Tag: berita aceh terbaru

  • Kapolri Mutasi Kapolda Aceh, Brigjen Ruddi Setiawan Gantikan Putra Daerah Irjen Marzuki Ali Basyah

    acehtoday.id/ | Banda Aceh – Jabatan Kepala Kepolisian Daerah (Kapolda) Aceh kembali mengalami pergantian. Berdasarkan Surat Telegram Kapolri Nomor ST/1335/VI/KEP/2026 yang beredar, Irjen Pol Drs. Marzuki Ali Basyah, M.M., dimutasikan menjadi Perwira Tinggi Polda Aceh dalam rangka memasuki masa pensiun. Posisi Kapolda Aceh selanjutnya dipercayakan kepada Brigjen Pol Ruddi Setiawan, S.I.K., S.H., M.H.

    Sebelum ditunjuk memimpin Polda Aceh, Brigjen Ruddi Setiawan menjabat sebagai Kepala Pusat Penelitian dan Pengembangan (Kapuslitbang) Polri.

    Jabatan tersebut diembannya setelah memiliki pengalaman panjang di berbagai bidang kepolisian, khususnya reserse, pemberantasan narkotika, hingga pengembangan riset kepolisian.

    Bagi masyarakat Aceh, nama Ruddi Setiawan bukan sosok baru, Perwira tinggi Polri itu pernah mengemban tugas sebagai Direktur Reserse Narkoba Polda Aceh.

    Selama bertugas di Serambi Mekkah, ia terlibat dalam berbagai upaya pengungkapan jaringan narkotika, termasuk penanganan kasus peredaran narkoba lintas negara.

    Pengalaman tersebut dinilai menjadi modal penting dalam memimpin Polda Aceh yang memiliki tantangan keamanan cukup kompleks, mulai dari pemberantasan narkotika, pengamanan investasi strategis, hingga menjaga stabilitas keamanan dan ketertiban masyarakat.

    Jejak Kapolda Aceh Marzuki Ali Basyah

    Gubernur Aceh Muzakir Manaf di dampingi istri Marlina Usman menerima kunjungan silaturahmi Kepala Kepolisian Daerah Aceh Brigjen Marzuki Ali Basyah bersama keluarganya di Meuligoe Gubernur Aceh, Foto: Humas

    Sementara itu, Irjen Pol Marzuki Ali Basyah mengakhiri masa jabatannya sebagai Kapolda Aceh setelah memasuki masa pensiun.

    Putra daerah Aceh tersebut mulai menjabat sebagai Kapolda Aceh sejak Agustus 2025, menggantikan Irjen Pol Achmad Kartiko.

    Selama memimpin Polda Aceh, Marzuki Ali Basyah dikenal aktif membangun sinergi dengan pemerintah daerah, unsur Forkopimda, tokoh masyarakat, serta berbagai elemen lainnya dalam menjaga situasi keamanan yang kondusif di Aceh.

    Ia juga mengawal berbagai agenda strategis daerah, termasuk penguatan iklim investasi dan penegakan hukum.

    Tantangan Berat Bagi Brigjen Pol Ruddi Setiawan

    Pergantian Kapolda Aceh dinilai bukan sekadar rotasi jabatan rutin di tubuh Polri, Penempatan Brigjen Ruddi Setiawan jadi sinyal Mabes Polri terhadap Aceh sebagai daerah yang memiliki karakteristik keamanan tersendiri.

    Selain berada di jalur strategis perairan internasional, Aceh juga dihadapkan pada berbagai tantangan, mulai dari kejahatan lintas negara, peredaran narkotika, pengamanan objek vital dan investasi, hingga dinamika sosial dan Partai Politik local yang membutuhkan pendekatan hukum secara tegas namun tetap humanis.

    Brigjen Ruddi Setiawan tidak hanya dituntut menjaga stabilitas keamanan, tetapi juga membuktikan bahwa pergantian kepemimpinan mampu menghadirkan perubahan nyata.

    Publik Aceh menanti langkah tegas dalam memberantas kejahatan tanpa pandang bulu, memperkuat profesionalisme anggota di lapangan, serta membangun kembali kepercayaan masyarakat terhadap institusi kepolisian yang dalam beberapa waktu terakhir kerap menjadi bahan evaluasi publik.

    Jejak Karier Brigjen Pol Ruddi Setiawan, Kapolda Aceh yang Baru

    Brigjen Pol Ruddi Setiawan, S.I.K., S.H., M.H., merupakan perwira tinggi Polri lulusan Akademi Kepolisian (Akpol) 1996 yang dikenal memiliki pengalaman panjang di bidang reserse, khususnya pemberantasan narkotika dan tindak pidana khusus. Sebagian besar perjalanan kariernya dihabiskan sebagai penyidik dan pejabat operasional, mulai dari Polda Metro Jaya, Bareskrim Polri, hingga Badan Narkotika Nasional (BNN).

    Sebelum dipercaya memimpin Polda Aceh, Ruddi menjabat sebagai Kepala Pusat Penelitian dan Pengembangan (Kapuslitbang) Polri.

    Jabatan tersebut diembannya setelah sebelumnya menduduki sejumlah posisi strategis di BNN, di antaranya Direktur Intelijen BNN RI dan Direktur Narkotika BNN RI.

    Pengalaman tersebut memperkuat kapasitasnya dalam penanganan kejahatan narkotika, baik di tingkat nasional maupun lintas negara.

    Nama Ruddi bukan sosok baru bagi masyarakat Aceh. Pada 2021, ia dipercaya menjabat sebagai Direktur Reserse Narkoba Polda Aceh. Selama bertugas di Tanah Rencong, ia memimpin berbagai operasi pemberantasan narkotika dan pengungkapan jaringan peredaran narkoba yang melibatkan sindikat nasional maupun internasional.

