Penulis: Seputar Aceh

  • Razi Aceh Sport: Sosok di Balik Layar yang Membesarkan Nama Sepak Bola Tarkam Aceh

    Razi Aceh Sport: Sosok di Balik Layar yang Membesarkan Nama Sepak Bola Tarkam Aceh

    acehtoday.id/ | Lapangan berdebu, sorak penonton kampung, dan gol yang dirayakan dengan sepenuh hati momen – momen seperti ini sering terlewat dari radar media besar.

    Namun bagi Razi Fakhrurrazi, atau yang lebih dikenal sebagai Razi Aceh atau Razi Aceh Sport, momen itu justru menjadi harta karun yang layak diabadikan dan dibagikan ke seluruh Aceh, bahkan Indonesia.

    Di tengah gemuruh perkembangan media digital, Razi memilih jalur yang jarang dilirik: mendokumentasikan sepak bola tarkam (antar kampung) yang selama ini luput dari sorotan media arus utama.

    Dari pertandingan antar desa yang sederhana hingga turnamen bergengsi tingkat kabupaten, semuanya ia rekam, edit, dan publikasikan secara profesional layaknya liputan pertandingan kelas atas.

    Dari Nol, Kini Jadi Rujukan Ribuan Pecinta Bola

    Perjalanan Razi dimulai dari mimpi sederhana, memberi ruang bagi pemain, klub, dan turnamen lokal yang jarang mendapat pengakuan.

    Kini, mimpi itu berbuah nyata, Akun TikTok @raziaceh07 telah menembus ratusan ribu pengikut dengan jutaan tanda suka angka yang membuktikan betapa besar rasa haus masyarakat Aceh terhadap konten sepak bola lokal yang autentik.

    Tak berhenti di TikTok, jejak digital Razi Aceh Sport juga merambah Instagram (@raziaceh07), Facebook, dan YouTube, menjadikannya salah satu pusat informasi sepak bola tarkam paling diandalkan di Aceh saat ini.

    Lebih dari Kamera: Sentuhan Kreatif di Setiap Lini

    Razi bukan sekadar “tukang rekam”. Ia adalah fotografer dan videografer yang turun langsung ke lapangan, memburu momen emosional gol penentu, selebrasi liar, hingga atmosfer tribun yang membara. Tak jarang hasil karyanya dipakai klub dan panitia turnamen sebagai materi promosi resmi.

    Kemampuannya pun melampaui lensa kamera. Razi juga piawai mendesain poster pertandingan, materi promosi turnamen, hingga logo klub membuat banyak penyelenggara sepak bola tarkam di Aceh mempercayakan kebutuhan visual mereka kepadanya karena hasilnya yang rapi, profesional, dan enak dipandang.

    Membawa Sepak Bola Kampung ke Panggung yang Lebih Besar

    Bagi Razi, setiap pemain kampung punya potensi besar asalkan diberi ruang untuk tampil. Itulah yang menjadi bahan bakar semangatnya: membawa sepak bola tarkam Aceh naik kelas, dikenal luas, bahkan menembus level nasional.

    Lewat slogan “Info Bola Tarkam Aceh”, Razi Aceh Sport terus berkomitmen menghadirkan informasi yang cepat, akurat, dan berkualitas tentang dinamika sepak bola di seluruh penjuru Aceh.

    Profil Singkat

    Nama: Razi Fakhrurrazi

    Brand Media: Razi Aceh Sport (RAS)

    Fokus: Informasi sepak bola tarkam Aceh

    Aktivitas: Live streaming, fotografi olahraga, videografi, desain poster, promosi turnamen, dan liputan sepak bola

    Visi: Menjadi media sepak bola lokal terbesar dan terpercaya di Aceh

    “Bagi saya, sepak bola bukan sekadar pertandingan, tetapi cerita, perjuangan, dan kebanggaan masyarakat Aceh. Selama masih ada pertandingan di lapangan, Razi Aceh Sport akan terus hadir untuk mendokumentasikan dan membagikannya kepada semua pecinta sepak bola.”
    Razi Fakhrurrazi

  • Kekayaan Alam Indonesia Belum Dinikmati Optimal oleh Rakyat, Ini Pengakuan Prabowo

    Kekayaan Alam Indonesia Belum Dinikmati Optimal oleh Rakyat, Ini Pengakuan Prabowo

    acehtoday.id/ | Jakarta – Kekayaan Alam Indonesia yang melimpah ternyata belum sepenuhnya memberikan manfaat maksimal bagi masyarakat.

