acehtoday.id/ | Meulaboh – Ikan Seurukan, Limbek Kampung, Bace, hingga Cupang asli Aceh perlahan terancam hilang dari perairan Aceh. Di tengah ancaman itu, Universitas Teuku Umar (UTU) hadir dengan satu fasilitas yang tidak biasa sebuah hatchery yang tidak hanya memproduksi benih, tetapi juga menjaga warisan genetik spesies endemik, menjadikan fasilitas ini sebagai salah satu hatchery ikan lokal Aceh yang paling serius dikelola secara ilmiah.
Berlokasi di sudut kampus UTU, Meulaboh, fasilitas yang kini dikenal sebagai Aceh Native Fish Hatchery Center ini beroperasi jauh melampaui fungsi pembenihan konvensional.
Di balik gemercik air dan aroma pakan alami, para dosen, laboran, dan mahasiswa bekerja dengan sensor digital, pemetaan genetika, hingga protokol biosekuriti ketat yang mencegah patogen masuk ke kolam produksi.
Kepala Hatchery UTU, Afrizal Hendri, S.Pi., M.Si., menegaskan bahwa paradigma pembenihan modern telah bergeser jauh dari sekadar kuantitas.
“Kami mengondisikan seluruh proses secara terukur melalui pendekatan sains dan bioteknologi. Kami ingin memastikan pembudidaya mendapatkan benih unggul bersertifikat yang memiliki daya tahan tinggi dan pertumbuhan cepat, sehingga berdampak langsung pada efisiensi ekonomi mereka,” ujar Afrizal.
Proses di dalam fasilitas ini berjalan dalam alur ketat dan sistematis—dari seleksi induk unggul, pemijahan, pengumpulan telur, hingga penetasan di inkubator.
Pada fase larva yang paling kritis, benih diberi pakan alami segar berupa fitoplankton, rotifera, dan Artemia yang dikultur mandiri di dalam hatchery. Setelah melewati masa pendederan dan penyortiran ukuran, benih-benih prima itu baru dikemas dan siap didistribusikan ke pembudidaya.
Konsep Teaching Factory di Hatchery UTU
Di sisi konservasi, Afrizal tidak main-main. Spesies seperti Osteochilus jeruk (Seurukan), lele lokal Aceh (Limbek Kampung), gabus Aceh (Bace), dan Betta rubra (Cupang asli Aceh) dirawat genetikanya secara aktif agar tidak punah ditelan perubahan lingkungan.
“Jika tidak kita domestikasi dan benihkan dari sekarang, anak cucu kita mungkin hanya bisa melihat ikan endemik ini lewat foto. Kami berkomitmen menjadi benteng pertahanan terakhir keanekaragaman hayati perairan Aceh,” tegas Afrizal.
Komitmen itu diwujudkan lewat program restocking yang ditargetkan menyentuh 10.000 hingga 100.000 benih per tahun—dilepasliarkan ke sungai, waduk, dan danau di Aceh bekerja sama dengan pemerintah daerah untuk memulihkan stok alami yang mulai kritis.

Lebih jauh, UTU mengembangkan konsep Teaching Factory bertajuk “Belajar dari Industri, Berkarya untuk Negeri”. Mahasiswa ditempa langsung di lini produksi dan bisa mengantongi sertifikasi kompetensi sebelum lulus.
Program ini diperluas ke masyarakat pesisir melalui inisiatif One Village One Hatchery, yakni pendampingan agar desa-desa di Aceh mampu mandiri menyediakan benih berkualitas.
Tren kunjungan ke fasilitas ini mencerminkan reputasi yang terus tumbuh. Pada 2024, tercatat 20 hingga 30 kunjungan per tahun. Angka itu naik ke 40 hingga 50 pada 2025.
Memasuki pertengahan 2026, jumlah kunjungan sudah mencapai 60—mengindikasikan bahwa Hatchery UTU kian diperhitungkan sebagai pusat ilmu pembenihan ikan lokal di Aceh.
Dengan empat pilar utama—produksi benih lokal, restocking perairan umum, riset inovasi pembenihan, dan edukasi masyarakat—Hatchery UTU membuktikan bahwa ruang akademik bisa menjadi garda terdepan dalam menjaga masa depan ekonomi biru Aceh yang berdaulat.

Tinggalkan Balasan