    Kini, setelah kembali ke Aceh sebagai Kapolda, Brigjen Ruddi membawa bekal pengalaman yang lebih lengkap, mulai dari penegakan hukum, pemberantasan narkotika, intelijen, hingga penyusunan kebijakan berbasis riset di lingkungan Polri.

    Pengalaman tersebut diharapkan menjadi modal penting dalam menghadapi berbagai tantangan keamanan di Aceh, termasuk pemberantasan narkoba, kejahatan lintas negara, pengamanan investasi strategis, serta menjaga situasi keamanan dan ketertiban masyarakat tetap kondusif.

  • Pria Putus Tangan di Kajhu Keluar dari RS, YARA: Laporan Tetap Berlanjut

    acehtoday.id/ | Banda Aceh – BT (52), pria asal Kajhu, Kabupaten Aceh Besar, yang mengalami putus tangan dalam kasus dugaan pencurian, kini berangsur pulih dan telah diperbolehkan pulang setelah menjalani serangkaian perawatan intensif di Rumah Sakit Umum Daerah dr. Zainoel Abidin (RSUDZA) Banda Aceh.

    Kepala Perwakilan Yayasan Advokasi Rakyat Aceh (YARA) Aceh Besar, Muhammad Nur, mengatakan BT telah menjalani tiga kali operasi penanganan pada tangan kanannya yang mengalami cedera parah.

    “Tangannya tidak dapat disambung lagi saat operasi ketiga, namun BT sudah bisa pulang,” kata Muhammad Nur kepada acehtoday.id/, Kamis (25/6/2026).

    Menurutnya, pada operasi pertama dan kedua, tim medis masih berupaya menyambungkan kembali bagian tangan yang terputus. Namun, kondisi jaringan yang terus memburuk membuat upaya tersebut tidak berhasil dipertahankan.

    Saat operasi ketiga, dokter akhirnya memutuskan melakukan amputasi karena jaringan pada tangan BT sudah mengalami kerusakan berat.

    “Kondisi tangannya sudah membusuk saat operasi ketiga sehingga diamputasi,” ujarnya.

    Meski demikian, kondisi kesehatan BT disebut terus menunjukkan perkembangan positif. Saat ini, ia hanya perlu menjalani rawat jalan secara berkala di RSUDZA.

    “Sekarang berobat jalan tiga hari sekali ke RSUDZA,” tambahnya.

    Sementara itu, YARA memastikan proses hukum terkait kasus tersebut masih terus berjalan. Darmiati, istri BT, sebelumnya telah melaporkan pihak yang diduga memotong tangan suaminya ke Polda Aceh atas dugaan tindak pidana penganiayaan berat.

    “Mengenai laporan sedang berlanjut,” pungkas Muhammad Nur.

    Awal Mula Kejadian di Kajhu

    Sebelumnya, BT diduga melakukan pencurian di kawasan Kajhu Aceh Besar, dalam peristiwa tersebut BT mengalami putus tangan dan kemudian menjalani perawatan medis di RSUDZA. Darmiati selanjutnya melaporkan pihak yang diduga memotong tangan suaminya ke Polda Aceh dengan dugaan tindak pidana penganiayaan berat.

    Darmiati tidak menerima suaminya mendapat penganiayaan setelah kepergok warga hingga berujung satu tangannya terputus. Darmiati yang didampingi Ketua YARA Aceh Besar, Muhammad Nur dan Advokat, Muzakir, resmi melaporkan kasus tersebut ke Polda Aceh, pada Senin (15/6/2026).

    Muzakir menceritakan kronologi kejadian saat Darmiati diberitahu oleh seorang warga bahwa tangan suaminya telah dibacok. Mendengar itu, Darmiati bergegas ke lokasi pembacokan dan diberitahu kalau suaminya telah dibawa ke Polsek Baitussalam.

    Sesampainya di Polsek Baitussalam, suami Darmiati ternyata telah dibawa ke RSUDZA Banda Aceh dan Darmiati mendapati suaminya yang telah pingsan dengan kondisi tangan kanan terputus di ranjang rumah sakit.

    “Di rumah sakit diserahterimakan suami klien kepada klien kami. Katanya, suaminya ini telah ditetapkan sebagai tersangka. Tapi atas perkara apa juga tidak disebut, pun tidak diberi surat penetapan tersangka,” ujar Muzakir.

    Muhammad Nur menekankan pelaporan ini berfokus pada tindak penganiayaan yang diterima oleh suami Darmiati, terlepas dari dugaan berbagai kasus yang beredar di masyarakat.Adapun pihak keluarga menduga pelaku penganiayaan berat yang menyebabkan tangan suami Darmiati putus adalah seorang oknum kepolisian. “Keluarga menduga yang melakukannya adalah oknum polisi,” pungkasnya. Hingga kini, penyelidikan atas laporan yang diajukan keluarga korban masih berlangsung di Polda Aceh.

    Pria Putus Tangan di Kajhu Keluar dari RS, YARA: Laporan Tetap Berlanjut
    Darmiati (tengah), istri seorang pria terduga pelaku pencurian di Kajhu, Aceh Besar, yang berujung tangannya terputus. (acehtoday.id/Elza

     

     

  • Saat Kota Baru Terbangun, Warung Kopi Banda Aceh Sudah Lebih Dulu Hidup

    acehtoday.id/ | Banda Aceh – Warung kopi Banda Aceh sudah mulai ramai ketika langit masih menyisakan warna gelap menjelang pagi.

