih Rendah

Menurut data yang dipaparkan Syuhelmi, luas areal kebun kelapa sawit yang dikelola langsung oleh ribuan warga lokal mencapai 8.482 hektare, tersebar di 10 kecamatan se-Kabupaten Simeulue. Dari total luasan itu, sebanyak 3.457 hektare masih berupa tanaman yang belum menghasilkan, 3.702 hektare sudah produktif menghasilkan TBS, sementara 1.263 hektare lainnya sudah rusak dan tidak lagi berproduksi.

Dari 3.702 hektare kebun yang produktif, hasil panen dalam setahun hanya mencapai 3.453 ton TBS, atau setara 918 kilogram per hektare. Angka ini, menurut Syuhelmi, tergolong sangat rendah jika dibandingkan dengan produktivitas kebun sawit di luar Pulau Simeulue.

Ia menduga rendahnya produksi ini dipengaruhi oleh penggunaan bibit yang bukan varietas unggul, sistem pemupukan yang belum memadai, serta lemahnya pengendalian hama dan penyakit tanaman. Persoalan ini pun diperparah oleh kendala transportasi laut untuk pengiriman TBS ke luar daerah, yang turut memengaruhi kualitas hasil panen.

“Prospek komoditas ini telah dirasakan oleh warga kita selaku pemilik kelapa sawit, meskipun masih banyak dihadang permasalahan maupun kendala. Kita sarankan pihak penampung supaya tidak memanfaatkan kendala, sehingga harga TBS itu tidak menimbulkan keresahan dan kekecewaan pemilik kebun kelapa sawit,” tambah Syuhelmi.

BERITA ACARA HARGA TBS MINGGU KE-1 JULI 2026

Petani Minta Pengawasan Diperketat

Persoalan harga TBS yang timpang ini juga dibenarkan Ketua DPD Asosiasi Petani Kelapa Sawit Indonesia (APKASINDO) Perjuangan Kabupaten Simeulue, Hasdian Yasin. Kepada acehtoday.id/, Kamis (2/7/2026), ia menyebut kondisi tersebut memang tengah terjadi dan tidak sejalan dengan ketetapan harga resmi pemerintah.

Hasdian bahkan mengungkap, harga di tingkat pengepul atau agen yang turun langsung ke lokasi kebun warga justru lebih rendah lagi dibandingkan harga Rp2.500 per kilogram yang berlaku di pabrik. Ia menduga ada perhitungan tidak transparan dalam praktik jual-beli di lapangan.

“Harga TBS kelapa sawit yang berlaku saat ini di daerah kita, itu berbeda dengan yang terjadi di lapangan, lebih murah lagi saat dibeli oleh pengepul atau agen, ada dugaan hitungan siluman lainnya. Kita berharap persoalan harga TBS kelapa sawit di daerah kita lebih manusiawi,” kata Hasdian.

Ia pun mendesak Pemerintah Kabupaten Simeulue segera mengaktifkan tim monitoring dan pengawasan harga, guna meredam persoalan yang selama ini dihadapi ribuan pemilik kebun kelapa sawit yang tersebar di 10 kecamatan.**

Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *