Penulis: rakyatnews

  • Ramai Pedagang Pendatang di Banda Aceh, Satpol PP-WH Tegaskan Aturan Sama

    Ramai Pedagang Pendatang di Banda Aceh, Satpol PP-WH Tegaskan Aturan Sama

    Satpol PP dan Wilayatul Hisbah (WH) Banda Aceh menegaskan penertiban pedagang kaki lima (PKL) di wilayah Kota Banda Aceh dilakukan tanpa membedakan asal daerah para pedagang.

    Pihaknya menyebut sebagian pedagang yang terjaring pembinaan berasal dari Kota Banda Aceh maupun Kabupaten Aceh Besar. Kondisi tersebut dinilai wajar mengingat Banda Aceh merupakan pusat aktivitas ekonomi yang banyak didatangi masyarakat dari berbagai daerah.

    Sekretaris Satpol PP-WH Banda Aceh, Evendi, mengatakan identitas pedagang yang menjalani pembinaan menunjukkan adanya warga dari berbagai daerah yang berjualan di ibu kota provinsi tersebut.

    “Kalau kita lihat ketika pembinaan di kantor terhadap pelanggaran qanun PKL Banda Aceh, ada yang KTP Banda Aceh dan juga Aceh Besar, karena Banda Aceh ini banyak pendatang,” ujar Evendi, Selasa (2/6/2026).

    Menurutnya, Satpol PP-WH tidak menjadikan asal daerah sebagai dasar dalam melakukan penertiban. Fokus utama petugas adalah memastikan seluruh pedagang yang berusaha di wilayah Kota Banda Aceh mematuhi aturan dan qanun yang berlaku.

    “Tetap fokus kita bukan daerah asal mereka, tapi yang membuka usaha di Kota Banda Aceh, intinya siapapun kita perlakukan sama untuk setiap PKL yang ada di sekitaran Banda Aceh dan Aceh Besar,” ujarnya.

    Evendi menjelaskan, penataan PKL dilakukan untuk menjaga ketertiban umum, kenyamanan masyarakat, serta memastikan aktivitas usaha berjalan sesuai dengan aturan zonasi yang telah ditetapkan pemerintah kota.

    Ia menambahkan, Satpol PP-WH Banda Aceh terus mengedepankan pendekatan persuasif melalui sosialisasi dan pembinaan kepada para pedagang sebelum mengambil tindakan lebih lanjut terhadap pelanggaran yang ditemukan di lapangan.

  • Pendaki Asal Aceh Utara Hilang di Gunung Seulawah

    Pendaki Asal Aceh Utara Hilang di Gunung Seulawah

    Seorang pendaki asal Kabupaten Aceh Utara dilaporkan hilang di kawasan Gunung Seulawah, Kecamatan Lembah Seulawah, Kabupaten Aceh Besar, sejak Minggu (31/5/2026).

    Hingga hari ini, Selasa (2/6/2026), korban bernama Faiz Hidayat (23) belum ditemukan setelah terpisah dari rombongannya saat berada di puncak gunung tersebut.

    Kepala Kantor Pencarian dan Pertolongan (Basarnas) Banda Aceh, Al Hussain, mengatakan pihaknya telah mengerahkan tim penyelamat setelah menerima laporan dari Polsek Lembah Seulawah pada pukul 06.30 WIB.

    Korban merupakan warga Desa Paloh Gadeng, Kecamatan Dewantara, Aceh Utara, mendaki Gunung Seulawah bersama sejumlah rekannya pada Minggu (31/5/2026) sekitar pukul 09.00 WIB. Rombongan tiba di puncak sekitar pukul 12.30 WIB.

    Namun saat bersiap turun dari puncak, rekan-rekan korban menyadari Faiz tidak lagi berada di lokasi. Korban terakhir kali terlihat di area puncak Gunung Seulawah.

    “Upaya pencarian mandiri sempat dilakukan oleh rekan-rekannya di sekitar lokasi terakhir korban terlihat, tetapi hasilnya nihil,” katanya.

    Karena korban tak kunjung ditemukan hingga keesokan harinya, laporan kemudian disampaikan kepada aparat dan diteruskan ke Basarnas Banda Aceh untuk dilakukan operasi pencarian dan pertolongan.

    Dalam operasi SAR ini, Basarnas mengerahkan sejumlah peralatan pendukung, termasuk satu unit rescue truck, drone thermal, perangkat GPS, alat komunikasi, perlengkapan pencarian hutan dan gunung, serta satu ekor anjing pelacak K-9.

    Pencarian melibatkan sejumlah unsur gabungan, yakni Basarnas Banda Aceh, Polsek Lembah Seulawah, Koramil Lembah Seulawah, BKSDA Gunung Seulawah, serta masyarakat setempat.

    “Hingga saat ini, tim SAR masih melakukan penyisiran di kawasan gunung untuk menemukan keberadaan korban,” ujar Al Hussain.

  • Korban Terseret Ombak di Tebing Laut Pulo Aceh Ditemukan Setelah Empat Hari

    Korban Terseret Ombak di Tebing Laut Pulo Aceh Ditemukan Setelah Empat Hari

    Tim SAR gabungan akhirnya menemukan Ahmat Talha Reza (21), warga Gampong Alue Riyeung, Kecamatan Pulo Aceh, yang hilang setelah terseret ombak saat memancing di tebing laut kawasan Alue Riyeung Pulo Nasi. Korban ditemukan dalam kondisi meninggal dunia pada hari keempat pencarian, Selasa (2/6/2026).

    Kepala Pelaksana (Kalaksa) BPBD Aceh Besar, Ridwan Jamil, mengatakan korban ditemukan oleh seorang nelayan yang hendak melaut dari Dermaga Dedap sekitar pukul 08.00 WIB. Saat itu, nelayan melihat benda mengapung di laut dan mendekatinya untuk memastikan.

    “Setelah diperiksa, benda yang mengapung tersebut ternyata jasad manusia. Nelayan kemudian menghubungi masyarakat dan tim di lapangan untuk memastikan identitas korban,” kata Ridwan Jamil.

    Setelah dilakukan pengecekan oleh keluarga dan aparat setempat, jasad tersebut dipastikan merupakan Ahmat Talha Reza, pemuda yang dilaporkan hilang sejak Sabtu (30/5/2026) akibat terseret ombak saat memancing bersama teman-temannya.

    Ridwan menjelaskan, selama empat hari terakhir tim SAR gabungan bersama nelayan, masyarakat, dan keluarga korban terus melakukan pencarian dengan memperluas area penyisiran di perairan sekitar lokasi kejadian. Upaya tersebut akhirnya membuahkan hasil setelah korban ditemukan sekitar beberapa kilometer dari titik awal kejadian.

    Sebelumnya, korban bersama empat rekannya memancing di tebing laut Alue Riyeung pada Sabtu sore. Saat mata pancing tersangkut, korban berinisiatif turun ke laut untuk melepaskannya. Namun, tiba-tiba ombak besar datang menghantam kawasan tersebut.

    Korban sempat berusaha menyelamatkan diri dengan berlari ke tepi, tetapi terpeleset dan jatuh ke laut. Rekan-rekannya berupaya memberikan pertolongan dengan melempar tali pancing ke arah korban. Namun derasnya arus dan kondisi korban yang sudah kelelahan membuat upaya penyelamatan tidak berhasil.

    “Korban telah dievakuasi dan diserahkan kepada pihak keluarga untuk dimakamkan. Dengan ditemukannya korban, operasi pencarian resmi dihentikan,” ujar Ridwan.

    Ia juga mengimbau masyarakat, khususnya nelayan dan warga yang beraktivitas di kawasan pesisir dan tebing laut, agar meningkatkan kewaspadaan terhadap perubahan kondisi cuaca dan gelombang laut yang dapat membahayakan keselamatan, terutama saat beraktivitas di area rawan ombak besar.

  • Remaja yang Hanyut di Pantai Lhoknga Ditemukan Meninggal

    Remaja yang Hanyut di Pantai Lhoknga Ditemukan Meninggal

    Operasi pencarian terhadap Razi Fahreza (13), remaja asal Desa Dayah Caleu, Sigli, yang terseret arus di Pantai Pulau Kapuk, Kecamatan Lhoknga, Kabupaten Aceh Besar, berakhir duka. Korban ditemukan dalam kondisi meninggal dunia pada hari ketiga pencarian, Selasa (2/6/2026).

    Kepala Basarnas Banda Aceh, Al Hussain, mengatakan korban ditemukan oleh tim SAR gabungan sekitar pukul 10.25 WIB setelah tiga hari dilakukan pencarian di perairan dan pesisir sekitar lokasi kejadian.