    Lampu-lampu warung menyala sejak usai salat Subuh, sementara jarum jam bahkan belum menunjukkan pukul 06.00 WIB, namun kursi-kursi di sejumlah kedai sudah terisi.

    Asap tipis dari secangkir kopi hitam mengepul, menemani obrolan ringan yang mengalir di antara para pelanggan.

    Di kota yang dikenal sebagai salah satu pusat budaya kopi di Indonesia ini, warung kopi bukan sekadar tempat menikmati minuman berkafein.

    Ia telah menjadi ruang sosial yang hidup sejak pagi buta, bahkan sebelum sebagian besar aktivitas kota dimulai.

    Usai salat Subuh, sejumlah warga langsung menuju warung kopi langganan. Ada yang datang sendiri sambil membaca berita di ponsel, ada pula yang berkumpul bersama rekan kerja atau sahabat untuk berbincang tentang berbagai hal, mulai dari harga kebutuhan pokok, sepak bola, hingga isu-isu politik terbaru.

    Pemandangan seperti ini bukanlah hal baru. Budaya ngopi pagi telah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Banda Aceh selama puluhan tahun.

    Di banyak sudut kota, aktivitas warung kopi bahkan dimulai ketika jalanan masih lengang dan toko-toko belum membuka pintunya.

    Bagi sebagian warga, secangkir kopi pagi bukan sekadar pelepas kantuk. Ritual itu menjadi cara memulai hari.

    Aroma kopi yang khas, suasana santai, dan kesempatan bertemu banyak orang menjadikan warung kopi sebagai tempat yang sulit dipisahkan dari keseharian masyarakat Aceh.

    Saat Kota Baru Terbangun, Warung Kopi Banda Aceh Sudah Lebih Dulu Hidup
    Secangkir kopi hitam hangat menemani pagi di salah satu warung kopi Banda Aceh. Budaya ngopi menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan masyarakat Aceh. Foto : acehtoday.id/-Nandar

    Warung Kopi Banda Aceh Jadi Pusat Pertemuan semua Kalangan

    Di meja-meja kayu sederhana maupun kafe modern, berbagai kalangan bercampur tanpa sekat.

    Pegawai negeri, pedagang, mahasiswa, sopir angkutan, hingga pensiunan duduk berdampingan menikmati kopi favorit mereka.

    Perbedaan profesi dan latar belakang seolah melebur dalam hangatnya suasana pagi.

    Tak sedikit pula yang memanfaatkan waktu ngopi untuk bekerja. Dengan fasilitas internet yang tersedia hampir di setiap kedai, warung kopi kini berkembang menjadi ruang produktif.

    Laptop terbuka di atas meja, sementara secangkir sanger atau kopi arabika menjadi teman menyelesaikan berbagai pekerjaan.

    Fenomena ini menunjukkan bagaimana warung kopi di Banda Aceh terus beradaptasi dengan perkembangan zaman tanpa kehilangan fungsi utamanya sebagai ruang interaksi sosial.

    Meski teknologi mengubah cara orang berkomunikasi, budaya bertemu langsung di warung kopi tetap bertahan.

    Bahkan bagi para pelaku usaha, ramainya pengunjung sejak pagi menjadi berkah tersendiri. Aktivitas ekonomi bergerak lebih awal.

    Dari penjual kopi, penyedia roti canai, hingga pedagang kue tradisional, semuanya mendapat manfaat dari budaya ngopi yang kuat di tengah masyarakat.

    Saat matahari mulai meninggi dan lalu lintas kota semakin padat, sebagian pelanggan beranjak meninggalkan meja mereka.

    Ada yang menuju kantor, pasar, kampus, atau tempat usaha masing-masing. Namun satu hal tetap sama, hari mereka telah dimulai dari warung kopi.

    Di Banda Aceh, ketika sebagian kota masih terlelap, warung kopi sudah lebih dulu hidup.

    Dari tempat inilah percakapan dimulai, informasi bertukar, hubungan sosial terjalin, dan denyut kehidupan kota perlahan bergerak menyambut pagi.

    Suasana subuh di sebuah warung kopi Banda Aceh. Tradisi menikmati kopi sebelum memulai aktivitas telah menjadi bagian dari budaya masyarakat Aceh selama puluhan tahun. Foto : Dewantara Kupi Maps
  • Inflasi Aceh Naik 0,60 Persen Mei 2026, Tomat dan Cabai Jadi Pemicu

    Inflasi Aceh Naik 0,60 Persen Mei 2026, Tomat dan Cabai Jadi Pemicu

    acehtoday.id/ | Banda Aceh – Badan Pusat Statistik (BPS) Aceh menyebut kenaikan harga beberapa komoditas utama menjelang Hari Raya Idul Adha menjadi faktor naiknya inflasi Aceh bulanan (m-to-m) pada Mei 2026.

    Kepala BPS Aceh, Agus Andria mengatakan komoditas utama yang menjadi andil inflasi bulanan di Aceh diantaranya tomat sebesar 0,30 persen, cabai merah 0,19 persen, bahan bakar rumah tangga 12 persen, minyak goreng 0,04 persen dan nasi dengan lauk 0,03 persen.

    Sementara komoditas yang menjadi andil deflasi bulanan yakni daging ayam ras, ikan tongkol, ikan dencis, emas perhiasan, dan telur ayam ras.

    “Harga-harga komoditas tersebut cenderung tinggi disebabkan pasokan yang terbatas namun permintaan tinggi menjelang momen meugang dan hari raya Idul Adha,” kata Agus saat dikonfirmasi, Rabu (3/6/2026).

