Penulis: Seputar Aceh

  • Mahasiswa KKN USK Desa Jijiem Gelar Sosialisasi Penghijauan dan Aksi Tanam Pohon di SMPN 3 Bandar Baru

    Pidie Jaya– Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Syiah Kuala (USK) Kelompok R-XXIX-119 Desa Jijiem, Kecamatan Bandar Baru, Kabupaten Pidie Jaya, menggelar sosialisasi penghijauan lingkungan sekaligus aksi penanaman bibit pohon di SMP Negeri 3 Bandar Baru, Kamis (16/7/2026).

    Kegiatan ini merupakan bentuk aksi nyata mahasiswa dalam menjaga kelestarian lingkungan sekaligus menjadi bagian dari kemitraan dengan pihak sekolah untuk mengisi rangkaian kegiatan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS).

    Penanggung jawab kegiatan, Abdul Malik Angkasah, mengatakan bahwa program tersebut bertujuan menumbuhkan kesadaran lingkungan melalui edukasi dan praktik langsung menanam pohon.

    “Kegiatan penghijauan lingkungan ini merupakan wujud nyata kepedulian kami terhadap pelestarian lingkungan, terlebih saya sendiri berasal dari Jurusan Kehutanan. Dalam kegiatan bermitra ini, kami juga diberi amanah untuk mengisi materi pada kegiatan MPLS,” ujarnya.

    Dalam kegiatan tersebut, para siswa mendapatkan materi mengenai pentingnya penghijauan, manfaat pohon bagi lingkungan, serta teknik dasar penanaman dan perawatan pohon. Setelah sesi sosialisasi, para peserta diajak mempraktikkan langsung penanaman lima jenis bibit pohon di lingkungan sekolah.

    Ferawati, salah seorang guru di SMP 3 Bandar Baru sekaligus mewakili wakil kurikulum mengapresiasi kegiatan tersebut. Menurutnya, kegiatan tersebut memberikan manfaat bagi sekolah sekaligus menambah wawasan siswa mengenai pentingnya menjaga lingkungan.

    “Kegiatan kalian sangat memuaskan, siswa-siswi juga sangat suka. Bagi sekolah, kegiatan ini sangat bermanfaat dan sangat membantu,”jelasnya.

    Ia berharap kegiatan serupa dapat terus dilaksanakan pada masa mendatang dengan cakupan yang lebih luas.

    “Materi hari ini sangat berguna. Semoga kegiatan seperti ini terus dilaksanakan dan menjadi lebih baik lagi,” tambahnya.

    Salah seorang siswa SMP Negeri 3 Bandar Baru, Badrul Munir, mengaku senang dapat mengikuti kegiatan tersebut karena memperoleh pengalaman baru.

    “Kegiatan hari ini menyenangkan karena kami bisa belajar tentang penghijauan, cara menanam pohon, dan cara merawatnya. Tadi kami juga sudah menanam lima jenis pohon,” ungkapnya.

    Sementara itu, Abdul Malik berharap kegiatan ini mampu menumbuhkan kepedulian generasi muda terhadap lingkungan sehingga aksi penghijauan dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.

    “Harapannya, generasi muda tidak hanya memahami pentingnya penghijauan secara teori, tetapi juga mampu menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari serta memiliki kepedulian yang lebih besar terhadap lingkungan,” tutupnya.

    penulis : Ade Irma Aprianti

  • Limbah Plastik Bukan Lagi Sampah, Katahati dan Unimal Dorong Jadi Peluang Ekonomi

    Lhokseumawe – Katahati Institute bekerja sama dengan Fakultas Teknik Universitas Malikussaleh (Unimal) serta didukung Pegadaian Area Banda Aceh menggelar Focus Group Discussion (FGD) bertajuk “Pengelolaan Lingkungan dan Pengolahan Limbah Plastik Berbasis Ekonomi Sirkular untuk Mendukung Pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs) dan Green Community” di Aula Cut Meutia, Kampus Bukit Indah Universitas Malikussaleh, Kota Lhokseumawe, Senin (6/7/2026).

    FGD tersebut mempertemukan unsur pemerintah, akademisi, dunia usaha, komunitas, organisasi masyarakat, dan pegiat lingkungan guna membangun kolaborasi dalam menghadapi persoalan pengelolaan limbah plastik melalui pendekatan ekonomi sirkular.

    Dalam sambutan Ketua Dekranasda Aceh, Marlina Muzakir, yang dibacakan Kepala Dinas Koperasi dan UKM Aceh, disampaikan apresiasi atas terselenggaranya forum tersebut. Menurutnya, FGD menjadi wadah strategis untuk memperkuat sinergi lintas sektor dalam mencari solusi terhadap persoalan sampah plastik yang kian kompleks.

    Dekranasda Aceh menilai konsep ekonomi sirkular menghadirkan paradigma baru dalam pengelolaan sumber daya melalui upaya mengurangi timbunan sampah, menggunakan kembali, mendaur ulang, hingga mengolah limbah menjadi produk bernilai tambah.

    Pendekatan tersebut dinilai mampu membuka peluang usaha baru, menciptakan lapangan kerja, serta meningkatkan kesejahteraan masyarakat, khususnya pelaku UMKM dan industri kreatif.

    Narasumber dari Pascasarjana Universitas Syiah Kuala, Prof. Dr. Ichwana, S.T., M.P., menjelaskan bahwa limbah plastik telah menjadi salah satu ancaman serius bagi lingkungan.

    Rendahnya kesadaran masyarakat dalam memilah dan mengelola sampah menyebabkan meningkatnya pencemaran, masuknya mikroplastik ke dalam rantai makanan, pencemaran udara akibat pembakaran sampah, hingga penyumbatan drainase yang memicu banjir di kawasan perkotaan.

