Tag: kapal aceh hebat

  • Tiga Nyawa Muda, Satu Ledakan, dan Pertanyaan yang Belum Terjawab

    acehtoday.id/ | Bak petir di tengah keramaian Jumat, ledakan itu mengguncang ruang mesin KMP Aceh Hebat 2 tepat ketika azan salat Jumat hampir berkumandang, dalam hitungan detik, 15 orang 14 taruna Politeknik Pelayaran Malahayati dan seorang Kepala Kamar Mesin (KKM)  terkapar dengan luka bakar serius, Sejak siang itu Jumat 12 Juni 2026, Pelabuhan Ulee Lheue, Banda Aceh, tak pernah lagi sama.

    Yang tak banyak orang duga, ledakan itu baru permulaan dari duka yang berlarut-larut, Satu per satu para taruna muda yang sempat bertahan di ruang ICU RSUD dr. Zainoel Abidin (RSUDZA) akhirnya kalah dalam perjuangan mereka, Tiga nyawa melayang dalam rentang tak sampai tiga pekan dan hingga kini, penyebab pasti ledakan itu masih menjadi teka-teki yang belum terjawab tuntas.

    Korban terluka akibat kamar mesin KMP Aceh Hebat 2 sedang dievakuasi di Pelabuhan Ulee Lheue, Banda Aceh, Jumat (12/6/2026). Sumber foto: Tim SAR Aceh.

    Satu demi satu, mereka pergi

    Fahri Herdi Eko, 19 tahun asal Medan, adalah yang pertama gugur, Setelah sepekan bertahan di ruang ICU, kondisinya menurun drastis pada Sabtu malam, 20 Juni 2026, Humas RSUDZA Rahmadi, mengisahkan detik-detik terakhir itu, dari pemantauan intensif pukul 21.00 WIB, hingga akhirnya dinyatakan meninggal pukul 22.50 WIB, di hadapan keluarga dan tim perawat yang telah berjuang bersamanya.

    Foto: Poltekpel Malahayati Aceh.

    Empat hari berselang, giliran Muhammad Bilal Ramzi, taruna asal Sabang, yang menyusul, Ironisnya, kondisi Bilal sempat membaik bahkan sudah dipindahkan dari ruang intensif ke ruang rawat biasa.

    Tapi harapan itu tak berumur panjang, Pada Kamis, 25 Juni 2026, Bilal mengembuskan napas terakhir setelah hampir dua pekan berjuang, Jenazahnya dipulangkan dan dimakamkan di kampung halamannya di Sabang.

    Foto: Poltekpel Malahayati Aceh.

    Publik boleh saja mengira dua kematian sudah cukup menjadi puncak duka, Nyatanya tragedi ini belum selesai bicara, Sepekan setelah Bilal pergi, giliran Muhammad Zulfikar taruna asal Sigli  yang tak lagi bisa diselamatkan, Ia meninggal dini hari, Rabu (1/7/2026) pukul 01.00 WIB, di ruang ICU 2 RSUDZA,Jenazahnya pun telah dipulangkan ke Sigli.

    Foto: Poltekpel Malahayati Aceh.

    Tiga taruna muda, Tiga keluarga yang berduka, dan satu pertanyaan besar yang kian mengeras di benak publik, bagaimana bisa sebuah kapal penyeberangan, yang setiap hari mengangkut ratusan penumpang, mengalami ledakan mesin yang merenggut begitu banyak korban?

    Hingga kini, 11 korban lainnya masih menjalani perawatan di RSUDZA, sementara satu orang telah diperbolehkan pulang lebih dulu.,Sebagian menunjukkan perkembangan positif, namun proses pemulihan diperkirakan masih panjang mengingat tingkat keparahan luka bakar yang berbeda-beda pada setiap korban.