    Dalam Pernyataan yang disampaikan Prabowo saat Upacara Peringatan Hari Lahir Pancasila, Senin (1/6/2026). Presiden Prabowo  mengakui bahwa selama bertahun-tahun sebagian nilai tambah dari sumber daya alam nasional justru lebih banyak dinikmati di luar negeri dibandingkan di dalam negeri.

    Dalam pidatonya, ia menegaskan perlunya pembenahan tata kelola sumber daya alam agar manfaat ekonomi yang dihasilkan dapat kembali kepada rakyat Indonesia.

    “Kita harus mengakui bahwa terlalu lama kekayaan kita tidak sepenuhnya bisa dimanfaatkan untuk kemakmuran rakyat, terlalu lama sebagian nilai tambah atas sumber daya kita dinikmati di luar negeri, terlalu lama rakyat kita hanya menjadi penonton di atas kekayaan bangsanya sendiri,” kata Prabowo.

    Prabowo menjelaskan bahwa Indonesia merupakan salah satu negara dengan cadangan sumber daya alam terbesar di dunia, berbagai komoditas strategis seperti nikel, tembaga, timah, emas, batu bara, logam tanah jarang, hingga kelapa sawit menjadi kekuatan utama ekonomi nasional.

    Menurutnya, Kekayaan Alam Indonesia seharusnya menjadi modal besar untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Dengan posisi sebagai produsen utama berbagai komoditas penting dunia, Indonesia memiliki peluang besar untuk memperkuat daya saing ekonomi dan menciptakan lebih banyak lapangan kerja.

    Namun hingga saat ini, potensi tersebut belum dimanfaatkan secara optimal. Sebagian besar komoditas masih diekspor dalam bentuk bahan mentah sehingga nilai tambah yang lebih besar justru dinikmati oleh negara pengimpor yang mengolahnya menjadi produk industri.

    Mengapa Rakyat Belum Menikmati Kekayaan Alam Indonesia?

    Prabowo menilai salah satu penyebab utama rakyat belum menikmati Kekayaan Alam Indonesia secara optimal adalah karena sistem pengelolaan yang selama ini belum mampu menahan nilai tambah tetap berada di dalam negeri.

    Ketika bahan mentah diekspor tanpa proses pengolahan lanjutan, keuntungan terbesar diperoleh dari industri hilir yang berada di luar Indonesia. Akibatnya, devisa, lapangan kerja, dan manfaat ekonomi lainnya tidak sepenuhnya dirasakan masyarakat.

    Selain itu, harga sejumlah komoditas strategis Indonesia selama ini lebih banyak ditentukan oleh pasar dan pihak luar negeri. Kondisi tersebut membuat posisi Indonesia sering kali hanya menjadi pemasok bahan baku bagi industri global.

    “Sudah terlalu lama harga berbagai kekayaan alam kita ditentukan oleh pihak lain, ditentukan di negara lain. Sudah terlalu lama sebagian keuntungan dari sumber daya alam mengalir ke luar negeri dan tidak tinggal di Ibu Pertiwi,” tegasnya.

    Untuk mengatasi persoalan tersebut, pemerintah mulai menata ulang tata kelola sumber daya alam nasional. Salah satu langkah yang akan diterapkan adalah kebijakan ekspor sumber daya alam melalui satu pintu.

    Prabowo mengatakan kebijakan tersebut bertujuan memperkuat pengawasan dan memastikan hasil pengelolaan sumber daya alam memberikan manfaat yang lebih besar bagi negara dan masyarakat.

    Selain itu, pemerintah juga mendorong percepatan hilirisasi dan industrialisasi. Melalui strategi ini, bahan baku yang berasal dari Kekayaan Alam Indonesia akan diolah terlebih dahulu di dalam negeri sebelum dipasarkan ke luar negeri.