    “Korban ditemukan terdampar di pantai sekitar 500 meter dari lokasi terakhir dilaporkan terseret arus,” kata Al Hussain.

    Sebelumnya, korban diketahui sedang berwisata bersama keluarganya di Pantai Pulau Kapuk pada Minggu (31/5/2026). Sekitar pukul 15.55 WIB, korban mandi di kawasan pantai tersebut sebelum akhirnya terseret arus laut dan hilang.

    Laporan kejadian diterima Kantor Pencarian dan Pertolongan Kelas A Banda Aceh sekitar pukul 16.30 WIB dari pengunjung yang berada di lokasi wisata. Tim SAR kemudian dikerahkan untuk melakukan pencarian sejak hari pertama kejadian.

    Pada hari ketiga operasi, tim SAR gabungan membagi pencarian menjadi dua sektor. Tim pertama melakukan penyisiran laut menggunakan satu unit perahu karet (LCR) di sekitar lokasi kejadian hingga radius tiga kilometer ke arah utara. Sementara tim kedua melakukan penyisiran darat sepanjang garis pantai ke arah tenggara dan barat laut.

    Upaya tersebut akhirnya membuahkan hasil setelah jasad korban ditemukan terdampar di pesisir pantai. Selanjutnya korban dievakuasi untuk diserahkan kepada pihak keluarga.

  • Air Kelapa Solusi Alami Hadapi Cuaca Panas

    Air Kelapa Solusi Alami Hadapi Cuaca Panas

    Suhu udara yang terasa lebih panas dalam beberapa pekan terakhir membuat masyarakat di sejumlah wilayah Aceh harus beradaptasi dengan kondisi cuaca yang menyengat. Aktivitas di luar ruangan menjadi lebih menguras tenaga, sementara tubuh lebih cepat kehilangan cairan akibat meningkatnya produksi keringat.

    Dalam situasi seperti ini, menjaga tubuh tetap terhidrasi menjadi hal yang tidak bisa diabaikan. Selain memperbanyak konsumsi air putih, banyak masyarakat memilih air kelapa sebagai minuman penyegar alami untuk membantu menggantikan cairan tubuh yang hilang.

    Air kelapa dikenal sebagai salah satu minuman alami yang kaya kandungan air. Dikutip dari Medical News Today, sekitar 95 persen kandungan air kelapa terdiri dari air, sehingga efektif membantu menjaga keseimbangan cairan tubuh, terutama saat cuaca panas atau setelah melakukan aktivitas fisik.

    Tak hanya menyegarkan, air kelapa juga memiliki kandungan kalori, gula, dan karbohidrat yang relatif lebih rendah dibandingkan berbagai minuman kemasan manis yang banyak beredar di pasaran.

    “Academy of Nutrition and Dietetics menekankan air kelapa merupakan pengganti yang baik untuk minuman seperti soda dan jus yang umumnya tinggi kalori, gula, dan karbohidrat,” tulis Medical News Today yang dikutip, Selasa (2/6/2026).

    Manfaat lain air kelapa terletak pada kandungan elektrolit alaminya. Menurut Mayo Clinic, air kelapa mengandung sejumlah mineral penting seperti potasium, sodium, dan mangan yang berperan membantu proses rehidrasi tubuh setelah kehilangan banyak cairan.

    Kandungan elektrolit tersebut membantu menjaga keseimbangan cairan, mendukung fungsi otot, serta membantu tubuh pulih lebih cepat setelah terpapar panas dalam waktu lama.

    Meski demikian, air kelapa bukan solusi untuk semua kondisi dehidrasi. Ahli Spesialis Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI), Prof. Ari Fahrial Syam, mengingatkan bahwa kebutuhan cairan setiap orang berbeda-beda, tergantung kondisi kesehatan dan tingkat kehilangan cairan yang dialami.

    Menurutnya, pada kasus dehidrasi berat akibat muntah atau diare, oralit tetap menjadi pilihan utama karena mengandung kombinasi gula dan garam yang dirancang khusus untuk menggantikan cairan dan elektrolit yang hilang.

    “Oralit mengandung komposisi gula dan garam yang memang ditujukan untuk mengatasi dehidrasi akibat muntah dan diare,” ujar Prof Ari dalam sebuah wawancara yang dikutip dari Okezone Health.