    Ketika parlemen mulai bersuara

    Kematian yang datang bergantian dalam hitungan hari ini rupanya tak hanya menyisakan duka, tapi juga memantik amarah dan kecurigaan, Komisi IV Dewan Perwakilan Rakyat Aceh (DPRA) memutuskan turun tangan, memastikan akan memanggil Dinas Perhubungan (Dishub) Aceh dan PT ASDP Indonesia Ferry untuk membuka kronologi kejadian secara terang benderang.

    Anggota Komisi IV DPRA dari Fraksi Golkar, Khalid, menegaskan bahwa fungsi pengawasan parlemen tak boleh berhenti hanya pada ucapan belasungkawa, “Komisi IV DPRA akan meminta penjelasan dari Dinas Perhubungan Aceh maupun pihak ASDP terkait kronologi kejadian, kondisi teknis kapal, serta langkah-langkah yang telah dan akan dilakukan pasca-insiden," katanya kepada acehtoday.id/.

    Baginya, insiden ini semestinya jadi alarm keras bagi seluruh pemangku kepentingan transportasi laut Aceh bukan sekadar soal mesin yang meledak, tapi juga menyangkut standar operasional prosedur, sistem perawatan kapal, hingga mekanisme inspeksi kelayakan armada yang selama ini dijalankan, Ia pun menuntut agar hasil investigasi kelak tidak "disimpan di balik meja birokrasi" sebuah frasa yang seolah menyiratkan kekhawatiran bahwa transparansi bukan sesuatu yang bisa dianggap otomatis terjadi.

    Panggilan itu tak dihindari, baik Kepala Dinas Perhubungan Aceh, T Faisal, maupun General Manager PT ASDP Indonesia Ferry Cabang Banda Aceh, Andri Setiawan, menyatakan siap hadir memenuhi undangan DPRA.

    (Kiri) adis Perhubungan Aceh, Teuku Faisal, Foto: Dokumen Humas Dishub Aceh (Kanan) General Manager PT ASDP Ferry Indonesia Cabang Banda Aceh, Andri Setiawan di IGD RSUDZA.
    Sumber foto: acehtoday.id/Elza

    Kapal yang “sangat layak” tapi tetap meledak

    Di sinilah teka-teki itu makin pelik, dishub Aceh, melalui Faisal, menegaskan bahwa kewenangan teknis soal kelaiklautan kapal sebenarnya berada di tangan Kantor Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan (KSOP) Malahayati, bukan di instansinya, setiap kapal yang berlayar, katanya, wajib mengantongi Surat Persetujuan Berlayar (SPB) yang hanya diterbitkan setelah seluruh syarat keselamatan terpenuhi, KMP Aceh Hebat 2 pun disebut telah menjalani docking tahunan sesuai regulasi.

    Kepala Kantor KSOP IV Malahayati, Amfami acehtoday.id/Elza

    Pertanyaannya jadi sederhana namun sukar untuk dicerna, jika kapal ini benar-benar telah lulus semua prosedur, lantas apa yang membuat mesinnya meledak?

    Kepala KSOP IV Malahayati, Capt Amfami, mencoba menjawab sebagian dari teka-teki itu, Ia memastikan KMP Aceh Hebat 2 dalam kondisi laik laut, telah menjalani docking pada Desember 2025 di Nias, serta lolos ramp check menjelang masa angkutan Lebaran 2026.

    "Jadi kapal itu layak, bukan tidak layak, kapalnya sangat layak, Kemungkinan hanya ada satu pompa yang mengalami malfungsi," ujarnya sebuah pernyataan yang, alih-alih menutup tanda tanya, justru membuka babak baru, bagaimana bisa satu pompa yang malfungsi berujung pada ledakan yang merenggut tiga nyawa?

    Amfami juga mengungkap detail yang tak kalah menarik perhatian, Kegiatan praktik 14 taruna bersama satu KKM di ruang mesin, menurutnya, memang telah diberitahukan ke KSOP namun jam pastinya belum disampaikan karena masih menunggu kesepakatan jadwal antara pengajar dan taruna.