    Di sisi lain, menurutnya, limbah plastik juga memiliki nilai ekonomi apabila dikelola melalui konsep ekonomi sirkular.

    Limbah dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku industri maupun produk kreatif yang mampu menciptakan peluang usaha dan lapangan kerja baru.

    Ia menambahkan, Indonesia telah memiliki arah kebijakan melalui Peta Jalan SDGs Indonesia dan Peta Jalan Ekonomi Sirkular 2025–2045 yang menargetkan Nol Sampah Plastik pada 2040 serta Nol Sampah dan Nol Emisi pada 2050 melalui penerapan strategi 9R, yaitu Refuse, Rethink, Reduce, Reuse, Repair, Refurbish, Remanufacture, Repurpose, dan Recycle.

    Selain itu, penerapan ekonomi sirkular juga dinilai berkontribusi terhadap pencapaian berbagai tujuan pembangunan berkelanjutan, mulai dari pengentasan kemiskinan, pertumbuhan ekonomi yang inklusif, pembangunan kota berkelanjutan, konsumsi dan produksi yang bertanggung jawab, hingga aksi penanganan perubahan iklim.

    Sementara itu, Dr. Ir. Rozanna Dewi, S.T., M.Sc., IPM dari Center of Excellence (CoE) TechnoPlast Universitas Malikussaleh memaparkan berbagai tantangan sekaligus peluang inovasi dalam pengelolaan limbah plastik.

    Melalui hasil riset yang dikembangkan, tim peneliti Universitas Malikussaleh berhasil menciptakan plastik degradable berbahan dasar pati sagu yang berpotensi menjadi alternatif pengganti plastik konvensional.

    Inovasi tersebut bahkan telah dikembangkan melalui perusahaan rintisan PT Plastik Sago Teknologi (PST) serta mendapat dukungan kerja sama dari berbagai lembaga nasional, di antaranya Badan Tenaga Nuklir Nasional (BATAN) dan Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT).

    Ketua Badan Pengurus Katahati Institute, Chairul Muslim, menyampaikan apresiasi kepada seluruh pihak yang telah mendukung penyelenggaraan FGD, khususnya Universitas Malikussaleh, Pemerintah Kota Lhokseumawe, dan Pegadaian Area Banda Aceh.

    “FGD ini menjadi pondasi awal dalam membangun dan mengembangkan ekosistem ekonomi sirkular di Kota Lhokseumawe. Pengelolaan limbah plastik tidak lagi hanya dipandang sebagai persoalan lingkungan, tetapi juga sebagai peluang ekonomi baru yang dapat memberikan manfaat bagi masyarakat,” ujarnya.

    Menurut Chairul, forum tersebut menghasilkan sejumlah rekomendasi strategis, di antaranya penyusunan rencana bisnis ekonomi sirkular di Kota Lhokseumawe, penyusunan rekomendasi kebijakan bagi pemerintah daerah, penguatan kemitraan antara perguruan tinggi, pemerintah, masyarakat, dan dunia usaha, serta pembentukan sekretariat bersama guna memastikan keberlanjutan program ekonomi sirkular di daerah.

    Ia juga menyebutkan bahwa kegiatan tersebut memiliki makna tersendiri karena bertepatan dengan peringatan 25 tahun berdirinya Katahati Institute.

    “Di usia yang ke-25 tahun, Katahati bersyukur dapat mempertemukan berbagai pihak untuk membahas isu limbah plastik yang selama ini belum mendapat perhatian yang memadai. Kami berharap forum ini menjadi awal gerakan bersama menuju lingkungan yang lebih bersih, ekonomi yang lebih inklusif, serta masyarakat yang semakin peduli terhadap keberlanjutan,” katanya.

    Melalui forum ini, para peserta berharap lahir berbagai inovasi dan langkah nyata dalam pengelolaan limbah plastik yang tidak hanya mampu mengurangi pencemaran lingkungan, tetapi juga menciptakan peluang ekonomi baru serta mendorong terwujudnya Green Community di Kota Lhokseumawe maupun Aceh secara umum.

  • IHGMA DPD Aceh Dukung Donor Darah HUT Bhayangkara ke-80, Targetkan 200 Kantong Darah

    BANDA ACEH – Dalam rangka memperingati Hari Ulang Tahun (HUT) Bhayangkara ke-80, IHGMA DPD Aceh menggelar aksi sosial donor darah bertajuk “Setetes Darah Sejuta Harapan” di Abraj Cafe, Lantai 6, Portola Grand Arabia Hotel, Banda Aceh, Sabtu (4/7/2026).

    Kegiatan kemanusiaan ini terselenggara atas kerja sama dengan Polresta Banda Aceh, IHGMA DPD Aceh, para tokoh tokoh General Manager hotel di Banda Aceh seperti Budi Syaiful, Romeo Angga Yudhistira, Noersyam Akhmad, Dodo Abdul Rani dan yang lainnya serta PMI Kota Banda Aceh. Donor darah digelar sebagai bentuk kepedulian terhadap kebutuhan stok darah yang terus meningkat di Kota Banda Aceh.

    Berdasarkan data PMI, setiap dua detik terdapat satu orang yang membutuhkan transfusi darah, mulai dari korban kecelakaan, ibu melahirkan, hingga pasien thalasemia dan kanker. Melalui kegiatan ini diharapkan kebutuhan darah di PMI dapat terus terpenuhi sehingga mampu membantu menyelamatkan lebih banyak nyawa.