    Selain membantu menjaga hidrasi, sejumlah penelitian juga menunjukkan bahwa air kelapa memiliki sifat antimikroba. Sementara itu, Cleveland Clinic menyebut air kelapa tidak mengandung lemak maupun kolesterol, sehingga dapat menjadi bagian dari pola makan sehat yang mendukung kesehatan jantung.

    Di tengah cuaca panas yang masih dirasakan masyarakat Aceh, para ahli menyarankan agar kebutuhan cairan harian tetap terpenuhi dengan memperbanyak konsumsi air putih, buah-buahan yang kaya kandungan air, serta minuman elektrolit alami seperti air kelapa. Langkah sederhana ini dapat membantu tubuh tetap bugar, terhindar dari dehidrasi, dan lebih siap menjalani aktivitas sehari-hari.

  • Rumah Warga Terbakar di Aceh Tenggara, Sepeda Motor Ikut Hangus

    Rumah Warga Terbakar di Aceh Tenggara, Sepeda Motor Ikut Hangus

    Kebakaran yang terjadi di Desa Lawe Loning I, Kecamatan Lawe Sigala-gala, Kabupaten Aceh Tenggara, menghanguskan satu unit rumah dan satu sepeda motor, Senin (1/6/2026).

    Staf Pusdatin Badan Penanggulangan Bencana Aceh (BPBA), Haslinda, mengatakan kebakaran dilaporkan terjadi sekitar pukul 01.30 WIB. Hingga saat ini, penyebab kebakaran masih dalam penyelidikan pihak berwenang.

    “Berdasarkan laporan dari BPBD Aceh Tenggara, satu unit rumah mengalami rusak berat, satu unit rumah lainnya rusak ringan, serta satu unit sepeda motor hangus terbakar,” kata Haslinda dalam laporan kebencanaan BPBA.

    Korban terdampak dalam kejadian tersebut masing-masing Mertiana Br Nainggolan (64), pemilik rumah yang mengalami rusak berat, dan Santo Suaban (40), yang rumahnya mengalami rusak ringan. Meski kerugian material cukup besar, tidak ada korban jiwa maupun pengungsi dalam peristiwa itu.

    Untuk mengendalikan api, BPBD Aceh Tenggara mengerahkan enam unit armada pemadam kebakaran ke lokasi kejadian. Petugas juga melakukan kaji cepat guna mendata dampak dan kebutuhan warga terdampak.

    Haslinda menjelaskan, upaya pemadaman berlangsung sekitar satu jam hingga api berhasil dipadamkan pada pukul 02.30 WIB. Setelah api berhasil dikendalikan, petugas melakukan pendinginan untuk mencegah munculnya titik api baru.

    BPBA terus memantau perkembangan pascakebakaran melalui koordinasi dengan BPBD Aceh Tenggara. Sementara itu, aparat terkait masih menyelidiki sumber api yang menyebabkan kebakaran tersebut.

  • Hari Ketiga Pencarian, Pemuda Pulau Nasi yang Terseret Arus Saat Memancing Belum Ditemukan

    Hari Ketiga Pencarian, Pemuda Pulau Nasi yang Terseret Arus Saat Memancing Belum Ditemukan

    Tim SAR gabungan masih belum menemukan Ahmad Thalha Reza (21), warga Pulau Nasi, Kecamatan Pulo Aceh, Kabupaten Aceh Besar, yang dilaporkan hilang setelah terseret arus saat memancing di perairan Pulau Nasi.

    Memasuki hari ketiga pencarian, upaya penyisiran diperluas hingga 10 mil laut, namun hasilnya masih nihil, Senin (1/6/2026).

    Korban dilaporkan hilang sejak Sabtu (30/5/2026) sekitar pukul 18.30 WIB. Saat itu, Ahmad bersama tiga rekannya sedang memancing di kawasan tebing perairan Pulau Nasi. Ketika berusaha menaikkan hasil tangkapan ke atas tebing, korban diduga terpeleset dan jatuh ke laut sebelum akhirnya terseret arus.

    Pada hari pertama pencarian, tim SAR melakukan penyisiran di sekitar titik korban terakhir terlihat hingga radius dua mil laut ke arah barat. “Namun pencarian yang berlangsung hingga dini hari tersebut belum membuahkan hasil,” ujar Kepala Basarnas Banda Aceh, Al Hussain.