    Momen naik kapal itu sendiri terjadi bersamaan dengan proses debarkasi penumpang, mendekati waktu salat Jumat, KSOP pun mengaku akan mengevaluasi prosedur pelaporan bagi pihak luar yang beraktivitas di atas kapal sebuah celah administratif yang jika benar ada, menyisakan pertanyaan soal siapa yang semestinya memastikan setiap orang di atas kapal tercatat dan diawasi.

    Desakan dari luar birokrasi

    Bukan hanya parlemen yang mempertanyakan, Direktur Sumatera Environmental Initiative (SEI), Sulaiman menyebut insiden ini sebagai kejadian luar biasa dalam sektor transportasi laut  bukan semata karena jumlah korbannya yang banyak, tapi juga karena kronologi kejadian, aktivitas sebelum ledakan, dan status keberadaan para taruna di atas kapal belum dijelaskan secara terbuka kepada publik.

    SEI mendesak agar Syahbandar, operator kapal, dan instansi terkait membuka kronologi secara transparan, sekaligus meminta kepolisian mempublikasikan hasil olah tempat kejadian perkara (TKP).

    “Jika ditemukan adanya unsur kelalaian dalam penerapan standar keselamatan kerja maupun keselamatan pelayaran, maka pihak yang bertanggung jawab harus dimintai pertanggungjawaban sesuai ketentuan hukum yang berlaku,” tegas Sulaiman.

    Direktur Sumatera Environmental Initiative (SEI), Sulaiman. Foto Dok Pribadi

    Menunggu di ujung ketidakpastian

    Genap tiga pekan berlalu sejak ledakan itu, namun penyebab pastinya masih terkunci rapat dalam proses penyidikan Polda Aceh. PT ASDP, melalui Andri Setiawan, memilih bersikap hati-hati  tak ingin mendahului hasil resmi dengan spekulasi. “Kami tidak ingin berspekulasi mengenai penyebab kejadian sebelum ada hasil resmi dari pihak yang berwenang,” ujarnya.

    Sikap menahan diri ini bisa dibaca dua arah, sebagai bentuk kehati-hatian yang wajar dalam proses hukum, atau sebagai lambannya keterbukaan informasi yang justru memperpanjang kecemasan publik  terutama keluarga korban yang masih menunggu jawaban atas kematian anak-anak mereka.

    Polisi Periksa 12 Orang Saksi Terkait Ledakan KMP Aceh Hebat 2
    KMP Aceh Hebat 2 di Pelabuhan Ulee Lheue Banda Aceh.
    Sumber foto: acehtoday.id/Elza

    KMP Aceh Hebat 2 sendiri masih "dikandangkan", menanti surat resmi dari Polda Aceh yang menyatakan proses olah TKP selesai, sebelum bisa diperiksa ulang dan dioperasikan kembali.

    Tiga taruna telah pergi, Belasan lainnya masih berjuang memulihkan luka bakar mereka, dan satu pertanyaan yang sejak awal mengiringi tragedi ini mengapa kapal yang disebut "Kapal Aceh Hebat" nyatanya tidak sesuai dengan nama yang dibanggakan, justru meledak dan merenggut nyawa mereka yang sedang mengejar cita-cita di dunia maritim  masih menggantung, menunggu jawaban yang katanya sedang dalam proses.

  • Taruna Poltekpel Kembali Meninggal, Korban Ledakan KMP Aceh Hebat 2 Jadi Tiga Orang

    acehtoday.id/ | Banda Aceh – Satu orang lagi taruna Politeknik Pelayaran yang dirawat di Rumah Sakit Umum Daerah Zainoel Abidin (RSUDZA) Banda Aceh meninggal dunia, Rabu (1/7/2026).

    Adapun korban yang meninggal dunia bernama Muhammad Zulfikar yang sedang dirawat di ruang perawatan intensif dan meninggal pukul 01.00 WIB.