    Inflasi Aceh Mei 2026 Didominasi Kenaikan Harga Bahan Pangan

    Selain itu, kelompok pengeluaran yang memberikan andil besar terhadap inflasi bulanan (m-to-m) adalah kelompok makanan, minuman, dan tembakau. Kelompok ini mengalami inflasi sebesar 0,96 persen dengan kontribusi terhadap inflasi sebesar 0,37 persen pada bulan Mei 2026.

    Adapun secara tahunan (y-on-y), kelompok makanan, minuman, dan tembakau mengalami inflasi sebesar 6,89 persen dengan kontribusi tertinggi terhadap inflasi yaitu sebesar 2,59 persen.

    Menurut Agus pada bulan Mei 2025, Aceh juga mengalami deflasi bulanan yang menyebabkan perubahan Indeks Harga Konsumen (IHK) cukup tinggi dibandingkan pada Mei 2026 sehingga perubahan angka inflasi tahunan (y-on-y) cukup tinggi.

    BPS Aceh juga mencatat provinsi Aceh mengalami inflasi sebesar 0,60 persen pada Mei 2026. Sementara inflasi tahunan di provinsi Aceh sebesar 5,12 persen.

    Berdasarkan pantauan BPS Aceh, lima kabupaten/kota di provinsi Aceh mengalami inflasi tahunan (y-on-y) tertinggi diantaranya Aceh Tengah sebesar 6,09 persen, Meulaboh 3,99 persen, Aceh Tamian 5,69 persen, Banda Aceh 4,77 persen dan Lhokseumawe 4,62 persen.

    Sementara wilayah Kabupaten/kota yang mengalami inflasi tertinggi bulanan (m-to-m) pada Mei 2026 diantaranya Banda Aceh sebesar 0,93 persen, Meulaboh 0,64 persen, Aceh Tengah 0,61 persen, Aceh Tamiang 0,42 persen dan Lhokseumawe 0,03 persen.

    Agus juga menyebut komoditas di Kota Banda Aceh yang menjadi andil inflasi bulanan diantaranya tomat, bahan bakar rumah tangga,cabai merah, nasi dengan lauk, ikan cakalang, dan daging sapi.

     

    Banda Aceh - Badan Pusat Statistik (BPS) Aceh menyebut kenaikan harga beberapa komoditas utama menjelang Hari Raya Idul Adha menjadi faktor naiknya inflasi Aceh bulanan (m-to-m) pada Mei 2026.
    Komoditas tomat di Pasar (acehtoday.id/-Elza)

    Selain itu, komoditas nasi dengan lauk menjadi salah satu andil inflasi di kota Banda Aceh yang didorong oleh kenaikan harga bahan baku pangan dan harga bahan bakar rumah tangga.

    “Momentum Idul Adha tentu memberikan pengaruh pada pola konsumsi masyarakat yang berpengaruh pada permintaan sejumlah komoditas tertentu seperti daging sapi, cabai merah, tomat, dan bawang merah. Pasokan yang terbatas tentu mendorong kenaikan harga komoditas-komoditas tersebut pada momentum Idul Adha,” pungkas Agus.

  • DBD di Banda Aceh Berpotensi Meningkat Saat Musim Hujan, Dinkes Kota Keluarkan Himbaun

    DBD di Banda Aceh Berpotensi Meningkat Saat Musim Hujan, Dinkes Kota Keluarkan Himbaun

    acehtoday.id/ |Banda Aceh — Ancaman kasus Demam Berdarah Dengue (DBD) di Banda Aceh berpotensi meningkat seiring prakiraan hujan sedang hingga lebat yang dikeluarkan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Aceh pada Selasa (2/6/2026).

    Curah hujan yang tinggi dapat memicu munculnya genangan air di lingkungan pemukiman warga yang menjadi tempat berkembang biak nyamuk Aedes aegypti, vektor utama penyebab DBD dan Chikungunya.

    Menyikapi kondisi tersebut, Dinas Kesehatan Kota Banda Aceh mengimbau masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan dan memperkuat langkah pencegahan DBD di lingkungan rumah masing-masing. Upaya pemberantasan sarang nyamuk secara rutin dinilai menjadi kunci penting untuk menekan risiko penularan penyakit selama musim hujan berlangsung.

    Entomolog Ahli Madya Dinas Kesehatan Kota Banda Aceh, Darmansyah, mengatakan pencegahan penyakit DBD harus dimulai dari lingkungan rumah tangga, terutama dengan memperhatikan tempat-tempat yang berpotensi menjadi sarang nyamuk.

    “Kita mulai dari bak mandi, vas bunga bahkan kaleng-kaleng bekas di rumah,” ujar Darmansyah kepada acehtoday.id/, Selasa (2/6/2026).

    Menurutnya, langkah sederhana tersebut sering kali dianggap sepele oleh masyarakat, padahal memiliki peran besar dalam mengendalikan populasi nyamuk penyebab DBD.

    Darmansyah menjelaskan pihaknya terus mengimbau masyarakat dan kader kesehatan desa untuk rutin melakukan survei jentik nyamuk setiap bulan guna menekan angka kasus DBD di Kota Banda Aceh.

    “Kita mengharuskan kader selama sebulan untuk melakukan survei, paling minimal seratus rumah di desanya masing-masing,” ungkapnya.

    Kegiatan survei jentik tersebut menjadi bagian penting dalam mendeteksi dini keberadaan larva nyamuk sehingga tindakan pencegahan dapat dilakukan sebelum berkembang menjadi ancaman kesehatan masyarakat.

    Ancaman kasus Demam Berdarah Dengue (DBD) di Banda Aceh berpotensi meningkat seiring prakiraan hujan sedang hingga lebat yang dikeluarkan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Aceh pada Selasa (2/6/2026).