    Ketua IHGMA DPD Aceh, Budi Syaiful sekaligus General Manager Hermes Palace Hotel Banda Aceh mengapresiasi kolaborasi seluruh pihak yang telah mendukung terselenggaranya kegiatan tersebut. Menurutnya, kegiatan donor darah menjadi bukti bahwa industri perhotelan tidak hanya berfokus pada pelayanan kepada tamu, tetapi juga memiliki tanggung jawab sosial kepada masyarakat.

    “Donor darah merupakan wujud nyata kepedulian insan perhotelan terhadap kemanusiaan. Melalui kolaborasi antara hotel, kepolisian, PMI, dan berbagai mitra, kami ingin menunjukkan bahwa industri hospitality juga dapat memberikan kontribusi besar bagi masyarakat. Semoga kegiatan seperti ini terus berlanjut dan menginspirasi lebih banyak hotel di Aceh untuk aktif dalam kegiatan sosial,” kata Budis Syaiful.

    Sementara itu Manager Portola Grand Arabia Hotel, Noersyam Akhmad, mengatakan kegiatan donor darah menjadi bagian dari komitmen hotel untuk memberikan manfaat bagi masyarakat, tidak hanya melalui pelayanan perhotelan tetapi juga melalui aksi sosial.

    “Kami percaya, menjadi hotel yang baik berarti juga menjadi bagian yang baik dari masyarakat. Aksi donor darah ini kami buka seluas-luasnya untuk tamu hotel, karyawan, dan seluruh masyarakat Banda Aceh. Hanya sekitar sepuluh menit waktu yang dibutuhkan untuk menyumbangkan darah, namun manfaatnya dapat menyelamatkan kehidupan orang lain,” ujar Noersyam.

    Seluruh proses donor darah dilaksanakan oleh tenaga medis profesional dari PMI Kota Banda Aceh sesuai standar pelayanan yang berlaku. Para pendonor juga memperoleh pemeriksaan kesehatan gratis, konsumsi, serta apresiasi dari pihak hotel dan PMI.

    Budi menambahkan, kegiatan donor darah berlangsung mulai pukul 09.00 hingga 15.00 WIB dengan target mengumpulkan 200 kantong darah.

    “Kami menargetkan terkumpul 200 kantong darah pada kegiatan ini. Ke depan, donor darah akan menjadi agenda rutin setiap bulan sebagai bentuk kontribusi nyata dalam membantu sesama dan memenuhi kebutuhan stok darah di Aceh,” tambah Budi.

    Kegiatan donor darah turut dihadiri oleh Kolonel Pnb Suryo Anggoro, M.Tr.(Han) selaku Danlanud Iskandar Muda serta Kombes Pol. dr. Dafianto Arief, M.Si. selaku Kabiddokkes Polda Aceh.

    Melalui tema “Setetes Darah Sejuta Harapan”, ini mengajak seluruh masyarakat untuk menjadi pahlawan tanpa tanda jasa. Sebab, setetes darah yang didonorkan dapat menjadi harapan hidup bagi mereka yang membutuhkan

     

  • Ketika Arsitektur Berhasil Membuat Kita Merasakan Tsunami

    “Bangunan yang baik bukan hanya untuk dilihat, tetapi juga untuk dirasakan.”

    Kalimat tersebut sangat relevan saat kita melangkah masuk ke Museum Tsunami Aceh, Berbeda dengan museum pada umumnya yang mengandalkan koleksi benda atau panel informasi, museum ini menjadikan ruang sebagai media bercerita.

    Pengunjung tidak sekadar membaca kisah tsunami Aceh 2004, melainkan diajak merasakan sebagian emosi yang pernah dialami para penyintas.

    Di tengah tren bangunan ikonik yang sering mengejar bentuk spektakuler, museum yang diresmikan tahun 2009 ini menunjukkan pendekatan berbeda.

    Dirancang oleh Ridwan Kamil dengan konsep Rumoh Aceh as Escape Hill, bangunan seluas 2.500 meter persegi dengan empat lantai ini berfungsi lebih dari sekadar museum; ia adalah ruang edukasi, refleksi, peringatan, simbol kebangkitan masyarakat, hingga pusat evakuasi jika bencana datang lagi.

    Massa bentuk bangunan menyerupai gelombang tsunami yang bergerak dinamis. Foto : Architect Room
    Massa bentuk bangunan menyerupai gelombang tsunami yang bergerak dinamis. Foto : okezone.com

    Pengalaman emosional dimulai di Lorong Tsunami. Dinding tinggi yang dialiri air, pencahayaan redup, ruang sempit, serta gema suara menciptakan space of fear. Tanpa penjelasan panjang, ruang itu sendiri memaksa pengunjung untuk meresapi ketakutan. Perjalanan berlanjut ke Ruang Memori dan Sumur Doa.

    Di sini, bentuk silinder dengan cahaya remang dari atas serta lafaz Allah setinggi 30 meter merepresentasikan hablumminallah (hubungan manusia dengan Tuhan) dan mengenang 2.000 nama korban.

    Lorong Cerobong. Sumber: Antara
    Cerobong. Sumber: Antara

    Setelah itu, pengunjung melewati Lorong Cerobong (space of confuse) dengan desain berkelok yang mencerminkan keputusasaan, sebelum akhirnya sampai di Jembatan Harapan (space of hope) yang menampilkan 54 bendera negara yang membantu pemulihan Aceh. Setiap ruang memiliki karakter berbeda yang saling terhubung, membuktikan bahwa arsitektur mampu mengarahkan emosi tanpa perlu instruksi.