    “Kami menerima kabar duka atas wafatnya salah satu korban bernama Muhammad Zulfikar, sekitar jam 01.00 WIB,” kata General Manager PT ASDP Ferry Indonesia cabang Banda Aceh, Andri Setiawan saat dikonfirmasi.

    Menurut Andri, Muhammad Zulfikar sebelumnya sedang menjalani perawatan intensif di RSUDZA Banda Aceh. Andri menyebut bahwa jenazahnya telah dipulangkan ke kampung halamannya di Sigli.

    “Sudah dipulangkan ke Sigli,” ujar Andri.

    Sementara itu Humas RSUDZA, Rahmadi mengatakan Muhammad Zulfikar sebelumnya sedang dirawat di ruang ICU 2 hingga akhirnya meninggal dunia.

    Adapun menurutnya saat ini jumlah pasien korban ledakan mesin KMP Aceh Hebat 2 yang masih dirawat sebanyak 11 orang.

    “Yang masih dirawat 11 orang,” kata Rahmadi.

    Meninggalnya Muhammad Zulfikar, menambah daftar korban kehilangan nyawa setelah terkena ledakan dan mengalami luka bakar saat menjalani kegiatan belajar mengajar di atas kapal KMP Aceh Hebat 2 beberapa waktu lalu.

    Sebelumnya, taruna Fahri Herdi Eko (19) dinyatakan meninggal dunia pada Sabtu (20/6/2026). Menyusul kemudian Muhammad Bilal Ramzi (19) pada Kamis (25/6/2026).

    Adapun insiden meledaknya mesin kapal KMP Aceh Hebat 2 ini menyebabkan 14 taruna Politeknik Pelayaran dan satu kepala kamar mesin (KKM) luka bakar dan menjalani perawatan intensif di RSUDZA Banda Aceh pada Jumat (12/6/2026).

    Sementara itu penyebab pasti meledaknya mesin belum diketahui dan pihak berwajib masih melakukan pendalaman dan pemeriksaan saksi.

    Dua Taruna Sebelumnya

    Fakhri Herdieco, 19 yang pertama meninggal dunia setelah sepekan menjalani perawatan intensif, Kabar duka ini dikonfirmasi langsung oleh Humas RSUD dr. Zainoel Abidin (RSUDZA) Banda Aceh, Rahmadi, pada Minggu (21/6/2026). Ia menyebut pasien asal Binjai, Sumatera Utara itu menghembuskan napas terakhir pada Sabtu malam usai dirawat di ruang ICU.

    Menurut Rahmadi, kondisi Fakhri mulai menurun drastis sekitar pukul 21.00 WIB. Tim medis langsung melakukan pemantauan dan penanganan intensif, sekaligus memberi penjelasan kepada pihak keluarga mengenai perkembangan kondisinya yang kian memburuk.

    Muhammad Bilal Ramzi (19) taruna Politeknik Pelayaran asal Kota Sabang yang sempat menjalani perawatan intensif akibat luka bakar, meninggal dunia setelah hampir dua pekan berjuang di Rumah Sakit Umum Daerah Zainoel Abidin (RSUDZA) Banda Aceh.

    Bilal mengembuskan napas terakhir pada Kamis (25/6/2026), sehingga jumlah korban meninggal dunia dalam insiden ledakan mesin KMP Aceh Hebat 2 kini menjadi dua orang.

    Sebelumnya, Fahri Edi Eko (19), warga Medan, Sumatera Utara, yang juga merupakan taruna Politeknik Pelayaran, meninggal dunia pada Minggu (20/6/2026) setelah menjalani perawatan akibat luka bakar yang dideritanya.

    Kedua taruna tersebut merupakan bagian dari 15 korban ledakan mesin KMP Aceh Hebat 2 yang terjadi pada Jumat (12/6/2026).