    Memasuki hari kedua, tim SAR gabungan meningkatkan intensitas pencarian dengan membagi personel ke dalam dua Search and Rescue Unit (SRU). Penyisiran dilakukan menggunakan RIB Basarnas dan boat nelayan di sektor timur, barat, hingga timur laut lokasi kejadian. Meski area pencarian diperluas hingga lima mil laut, korban belum berhasil ditemukan.

    “Hari ini pencarian hari ketiga. Tim SAR menyisir perairan hingga 10 mil laut dari lokasi kejadian namun hingga operasi dihentikan sementara pada pukul 18.00 WIB, Ahmad Thalha Reza masih belum ditemukan,” jelasnya.

    Al Hussain menyatakan operasi pencarian akan kembali dilanjutkan pada Selasa (2/6/2026) dengan memperluas area penyisiran. Tim SAR gabungan yang terdiri dari Basarnas, Satgas SAR Kota Banda Aceh, RAPI, nelayan, dan masyarakat setempat terus berupaya menemukan korban.

  • Pulau Rubiah, Jejak Karantina Haji Pertama di Nusantara

    Pulau Rubiah, Jejak Karantina Haji Pertama di Nusantara

    Sabang selama ini dikenal sebagai surga wisata bahari dengan laut biru, terumbu karang, dan keindahan bawah laut Pulau Weh. Namun, di balik pesona alam tersebut, tersimpan cerita sejarah yang tidak kalah menarik untuk dijelajahi.

    Salah satu jejak masa lalu itu berada di Pulau Rubiah. Di balik rimbunnya pepohonan dan ketenangan pulau kecil tersebut, berdiri sisa-sisa bangunan Karantina Haji yang menjadi saksi perjalanan panjang sejarah ibadah haji masyarakat Indonesia pada masa lampau.

    Meski sebagian besar bangunannya telah mengalami kerusakan akibat peristiwa sejarah, termasuk dampak peperangan pada masa Perang Dunia II, beberapa bagian struktur masih bertahan hingga kini. Tiang-tiang kokoh yang berdiri di antara vegetasi pulau menjadi pengingat bahwa kawasan ini pernah memiliki peran penting dalam perjalanan jamaah haji Nusantara.

    Pada masanya, Pulau Rubiah menjadi salah satu lokasi persinggahan dan karantina bagi calon jamaah haji sebelum melanjutkan perjalanan menuju Tanah Suci. Keberadaan fasilitas ini mencerminkan posisi strategis Sabang sebagai jalur pelayaran internasional sekaligus salah satu pintu penting perjalanan manusia dari Nusantara.

    Untuk mencapai situs bersejarah ini, wisatawan dapat memulai perjalanan dari pusat Kota Sabang menuju kawasan Pantai Iboih dengan waktu tempuh sekitar 30 menit. Dari Iboih, perjalanan dilanjutkan menggunakan perahu motor menuju Pulau Rubiah.

    Setelah tiba di dermaga Pulau Rubiah, pengunjung hanya perlu berjalan kaki sekitar tujuh menit melewati jalur pulau sebelum menemukan kawasan situs Karantina Haji. Perjalanan menuju lokasi menjadi bagian dari pengalaman tersendiri karena wisatawan akan melewati suasana alami Pulau Rubiah yang masih asri.

    Waktu terbaik untuk berkunjung adalah pagi hingga siang hari. Selain pencahayaan yang lebih baik untuk menikmati bangunan bersejarah, suasana pulau juga lebih nyaman untuk dijelajahi. Pengunjung tetap perlu memperhatikan kondisi jalur karena beberapa area masih berada di tengah vegetasi alami.

    Sesampainya di lokasi, pengunjung akan menemukan karakter arsitektur kolonial Belanda yang menunjukkan kemajuan konstruksi pada masanya. Bangunan ini memiliki ciri khas berupa langit-langit tinggi, pintu dan jendela berukuran besar, serta sistem ventilasi alami yang dirancang menyesuaikan kondisi iklim tropis.

    Berjalan di antara sisa bangunan tersebut seperti membuka kembali halaman sejarah. Beberapa bangunan administrasi masih tampak berdiri, sementara area barak atau asrama jamaah kini lebih banyak menyisakan fondasi dan deretan tiang yang menjadi penanda keberadaan bangunan masa lalu.

    Bagi wisatawan, mengunjungi Karantina Haji Pulau Rubiah menawarkan pengalaman yang berbeda. Perjalanan ke tempat ini bukan hanya tentang melihat peninggalan fisik, tetapi juga memahami kisah perjuangan, perjalanan, dan perubahan zaman yang pernah terjadi di kawasan tersebut.