    Pesan tersebut diperkuat oleh pemilihan material. Massa bangunan yang tidak simetris menyerupai gelombang tsunami yang bergerak dinamis. Penggunaan beton bertulang diekspos memberikan kesan kokoh, sementara fasad perforated concrete yang melambangkan Tari Saman merepresentasikan hablumminannas (hubungan antarmanusia). Elemen air, kaca, dan permainan cahaya alami melengkapi suasana dramatis yang terus berubah sepanjang hari.

    Namun, muncul pertanyaan menarik, ketika pengalaman emosional menjadi fokus utama, apakah pengunjung masih memberi perhatian pada informasi sejarah yang disajikan? Fakta bahwa banyak pengunjung lebih fokus pada aspek visual atau latar foto dibandingkan narasi tertulis menunjukkan adanya pergeseran fokus.

    Meski demikian, hal ini menunjukkan bahwa museum ini berhasil melakukan sesuatu yang jarang diraih bangunan lain, membangun hubungan emosional yang intim dengan pengunjung.

    Pada akhirnya, kekuatan Museum Tsunami Aceh bukan terletak pada bentuk bangunannya yang ikonik semata, melainkan pada kemampuannya menjadikan ruang sebagai bahasa.

    Ia membuktikan bahwa terkadang, sebuah lorong yang gelap, suara air yang bergema, dan cahaya yang muncul dari balik beton sudah cukup untuk mengingatkan kita bahwa di balik setiap bangunan, ada cerita manusia yang tidak boleh dilupakan.

    Foto : Tempo.co

    Artikel Oleh : Qaishafiza Aqella, Khamsa Nur Gea, dan Rauzatul Jannah, Mahasiswa uin ar raniry

  • Sambut Tahun Baru Islam 1448 H, Masjid Baitul Maqdis Seuot Gelar MTQ Perdana Cetak Generasi Qur’ani

    acehtoday.id/ | Aceh Besar – Suasana religius menyelimuti Kemasjidan Baitul Maqdis Seuot, Kecamatan Indrapuri, Kabupaten Aceh Besar, saat lantunan ayat suci Al-Qur’an menggema dalam pelaksanaan Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ) tingkat kemasjidan untuk pertama kalinya.

    Kegiatan yang berlangsung selama sepuluh hari, sejak 15 hingga 25 Juni 2026 tersebut, digelar dalam rangka memperingati Hari Besar Islam sekaligus menyambut Tahun Baru Islam 1448 Hijriah.

    Mengusung tema “Semangat Hijrah di Buleuen Muharram, Meuseuraya Ngen Al-Qur’an, Meugot Iman Meupeugah Bakat, Meubina Generasi Gampong Berakhlak dan Berprestasi”, MTQ perdana ini menjadi wadah pembinaan spiritual sekaligus ruang bagi generasi muda untuk mengembangkan bakat dan kecintaan terhadap Al-Qur’an.

    Antusiasme masyarakat terlihat dari tingginya jumlah peserta yang mencapai 157 orang. Mereka berasal dari dua desa yang berada dalam wilayah Kemasjidan Baitul Maqdis Seuot, yakni Gampong Seuot Baroh dan Seuot Tunong.

    Dalam pelaksanaannya, panitia menghadirkan sejumlah cabang perlombaan yang disesuaikan berdasarkan kategori usia. Cabang tersebut meliputi Tilawah golongan Tartil, Anak-anak, dan Remaja, Tahfiz Juz 30 serta Surah Pendek, Syarhil Qur’an, Fahmil Qur’an, hingga seni kaligrafi atau Khat.

    Selain itu, kegiatan juga menghadirkan perlombaan edukatif bagi anak-anak, seperti lomba mewarnai dan menyusun huruf Hijaiyah sebagai upaya mengenalkan nilai-nilai Al-Qur’an sejak usia dini.

    Tidak hanya perlombaan utama, kemeriahan MTQ juga dirangkai dengan berbagai kegiatan pendukung seperti lomba Lacak Tokoh, Pidato, Azan, Peragaan Shalat, serta Rangking Satu yang menguji wawasan keislaman dan pengetahuan umum para peserta.

    Kesuksesan pelaksanaan MTQ perdana tersebut tidak terlepas dari kerja sama seluruh pihak, mulai dari pengurus masjid, perangkat gampong, tokoh masyarakat, hingga para pemuda.

    Kegiatan ini mendapat arahan dari Imam Masjid Baitul Maqdis Seuot, Tgk. Nizarli, S.Ag., Keuchik Gampong Seuot Baroh Iswandar, serta Keuchik Seuot Tunong Muhammad Isa.

    Ketua Remaja Masjid Baitul Maqdis Seuot periode 2023–2026 sekaligus Ketua Umum panitia, Naufal Azqia, S.Mat., M.Mat., mengatakan pelaksanaan MTQ perdana tersebut merupakan wujud komitmen bersama dalam membangun generasi yang dekat dengan Al-Qur’an.

    “MTQ perdana ini menjadi bukti bahwa ketika masyarakat, pengurus masjid, tokoh gampong, para orang tua, dan generasi muda bersatu, maka banyak hal baik dapat diwujudkan bersama,” ujarnya.

    Dalam pelaksanaan kegiatan, Naufal didukung oleh jajaran kepengurusan, yakni Muliani, S.Pd., sebagai Sekretaris Umum I, Zulfiani, S.Pd., Gr., sebagai Sekretaris Umum II, serta Rijal Umara sebagai Bendahara Umum.

    Sementara itu, berbagai divisi kepanitiaan turut berperan dalam menyukseskan kegiatan, mulai dari Divisi Acara, Tempat dan Peralatan, Humas, Konsumsi, hingga Publikasi dan Dokumentasi.

    Malam penutupan MTQ berlangsung khidmat dan penuh haru. Panitia menghadirkan Ustadz Iswar Nurdin, M.Ag., untuk memberikan tausiyah agama yang mengangkat makna hijrah dalam momentum Tahun Baru Islam 1448 Hijriah.