     

  • KSOP Evaluasi ASDP usai Tragedi KMP Aceh Hebat 2, Soroti Prosedur Orang Naik Kapal

    acehtoday.id/ | Banda Aceh – Kantor Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan (KSOP) IV Malahayati akan melakukan evaluasi terhadap prosedur operasional PT ASDP Indonesia Ferry selaku operator kapal, menyusul insiden ledakan KMP Aceh Hebat 2 yang menyebabkan dua taruna Politeknik Pelayaran Malahayati meninggal dunia, hal tersebut disampaikan Kepala KSOP IV Malahayati, Capt Amfami, saat dikonfirmasi acehtoday.id/, Selasa (30/6/2026).

    Amfami mengatakan evaluasi akan dilakukan terutama terkait prosedur pelaporan bagi pihak luar yang melakukan aktivitas di atas kapal selain awak kapal.

    “Kami perlu mengingatkan ASDP sebagai operator, setiap orang selain awak kapal yang melakukan kegiatan di atas kapal harus melapor ke KSOP, terkadang ada yang naik kapal tanpa laporan, ini menjadi evaluasi kita,” ujar Amfami.

    Ia menjelaskan, kewajiban tersebut telah diatur dalam Peraturan Menteri Perhubungan Nomor 8 tentang Inaportnet, khususnya terkait pengajuan orang non-awak kapal untuk naik ke kapal, serta Permenhub Nomor 28 terkait aktivitas di kawasan pelabuhan.

    Amfami mengungkapkan, kegiatan pembelajaran 14 taruna Politeknik Pelayaran Malahayati bersama seorang Kepala Kamar Mesin (KKM) sebenarnya telah diberitahukan kepada KSOP. Namun, waktu pelaksanaan kegiatan belum disampaikan secara pasti karena masih menyesuaikan jadwal antara pengajar dan para taruna.

    “Pemberitahuan sudah ada, tetapi jam pastinya belum disampaikan karena masih menunggu kesepakatan waktu antara taruna dan pengajar. Saat proses debarkasi penumpang, kemungkinan ada kesempatan mereka naik kapal. Saat itu juga waktunya mendekati pelaksanaan salat Jumat,” jelasnya.

    Terkait kondisi kapal sebelum kejadian, Amfami memastikan KMP Aceh Hebat 2 dalam kondisi laik laut. Kapal tersebut sebelumnya telah menjalani docking pada Desember 2025 di Nias, serta melewati proses sertifikasi dan pemeriksaan kelaikan oleh KSOP IV Gunungsitoli.

    KSOP Akan Lakukan Pemeriksaan

    Selain itu, KSOP Malahayati juga telah melakukan pemeriksaan atau ramp check terhadap kapal menjelang masa angkutan Lebaran 2026.

    “Jadi kapal itu layak, bukan tidak layak, Kapalnya sangat layak, Kemungkinan hanya ada satu pompa yang mengalami malfungsi,” katanya.

    Mengenai rencana pengoperasian kembali KMP Aceh Hebat 2, Amfami menyebut pihaknya masih menunggu surat resmi dari Polda Aceh terkait selesainya proses olah tempat kejadian perkara (TKP).

    “Kalau sudah ada surat dari Polda bahwa olah TKP selesai, baru kami lakukan pemeriksaan kembali sebelum kapal dioperasikan,” ujarnya.

    Sebelumnya, ledakan pada bagian mesin KMP Aceh Hebat 2 terjadi pada Jumat (12/6/2026) sekitar pukul 11.55 WIB menjelang waktu salat Jumat di Pelabuhan Ulee Lheue, Banda Aceh. Peristiwa tersebut menyebabkan 15 orang mengalami luka bakar.

    Para korban kemudian dievakuasi dan mendapatkan perawatan di Rumah Sakit Umum Daerah Zainoel Abidin (RSUDZA) Banda Aceh, termasuk menjalani operasi darurat (cyto). Dua taruna Politeknik Pelayaran Malahayati kemudian meninggal dunia, yakni Fahri Herdi Eko (19) pada Sabtu (20/6/2026) dan Muhammad Bilal Ramzi (19) pada Kamis (25/6/2026).

