acehtoday.id/ | Banda Aceh – Pasar mobil bekas di Aceh tengah mengalami perlambatan dalam beberapa bulan terakhir. Melemahnya daya beli masyarakat serta kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) jenis Pertamax disebut menjadi faktor utama yang membuat minat masyarakat membeli mobil bekas menurun.
Owner showroom mobil bekas D Mobil ID yang berlokasi di Gampong Blang Cut, Kecamatan Lueng Bata, Kota Banda Aceh. Khalil.ia mengatakan, kondisi pasar saat ini jauh berbeda dibandingkan beberapa waktu lalu. Jika sebelumnya penjualan masih cukup stabil, kini jumlah transaksi mengalami penurunan yang cukup signifikan.
“Ekonomi masyarakat sedang melemah, ditambah lagi kenaikan harga Pertamax ikut memengaruhi keputusan konsumen untuk membeli mobil bekas,” ujarnya.
Meski demikian, ia mengingat kembali bahwa pasar mobil bekas justru sempat mengalami lonjakan permintaan pasca banjir bandang yang melanda Aceh pada 2025. Menurutnya, banyak masyarakat yang kehilangan kendaraan akibat bencana tersebut sehingga memilih membeli mobil bekas sebagai alternatif.
“Kenaikan penjualan waktu itu berlangsung cukup lama, bahkan sampai melewati dua momen Lebaran, yakni Idulfitri dan Idul Adha. Saat bulan Ramadhan, pembeli sering datang ke showroom seusai salat tarawih untuk melihat dan bertransaksi unit,” katanya.

Pasar Mobil Bekas di Aceh Tetap Bertahan
Namun, setelah momen Lebaran berakhir, tren penjualan kembali menurun. Jika sebelumnya showroom mampu mencatat rata-rata penjualan sekitar 10 unit mobil setiap bulan, kini angkanya hanya berkisar lima unit. Bahkan, dalam beberapa periode, tidak ada satu pun transaksi yang berhasil ditutup.
“Dulu bisa closing sekitar 10 unit per bulan, sekarang paling lima unit. Bahkan pernah tidak closing sama sekali,” ungkapnya.
Di tengah lesunya pasar, mobil berjenis Multi Purpose Vehicle (MPV) dan Sport Utility Vehicle (SUV) masih menjadi segmen yang paling banyak dicari konsumen di Aceh. Sementara dari sisi merek, Toyota, Honda, dan Mitsubishi tetap menjadi pilihan utama masyarakat.
Menurutnya, ketiga merek tersebut memiliki keunggulan dari sisi ketersediaan suku cadang yang melimpah serta jaringan bengkel resmi maupun bengkel umum yang mudah ditemukan di berbagai daerah di Aceh.
Ia juga menilai membeli mobil bekas masih menjadi pilihan yang lebih rasional dibandingkan membeli mobil baru, terutama bagi konsumen yang ingin menghemat anggaran.
“Harga mobil baru mengalami depresiasi cukup besar. Begitu keluar dari dealer pada hari pertama, nilainya bisa langsung turun hingga sekitar 30 persen. Sementara mobil bekas sudah melewati fase penyusutan harga terbesar, sehingga dari sisi nilai lebih menguntungkan,” jelasnya.
Meski pasar sedang melambat, pelaku usaha berharap kondisi ekonomi masyarakat dapat segera membaik sehingga daya beli kembali meningkat dan pasar mobil bekas kembali bergairah dalam waktu mendatang.
Laporan: Zaky dan Fatih
Tinggalkan Balasan