acehtoday.id/ — Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) mengonfirmasi telah melancarkan serangan rudal balistik dan drone ke dua pangkalan militer Amerika Serikat di kawasan Teluk — yakni Pangkalan Udara Ali Al Salem di Kuwait dan Pelabuhan Salman, Manama, Bahrain, tempat bermarkas Armada Kelima Angkatan Laut AS. Serangan ini menandai eskalasi serius konflik AS-Iran yang tengah mengguncang kawasan Asia Barat.
Mengutip Al Jazeera, IRGC menegaskan serangan tersebut merupakan aksi balasan atas pemboman AS terhadap lima lokasi pesisir di wilayah Iran beberapa hari sebelumnya. Konfirmasi itu muncul tak lama setelah Kuwait dan Bahrain sama-sama melaporkan adanya ancaman udara bermusuhan di wilayah masing-masing.
Militer Kuwait menyatakan sistem pertahanan udaranya aktif merespons ancaman rudal dan drone musuh, seraya meminta warga mematuhi prosedur keselamatan. Di Bahrain, Kementerian Dalam Negeri setempat menginstruksikan warga untuk tetap tenang dan segera mencari tempat berlindung usai sirene berbunyi.
Tak berhenti pada serangan itu, IRGC juga mengeluarkan peringatan keras. Kelompok militer elite Iran tersebut menyatakan kendali lalu lintas Selat Hormuz kini berada di bawah otoritas Teheran, dan mengancam kapal-kapal yang melanggar akan menghadapi respons lebih berat dari sebelumnya.
Di sisi lain, Komando Pusat AS (Centcom) mengonfirmasi serangkaian serangan baru ke berbagai target di Iran, termasuk sistem komunikasi, fasilitas pertahanan udara, dan gudang drone — sebagai respons langsung atas serangan drone Iran terhadap kapal tanker berbendera Panama yang memuat lebih dari dua juta barel minyak mentah di Selat Hormuz.
Presiden AS Donald Trump pun angkat suara melalui platform Truth Social. Ia menyebut serangan terbaru AS sebagai reaksi atas pelanggaran Iran terhadap perjanjian gencatan senjata yang baru ditandatangani awal bulan ini. Trump bahkan memperingatkan bahwa jika eskalasi terus berlanjut, “Republik Islam Iran tidak akan ada lagi.”
Senada, Wakil Presiden JD Vance menegaskan Amerika telah menghormati kesepakatan gencatan senjata dan menyalahkan Iran atas potensi pecahnya kembali konflik terbuka. “Iran telah menandatangani perjanjian gencatan senjata. Kami telah menghormatinya. Tetapi kekerasan akan dibalas dengan kekerasan,” kata Vance di platform X.
Serangkaian insiden ini semakin mengoyak perjanjian gencatan senjata yang disepakati kedua negara, di tengah negosiasi nota kesepahaman (MOU) yang bertujuan mengakhiri konflik yang telah mendongkrak harga minyak global dan merenggut ribuan jiwa warga sipil.
Tinggalkan Balasan