    Hingga saat ini, penyebab ledakan masih dalam proses penyidikan oleh Polda Aceh. Sementara itu, KMP Aceh Hebat 2 belum kembali beroperasi karena masih dalam tahap pemeriksaan dan investigasi oleh pihak berwenang.

  • Taruna Korban Ledakan Kapal Aceh Hebat 2 Meninggal Dunia

    acehtoday.id/ | Banda Aceh – Satu orang korban ledakan Kapal Aceh Hebat 2 dilaporkan meninggal dunia setelah sepekan menjalani perawatan intensif. Korban bernama Fakhri Herdieco, 19, merupakan taruna Politeknik Pelayaran (Poltekpel) Malahayati yang mengalami luka bakar parah akibat insiden tersebut.

    Kabar duka ini dikonfirmasi langsung oleh Humas RSUD dr. Zainoel Abidin (RSUDZA) Banda Aceh, Rahmadi, pada Minggu (21/6/2026). Ia menyebut pasien asal Binjai, Sumatera Utara itu menghembuskan napas terakhir pada Sabtu malam usai dirawat di ruang ICU.

    Menurut Rahmadi, kondisi Fakhri mulai menurun drastis sekitar pukul 21.00 WIB. Tim medis langsung melakukan pemantauan dan penanganan intensif, sekaligus memberi penjelasan kepada pihak keluarga mengenai perkembangan kondisinya yang kian memburuk.

    @acehtoday.id/ 🚢 ASDP memastikan seluruh biaya pengobatan 14 korban insiden KMP Aceh Hebat 2 akan ditanggung penuh. Selain biaya perawatan, kebutuhan keluarga korban yang datang dari luar daerah juga akan difasilitasi selama berada di Banda Aceh. Simak kronologi lengkap insiden yang terjadi di Pelabuhan Ulee Lheue. #SeputarAceh #Aceh #BandaAceh #BeritaAceh #infoaceh ♬ suara asli – Seputar Aceh

    “Sekitar pukul 22.10 WIB dilakukan pemeriksaan kembali oleh tim medis. Namun kondisi pasien terus menurun dan dinyatakan meninggal dunia pada pukul 22.50 WIB,” ujar Rahmadi. Fakhri mengembuskan napas terakhir di hadapan keluarga dan tim perawat ICU 1 RSUDZA.

    Korban Lain Kapal Aceh Hebat Masih Dirawat

    Jenazah kemudian dibawa ke kamar jenazah untuk diurus secara fardhu kifayah, lalu disalatkan di Masjid Raudhatul Jannah yang berada di kompleks rumah sakit. Sekitar pukul 01.50 WIB dini hari, jenazah diberangkatkan menuju Medan menggunakan ambulans dan telah tiba di rumah duka.

    GM ASDP Cabang Banda Aceh, Andri Setiawan, turut menyampaikan belasungkawa atas kepergian Fakhri. Ia menegaskan perusahaan terus mendampingi korban dan keluarga, serta berkoordinasi penuh dengan pihak berwenang dalam proses investigasi insiden.

    Fakhri merupakan satu dari 15 korban luka bakar dalam ledakan yang terjadi di ruang mesin Kapal Aceh Hebat 2 pada 12 Juni 2026 lalu, saat taruna Poltekpel mengikuti praktik pengenalan mesin kapal di Pelabuhan Ulee Lheue.

  • Taruna Poltek Malahayati yang Jadi Korban Ledakan Kapal Aceh Hebat Berjumlah 14 Orang

    Taruna Poltek Malahayati yang Jadi Korban Ledakan Kapal Aceh Hebat Berjumlah 14 Orang

    acehtoday.id/ | Banda Aceh – Mahasiswa Taruna Politeknik Pelayaran Malahayati yang menjadi korban meledaknya Kapal Aceh Hebat 2 berjumlah 14 orang.

