Bulan: Juli 2026

  • Kisah Tati Meutia Asmara, dari Pendidik Generasi ke Perjuangan Aspirasi

    Kisah Tati Meutia Asmara, dari Pendidik Generasi ke Perjuangan Aspirasi

    TIDAK semua politisi memulai perjalanan hidupnya dari dunia politik. Ada yang lahir dari ruang-ruang diskusi kampus, ada yang tumbuh dari pengalaman organisasi, dan tidak sedikit yang ditempa oleh dunia pendidikan sebelum akhirnya memilih mengabdikan diri kepada masyarakat lewat parlemen. Sosok legislator Tati Meutia Asmara, S.KH., M.Si. adalah salah satu contohnya.

    Ia bukan hanya seorang anggota dewan, melainkan juga pendidik, akademisi, aktivis organisasi perempuan, sekaligus ibu dari empat anak yang hingga kini tetap menempatkan keluarga sebagai pusat dari seluruh pengabdiannya.

    Perjalanan hidup Tati adalah kisah tentang konsistensi, dibangun bukan dalam semalam, melainkan melalui proses panjang yang ditempa pendidikan, organisasi, dan pengalaman sosial selama puluhan tahun.

    Dari Bangku Kuliah Kedokteran Hewan hingga Ruang Kelas

    Lahir di Kota Langsa pada 19 Januari 1977, Tati tumbuh dalam lingkungan yang menanamkan pentingnya pendidikan dan nilai-nilai keislaman. Semangat belajarnya mengantarkan ia meraih gelar Sarjana Kedokteran Hewan di Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Syiah Kuala, sebelum melanjutkan studi Magister di bidang Kesehatan Masyarakat Veteriner (Kesmavet). Perjalanan akademik ini membentuk pola pikirnya yang sistematis, ilmiah, sekaligus peka terhadap persoalan sosial di tengah masyarakat.

    Namun bagi Tati, ilmu pengetahuan tidak cukup berhenti di ruang kelas ilmu harus hadir memberi manfaat bagi masyarakat. Prinsip itulah yang membawanya memilih profesi sebagai pendidik. Selama bertahun-tahun, ia mengajar Biologi di SMP IT Nurul Ishlah Banda Aceh, bahkan dipercaya sebagai Wakil Kepala Sekolah Bidang Kurikulum. Pada waktu yang hampir bersamaan, ia juga menjadi Guru Program Diniyah di SMA Negeri 6 Banda Aceh.

    Baginya, ruang kelas bukan sekadar tempat menyampaikan materi, melainkan tempat karakter, disiplin, dan nilai-nilai kehidupan dibentuk. Pengalaman berinteraksi dengan peserta didik dari berbagai latar belakang membuatnya memahami bahwa pembangunan daerah sesungguhnya dimulai dari pembangunan manusianya sebuah pemahaman yang kelak memengaruhi cara pandangnya ketika memasuki dunia politik.

    Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Aceh (DPRA), Tati Meutia Asmara. (Foto: Dok. Pribadi untuk SeputarAceh.id)
    Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Aceh (DPRA), Tati Meutia Asmara. (Foto: Dok. Pribadi untuk acehtoday.id/)

    Ditempa Organisasi Sejak Bangku Kuliah

    Jauh sebelum mengenakan jas legislator, Tati telah lebih dulu ditempa dalam dunia organisasi. Saat masih menjadi mahasiswa Fakultas Kedokteran Hewan Unsyiah, ia aktif di berbagai organisasi kemahasiswaan, seperti anggota Litbang Badan Eksekutif Mahasiswa, Ketua Kewanitaan di BEM UNSYIAH, memimpin KOHATI Fakultas Kedokteran Hewan, aktif di Badan Koordinasi Himpunan Mahasiswa Islam (BADKO HMI) Aceh, hingga memimpin bidang keputrian di Lembaga Dakwah Kampus.

    Bagi banyak aktivis, organisasi adalah sekolah kepemimpinan. Di sanalah Tati belajar mendengar, menyampaikan gagasan, menyelesaikan perbedaan, dan membangun kolaborasi modal penting yang kelak mengantarkannya ke ruang-ruang pengambilan keputusan.

    Memasuki dunia profesional, aktivitas organisasinya justru semakin berkembang. Ia dipercaya memimpin PW Ikatan Pengusaha Muslimah Indonesia (IPEMI) Aceh, menjadi Wakil Ketua Badan Kerja Sama Organisasi Wanita (BKOW) Aceh, Wakil Ketua Kaukus Perempuan Politik Indonesia (KPPI) Aceh, hingga kini menjabat Ketua Bidang Organisasi BKMT Aceh.

    Ia juga tercatat sebagai anggota Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI) Aceh. Rangkaian amanah ini memperlihatkan satu benang merah yang konsisten, yaitu keberpihakan terhadap penguatan kapasitas perempuan, ekonomi keluarga, pendidikan, dan pemberdayaan umat.

    Kunjungan lapangan Tati meutia saat masih menjabat Ketua Komisi I Bidang Pemerintahan DPRK Banda Aceh
    Kunjungan lapangan Tati meutia saat masih menjabat Ketua Komisi I Bidang Pemerintahan DPRK Banda Aceh

    Perjalanan Menuju Kursi Legislatif

    Tahun 2019 menjadi salah satu titik penting dalam perjalanan hidupnya, ketika kepercayaan masyarakat mengantarkannya menjadi anggota DPRK Banda Aceh, dari fraksi Partai Keadilan Sejahtera (PKS)

    Kepercayaan itu dijawab melalui berbagai amanah strategis, pernah menjadi Ketua DPRK Sementara, kemudian memimpin Komisi IV yang membidangi pendidikan, kesehatan, dan kesejahteraan masyarakat, sebelum kembali dipercaya sebagai Ketua Badan Legislasi DPRK Banda Aceh posisi yang menempatkannya sebagai salah satu penggerak penyusunan regulasi daerah.