    Kasus DBD di Banda Aceh Cenderung Menurun

    Berdasarkan data Dinas Kesehatan Provinsi Aceh, Kota Banda Aceh mencatat sebanyak 339 kasus DBD pada tahun 2024. Jumlah tersebut menurun menjadi 258 kasus sepanjang tahun 2025.

    Sementara hingga April 2026, jumlah kasus yang tercatat sebanyak 35 kasus. Meski menunjukkan tren penurunan, masyarakat tetap diminta meningkatkan kewaspadaan mengingat musim hujan berpotensi mempercepat perkembangbiakan nyamuk.

    Gerakan 3M Plus untuk Cegah DBD

    Dinas Kesehatan Kota Banda Aceh mengajak masyarakat menerapkan Gerakan 3M Plus secara rutin di lingkungan rumah.

    Kuras

    • Bersihkan bak mandi dan wadah penampungan air minimal satu kali dalam seminggu.

    Tutup

    • Tutup rapat seluruh tempat penyimpanan air seperti ember, drum, dan tangki air.

    Daur Ulang

    • Kubur atau manfaatkan kembali barang bekas yang dapat menampung air hujan.

    Plus

    • Taburkan larvasida atau abate pada tempat penampungan air yang sulit dikuras.

    Selain Gerakan 3M Plus, masyarakat juga diminta memperhatikan kebersihan lingkungan sekitar rumah.

    • Membersihkan saluran air dan parit yang tersumbat agar tidak terjadi genangan.
    • Memangkas semak-semak dan tanaman rimbun yang berpotensi menjadi tempat istirahat nyamuk.
    • Menghindari kebiasaan menggantung pakaian bekas pakai di dalam kamar karena dapat menjadi tempat hinggap nyamuk.

    Untuk perlindungan tambahan, warga disarankan:

    • Menggunakan losion atau cairan anti-nyamuk pada kulit yang terbuka.
    • Memasang kelambu terutama untuk bayi, anak-anak, dan lansia.
    • Memasang kawat kasa pada ventilasi dan jendela rumah guna mencegah nyamuk masuk ke dalam rumah.

    Segera Periksa Jika Muncul Gejala

    Masyarakat diimbau untuk tidak mengabaikan gejala awal yang mengarah pada Demam Berdarah Dengue (DBD) maupun Chikungunya. Apabila anggota keluarga mengalami demam tinggi secara mendadak selama dua hingga tujuh hari, disertai nyeri sendi dan otot yang hebat, sakit kepala, mual, muntah, atau muncul bintik-bintik merah pada kulit, segera lakukan pemeriksaan ke puskesmas, klinik, atau fasilitas kesehatan terdekat untuk mendapatkan penanganan medis sedini mungkin.

    Deteksi dan penanganan sejak awal sangat penting untuk mencegah kondisi pasien menjadi lebih parah serta mengurangi risiko komplikasi yang dapat mengancam keselamatan jiwa.

    Masyarakat juga diharapkan tidak melakukan pengobatan sendiri tanpa konsultasi tenaga kesehatan apabila gejala terus berlanjut.

    Kewaspadaan dini, penerapan pola hidup bersih dan sehat, serta menjaga kebersihan lingkungan secara konsisten melalui pemberantasan sarang nyamuk menjadi langkah paling efektif dalam melindungi keluarga dari ancaman DBD dan Chikungunya selama musim hujan di wilayah Banda Aceh, Aceh Besar, dan Sabang.

    Dengan partisipasi aktif seluruh masyarakat, penyebaran penyakit yang ditularkan nyamuk dapat ditekan sehingga risiko terjadinya peningkatan kasus dapat diminimalkan.

  • Usai Lebaran Haji, Harga Emas di Banda Aceh Masih Betah di Level Tinggi, Tembus Rp7,96 Juta per Mayam

    Usai Lebaran Haji, Harga Emas di Banda Aceh Masih Betah di Level Tinggi, Tembus Rp7,96 Juta per Mayam

    acehtoday.id/ | Banda Aceh – Harga emas di Banda Aceh pasca Hari Raya Idul Adha 1447 Hijriah masih bertahan di level tinggi.Berdasarkan informasi dari Toko Emas Bina Nusa, harga emas perhiasan saat ini mencapai Rp7.960.000 per mayam, belum termasuk biaya pembuatan.

    Tingginya harga emas Banda Aceh tersebut menunjukkan bahwa minat masyarakat terhadap investasi logam mulia masih cukup kuat di tengah dinamika pasar global maupun nasional.

    Selain harga emas perhiasan, konsumen juga perlu memperhitungkan ongkos pembuatan yang berkisar antara Rp100.000 hingga Rp200.000 per mayam.

    Besaran biaya tersebut bergantung pada tingkat kerumitan desain dan proses pengerjaan perhiasan yang dipesan.

    Rincian Harga Emas Banda Aceh Hari Ini

    Berdasarkan pantauan di Toko Emas Bina Nusa, berikut rincian harga emas terbaru:

    Harga Emas Perhiasan

    • Harga jual: Rp7.960.000 per mayam
    • Ongkos pembuatan: Rp100.000 – Rp200.000

    Harga Emas Logam Mulia (LM)

    • Harga jual: Rp2.510.000 per gram
    • Harga beli kembali (buyback): Rp2.440.000 per gram

    Harga Emas Lokal

    • Harga jual: Rp2.400.000 per gram
    • Harga beli: Rp2.340.000 per gram

    Faktor yang Mempengaruhi Harga Emas di Banda Aceh

    Kondisi harga emas Banda Aceh yang masih berada di level tinggi menjadi perhatian masyarakat, khususnya bagi mereka yang ingin membeli perhiasan maupun berinvestasi dalam bentuk logam mulia.

