acehtoday.id/ | Aceh Tenggara – Kebun Induk Kakao resmi diluncurkan di Aceh Tenggara, Minggu (19/7), menandai langkah baru pemerintah daerah memperkuat kakao sebagai komoditas unggulan.
Peluncuran kebun induk kakao ini digelar di lahan seluas dua hektare dan dihadiri Bupati Aceh Tenggara HM Salim Fakhry, unsur Forkopimda, jajaran pemerintah kabupaten, Swisscontact, PT Kudeungoe Sugata Indonesia, serta para petani kakao setempat.
Direktur Operasional PT Kudeungoe Sugata Indonesia, Mirza, menjelaskan kebun induk kakao dibangun sebagai sumber benih unggul bagi petani dan penangkar bibit.
Dari total dua hektare lahan, sebanyak 1,5 hektare difungsikan sebagai kebun induk yang ditanami klon unggul RHS-1, BB-01, dan MCC-02, sementara 0,5 hektare sisanya menjadi kebun entres atau sumber bahan perbanyakan bibit.
Di sela tanaman kakao, petani juga menanam kacang koro sebagai tanaman sela untuk menambah pendapatan selama menunggu masa produksi kakao.
Menurut Mirza, tingginya antusiasme petani menjadi alasan utama pembangunan kebun induk kakao tersebut. Sertifikasi kebun kini terus dikebut agar bisa segera dimanfaatkan optimal oleh petani dan penangkar bibit di Aceh Tenggara.

Bupati Salim Fakhry menyebut kehadiran kebun induk kakao sebagai langkah strategis memperkuat komoditas yang selama ini menjadi andalan daerah. Pengakuan atas kualitas kakao Aceh Tenggara pun sudah terbukti nyata: biji kakao fermentasi produksi PT Kudeungoe Sugata Indonesia berhasil masuk Top 50 Cacao of Excellence 2025, ajang penilaian kakao terbaik dunia.
“Kami bersyukur Kebun Induk Kakao dapat diluncurkan. Semoga keberadaannya mampu mendorong perkembangan kakao Aceh Tenggara semakin pesat,” ujar Salim Fakhry dikuto dari laman resmi Pemkab Aceh Tenggara.
Bupati mengapresiasi peran Swisscontact, PT Kudeungoe Sugata Indonesia, dan para petani yang mendongkrak mutu produksi hingga mampu bersaing di pasar internasional. Pemerintah Kabupaten Aceh Tenggara berkomitmen memperluas kolaborasi lintas pemangku kepentingan agar sektor kakao mendorong kesejahteraan petani sekaligus pertumbuhan ekonomi daerah.
“Kami optimistis, dalam dua hingga tiga tahun ke depan prestasi kakao Aceh Tenggara akan terus meningkat di tingkat nasional maupun internasional,” kata Salim Fakhry.
Peluncuran kebun induk kakao ini diproyeksikan menjadi fondasi penguatan sektor pertanian Aceh Tenggara yang lebih maju dan berkelanjutan, membuka peluang usaha baru, memperluas akses pasar, sekaligus meningkatkan nilai tambah komoditas kakao bagi masyarakat.
Tinggalkan Balasan