    Bagi Tati, setiap regulasi bukan sekadar produk hukum, melainkan instrumen yang harus mampu menjawab kebutuhan masyarakat.

    Pengalamannya sebagai guru membuatnya terbiasa melihat persoalan langsung dari lapangan, bukan semata dari balik meja kerja.

    Kini, sebagai anggota Dewan Perwakilan Rakyat Aceh (DPRA), ruang pengabdiannya semakin luas. Berbagai isu strategis terus menjadi perhatiannya, mulai dari pendidikan, kesehatan, pemberdayaan perempuan, perlindungan anak, hingga pembangunan sumber daya manusia.

    Latar belakangnya sebagai akademisi Kedokteran Hewan juga membuatnya memiliki perhatian khusus pada isu kesehatan masyarakat, keamanan pangan, penyakit zoonosis, kesejahteraan hewan, serta keterkaitan kesehatan lingkungan dengan kualitas hidup masyarakat.

    Keluarga sebagai Fondasi di Balik Jabatan Publik

    Di balik berbagai jabatan publik yang pernah diembannya, Tati tetap memandang dirinya sebagai seorang ibu. Ia adalah istri dari M. Nur Hasan dan ibu dari empat orang anak.

    Di tengah padatnya agenda kedewanan dan aktivitas organisasi, keluarga tetap menjadi tempat ia kembali. Baginya, keberhasilan dalam kehidupan publik harus berjalan beriringan dengan keharmonisan keluarga.

    Prinsip hidup yang dipegangnya sederhana namun bermakna dalam, “Sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat bagi orang lain.” Kalimat itu bukan sekadar moto pribadi, melainkan filosofi yang tercermin dalam perjalanan panjang pengabdiannya.

    Di sela kesibukan, Tati masih menyempatkan diri membaca buku, melakukan perjalanan, dan tetap aktif dalam berbagai kegiatan organisasi. Baginya, belajar tidak mengenal batas usia setiap pengalaman baru adalah bekal untuk memahami masyarakat secara lebih utuh.

    Politik sebagai Ruang Pengabdian, Bukan Sekadar Kekuasaan

    Di tengah dinamika politik yang terus berubah, Tati Meutia Asmara memilih mempertahankan satu hal yang tidak pernah berubah, yakni orientasi pengabdian. Ia percaya bahwa politik seharusnya menjadi ruang untuk menghadirkan solusi, bukan sekadar arena perebutan kekuasaan.

    Seorang wakil rakyat, menurutnya, harus mampu mendengar lebih banyak daripada berbicara, bekerja lebih banyak daripada berjanji, dan hadir di tengah masyarakat sebelum sorotan kamera datang.
    Jejak perjalanan Tati menunjukkan bahwa kepemimpinan tidak lahir secara instan.

    Ia dibangun melalui proses panjang, dimulai dari ruang kuliah, ruang kelas, ruang organisasi, hingga akhirnya bermuara di ruang legislatif dan perjalanan itu masih terus berlangsung.

    Bagi Tati, setiap jabatan hanyalah amanah yang memiliki batas waktu. Yang jauh lebih penting adalah meninggalkan manfaat yang dapat dirasakan masyarakat, bahkan ketika masa jabatan telah usai. Sebab pada akhirnya, ukuran seorang pemimpin bukanlah seberapa lama ia menduduki kursi kekuasaan, melainkan seberapa besar jejak kebaikan yang ditinggalkannya bagi orang lain.**

  • UKM PA Leuser USK Petakan Jalur Pendakian Gunung Geureudong via Gemasih

    acehtoday.id/ | Bener Meriah – Sebuah tim ekspedisi dari Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Pencinta Alam Leuser Universitas Syiah Kuala (USK) berhasil memetakan jalur pendakian Gunung Geureudong melalui Desa Gemasih, Kecamatan Pintu Rime Gayo, Kabupaten Bener Meriah. Ekspedisi berlangsung selama lima hari empat malam, mulai 4 hingga 8 Juli 2026.

    Enam anggota tim diterjunkan dalam misi ini, masing-masing membawa peran berbeda: Lamon sebagai ketua tim, M. Rafly sebagai navigator, Zarul Azham sebagai sweeper, Iqbal Hakim mengurus logistik, Teuku Radja Imrad bertugas dokumentasi, dan Telaga Kombat sebagai tebaster.

    Ketua Umum UKM PA Leuser USK, M. Rafly, kegiatan ini menjadi bentuk komitmen organisasi untuk mengenalkan Gunung Geureudong sebagai destinasi pendakian unggulan di Aceh, tanpa mengesampingkan aspek konservasi alam.

    Gunung Geureudong Simpan Potensi

    “Potensi Gunung Geureudong sangat besar. Melalui ekspedisi ini, kami memetakan jalur via Desa Gemasih agar bisa diakses oleh pendaki lain, sekaligus mengampanyekan pentingnya menjaga kelestarian alam,” ujar Rafly.

    UKM PA Leuser USK petakan jalur pendakian Gunung Geureudong via Desa Gemasih, dukung wisata konservasi.
    UKM PA Leuser USK petakan jalur pendakian Gunung Geureudong via Desa Gemasih, dukung wisata konservasi.