    Duta Wisata Kota Sabang, Cut Adek Humaira, menyebut situs Karantina Haji Pulau Rubiah sebagai bagian penting dari kekayaan wisata sejarah Sabang.

    “Wisata ke situs Karantina Haji Pulau Rubiah ini adalah cara terbaik untuk mengenal kembali sejarah dan merasakan bagaimana perjuangan proses keberangkatan haji masyarakat Indonesia pada zaman dahulu. Perlu diingat, fasilitas karantina haji bersejarah seperti ini hanya ada dua di Indonesia, yaitu di Kepulauan Seribu dan di Pulau Rubiah, Kota Sabang. Sungguh sangat disayangkan jika dilewatkan begitu saja tanpa ditelusuri,” jelas Humaira.

    Keberadaan situs ini memperlihatkan bahwa Sabang bukan hanya tempat untuk menikmati keindahan alam, tetapi juga ruang yang menyimpan cerita perjalanan manusia. Perpaduan antara wisata bahari dan sejarah menjadikan Pulau Rubiah memiliki daya tarik yang semakin lengkap.

    Selain kaya akan nilai edukasi, sisa-sisa bangunan karantina haji pertama di Indonesia ini juga menjadi lokasi yang sangat eksotis untuk berburu foto bertema vintage. Kilatan cahaya matahari pagi yang menerobos di sela-sela tiang tua dan rimbunnya pepohonan akan menghasilkan perpaduan bayangan yang sangat estetik.

    Menjelajahi Pulau Rubiah bukan lagi sekadar tentang bermain dengan ikan-ikan karang, melainkan tentang menghormati jejak langkah spiritual bangsa yang abadi di atas pulau ini. Jadi, siapkah Anda melangkah melintasi waktu di Pulau Rubiah?

    Caption: Duta Wisata Kota Sabang, Cut Adek Humaira mengunjungi sisa-sisa bangunan Karantina Haji yang menjadi saksi perjalanan panjang sejarah ibadah haji masyarakat Indonesia pada masa lampau. Perjalanan menuju lokasi menjadi bagian dari pengalaman tersendiri karena wisatawan akan melewati suasana alami Pulau Rubiah yang masih asri.(Adv)

  • Fraksi PKS DPRK Dukung Wali Kota Tegakkan Syariat yang Terintegrasi dan Terpadu di Banda Aceh

    Fraksi PKS DPRK Dukung Wali Kota Tegakkan Syariat yang Terintegrasi dan Terpadu di Banda Aceh

    Banda Aceh – Fraksi Partai Keadilan Sejahtera (PKS) DPRK Banda Aceh menegaskan dukungan penuh terhadap komitmen Wali Kota Banda Aceh dalam menegakkan Syariat Islam secara terintegrasi, terpadu, dan berkesinambungan di seluruh aspek kehidupan masyarakat kota.

    Ketua Fraksi PKS DPRK Banda Aceh, Tuanku Muhammad, S. Pdi, M. Ag, menegaskan bahwa penegakan Syariat Islam bukan hanya amanah konstitusi daerah, tetapi juga merupakan roh pembangunan Banda Aceh. Menurutnya, Syariat Islam harus menjadi fondasi moral dan spiritual yang menguatkan masyarakat dalam menghadapi tantangan zaman.

    “Fraksi PKS DPRK Banda Aceh berdiri tegak bersama Wali Kota untuk memastikan Syariat Islam ditegakkan secara menyeluruh. Ini tugas yang diberikan oleh DPD PKS Banda Aceh kepada Fraksi PKS DPRK. Kami akan mengawal kebijakan pemko agar pelaksanaan qanun benar-benar hadir dalam kehidupan nyata masyarakat,” tegas Tuanku Muhammad.

    Fraksi PKS menekankan pentingnya integrasi kebijakan dan sinergi lintas sektoral semua lembaga (OPD) di jajaran Pemerintah Kota Banda Aceh, serta dukungan penuh dari Forkopimda kota Banda Aceh. Termasuk penguatan muhtasib gampong sebagai ujung tombak pengawasan syariat oleh masyarakat yang ada di gampong-gampong.