    Dalam beberapa waktu terakhir, pergerakan harga emas dipengaruhi oleh berbagai faktor, mulai dari kondisi ekonomi global, nilai tukar mata uang, hingga permintaan pasar terhadap logam mulia.

    Karena itu, masyarakat yang berencana membeli atau menjual emas disarankan untuk terus memantau perkembangan harga agar dapat mengambil keputusan yang tepat.

    Pihak Toko Emas Bina Nusa mengingatkan bahwa harga emas Banda Aceh dapat berubah sewaktu-waktu mengikuti perkembangan pasar dan pergerakan harga logam mulia dunia.

    Perubahan harga tersebut dapat terjadi setiap hari, bahkan dalam waktu yang relatif singkat, tergantung kondisi pasar yang sedang berlangsung.

    Masyarakat diimbau untuk melakukan konfirmasi harga terbaru sebelum melakukan transaksi pembelian maupun penjualan emas guna memperoleh informasi yang akurat dan terkini.

  • Pendaki Hilang di Gunung Seulawah Aceh Besar, Basarnas Kerahkan Drone Thermal dan Anjing Pelacak

    Pendaki Hilang di Gunung Seulawah Aceh Besar, Basarnas Kerahkan Drone Thermal dan Anjing Pelacak

    acehtoday.id/ | Aceh Besar – Seorang pendaki hilang di Gunung Seulawah, Kabupaten Aceh Besar, dilaporkan belum ditemukan hingga Selasa (2/6/2026). Korban diketahui bernama Faiz Hidayat (23), warga Desa Paloh Gadeng, Kecamatan Dewantara, Kabupaten Aceh Utara.

    Kepala Kantor Pencarian dan Pertolongan (Basarnas) Banda Aceh, Al Hussain, mengatakan pihaknya menerima laporan mengenai pendaki hilang di Gunung Seulawah tersebut pada pukul 06.30 WIB dari personel Polsek Lembah Seulawah.

    “Setelah menerima laporan, pada pukul 06.45 WIB tim rescue Basarnas Banda Aceh langsung dikerahkan menuju lokasi untuk melakukan pencarian terhadap korban,” kata Al Hussain.

    Kronologi Pendaki Hilang di Gunung Seulawah

    Berdasarkan informasi yang diperoleh, korban mendaki Gunung Seulawah bersama rekannya pada Minggu (31/5/2026). Korban terakhir terlihat berada di area puncak sekitar pukul 12.30 WIB.

    Namun saat rombongan bersiap turun dari gunung, korban sudah tidak berada di lokasi. Rekan-rekan korban kemudian melakukan pencarian di sekitar titik terakhir korban terlihat, tetapi hasilnya belum membuahkan hasil.

    Hingga laporan diterima Basarnas Banda Aceh, keberadaan pendaki hilang di Gunung Seulawah tersebut masih belum diketahui.

    Basarnas Kerahkan Drone Thermal dan Anjing Pelacak

    Dalam operasi pencarian ini, Basarnas Banda Aceh mengerahkan berbagai peralatan pendukung guna mempercepat proses pencarian korban.

    Selain personel Basarnas, operasi pencarian juga melibatkan unsur TNI, Polri, Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA), relawan, serta masyarakat setempat.

    Basarnas Banda Aceh menyatakan pencarian terhadap pendaki hilang di Gunung Seulawah akan terus dilakukan secara intensif dengan menyisir jalur pendakian, kawasan hutan, serta sejumlah titik yang diduga menjadi lokasi keberadaan korban.

    Tim SAR gabungan berharap korban dapat segera ditemukan dalam keadaan selamat sehingga dapat dipulangkan kepada pihak keluarga.

    Masyarakat yang memiliki informasi terkait keberadaan korban juga diimbau untuk segera melaporkannya kepada petugas guna membantu proses pencarian yang sedang berlangsung.

  • Korban Terseret Arus di Pulau Nasi Aceh Besar Ditemukan Meninggal pada Hari Keempat Pencarian

    Korban Terseret Arus di Pulau Nasi Aceh Besar Ditemukan Meninggal pada Hari Keempat Pencarian

    acehtoday.id/ | Aceh Besar – Korban terseret arus di Pulau Nasi, Kecamatan Pulo Aceh, Kabupaten Aceh Besar, akhirnya ditemukan oleh Basarnas Banda Aceh pada hari keempat operasi pencarian, Selasa (2/6/2026).

    Korban diketahui bernama Ahmad Thalha Reza (21), warga Pulau Nasi. Ia ditemukan dalam kondisi meninggal dunia setelah sebelumnya dilaporkan hilang saat memancing di kawasan perairan Pulau Nasi.

    Kepala Basarnas Banda Aceh, Al Hussain, mengatakan korban ditemukan sekitar pukul 10.15 WIB di kawasan Pantai Pulau Deudap.

    “Korban ditemukan sekitar pukul 10.15 WIB dalam kondisi terdampar di Pantai Pulau Deudap, tidak jauh dari lokasi kejadian awal,” ujar Al Hussain.

    Kronologi Korban Terseret Arus di Pulau Nasi

    Peristiwa nahas yang menyebabkan korban terseret arus di Pulau Nasi terjadi pada Sabtu (30/5/2026) sekitar pukul 18.30 WIB.

    Saat itu, korban bersama tiga rekannya sedang memancing di tebing sekitar Pulau Nasi. Ketika mencoba menaikkan ikan hasil pancingannya, korban diduga terpeleset dan jatuh ke laut sebelum akhirnya terseret arus yang cukup kuat.