    Sepanjang perjalanan, tim melintasi medan yang beragam, dari hutan tropis hingga kawasan hutan lumut di dekat puncak. Di samping mengasah kemampuan teknis pendakian, tim turut mendata kondisi lintasan dan mendokumentasikan kekayaan bentang alam sebagai bahan referensi bagi pendaki lain ke depannya.

    Geuchik Desa Gemasih menyambut positif langkah ini. Ia menilai pembukaan jalur baru berpeluang mendongkrak ekonomi warga setempat lewat sektor wisata, dengan catatan pendaki tetap menjaga kelestarian dan adat setempat.

    “Kami menyambut baik inisiatif UKM PA Leuser USK. Jalur via Desa Gemasih menawarkan keindahan yang masih terjaga. Kami mengajak para pendaki untuk mengeksplorasi jalur ini dengan catatan wajib menjaga kebersihan, mematuhi aturan, serta menghormati adat istiadat setempat,” tutur Geuchik Desa Gemasih.

    UKM PA Leuser USK berharap jalur pendakian Gunung Geureudong via Desa Gemasih semakin dikenal luas. Organisasi ini juga berkomitmen melanjutkan kolaborasi dengan pemerintah desa dan masyarakat setempat demi mengembangkan wisata alam berbasis konservasi yang berkelanjutan.

  • DJ Chetas Siap Mengguncang Sydney dengan Live Performance

    DJ Chetas Siap Mengguncang Sydney dengan Live Performance

    Rakyat News – Sydney akan menjadi tuan rumah penampilan live DJ Chetas pada 1 Agustus 2026. Acara ini berlangsung di Liberty Hall, Entertainment Quarter, Moore Park, Australia. Dengan waktu pertunjukan dari pukul 22:00 hingga 23:30, DJ Chetas diharapkan menarik banyak penggemar.

    DJ Chetas dikenal dengan remix yang menduduki tangga lagu, mashup unik, dan kolaborasi dengan artis Bollywood ternama. Penampilannya menjanjikan suasana penuh energi dan pengalaman musik yang tidak terlupakan. Para penggemar Bollywood dan pencari hiburan malam akan menemukan acara ini sangat menarik.

    Tiket dapat dibeli melalui situs resmi, dan acara ini menjadi bagian dari rangkaian kegiatan di Sydney. Dengan teknologi suara dan pencahayaan mutakhir, penonton bisa menikmati malam yang penuh semangat dan hiburan.

  • Harga Cabai Rawit di Banda Aceh Naik Tajam, Cabai Merah dan Hijau Justru Turun

    acehtoday.id/ | Banda Aceh – Harga cabai rawit di Pasar Al-Mahirah, Kota Banda Aceh, melonjak tajam hingga menyentuh Rp60 ribu per kilogram. Lonjakan harga ini dipicu oleh terganggunya pasokan dari sejumlah daerah penghasil cabai yang tengah dilanda banjir, sehingga suplai ke pasar ikut menyusut.

    Kondisi ini terungkap dari pemantauan harga bahan pokok di pasar tersebut pada Selasa (14/7/2026), yang menunjukkan fluktuasi cukup signifikan pada beberapa komoditas hortikultura, terutama jenis-jenis cabai.

    Cabai Rawit Naik Signifikan, Cabai Merah dan Hijau Justru Melandai

    Muhammad Yusuf, salah seorang pedagang bawang dan cabai di Pasar Al-Mahirah, menjelaskan bahwa lonjakan harga cabai rawit terjadi karena wilayah pemasok utama terdampak bencana banjir. Berkurangnya volume pasokan itu membuat harga di tingkat pedagang ikut terkerek naik secara tajam.

    Berbeda dengan cabai rawit, harga cabai merah dan cabai hijau justru menunjukkan tren penurunan setelah sebelumnya sempat bertahan tinggi dalam waktu cukup lama. Saat ini, kedua jenis cabai tersebut sama-sama dijual pada kisaran Rp40 ribu per kilogram.

    Yusuf mengungkapkan, tren kenaikan harga cabai merah dan hijau yang berlangsung lama itu kini mulai mereda, meski belum kembali ke harga normal sebelumnya.

    Harga Bawang dan Komoditas Lain Turut Bergerak

    Selain cabai, harga bawang merah asal Aceh juga tercatat berada di level Rp40 ribu per kilogram, sementara bawang merah asal Medan relatif lebih murah, yakni berkisar Rp25 ribu hingga Rp30 ribu per kilogram. Perbedaan harga antar daerah asal ini turut memengaruhi pilihan pembeli di pasar.

    Untuk bawang putih, harga jualnya kini mencapai Rp50 ribu per kilogram, sedangkan bawang bombay dilepas dengan harga Rp40 ribu per kilogram. Adapun kentang masih stabil di angka Rp14 ribu per kilogram.

    Sementara itu, harga tomat mengalami penurunan menjadi Rp22 ribu per kilogram, setelah sempat naik hingga Rp25 ribu per kilogram pada masa meugang beberapa waktu lalu. Untuk komoditas daun sop, harga jualnya berada di kisaran Rp35 ribu per kilogram.

    Di tengah fluktuasi harga tersebut, Yusuf menyoroti kondisi daya beli masyarakat yang menurutnya belum menunjukkan perbaikan berarti. Ia menyebut, meski aktivitas jual beli tetap berjalan, jumlah pembeli yang datang ke lapaknya tidak seramai biasanya.