    Hal ini disampaikan Humas Politeknik Pelayaran Malahayati saat dikonfirmasi media ini, Jumat (12/6/2026) sore.

    Mahasiswa yang menjadi korban tersebut sedang menjalankan tugas praktik. Total ada 16 Taruna yang sedang pendidikan lapangan namun saat kejadian 2 orang sedang diluar kapal.

    “Untuk jumlah total sebanyak 16 orang taruna, dan yang menjadi korban sebanyak 14 orang, karena 2 orang taruna lainnya sedang keluar dari area kejadian,” ujar Humas Politeknik Pelayaran Malahayati yang akrab disapa Ole.

    Sebelumnya dilaporkan sebanyak 12 mahasiswa Politeknik Pelayaran Malahayati Aceh yang menjadi korban ledakan mesin Kapal Aceh Hebat 2, pada Jumat (12/6/2026) menjelang siang. Sementara 2 korban lainnya adalah Anak Buah Kapal (ABK).

    Seperti diberitakan sebelumnya, Kapal Aceh Hebat 2 mengalami ledakan pada Jumat (12/6) sekitar pukul 10.45 WIB saat bersandar di Pelabuhan Ulee Lheue, Banda Aceh.

    Kapal tersebut baru tiba di Pelabuhan Ulee Lheue dari Sabang pukul 10.00 WIB. Namun sekitar pukul 10.45 WIB terjadi ledakan di ruang mesin kapal yang mengakibatkan belasan orang mengalami luka bakar.

    Para korban saat ini masih menjalani perawatan medis di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Zainal Abidin Banda Aceh.

  • ASDP Tanggung Seluruh Biaya Pengobatan Korban Ledakan Mesin KMP Aceh Hebat 2

    ASDP Tanggung Seluruh Biaya Pengobatan Korban Ledakan Mesin KMP Aceh Hebat 2

    acehtoday.id/ | Banda Aceh – PT ASDP Indonesia Ferry Cabang Banda Aceh mengatakan akan mengakomodasi seluruh biaya perawatan 15 korban terluka akibat ledakan di mesin kapal KMP Aceh Hebat 2, Jumat (12/6/2026).

    “Kami akan mengakomodir seluruh biaya pengobatan rumah sakit korban, termasuk keluarga yang datang dari luar daerah. Juga biaya kebutuhan korban dan keluarga selama di Banda Aceh,” kata General Manager PT ASDP Indonesia Ferry Cabang Banda Aceh, Andre Setiawan di depan IGD RSUDZA.

    Andre menuturkan besaran biaya yang ditanggung pihaknya tidak akan dibatasi dan akan menyesuaikan kebutuhan korban dan keluarga korban, termasuk biaya transportasi selama di Banda Aceh.

    Pihaknya juga membuka posko pelayanan untuk membantu keluarga korban mendapatkan informasi dan kebutuhan biaya.

    “Kami sudah membuka posko kantor cabang lainnya dan menyiapkan nomor yang bisa dihubungi agar keluarga mendapat informasi serta biaya kebutuhan selama di Banda Aceh,” tambahnya.

    Sementara itu, pihak ASDP Cabang Banda Aceh belum mengetahui kondisi terkini korban dan masih menunggu hasil pemeriksaan medis.

    “Kami belum tau kondisi luka korban. Jadi kami menyerahkannya pada pihak medis. Namun seluruh korban sudah mendapat penanganan,” tutup Andre.

    General Manager PT ASDP Indonesia Ferry Cabang Banda Aceh, Andre Setiawan di depan IGD RSUDZA, Jumat (12/6/2026) acehtoday.id/Elza

    ASDP Tanggung Biaya Pengobatan dan Jumlah Korban

    Kasat Reskrim Polresta Banda Aceh, Kompol Miftahuda Dizha mengungkapkan sebanyak 15 orang terluka dalam kejadian diduga mesin kapal KMP Aceh Hebat 2 meledak saat merapat di Pelabuhan Ulee Lheue, Banda Aceh, Jumat (12/6/2026).