    “Karena itu, pemerintah menentukan ekspor sumber daya alam satu pintu. Kita juga harus melakukan investasi besar di bidang industrialisasi berdasarkan hilirisasi,” ujarnya.

    Hilirisasi diyakini mampu menciptakan nilai tambah yang lebih tinggi, meningkatkan penerimaan negara, membuka lapangan kerja baru, dan memperkuat industri nasional.

    Prabowo menegaskan tujuan utama dari kebijakan tersebut adalah memastikan manfaat Kekayaan Alam Indonesia kembali kepada rakyat. Pemerintah ingin kekayaan alam tidak hanya menjadi sumber ekspor, tetapi juga menjadi fondasi pembangunan ekonomi yang berkelanjutan.

    Dengan penguatan hilirisasi, industrialisasi, dan tata kelola yang lebih baik, pemerintah berharap keuntungan dari sumber daya alam dapat lebih banyak dinikmati masyarakat Indonesia.

    Langkah ini juga diharapkan mampu memperkuat ketahanan ekonomi nasional sekaligus meningkatkan kesejahteraan rakyat di masa depan.

    Menurut Prabowo, Indonesia tidak boleh lagi hanya menjadi pemasok bahan mentah bagi industri dunia, selama ini, sebagian besar nilai tambah justru dinikmati negara lain yang mengolah sumber daya alam Indonesia menjadi produk bernilai tinggi.

    Karena itu, Indonesia harus mampu mengelola dan mengolah kekayaan alamnya sendiri melalui hilirisasi dan industrialisasi. Dengan cara tersebut, nilai tambah yang tercipta dapat memberikan manfaat lebih besar bagi perekonomian nasional, membuka lapangan kerja, meningkatkan penerimaan negara, serta pada akhirnya mendorong kemakmuran rakyat secara lebih merata.

  • Mualem Tolak Aceh Jadi Penonton, Minta Gas South Andaman Diolah di KEK Arun

    Mualem Tolak Aceh Jadi Penonton, Minta Gas South Andaman Diolah di KEK Arun

    acehtoday.id/ | Banda Aceh – Gas South Andaman kembali menjadi perhatian setelah Gubernur Aceh Muzakir Manaf atau Mualem meminta Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menunda persetujuan Plan of Development (PoD) I Lapangan Tangkulo di Wilayah Kerja (WK) South Andaman.

    Permintaan tersebut disampaikan melalui surat resmi Pemerintah Aceh menyusul belum tercapainya kesepakatan antara pemerintah daerah dengan operator blok, Mubadala Energy, terkait konsep pengembangan lapangan gas raksasa tersebut. 

    Menurut Mualem, Aceh menginginkan pengembangan Gas South Andaman tidak hanya berorientasi pada percepatan produksi, tetapi juga memberikan manfaat ekonomi yang lebih besar bagi daerah.

    “Kami meminta Bapak Menteri kiranya berkenan menunda penandatanganan Persetujuan PoD I Lapangan Tangkulo WK South Andaman sampai adanya kesepakatan antara Pemerintah Aceh dengan Mubadala Energy,” tulis Mualem dalam surat yang dikirim kepada Menteri ESDM.

    surat yang dikirim kepada Menteri ESDM
    surat yang dikirim kepada Menteri ESDM foto dok : ist

    Perbedaan utama antara Pemerintah Aceh dan Mubadala Energy terletak pada sistem pengolahan gas yang akan digunakan.

    Mubadala Energy mengusulkan penggunaan Floating Production Storage and Offloading (FPSO), yaitu fasilitas produksi dan pengolahan gas yang ditempatkan di laut menggunakan kapal khusus.

    Sementara itu, Pemerintah Aceh mengusulkan agar Gas South Andaman dikembangkan secara terintegrasi dengan Lapangan Layaran di masa mendatang dan memanfaatkan fasilitas pengolahan darat atau Onshore Processing Facility (OPF) yang berada di Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Arun, Lhokseumawe.

    Bagi Aceh, pengolahan gas di darat memiliki dampak ekonomi yang jauh lebih besar dibandingkan pengolahan di laut.

    Pemerintah Aceh menilai KEK Arun memiliki infrastruktur yang memadai untuk mendukung pengembangan Gas South Andaman.