    Kondisi ini menggambarkan bahwa kenaikan harga sejumlah bahan pokok, khususnya cabai rawit, belum diimbangi dengan peningkatan minat belanja masyarakat. Para pedagang di Pasar Al-Mahirah pun berharap pasokan cabai rawit segera pulih agar harga dapat kembali stabil dalam waktu dekat.**

  • Transformasi Layanan BSI Dorong Peningkatan 24 Juta Nasabah

    Transformasi Layanan BSI Dorong Peningkatan 24 Juta Nasabah

    Memasuki era digital, persaingan industri tidak lagi hanya dari sisi produk melainkan bagaimana sebuah perusahaan mampu menghadirkan layanan yang berbeda sehingga memberikan kenyamanan bagi nasabah dan stakeholders.

    SEVP Operations BSI, Ana Nurul Khayati, mengungkapkan bahwa lanskap persaingan perbankan saat ini telah bergeser secara signifikan. Inilah yang terus kami kembangkan di PT Bank Syariah Indonesia (Persero) Tbk (BSI) melalui komitmen Melayani Sepenuh Hati sebagai visi utama Customer Experience (CX) perusahaan demi menghadirkan layanan yang inklusif

    Hadirnya BSI di tengah masyarakat lima tahun lalu menjadi tonggak sejarah baru lahirnya bank syariah trbesar di Indonesia. Indonesia sebagai salah satu negara dengan populasi muslim terbesar di dunia, mencapai sekitar 231 juta jiwa, namun pangsa pasar perbankan syariah nasional saat ini masih berada di angka 8% hingga 9%. Fakta ini menunjukkan peluang ekspansi yang masih sangat terbuka lebar.

    “Lalu selanjutnya bagaimana Bank Syariah bisa hadir tapi juga menjadi pilihan Utama masyarakat.Inilah yang terus kami pelajari dan meyakini persaingan kini bukan lagi sekadar tentang produk, melainkan tentang pengalaman pelanggan,” jelas Ana.

    Langkah ini terbukti efektif. Nilai fungsional dan emosional yang ditawarkan oleh BSI kini semakin menarik minat nasabah lintas segmentasi. Data menunjukkan adanya tren peningkatan pesat pada profil nasabah BSI. Per Maret 2026, proporsi nasabah semakin bervariasi dan inklusif hingga mendorong customer based 24 juta dari berbagai lintas segmen.

    Layanan BSI mengedepankan inklusivitas termasuk memberikan kenyamanan bagi nasabah disabilitas yakni seluruh kantor cabang BSI dilengkapi jalur landai (portable/permanen), toilet difabel, area parkir khusus difabel, kartu antrian, area tunggu, kursi roda hingga dilengkapi floor sign difabel.

    BSI membangun fondasi layanan berlandaskan empat pilar strategis, yakni (Brand) untuk membangun citra keunggulan yang kuat dan konsisten dalam setiap interaksi, (People) guna memberdayakan SDM agar melayani dengan empati, integritas, dan kebanggaan, (Process) melalui rancangan proses layanan yang simpel, andal, dan mampu menepati janji kepada nasabah, serta (Tech) yang memanfaatkan teknologi untuk menghadirkan pengalaman terbaik, inovatif, dan aman. Keempat pilar tersebut dihidupkan melalui budaya kerja EMAS (Empati, Melayani, Antusias, Sepenuh Hati).

    Transformasi ini berhasil membawa BSI meraih posisi prestisius “TOP 2 National Service Excellence” pada ajang BSEM 2026. Selain itu, BSI juga dinobatkan sebagai peringkat pertama pada kategori Walk-in Channel dan peringkat kedua pada Best Customer Experience. Pencapaian BSI tahun ini naik kelas dan dengan demikian, BSI tidak lagi hanya bersaing dengan bank syariah, melainkan berkompetisi secara langsung dengan bank-bank besar nasional.

    “Masa depan perbankan syariah bukan sekadar tentang tampil berbeda, melainkan tentang menjadi relevan. Ketika layanan kita mampu membuat setiap orang merasa dihargai, dipahami, dan dimudahkan, maka kita tidak lagi hanya menjadi pilihan bagi nasabah syariah. Kita menjadi bank pilihan bagi seluruh masyarakat Indonesia,” tutup Ana.(Mar)

  • Hiatus Kaiyote Rayakan 15 Tahun dengan Fans Terkenal

    Hiatus Kaiyote Rayakan 15 Tahun dengan Fans Terkenal

    Rakyat News – Hiatus Kaiyote merayakan 15 tahun sebagai favorit yang melanggar batas di dunia musik. Meskipun namanya tidak begitu dikenal, banyak artis terkenal yang mengagumi mereka. Grup asal Melbourne/Naarm ini memadukan soul futuristik, jazz, funk, R&B, dan hip-hop.

    Musik mereka telah diambil sampelnya oleh artis besar seperti Beyoncé, Jay-Z, Drake, dan Kendrick Lamar. Para penggemar mereka termasuk Pharrell Williams, SZA, dan mendiang Prince. Hiatus Kaiyote juga terikat kontrak dengan Brainfeeder, label terkenal dari Flying Lotus.

    Doja Cat pernah menyanyikan ulang lagu mereka, Red Room, untuk BBC Live Lounge. Nai Palm, vokalis utama Hiatus Kaiyote, mengatakan, ‘Dia menambahkan nada vokal yang sulit untuk saya lupakan.’ Menurutnya, mendengar orang lain menginterpretasi musik mereka memberikan inspirasi baru.