    “Korban ada 15 orang. Masih diidentifikasi identitas dan saat ini masih ditangani pihak medis,” kata Miftahuda di depan RSUDZA tempat para korban dirawat.

    Ia menyebut kejadian tersebut bermula dari diduga adanya ledakan mesin kapal di dek KMP Aceh Hebat 2 saat kegiatan pembelajaran dilakukan bersama taruna Politeknik Pelayaran.

    Adapun kegiatan pembelajaran ini dilakukan di dalam kamar mesin kapal yang menjadi lokasi kejadian. Saat itu, kapal telah bersandar di Pelabuhan Ulee Lheue Banda Aceh.

    Adapun penyebab kejadian ledakan mesin di tengah pembelajaran ini masih diselidiki oleh pihak Polresta Banda Aceh dan Polda Aceh.

    “Saat ini Polda Aceh dan Polresta Banda Aceh masih melakukan olah TKP mencari sumber pemicu peristiwa ini,” ujarnya.

    Menurutnya beberapa korban akibat ledakan mesin mengalami luka ringan, sedang maupun luka berat. Meski demikian, pihaknya masih menunggu hasil pemeriksaan dari tim medis RSUDZA.

    “Kondisi luka korban bervariasi. Ada yang parah, ada yang sedang dan ringan, tapi kita masih menunggu hasil dari tim medis,” pungkasnya.

  • 12 Mahasiswa Politeknik Pelayaran Malahayati Jadi Korban Meledaknya Kapal Aceh Hebat 2

    12 Mahasiswa Politeknik Pelayaran Malahayati Jadi Korban Meledaknya Kapal Aceh Hebat 2

    acehtoday.id/ | Banda Aceh – Sebanyak 12 mahasiswa Politeknik Pelayaran Malahayati Aceh menjadi korban ledakan mesin Kapal Aceh Hebat 2, Jumat (12/6/2026).

    Ke 12 mahasiswa naas tersebut mengalami luka bakar bersama 2 orang Anak Buah Kapal (ABK). Para korban saat ini sudah dilarikan ke ke Rumah Sakit Umum Daerah Zainoel Abidin (RSUDZA) Banda Aceh untuk mendapat perawatan medis.

    Seperti diberitakan sebelumnya, Kapal Aceh Hebat 2 mengalami ledakan pada Jumat (12/6) sekitar pukul 10.45 WIB saat bersandar di Pelabuhan Ulee Lheue, Banda Aceh.

    Kapal tersebut baru tiba di Pelabuhan Ulee Lheue dari Sabang pukul 10.00 WIB. Namun sekitar pukul 10.45 WIB terjadi ledakan di ruang mesin kapal yang mengakibatkan belasan orang mengalami luka bakar.

    Berdasarkan informasi awal, terdapat sekitar 14 korban luka bakar yang terdiri dari 2 orang Anak Buah Kapal (ABK) dan 12 orang mahasiswa Politeknik Pelayaran Malahayati yang tengah menjalani tugas praktik.

    Tim Balai Kekarantinaan Kesehatan (BKK) Banda Aceh segera melakukan assessment cepat dan penanganan awal terhadap korban di lokasi kejadian. Hasil assessment menunjukkan korban memerlukan penanganan medis lanjutan sehingga dilakukan rujukan ke RSUD dr. Zainoel Abidin Banda Aceh.

    Saat ini kondisi korban masih dalam pemantauan tim medis di rumah sakit. Penyebab pasti ledakan masih dalam proses investigasi oleh instansi terkait.

    Komandan KN SAR Kresna, Kapten Kresna Supriadi, melalui grup komunikasi SAR Aceh menyampai bahwa 12 Taruna Politeknik Pelayaran yang menjadi korban bersama 2 orang ABK mayoritas sedang menjalankan tugas praktik.