    Fraksi PKS menegaskan bahwa penegakan Syariat Islam di Banda Aceh harus menjadi role model dan akan menjadi barometer kesuksesan pelaksanaan syariat di Propinsi Aceh. Dengan posisi Banda Aceh sebagai ibu kota provinsi, keberhasilan implementasi syariat di kota ini akan menjadi tolok ukur dan inspirasi bagi daerah lain dalam mewujudkan masyarakat yang Islami dan beradab.

    Fraksi PKS memberikan apresiasi atas langkah Wali Kota Banda Aceh yang menempatkan Syariat Islam sebagai program prioritas pembangunan kota. Hal ini sejalan dengan visi menjadikan Banda Aceh sebagai kota Islami, berkarakter, dan inklusif.

    Ketua Fraksi PKS DPRK, Tuanku Muhammad yang akrab disapa Tumad, meminta semua pihak mendukung penuh upaya Walikota Banda Aceh dan jajarannya dalam menjaga kota.

    “Kami percaya bahwa dengan sinergi dan kolaborasi antara eksekutif, legislatif, dan semua stakeholder masyarakat, maka Banda Aceh akan semakin kokoh sebagai kota yang berkarakter Islami. Fraksi PKS siap men-support dan mengawal amanah ini, sekaligus menjadikan Banda Aceh sebagai barometer keberhasilan pelaksanaan Syariat Islam di Aceh.” pungkas Tuanku Muhammad yang juga Bendahara DPD PKS Banda Aceh.(Adv)

  • Sekda Aceh Tegaskan Pancasila sebagai Fondasi Bangsa di Tengah Dinamika Global

    Sekda Aceh Tegaskan Pancasila sebagai Fondasi Bangsa di Tengah Dinamika Global

    Pemerintah Aceh menegaskan pentingnya penguatan nilai-nilai Pancasila sebagai fondasi menghadapi berbagai tantangan global yang semakin kompleks, mulai dari disrupsi teknologi hingga dinamika geopolitik dunia.

    Pesan tersebut disampaikan Sekretaris Daerah Aceh, M. Nasir saat memimpin upacara peringatan Hari Lahir Pancasila 2026 di halaman Kantor Gubernur Aceh, Senin (1/6/2026).

    Dalam kesempatan itu, M. Nasir membacakan amanat Kepala Badan Pembinaan Ideologi Pancasila yang menegaskan bahwa peringatan Hari Lahir Pancasila bukan sekadar agenda seremonial tahunan, melainkan momentum untuk memperkuat komitmen kebangsaan dan memastikan nilai-nilai Pancasila tetap menjadi pedoman dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

    “Tahun ini Pancasila kembali ditegaskan sebagai jangkar moral bangsa dalam menghadapi berbagai turbulensi global, mulai dari perkembangan teknologi hingga dinamika geopolitik yang terus berubah,” kata M. Nasir saat membacakan amanat tersebut.

    Peringatan Hari Lahir Pancasila tahun ini mengusung tema “Pancasila Pemersatu Bangsa, Fondasi Perdamaian Dunia.” Tema tersebut menekankan peran Pancasila tidak hanya sebagai pemersatu bangsa yang majemuk, tetapi juga sebagai nilai yang relevan dalam mendukung terciptanya perdamaian dunia.

    Dalam amanat tersebut disebutkan bahwa keberagaman Indonesia yang terdiri atas ribuan pulau dan ratusan kelompok etnis dapat tetap terjaga dalam satu ikatan kebangsaan karena nilai-nilai yang terkandung dalam Pancasila. Nilai musyawarah, persatuan, dan keadilan sosial dinilai menjadi modal penting dalam menghadapi tantangan zaman.

    Selain memperkuat persatuan nasional, Indonesia juga disebut memiliki tanggung jawab untuk berkontribusi dalam menjaga ketertiban dunia sebagaimana amanat konstitusi. Peran Indonesia dalam berbagai misi perdamaian internasional, mediasi konflik regional, serta konsistensi menyuarakan keadilan bagi bangsa-bangsa yang masih tertindas menjadi bagian dari implementasi nilai-nilai Pancasila di tingkat global.

    Melalui momentum Hari Lahir Pancasila, pemerintah mengajak seluruh elemen masyarakat, khususnya generasi muda, untuk terus mengamalkan nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan sehari-hari agar tetap relevan di tengah perubahan zaman yang semakin cepat.

    Upacara yang berlangsung khidmat tersebut diikuti unsur Forkopimda Aceh, para kepala SKPA, serta aparatur sipil negara dari berbagai instansi di lingkungan Pemerintah Aceh.( Adv)