    Dia menjelaskan, lagu mereka, The World It Softly Lulls, memiliki bagian vokal yang juga digunakan dalam sampel lagu Beyoncé dan Jay-Z, 713. Ini merupakan salah satu pencapaian menakjubkan dalam karir mereka yang beragam selama 15 tahun.

    Bulan ini, Hiatus Kaiyote merayakan dengan serangkaian pertunjukan ulang tahun. Nai mengaku, ‘Saya bukan tipe orang yang menghitung angka, tetapi rasanya menyenangkan ada ritual di sekitar angka ini.’ Dia merasa seluruh hidupnya terwakili dalam pertunjukan tersebut.

    Nai menambahkan, ‘Bagaimana kita bisa memasukkan empat album ke dalam pertunjukan selama dua jam? Itu sangat menyenangkan.’ Baru-baru ini, dia kembali dari Papua Nugini, di mana dia menjadi mentor untuk program Musik Blok milik artis Ngaiire.

    Dia mengungkapkan, ‘Sangat luar biasa! [Tetapi] kembali ke musim dingin Melbourne setelah itu cukup menyebalkan,’ sambil tertawa. Hiatus Kaiyote menemukan inspirasi dari beragam hal, mulai dari ritual kawin siput leopard hingga sutradara Studio Ghibli, Hayao Miyazaki.

    Mereka sering memasukkan lebih banyak ide dalam lima menit daripada banyak grup dalam satu album. Mereka juga memberikan interpretasi unik terhadap lagu-lagu dari Gorillaz, Jefferson Airplane, dan Jolene karya Dolly Parton dengan Emma Donovan.

    Mereka bahkan mengubah materi mereka menjadi musik latar yang lembut untuk menyertai produk-produk yang terinspirasi oleh album mereka. Ketika mengingat kembali untuk pertunjukan ulang tahun, Nai menjelaskan, ‘Kami banyak kembali ke materi lama kami dan melihat apa yang kami cintai dan mengatur ulangnya.’

  • Blok Andaman Belum Produksi, Investor Mulai Berebut Hilirisasi Migas di KEK Arun

    Blok Andaman Belum Produksi, Investor Mulai Berebut Hilirisasi Migas di KEK Arun

    Daya tarik cadangan gas Blok Andaman mulai memicu minat sejumlah korporasi untuk masuk ke sektor hilirisasi migas di Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Arun Lhokseumawe, Aceh. Sejumlah perusahaan nasional hingga asing kini menjajaki peluang pengembangan industri berbasis gas, meski proyek produksi gas tersebut masih dalam tahap persiapan.

    Gubernur Aceh Muzakir Manaf (Mualem) menyatakan pemerintah membuka peluang bagi investor yang ingin berkontribusi dalam pengembangan hilirisasi migas di Aceh.

    “Semoga membawa kebaikan dan kemakmuran bagi Aceh,” kata Mualem melalui Juru Bicara Pemerintah Aceh, Nurlis Effendi, Selasa (14/7/2026).

    Nurlis mengatakan hilirisasi migas dari Blok Andaman menjadi salah satu agenda utama Pemerintah Aceh. Karena itu, seluruh pihak terkait diminta mempersiapkan langkah strategis agar potensi gas tersebut dapat memberikan nilai tambah bagi daerah.

    “Gubernur meminta seluruh pihak mempersiapkan diri, terutama pemerintah Aceh, untuk menyambut peluang hilirisasi ini,” ujar Nurlis.

    Salah satu perusahaan yang mulai menjajaki peluang tersebut adalah PT Indoasia Oiltank Terminal. Perusahaan yang bergerak di bidang infrastruktur energi dan petrokimia itu bertemu dengan Pemerintah Aceh di Kantor Gubernur Aceh, Senin (13/7/2026).

    Dalam pertemuan tersebut, Indoasia Oiltank Terminal datang bersama mitra dari Teknik Kimia Universitas Syiah Kuala (USK) yang melibatkan tiga profesor bidang teknik kimia.

    Sekretaris Daerah Aceh, M Nasir Syamaun, menyambut positif minat investasi tersebut. Menurutnya, keterlibatan perguruan tinggi dalam rencana hilirisasi menjadi sinyal penting bahwa pengembangan industri migas tidak hanya berorientasi bisnis, tetapi juga membuka ruang penguatan sumber daya manusia lokal.

    “Kami menyambut baik setiap calon investor yang ingin berkontribusi dalam mendorong pertumbuhan ekonomi dan membuka lapangan kerja di Aceh,” kata Nasir.

    Selain Indoasia, sejumlah perusahaan lain juga telah menyampaikan minat mengembangkan industri berbasis gas di KEK Arun. PT Pupuk Indonesia (Persero) sebelumnya menyatakan rencana pembangunan pabrik metanol di Aceh yang berlokasi di KEK Arun Lhokseumawe.

    Minat serupa juga datang dari perusahaan energi berbasis Dubai, Uni Emirat Arab, yang menyampaikan ketertarikan membangun pabrik metanol berbasis gas alam di Aceh. Sementara perusahaan asal Jiangsu, China, bersama mitra nasional juga berminat mengembangkan proyek likuefaksi LNG Aceh.

    Peluang investasi tersebut berkaitan dengan rencana pengembangan Lapangan Gas Tangkulo di Wilayah Kerja South Andaman yang dikelola Mubadala Energy. Lapangan tersebut menjadi bagian awal pengembangan Blok Andaman yang memiliki sejumlah wilayah kerja migas di perairan Aceh.