    Kawasan yang pernah menjadi pusat industri LNG terbesar di Indonesia itu dinilai masih memiliki potensi besar untuk kembali menjadi motor pertumbuhan ekonomi Aceh.

    Gubernur Aceh Muzakir Manaf
    Gubernur Aceh Muzakir Manaf foto dok : ist

    Mualem menegaskan bahwa keberadaan cadangan gas besar di South Andaman harus dimanfaatkan untuk mendorong investasi baru, membuka lapangan kerja, serta memperkuat industri hilir migas di Aceh.

    “Pemerintah Aceh mengharapkan pengembangan lapangan gas ini dapat memberikan nilai tambah yang maksimal bagi masyarakat dan perekonomian daerah,” demikian salah satu poin yang menjadi dasar usulan pemerintah daerah.

    Jika pengolahan dilakukan melalui fasilitas darat, berbagai industri turunan seperti petrokimia, pupuk, energi, hingga industri berbasis gas lainnya berpeluang tumbuh di Aceh.

    Selain itu, aktivitas ekonomi di sekitar KEK Arun juga diperkirakan akan meningkat seiring masuknya investasi baru.

    Mengapa Aceh Menolak Skema FPSO?

    Secara teknis, FPSO memang menjadi pilihan yang banyak digunakan dalam industri migas modern karena lebih cepat dan efisien.

    Melalui sistem ini, gas dapat diproduksi dan diproses langsung di laut tanpa memerlukan pembangunan fasilitas pengolahan di darat.

    Namun Pemerintah Aceh menilai model tersebut berpotensi mengurangi manfaat ekonomi yang dapat dirasakan daerah.

    Apabila seluruh proses produksi dan pengolahan dilakukan di laut, peluang pengembangan industri hilir di darat menjadi lebih terbatas. Padahal Aceh telah memiliki kawasan industri dan infrastruktur pendukung yang selama ini dipersiapkan untuk pengembangan sektor energi.

    Karena itu, Pemerintah Aceh memilih memperjuangkan skema pengolahan darat sebagai bagian dari strategi pembangunan ekonomi jangka panjang.

    Gas South Andaman Jadi Taruhan Masa Depan Aceh

    dikutip ruangenergei.com dalam forum IPA Convex 2026, BPMA menyebut lebih dari 9 miliar barel setara minyak (BBOE) sumber daya migas masih menunggu untuk ditemukan di wilayah Aceh dan sekitarnya. Angka ini muncul setelah sebelumnya ditemukan sekitar 8,6 BBOE hidrokarbon in-place dari sejarah eksplorasi panjang sejak 1855.  

    “North Sumatra Basin adalah salah satu cekungan paling produktif di Indonesia, tetapi ironisnya masih under-explored di sejumlah area,” demikian salah satu poin penting dalam paparan BPMA yang dibaca ruangenergi.com

    peta migas aceh
    peta migas aceh foto : ruangenergi.com

    Cadangan Gas South Andaman disebut-sebut sebagai salah satu temuan gas terbesar di Indonesia dalam beberapa tahun terakhir.

    Bagi Pemerintah Aceh, proyek ini bukan sekadar proyek migas bernilai miliaran dolar, melainkan peluang untuk membangun kembali kejayaan industri energi di Aceh.

    Melalui surat yang juga ditembuskan kepada Presiden RI, Kepala SKK Migas, Ketua DPR RI, Ketua DPRA, hingga Wali Nanggroe Aceh, Mualem menunjukkan keseriusan pemerintah daerah dalam memperjuangkan model pengembangan yang dinilai paling menguntungkan bagi Aceh.

    Keputusan akhir kini berada di tangan pemerintah pusat. Apakah Gas South Andaman akan dikembangkan dengan skema FPSO yang lebih cepat dan efisien, atau melalui fasilitas pengolahan darat di KEK Arun yang diyakini mampu memberikan efek berganda lebih besar bagi perekonomian Aceh.

    Yang jelas, Pemerintah Aceh menegaskan satu hal: daerah tidak ingin hanya menjadi penonton dalam pengelolaan sumber daya alamnya sendiri.