    Dalam ceramahnya, ia mengajak masyarakat dan generasi muda Kemasjidan Baitul Maqdis Seuot menjadikan momentum hijrah sebagai langkah memperbaiki diri, meningkatkan ketakwaan, serta membangun akhlak yang lebih baik.

    Menutup rangkaian kegiatan, Naufal berharap MTQ Masjid Baitul Maqdis Seuot tidak hanya menjadi agenda seremonial, tetapi mampu menjadi gerakan berkelanjutan dalam mencintai Al-Qur’an dan memakmurkan masjid.

    “Kami berharap MTQ ini dapat menumbuhkan semangat mencintai Al-Qur’an, mempererat ukhuwah Islamiyah, serta melahirkan generasi Qur’ani yang berakhlak mulia, berilmu, dan berprestasi,” tuturnya.

    Rangkaian MTQ tersebut dibuka dan ditutup oleh Imum Mukim Reukih Tgk. Mahya Zakuan, S.Ag., yang hadir mewakili Camat Indrapuri.

    Ditulis Oleh : Siti Sofia

  • Pungli di Lamreh, Ketua DPRK Aceh Besar Minta Kontrol Pemerintah di Tempat Wisata Diperketat

    acehtoday.id/ | Jantho — Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Kabupaten (DPRK) Aceh Besar, Abdul Muchti, meminta pemerintah setempat melalui instansi terkait untuk segera memperketat pengawasan dan kontrol terhadap tempat-tempat wisata.

    Hal ini disampaikan Abdul Muchti merespon kasus pemerasan dan pungli (pungutan liar) yang terjadi di kawasan wisata Bukit Lamreh, Kecamatan Mesjid Raya, pada Kamis (18/6/2026).

    “Kapan mau maju Aceh Besar kalau praktik premanisme masih dijalankan, apalagi di tempat wisata. Kasus pemerasan dan pungli di Lamreh ini sangat mencoreng citra pariwisata Aceh Besar,” ujar Abdul Muchti, saat dimintai tanggapan oleh media ini melalui sambungan telepon, Sabtu (20/6/2026).

    Untuk menghindari hal seperti ini tidak terulang lagi, Abdul Muchti meminta Pemkab Aceh Besar agar memperketat kontrol di tempat-tempat objek wisata. Hal ini diperlukan agar tidak terjadi lagi aksi pungli di lokasi-lokasi wisata.

    Menurut Abdul Muchti, upaya memperketat kontrol tempat wisata bukan harus melalui razia setiap harinya oleh petugas Satpol PP dan WH, tapi juga dalam bentuk pengelolaannya yang harus diperbaiki. “Penataan, manajemen pengelolaan harus diperbaiki, biaya tiket masuk harus jelas nominalnya, petugas di pintu masuk juga harus ditata,” ungkapnya.

    “Jadi menurut saya kontrol pemerintah di tempat wisata harus lebih ditingkatkan. Ini bukan hanya soal retribusi untuk PAD, tapi juga masalah citra pariwisata Aceh Besar. Kalau kesannya buruk semacam marak kasus pungli, wisatawan pasti tidak akan datang. Jika ini terjadi objek wisata Aceh Besar akan sepi pengunjung, dan ini yang rugi juga masyarakat setempat,” ujarnya.

    Menurut Ketua DPRK Aceh Besar, keberadaan objek wisata yang aman, nyaman, dan tertib merupakan faktor penting dalam mendukung pertumbuhan sektor pariwisata. Karena itu, segala bentuk tindakan yang merugikan wisatawan, termasuk pungutan yang tidak memiliki dasar aturan, harus segera ditindak tegas.

    “Kasus seperti ini tidak boleh dianggap sepele. Pemerintah daerah harus hadir memastikan pengelolaan kawasan wisata berjalan sesuai aturan dan tidak ada praktik-praktik yang merugikan masyarakat maupun wisatawan,” pungkasnya.

    Di sisi lain, politisi Partai Amanat Nasional (PAN) tersebut juga mendorong setiap objek wisata yang dibuka di desa-desa harus mengurus izin resmi ke pemerintah.

    “Saya harap semua tempat wisata yang dikelola masyarakat harus mengurus izin resmi ke pemerintah. Mekanisme pengelolaan itu terserah bagaimana baiknya, apakah dikelola melaui BUMG atau model lainnya. Yang paling penting adalah proses izin,” tegasnya.

    Lamreh selama ini dikenal sebagai salah satu destinasi wisata favorit di Aceh Besar yang menawarkan panorama alam pesisir, perbukitan, dan pemandangan laut yang memukau. Keindahan kawasan tersebut menjadikannya magnet bagi wisatawan lokal maupun luar daerah, terutama saat akhir pekan dan musim liburan.

    Namun keindahan tempat wisata Lamreh ternodai pada pada Kamis (18/6/2026) setelah Ditreskrimum Polda Aceh mengungkap kasus dugaan pemerasan dan pungli yang terjadi di kawasan wisata Desa Lamreh.

    Kabid Humas Polda Aceh Kombes Pol. Joko Krisdiyanto, Jumat (19/6/2026), mengatakan bahwa penindakan dilakukan oleh Tim Unit Reaksi Cepat (URC) Ditreskrimum Polda Aceh sekitar pukul 14.00 WIB setelah menerima laporan dari masyarakat.

    Dari hasil operasi tersebut, petugas mengamankan lima terduga pelaku yang diduga terlibat dalam praktik pemerasan atau pungutan liar terhadap masyarakat. Kelima terduga pelaku masing-masing berinisial EP (51), L (49), F (58), IS (35), dan D (58).