    Nurlis menjelaskan, Lapangan Gas Tangkulo diproyeksikan menghasilkan sekitar 300 juta standar kaki kubik gas per hari (MMSCFD). Dari jumlah tersebut, sekitar 160 MMSCFD telah memiliki komitmen penjualan melalui Gas Sale Agreement (GSA) kepada PLN.

    “Selebihnya masih membuka peluang besar untuk mendukung tumbuhnya berbagai industri hilir di Aceh,” katanya.

    Menurutnya, gas tersebut memiliki potensi untuk dikembangkan menjadi berbagai produk bernilai tambah, seperti metanol dan hidrogen. Selain gas, lapangan South Andaman juga diperkirakan menghasilkan sekitar 7.500 barel kondensat per hari yang dapat diolah menjadi produk petrokimia seperti nafta, kerosin, hingga bahan baku industri.

    Pemerintah Aceh menargetkan KEK Arun menjadi pusat hilirisasi migas tersebut. Pengembangan itu juga disebut sejalan dengan Proyek Strategis Nasional dalam RPJMN 2025–2029 serta arah pembangunan Aceh dalam RPJMA 2025–2029.

    Daya tarik cadangan gas Blok Andaman mulai memicu minat sejumlah korporasi untuk masuk ke sektor hilirisasi migas di Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Arun Lhokseumawe, Aceh. Sejumlah perusahaan nasional hingga asing kini menjajaki peluang pengembangan industri berbasis gas, meski proyek produksi gas tersebut masih dalam tahap persiapan.

    Gubernur Aceh Muzakir Manaf (Mualem) menyatakan pemerintah membuka peluang bagi investor yang ingin berkontribusi dalam pengembangan hilirisasi migas di Aceh.

    merintah Aceh, Nurlis Effendi, Selasa (14/7/2026).

    Nurlis mengatakan hilirisasi migas dari Blok Andaman menjadi salah satu agenda utama Pemerintah Aceh. Karena itu, seluruh pihak terkait diminta mempersiapkan langkah strategis agar potensi gas tersebut dapat memberikan nilai tambah bagi daerah.

    “Gubernur meminta seluruh pihak mempersiapkan diri, terutama pemerintah Aceh, untuk menyambut peluang hilirisasi ini,” ujar Nurlis.

    Salah satu perusahaan yang mulai menjajaki peluang tersebut adalah PT Indoasia Oiltank Terminal. Perusahaan yang bergerak di bidang infrastruktur energi dan petrokimia itu bertemu dengan Pemerintah Aceh di Kantor Gubernur Aceh, Senin (13/7/2026).

    Dalam pertemuan tersebut, Indoasia Oiltank Terminal datang bersama mitra dari Teknik Kimia Universitas Syiah Kuala (USK) yang melibatkan tiga profesor bidang teknik kimia.

    Sekretaris Daerah Aceh, M Nasir Syamaun, menyambut positif minat investasi tersebut. Menurutnya, keterlibatan perguruan tinggi dalam rencana hilirisasi menjadi sinyal penting bahwa pengembangan industri migas tidak hanya berorientasi bisnis, tetapi juga membuka ruang penguatan sumber daya manusia lokal.

    “Kami menyambut baik setiap calon investor yang ingin berkontribusi dalam mendorong pertumbuhan ekonomi dan membuka lapangan kerja di Aceh,” kata Nasir.

    Selain Indoasia, sejumlah perusahaan lain juga telah menyampaikan minat mengembangkan industri berbasis gas di KEK Arun. PT Pupuk Indonesia (Persero) sebelumnya menyatakan rencana pembangunan pabrik metanol di Aceh yang berlokasi di KEK Arun Lhokseumawe.

    Minat serupa juga datang dari perusahaan energi berbasis Dubai, Uni Emirat Arab, yang menyampaikan ketertarikan membangun pabrik metanol berbasis gas alam di Aceh. Sementara perusahaan asal Jiangsu, China, bersama mitra nasional juga berminat mengembangkan proyek likuefaksi LNG Aceh.

    Peluang investasi tersebut berkaitan dengan rencana pengembangan Lapangan Gas Tangkulo di Wilayah Kerja South Andaman yang dikelola Mubadala Energy. Lapangan tersebut menjadi bagian awal pengembangan Blok Andaman yang memiliki sejumlah wilayah kerja migas di perairan Aceh.

    Nurlis menjelaskan, Lapangan Gas Tangkulo diproyeksikan menghasilkan sekitar 300 juta standar kaki kubik gas per hari (MMSCFD). Dari jumlah tersebut, sekitar 160 MMSCFD telah memiliki komitmen penjualan melalui Gas Sale Agreement (GSA) kepada PLN.

    “Selebihnya masih membuka peluang besar untuk mendukung tumbuhnya berbagai industri hilir di Aceh,” katanya.

    Menurutnya, gas tersebut memiliki potensi untuk dikembangkan menjadi berbagai produk bernilai tambah, seperti metanol dan hidrogen. Selain gas, lapangan South Andaman juga diperkirakan menghasilkan sekitar 7.500 barel kondensat per hari yang dapat diolah menjadi produk petrokimia seperti nafta, kerosin, hingga bahan baku industri.

    Pemerintah Aceh menargetkan KEK Arun menjadi pusat hilirisasi migas tersebut. Pengembangan itu juga disebut sejalan dengan Proyek Strategis Nasional dalam RPJMN 2025–2029 serta arah pembangunan Aceh dalam RPJMA 2025–2029.