    Rekan-rekan korban kemudian berupaya melakukan pencarian, namun korban tidak berhasil ditemukan. Laporan kejadian diterima Basarnas Banda Aceh pada pukul 21.00 WIB di hari yang sama.

    Sejak menerima laporan, Basarnas Banda Aceh bersama tim SAR gabungan langsung melakukan pencarian intensif di sekitar lokasi kejadian.

    Memasuki hari keempat operasi, pencarian dibagi menjadi dua tim. Tim pertama melakukan penyisiran menggunakan satu unit Rigid Inflatable Boat (RIB) ke arah timur laut sejauh 15 mil laut.

    Sementara itu, tim kedua melakukan pencarian ke arah timur menggunakan boat nelayan dengan radius pencarian yang sama. Upaya pencarian tersebut akhirnya membuahkan hasil setelah korban ditemukan di kawasan Pantai Pulau Deudap.

    Setelah korban terseret arus di Pulau Nasi berhasil ditemukan, operasi pencarian dan pertolongan resmi diusulkan untuk ditutup pada pukul 10.45 WIB.

    Seluruh unsur SAR yang terlibat dalam operasi tersebut kemudian dikembalikan ke instansi masing-masing.

    Basarnas Banda Aceh turut menyampaikan belasungkawa kepada keluarga korban dan mengimbau masyarakat yang beraktivitas di wilayah perairan untuk selalu mengutamakan keselamatan, terutama saat kondisi cuaca dan arus laut tidak menentu.

  • Kerja Sama Aceh UEA 2026, Wagub Fadhlullah Jajaki Investasi Lingkungan dan Pariwisata

    Kerja Sama Aceh UEA 2026, Wagub Fadhlullah Jajaki Investasi Lingkungan dan Pariwisata

    acehtoday.id/ | Jakarta – Kerja Sama Aceh UEA menjadi fokus utama dalam pertemuan Wakil Gubernur Aceh Fadhlullah dengan Duta Besar Uni Emirat Arab (UEA) untuk Indonesia, Abdulla Salem Al-Dhaheri, di Kedutaan Besar UEA, Jakarta, Senin (25/5/2026).

    Pertemuan tersebut membahas berbagai peluang kerja sama Aceh UEA di sektor lingkungan hidup, energi, investasi, hingga pengembangan pariwisata yang diharapkan mampu mendorong pertumbuhan ekonomi daerah dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat Aceh.

    Fadhlullah menegaskan pentingnya kolaborasi internasional dalam mendukung pembangunan berkelanjutan di Aceh. Salah satu isu yang menjadi perhatian adalah upaya menjaga kelestarian kawasan hutan dan ekosistem Gunung Leuser yang dikenal sebagai salah satu paru-paru dunia.

    Menurutnya, kerja sama dengan negara sahabat seperti Uni Emirat Arab dapat memperkuat program konservasi lingkungan sekaligus membuka peluang investasi hijau yang memberikan manfaat bagi masyarakat lokal.

    Dalam pembahasan tersebut, kedua pihak turut menjajaki peluang kerja sama Aceh UEA di sektor energi, termasuk pengembangan energi terbarukan yang memiliki potensi besar di Aceh.

    Selain itu, pemberdayaan ekonomi masyarakat juga menjadi perhatian. Pemerintah Aceh berharap kemitraan dengan UEA dapat menghadirkan investasi yang berdampak langsung terhadap penciptaan lapangan kerja dan peningkatan kesejahteraan masyarakat.

    Fadhlullah menilai Aceh memiliki sumber daya alam yang melimpah serta potensi energi bersih yang dapat dikembangkan melalui sinergi dengan mitra internasional.

    Kerja Sama Aceh UEA Dorong Pengembangan Pariwisata Sabang

    Selain lingkungan dan energi, kerja sama Aceh UEA juga diarahkan pada pengembangan sektor pariwisata, khususnya kawasan Sabang yang dinilai memiliki daya tarik besar bagi wisatawan mancanegara.

    Pengembangan wisata bahari, ekowisata, serta pembangunan infrastruktur pendukung menjadi bagian dari pembahasan dalam pertemuan tersebut.

    Pemerintah Aceh berharap dukungan investasi dari UEA dapat mempercepat pengembangan destinasi wisata unggulan yang mampu meningkatkan kunjungan wisatawan dan menggerakkan ekonomi lokal.

    Menurut Fadhlullah, potensi pariwisata Aceh masih sangat terbuka untuk dikembangkan. Karena itu, kerja sama dengan investor dan mitra internasional menjadi langkah strategis untuk memperkenalkan Aceh ke pasar global.

    Ia optimistis hubungan yang terjalin antara Pemerintah Aceh dan Uni Emirat Arab dapat membuka peluang baru di berbagai sektor pembangunan, mulai dari lingkungan hidup, energi terbarukan, hingga industri pariwisata yang berkelanjutan.

  • Hari Lahir Pancasila 2026, Pesan Persatuan Menggema dari Serambi Mekkah

    Hari Lahir Pancasila 2026, Pesan Persatuan Menggema dari Serambi Mekkah

    acehtoday.id/ | Banda Aceh –Hari Lahir Pancasila 2026 Aceh diperingati melalui upacara khidmat yang digelar di halaman Kantor Gubernur Aceh, Senin (1/6/2026).

    Momentum tersebut dimanfaatkan Pemerintah Aceh untuk mengirim pesan kuat tentang pentingnya menjaga persatuan bangsa di tengah berbagai tantangan global yang terus berkembang.

    Upacara dipimpin oleh Sekretaris Daerah (Sekda) Aceh, M. Nasir, dan diikuti unsur Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) Aceh, seluruh kepala Satuan Kerja Perangkat Aceh (SKPA), aparatur sipil negara (ASN), serta Korps Musik TNI Kodam Iskandar Muda.