    Dari hasil pemeriksaan awal, salah seorang yang diamankan berinisial EP diketahui positif menggunakan narkotika jenis sabu berdasarkan hasil tes urine.

    Kasatpol PP dan WH Aceh Besar Muhajir, S.STP MPA memastikan gangguan ketertiban umum dan ketenteraman masyarakat yang sempat terjadi di kawasan wisata Bukit Lamreh, tidak akan terulang kembali.

    Melalui Kabid Ketertiban Umum dan Ketenteraman Masyarakat, Suhaimi SP mengatakan, pihaknya telah berkoordinasi dengan unsur Forkopimcam Mesjid Raya guna membahas upaya-upaya pencegahan agar persoalan serupa tidak kembali terjadi di salah satu destinasi wisata unggulan Aceh Besar tersebut.

    “Persoalan yang berpotensi mengganggu ketertiban, kenyamanan, dan keamanan pengunjung tidak boleh terulang lagi. Bukit Lamreh merupakan aset wisata Aceh Besar yang harus dijaga bersama,” kata Suhaimi, Kamis (18/6/2026).

  • Tarkam Aceh: Mimpi Besar Mengangkat Sepak Bola Aceh ke Mata Indonesia

    acehtoday.id/ | Bagi saya, Tarkam Aceh bukan sekadar pertandingan sepak bola antarkampung. Tarkam Aceh adalah rahim tempat lahirnya pemain-pemain berbakat pemain yang punya kualitas untuk bersaing di level yang jauh lebih tinggi.

    Di setiap pertandingan yang saya liput, saya melihat sendiri semangat, kerja keras, dan bakat luar biasa yang dimiliki putra-putra Aceh.

    Sayangnya, bakat itu sering hanya berhenti di lapangan kampung, tanpa ada yang melihat.

    Satu Tujuan Besar: Membawa Tarkam Aceh ke Panggung Nasional

    Melalui Razi Aceh Sport, saya memegang satu mimpi besar: memperkenalkan Tarkam Aceh kepada seluruh Indonesia, bahkan dunia.

    Saya ingin mengubah cara pandang masyarakat bahwa sepak bola tarkam bukan hanya hiburan warga desa, melainkan ladang lahirnya pemain-pemain berkualitas yang pantas mendapat kesempatan di level profesional.

    Saya percaya, Aceh punya banyak pemain hebat. Mereka punya kemampuan, mental bertanding, dan semangat juang yang tak kalah dari pemain daerah lain.

    Yang sering menjadi penghalang hanyalah satu: kurangnya publikasi dan kesempatan untuk dilihat oleh klub besar maupun pencari bakat.

    Menjadi Jembatan, Bukan Sekadar Peliput

    Itulah alasan saya memilih jalan sebagai media sepak bola. Saya ingin menjadi jembatan antara pemain lokal dengan kesempatan yang lebih besar.

    Setiap pertandingan yang saya liput, setiap foto yang saya jepret, dan setiap siaran langsung yang saya lakukan semuanya punya satu tujuan: membuat nama pemain Aceh dikenal lebih luas.

    Saya berkomitmen: siapa pun pemain Aceh yang punya kualitas dan semangat berjuang, akan saya angkat lewat media saya.

    Saya akan terus mempromosikan mereka, memperlihatkan kemampuan mereka kepada masyarakat luas dengan harapan, suatu hari nanti mereka bisa merasakan panggung Liga 1, Liga 2, Liga 3, bahkan membela Tim Nasional Indonesia.

    Bukan Hanya Soal Skill, Tapi Juga Sportivitas dan Atmosfer

    Selain mengangkat kualitas pemain, saya juga ingin menunjukkan wajah lain dari Tarkam Aceh: sportivitas, persaudaraan, dan kualitas pertandingan yang seru untuk ditonton.

    Saya berharap masyarakat Indonesia bisa melihat bahwa sepak bola Aceh memiliki atmosfer luar biasa, penonton yang antusias, serta talenta-talenta yang layak mendapat perhatian nasional.

    Bukan Sekadar Media, Tapi Bagian dari Perjalanan Mereka

    Inilah mimpi yang saya pegang sejak awal membangun Razi Aceh Sport. Saya tidak hanya ingin menjadi media yang meliput pertandingan, tetapi juga ingin menjadi bagian dari kisah lahirnya pemain-pemain hebat Aceh menuju sepak bola profesional.

    Saya percaya, jika terus diberi ruang dan kesempatan, akan lahir lebih banyak talenta dari Tarkam Aceh yang bersinar di kompetisi nasional, bahkan internasional. Itulah alasan saya terus berkarya, terus meliput, dan terus memperjuangkan sepak bola Aceh satu pertandingan, satu momen, satu cerita dalam satu waktu.

    “Misi saya sederhana: memperkenalkan Tarkam Aceh kepada Indonesia dan dunia. Selama saya masih memegang kamera dan melakukan siaran langsung, saya akan terus mempromosikan pemain-pemain Aceh agar mereka mendapat kesempatan bermain di level profesional dan membawa nama daerah ke panggung yang lebih tinggi.”
    Razi Fakhrurrazi

  • Galian C Ilegal di Aceh Tamiang Terkesan Dilindungi, AWF Desak Polda Aceh Turun Tangan

    acehtoday.id/ | Kuala Simpang – Maraknya aktivitas galian C Ilegal di Kecamatan Sekerak Kabupaten Aceh Tamiang kembali menimbulkan tanda tanya besar tentang keberanian aparat penegak hukum (APH) dalam menegakkan aturan.