    Daya tarik cadangan gas Blok Andaman mulai memicu minat sejumlah korporasi untuk masuk ke sektor hilirisasi migas di Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Arun Lhokseumawe, Aceh. Sejumlah perusahaan nasional hingga asing kini menjajaki peluang pengembangan industri berbasis gas, meski proyek produksi gas tersebut masih dalam tahap persiapan.

    Gubernur Aceh Muzakir Manaf (Mualem) menyatakan pemerintah membuka peluang bagi investor yang ingin berkontribusi dalam pengembangan hilirisasi migas di Aceh.

    “Semoga membawa kebaikan dan kemakmuran bagi Aceh,” kata Mualem melalui Juru Bicara Pemerintah Aceh, Nurlis Effendi, Selasa (14/7/2026).

    Nurlis mengatakan hilirisasi migas dari Blok Andaman menjadi salah satu agenda utama Pemerintah Aceh. Karena itu, seluruh pihak terkait diminta mempersiapkan langkah strategis agar potensi gas tersebut dapat memberikan nilai tambah bagi daerah.

    “Gubernur meminta seluruh pihak mempersiapkan diri, terutama pemerintah Aceh, untuk menyambut peluang hilirisasi ini,” ujar Nurlis.

    Salah satu perusahaan yang mulai menjajaki peluang tersebut adalah PT Indoasia Oiltank Terminal. Perusahaan yang bergerak di bidang infrastruktur energi dan petrokimia itu bertemu dengan Pemerintah Aceh di Kantor Gubernur Aceh, Senin (13/7/2026).

    Dalam pertemuan tersebut, Indoasia Oiltank Terminal datang bersama mitra dari Teknik Kimia Universitas Syiah Kuala (USK) yang melibatkan tiga profesor bidang teknik kimia.

    Sekretaris Daerah Aceh, M Nasir Syamaun, menyambut positif minat investasi tersebut. Menurutnya, keterlibatan perguruan tinggi dalam rencana hilirisasi menjadi sinyal penting bahwa pengembangan industri migas tidak hanya berorientasi bisnis, tetapi juga membuka ruang penguatan sumber daya manusia lokal.

    “Kami menyambut baik setiap calon investor yang ingin berkontribusi dalam mendorong pertumbuhan ekonomi dan membuka lapangan kerja di Aceh,” kata Nasir.

    Selain Indoasia, sejumlah perusahaan lain juga telah menyampaikan minat mengembangkan industri berbasis gas di KEK Arun. PT Pupuk Indonesia (Persero) sebelumnya menyatakan rencana pembangunan pabrik metanol di Aceh yang berlokasi di KEK Arun Lhokseumawe.

    Minat serupa juga datang dari perusahaan energi berbasis Dubai, Uni Emirat Arab, yang menyampaikan ketertarikan membangun pabrik metanol berbasis gas alam di Aceh. Sementara perusahaan asal Jiangsu, China, bersama mitra nasional juga berminat mengembangkan proyek likuefaksi LNG Aceh.

    Peluang investasi tersebut berkaitan dengan rencana pengembangan Lapangan Gas Tangkulo di Wilayah Kerja South Andaman yang dikelola Mubadala Energy. Lapangan tersebut menjadi bagian awal pengembangan Blok Andaman yang memiliki sejumlah wilayah kerja migas di perairan Aceh.

    Nurlis menjelaskan, Lapangan Gas Tangkulo diproyeksikan menghasilkan sekitar 300 juta standar kaki kubik gas per hari (MMSCFD). Dari jumlah tersebut, sekitar 160 MMSCFD telah memiliki komitmen penjualan melalui Gas Sale Agreement (GSA) kepada PLN.

    “Selebihnya masih membuka peluang besar untuk mendukung tumbuhnya berbagai industri hilir di Aceh,” katanya.

    Menurutnya, gas tersebut memiliki potensi untuk dikembangkan menjadi berbagai produk bernilai tambah, seperti metanol dan hidrogen. Selain gas, lapangan South Andaman juga diperkirakan menghasilkan sekitar 7.500 barel kondensat per hari yang dapat diolah menjadi produk petrokimia seperti nafta, kerosin, hingga bahan baku industri.

    Pemerintah Aceh menargetkan KEK Arun menjadi pusat hilirisasi migas tersebut. Pengembangan itu juga disebut sejalan dengan Proyek Strategis Nasional dalam RPJMN 2025–2029 serta arah pembangunan Aceh dalam RPJMA 2025–2029.v

  • Saksi Kasus Korupsi Bupati Pati Mengaku Tertekan Saat Diperiksa

    Seputar Aceh – Nur Widayat, saksi dalam kasus dugaan korupsi Bupati Non-aktif Pati, Sudewa, mengungkapkan perasaannya saat diperiksa oleh penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Ia menyatakan tertekan karena proses pemeriksaan berlangsung dari pagi hingga malam.

    Dalam kesaksian yang disampaikan di Pengadilan Tipikor Semarang pada hari Senin, Nur Widayat mengaku bahwa tekanan juga datang dari suasana pemeriksaan, yang terkadang memunculkan tindakan mendebarkan seperti saat ada yang ‘nggebrak’ meja. Ia juga membantah sejumlah keterangan dalam berita acara pemeriksaan (BAP), khususnya yang berkaitan dengan dugaan pemberian uang kepada Sudewa.

    Salah satu poin penting yang disanggah Nur Widayat adalah terkait dengan penyerahan uang sebesar Rp721 juta dari kontraktor pelaksana proyek JGSS 6. Ia menegaskan bahwa ia tidak pernah menerima uang tersebut, berbeda dengan keterangan dari Benard Hasibuan, Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) proyek JGSS 6, yang menyatakan sebaliknya.