    Pemerintah Aceh memperingati Hari Lahir Pancasila Tahun 2026 dengan menegaskan pentingnya menjaga persatuan bangsa di tengah berbagai tantangan global yang terus berkembang.
    Sekda Aceh, M. Nasir, S.IP, MPA, menyampaikan amanat saat bertindak sebagai Inspektur Upacara Peringatan Hari Lahir Pancasila di halaman Kantor Gubernur Aceh, Banda Aceh, Senin (1/6/2026). Foto dok.IST

    Peringatan Hari Lahir Pancasila 2026 Aceh berlangsung dengan penuh khidmat, seluruh peserta mengikuti rangkaian upacara sebagai bentuk penghormatan terhadap nilai-nilai Pancasila yang menjadi dasar negara sekaligus pemersatu bangsa Indonesia yang majemuk.

    Dalam kesempatan tersebut, M. Nasir membacakan amanat Kepala Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) Republik Indonesia. Amanat itu menegaskan bahwa peringatan Hari Lahir Pancasila tidak boleh dipandang hanya sebagai seremoni tahunan, melainkan momentum refleksi untuk memastikan nilai-nilai Pancasila tetap hidup dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara.

    Tahun ini, peringatan Hari Lahir Pancasila mengusung tema “Pancasila Pemersatu Bangsa, Fondasi Perdamaian Dunia.”

    Tema tersebut menegaskan bahwa nilai-nilai luhur yang terkandung dalam Pancasila tidak hanya relevan dalam menjaga keutuhan Indonesia, tetapi juga dapat menjadi kontribusi bangsa Indonesia bagi terciptanya perdamaian dunia yang berkelanjutan.

    Dalam amanat yang dibacakan Sekda Aceh, disebutkan bahwa Pancasila telah terbukti menjadi pedoman yang menjaga Indonesia tetap kokoh di tengah berbagai tantangan zaman.

    Indonesia yang terdiri dari lebih dari 17 ribu pulau, ratusan suku, bahasa, dan budaya mampu tetap bersatu karena memiliki nilai bersama yang terkandung dalam Pancasila.

    “Pancasila adalah jangkar moral kita dalam menghadapi turbulensi global, mulai dari disrupsi teknologi hingga dinamika geopolitik,” kata M. Nasir saat membacakan amanat Kepala BPIP.

    Pernyataan tersebut menggambarkan bahwa di tengah perkembangan teknologi digital yang sangat cepat, arus informasi yang tidak terbendung, hingga meningkatnya ketegangan geopolitik dunia, Pancasila tetap menjadi pegangan utama bangsa Indonesia.

    Nilai-nilai seperti gotong royong, toleransi, keadilan sosial, dan musyawarah dinilai menjadi modal penting dalam menjaga stabilitas sosial sekaligus memperkuat ketahanan bangsa menghadapi perubahan global.

    Hari Lahir Pancasila 2026 Aceh Jadi Momentum Perkuat Kebangsaan

    Peringatan Hari Lahir Pancasila 2026 Aceh juga menjadi momentum untuk memperkuat komitmen kebangsaan di semua lapisan masyarakat.

    Dalam amanat tersebut ditegaskan bahwa Indonesia memiliki tanggung jawab konstitusional untuk ikut menjaga ketertiban dunia berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi, dan keadilan sosial sebagaimana tercantum dalam Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945.

    Nilai musyawarah dan mufakat yang menjadi bagian penting dari Pancasila disebut sebagai instrumen yang sangat relevan dalam membangun dialog, menyelesaikan perbedaan, dan meredam konflik di tingkat nasional maupun internasional.

    Indonesia selama ini juga dikenal aktif dalam berbagai misi perdamaian dunia, mulai dari pengiriman pasukan perdamaian di bawah naungan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), keterlibatan dalam berbagai mediasi konflik regional, hingga konsisten menyuarakan keadilan bagi bangsa-bangsa yang masih menghadapi penjajahan dan konflik kemanusiaan.

    Karena itu, seluruh elemen bangsa, khususnya generasi muda, diajak untuk tidak hanya menghafal Pancasila, tetapi menjadikannya sebagai ideologi yang hidup dan diamalkan dalam kehidupan sehari-hari.

    “Mari kita tunjukkan kepada dunia bahwa Indonesia adalah bangsa besar yang menjunjung tinggi religiusitas, kuat dalam persatuan, dan kokoh karena nilai-nilai kemanusiaannya,” ujar M. Nasir.

    Upacara Hari Lahir Pancasila 2026 Aceh berlangsung tertib, lancar, dan penuh khidmat. Peringatan ini tidak hanya menjadi agenda seremonial tahunan, tetapi juga momentum penting untuk memperkuat kembali komitmen kebangsaan di tengah berbagai tantangan yang dihadapi Indonesia maupun dunia.

    Di era digital yang ditandai dengan derasnya arus informasi, disrupsi teknologi, serta meningkatnya dinamika geopolitik global, nilai-nilai Pancasila dinilai semakin relevan sebagai pedoman dalam menjaga persatuan, toleransi, dan keharmonisan sosial.

    Melalui peringatan Hari Lahir Pancasila, Pemerintah Aceh mengajak seluruh elemen masyarakat untuk terus menanamkan semangat gotong royong, menghargai keberagaman, serta memperkuat rasa cinta tanah air dalam kehidupan sehari-hari.

    Pancasila diharapkan tidak hanya menjadi dasar negara yang dihafalkan, tetapi juga menjadi nilai yang hidup dan diwujudkan dalam tindakan nyata, baik di lingkungan keluarga, masyarakat, maupun pemerintahan.[mol]