    Aceh Wetland Forum (AWF) mendesak Aparat Penegak Hukum (APH) untuk segera menindak praktik tambang Galian C ilegal di Kampung Sekerak Kanan Kecamatan Sekerak Kabupaten Aceh Tamiang.

    “Ini bukan sekadar pelanggaran izin atau administrasi. Ini adalah kejahatan lingkungan yang brutal dan mencoreng martabat hukum di negeri ini. Tambang itu berada di sempadan sungai dan beroperasi terang-terangan tanpa izin serta tanpa kajian lingkungan,” kata Direktur Aceh Wetland Forum (AWF) Yusmadi Yusuf M dalam keterangan tertulis, Jumat (19/6/2026).

    Pernyataan AWF itu menyusul informasi terkait aktivitas tambang Galian C ilegal di Desa Sekerak Kanan Kecamatan Sekerak yang tetap beroperasi meski tanpa izin resmi. Bahkan berdasarkan data dari DPMPTSP Aceh, untuk kecamatan Sekerak hanya dua perusahaan galian C yang memiliki izin yakni CV Setia Abadi (Komoditi Kerikil Berpasir Alami/Sirtu) yang beroperasi di Kampung Lubuk Sidup dan CV Alfath Moeda (Batuan Tanah Urug) yang beroperasi di Kampung Lubuk Sidup.

    “Di Kecamatan Sekerak hanya dua perusahaan yang memiliki izin galian C yang diterbitkan oleh DPMPTSP Aceh. Dalam data tersebut, tidak ada perusahaan galian C yang memiliki izin operasi di Kampung Sekerak Kanan Kecamatan Sekerak,” ujar Yusmadi.

    Yusmadi, yang akrab disapa Abu Yus, menilai pembiaran terhadap praktik ini sebagai bentuk kelumpuhan negara dalam menegakkan hukum dan melindungi warga dari ancaman ekologis. “Bupati Aceh Tamiang tidak boleh tinggal diam. Ia harus segera bertindak sebelum tambang ini berubah menjadi sumber bencana ekologis dan konflik sosial di tengah masyarakat,” ujarnya.

    Galian C Picu Kerusakan Lingkungan

    Menurutnya, dampak lingkungan dari tambang ilegal di kawasan padat penduduk sangat mengkhawatirkan, mulai dari kerusakan struktur tanah, peningkatan risiko banjir dan longsor, terganggunya sistem drainase kota, hingga gangguan kesehatan akibat polusi debu dan kebisingan alat berat.

    “Siapa yang akan bertanggung jawab jika warga terdampak? Negara tidak boleh kalah oleh mafia tambang galian C,” ungkapnya.

    Yusmadi menegaskan, aktivitas galian C ilegal jelas melanggar Pasal 158 UU Nomor 3 Tahun 2020 tentang Minerba, yang mengatur bahwa setiap orang yang menambang tanpa izin dapat dipidana penjara maksimal 5 tahun dan denda maksimal Rp100 miliar.

    Namun ia mengingatkan, penegakan hukum tidak boleh berhenti pada teks undang-undang semata. Dalam semangat hukum progresif, aparat wajib berani menembus sekat formalitas demi kepentingan yang lebih besar: melindungi lingkungan, menyelamatkan generasi mendatang, serta memastikan kekayaan alam dikelola untuk kemakmuran rakyat sebagaimana amanat Pasal 33 UUD 1945.

    “Kalau hukum hanya dijalankan dengan kacamata sempit prosedural, tambang ilegal akan terus merajalela. Penegakan hukum progresif menuntut keberanian aparat untuk memutus mata rantai mafia tambang. Bila Kapolres dan Kasat Reskrim tidak mampu, maka Ditreskrimsus Polda Aceh harus segera turun tangan,” pungkasnya.

  • Delapan Tahun Hadir di Indonesia, Aplikasi Maxim Berhasil Tembus 100 Juta Unduhan

    acehtoday.id/ | Jakarta – Aplikasi penyedia layanan transportasi daring on-demand Maxim berhasil mencatatkan lebih dari 100 juta unduhan di berbagai platform toko aplikasi, termasuk Google Play Store, App Store, AppGallery, Galaxy Store, dan GetApps.  Pencapaian tersebut diraih seiring perjalanan delapan tahun Maxim dalam melayani kebutuhan mobilitas masyarakat Indonesia.

    Director Development Maxim Indonesia Dirhamsyah mengatakan, capaian tersebut tidak lepas dari kepercayaan masyarakat terhadap layanan yang dihadirkan Maxim selama ini.  Performa aplikasi yang stabil, kemudahan penggunaan, ragam layanan, dukungan keamanan, serta kualitas pelayanan menjadi faktor yang mendorong jutaan masyarakat Indonesia menggunakan Maxim dalam aktivitas sehari-hari.

    “Kami ingin mengucapkan rasa terima kasih kepada para pengguna yang telah mempercayakan Maxim sebagai teman perjalanan mereka,” ujar Dirhamsyah melalui keterangan tertulis kepada media ini, Jumat (19/6/2026).

    Tentunya, kami juga ingin memberikan apresiasi kepada para mitra pengemudi yang telah menjadi bagian dari perjalanan Maxim hingga mencapai pencapaian tersebut. Raihan ini juga menjadi motivasi bagi kami untuk terus meningkatkan kualitaslayanan dan mengembangkan fitur yang dapat memberikan kemudahan dan manfaat,” sambungnya.

    Sejak hadir di Indonesia pada Juni 2018, Maxim terus memperluas jangkauan layanannya ke berbagai wilayah. Hingga saat ini, layanan Maxim telah tersedia di lebih dari 400 kota yang tersebar di seluruh provinsi di Indonesia, mulai dari Aceh hingga Papua. Seiring dengan perluasan layanan tersebut, Maxim menghadirkan berbagai fitur yang dapat diakses melalui satu aplikasi.

    Pengguna dapat memanfaatkan layanan transportasi roda dua (Bike) dan roda empat (Car), pengantaran barang (Delivery dan Cargo), hingga pesan antar makanan (Food). Kehadiran berbagai layanan tersebut ditujukan untuk mempermudah kebutuhan perjalanan maupun aktivitas harian masyarakat. Pertumbuhan Maxim di Indonesia juga didukung oleh ekosistem yang melibatkan berbagai pihak.

    Selain membantu masyarakat dalam memenuhi kebutuhan mobilitas, Maxim turut membuka peluang penghasilan tambahan bagi mitra pengemudi. Di saat yang sama, layanan pengantaran yang tersedia juga mendukung pelaku usaha dalam menjangkau pelanggan dan menjalankan kegiatan bisnis secara lebih efisien.

    Memasuki tahun kedelapan operasionalnya di Indonesia, Maxim menyiapkan sejumlah langkah pengembangan untuk menjawab kebutuhan pengguna yang terus berkembang. Perusahaan akan terus meningkatkan kualitas layanan sekaligus menghadirkan berbagai inovasi yang relevan dengan perkembangan teknologi digital.

    “Kami memahami bahwa dinamika industri dan pasar akan terus berkembang. Oleh karena itu, Maxim akan terus menghadirkan layanan yang terjangkau serta mengembangkan berbagai fitur, termasuk pembayaran digital, keamanan, pemesanan dan pengantaran makanan, serta teknologi kecerdasan buatan untuk meningkatkan pengalaman pengguna,” kata Dirhamsyah.

    Ke depan, Maxim akan terus menyesuaikan pengembangan layanannya dengan kebutuhan masyarakat dan perkembangan teknologi. Upaya tersebut dilakukan untuk menghadirkan pengalaman yang semakin baik bagi pengguna, sekaligus memperkuat manfaat yang dapat dirasakan oleh mitra pengemudi maupun pelaku usaha yang menjadi bagian dari ekosistem Maxim di Indonesia.**

  • Perkuat Kepastian Hukum Pertanahan, Lima Camat di Bener Meriah Resmi Mengemban Amanah sebagai PPATS

    acehtoday.id/ | Redelong – Kantor Pertanahan Kabupaten Bener Meriah kembali menunjukkan komitmennya dalam mendekatkan pelayanan pertanahan kepada masyarakat melalui pelaksanaan Pelantikan dan Pengambilan Sumpah Jabatan Pejabat Pembuat Akta Tanah Sementara (PPATS) yang berlangsung di Aula Kantor Pertanahan Kabupaten Bener Meriah, Kamis (18/06/2026).

    Pelantikan ini dilaksanakan berdasarkan Keputusan Kepala Kantor Wilayah Badan Pertanahan Nasional Provinsi Aceh Nomor 9/SK-11.HP.03.04.PPAT/V/2026 tanggal 18 Mei 2026 tentang Penunjukan Camat sebagai Pejabat Pembuat Akta Tanah Sementara di Kabupaten Bener Meriah. Melalui keputusan tersebut, lima camat resmi memperoleh kewenangan untuk melaksanakan tugas PPATS sesuai ketentuan yang berlaku.

    Adapun pejabat yang dilantik sebagai PPATS adalah:
    * Mulyadi, S.Pd., M.Si. – Camat Pintu Rime Gayo
    * Muslim, S.E., M.AP. – Camat Permata
    *Candra Sasmita, S.STP., M.Si. – Camat Timang Gajah
    * Hari Prawira, S.STP., M.AP. – Camat Gajah Putih
    * Maulizan Ara Arisandi, S.STP., M.AP. – Camat Bener Kelipah

    Dalam prosesi pelantikan, para camat mengucapkan sumpah jabatan sebagai bentuk komitmen untuk menjalankan tugas dan kewenangan PPATS secara profesional, jujur, dan bertanggung jawab. Keberadaan PPATS di tingkat kecamatan diharapkan mampu memberikan kemudahan akses layanan bagi masyarakat, khususnya dalam pembuatan akta yang berkaitan dengan peralihan hak atas tanah.

    Kepala Kantor Pertanahan Kabupaten Bener Meriah menyampaikan bahwa pelantikan ini merupakan bagian dari upaya menghadirkan pelayanan pertanahan yang semakin efektif dan menjangkau seluruh lapisan masyarakat. Menurutnya, peran PPATS sangat penting dalam mendukung tertib administrasi pertanahan dan memberikan kepastian hukum atas setiap perbuatan hukum yang berkaitan dengan tanah.

    “Kami berharap para PPATS yang baru dilantik dapat menjalankan amanah ini dengan penuh integritas, profesionalisme, dan tanggung jawab. Kehadiran PPATS di kecamatan menjadi garda terdepan dalam memberikan pelayanan yang mudah, cepat, dan berkepastian hukum bagi masyarakat Kabupaten Bener Meriah,” ungkap Kepala Kantor Pertanahan Kabupaten Bener Meriah.

    Melalui pelantikan ini, sinergi antara Kantor Pertanahan Kabupaten Bener Meriah dan pemerintah kecamatan semakin diperkuat untuk mendukung pelayanan publik yang berkualitas.

    Dengan bertambahnya PPATS yang aktif di wilayah Kabupaten Bener Meriah, diharapkan kebutuhan masyarakat terhadap layanan pertanahan dapat terpenuhi secara optimal sekaligus mendukung terwujudnya tata kelola pertanahan yang tertib, transparan, dan berkeadilan.**