    Saksi Membantah Keterangan Lain dalam BAP

    Dalam sidang tersebut, Nur Widayat juga membantah bahwa ia memberikan sebilah keris kepada Sudewa. Pernyataan ini pun didukung oleh Sudewa yang berada di kursi terdakwa. Sudewa juga menolak klaim bahwa ia menerima Rp450 juta dalam bentuk dolar AS dari Nur Widayat, yang disebut sebagai fee dari proyek JGSS.

    Dalam persidangan yang dipimpin oleh Hakim Ketua Edwin Pudyono, Sudewa menegaskan bahwa uang dolar AS yang disita KPK darinya harus dibuktikan sebagai uang yang sama yang diduga diberikan oleh Nur Widayat. Hal ini menunjukkan adanya perbedaan pandangan antara saksi dan terdakwa mengenai transaksi yang terjadi.

    Konteks Hukum Kasus Korupsi Bupati Pati

    Bupati Pati, Sudewa, tengah diadili di Pengadilan Tipikor Semarang atas tuduhan menerima suap dan gratifikasi yang totalnya mencapai Rp3,8 miliar. Kasus ini berkaitan dengan pelaksanaan beberapa proyek di Direktorat Jenderal Perkeretaapian Kementerian Perhubungan.

    Selain itu, Sudewa juga didakwa menerima Rp2,4 miliar dalam konteks pengisian jabatan perangkat desa di kabupaten Pati yang berlangsung antara tahun 2025 hingga 2026. Proses hukum ini menandai langkah signifikan dalam pemberantasan korupsi di tingkat daerah.

    Implikasi dan Harapan ke Depan

    Proses hukum yang sedang berlangsung ini diharapkan dapat memberikan kejelasan dan keadilan bagi semua pihak yang terlibat. Kesaksian Nur Widayat menjadi bagian penting dalam mengungkap fakta yang sebenarnya di balik dugaan korupsi yang melibatkan pejabat publik.

    Upaya pemberantasan korupsi di Indonesia memerlukan dukungan penuh dari masyarakat dan lembaga-lembaga hukum. Masyarakat diharapkan terus mengawasi proses ini untuk memastikan transparansi dan akuntabilitas dalam pemerintahan.

  • Saksi Kasus Korupsi Bupati Pati Mengaku Tertekan Saat Diperiksa

    Saksi Kasus Korupsi Bupati Pati Mengaku Tertekan Saat Diperiksa

    Rakyat News – Nur Widayat, saksi dalam kasus dugaan korupsi Bupati Non-aktif Pati, Sudewo, mengaku mengalami tekanan saat diperiksa oleh KPK. Pengacara menyebut pemeriksaan berlangsung dari pagi hingga malam, dan ada momen ketika penyidik ‘nggebrak’ meja. Pernyataan ini disampaikan saat sidang di Pengadilan Tipikor Semarang pada 13 Juli 2026.

    Selama pemeriksaan, Nur Widayat membantah beberapa isi Berita Acara Pemeriksaan (BAP), khususnya mengenai pemberian uang kepada Sudewo. Ia merujuk pada penyerahan uang sebesar Rp721 juta dari kontraktor proyek JGSS 6, yang diakuinya tidak pernah terjadi.

    Pernyataan Nur Widayat itu bertolak belakang dengan keterangan Benard Hasibuan, Pejabat Pembuat Komitmen proyek, yang mengaku telah menyerahkan uang dalam bungkusan kepadanya. Namun, Nur Widayat menegaskan tidak pernah menerima uang dari Benard.

    Selain itu, Nur Widayat juga menyangkal memberikan sebilah keris kepada terdakwa Sudewo. Dalam sidang yang dipimpin oleh Hakim Ketua Edwin Pudyono, ia menjelaskan bahwa tidak ada penyerahan keris tersebut.

    Dalam sidang yang sama, Sudewo membantah tuduhan mengenai penerimaan uang Rp450 juta dalam bentuk dolar AS dari Nur Widayat sebagai fee proyek. Ia meminta agar uang dolar AS yang disita KPK dibuktikan sebagai uang yang sama yang diduga diberikan oleh Nur Widayat.

    Sidang kasus ini berlanjut dengan keterangan dari berbagai saksi, termasuk pemeriksaan Dirjen Kemenhub Risal Wasal terkait peran Sudewo. KPK juga mendalami dugaan intervensi Sudewo dalam proses lelang saat menjabat sebagai anggota Komisi V DPR RI.

  • Konektivitas Kereta Sumatra, KAI Kaji Jalur 417 Km Aceh-Sumut

    acehtoday.id/ | Jakarta – Rencana besar konektivitas kereta Sumatra yang menyambungkan Aceh dan Sumatra Utara mulai menemukan pijakan konkret. PT Kereta Api Indonesia (Persero) melalui Balai Yasa Pulubrayan tengah memperkuat kesiapan layanan di Divisi Regional (Divre) I Sumatra Utara, sembari menyiapkan data teknis untuk mendukung kajian pemerintah atas proyek strategis tersebut.

    Vice President Corporate Communication KAI Anne Purba menjelaskan, penguatan ini dilakukan agar layanan masyarakat yang sudah berjalan tetap terjaga, sekaligus menopang proses kajian konektivitas kereta Sumatra Utara–Aceh yang masih membutuhkan keputusan pemerintah. Kajian tersebut, kata Anne, mencakup kebutuhan perjalanan masyarakat, potensi ekonomi, keselamatan, kesiapan prasarana, tata ruang, dampak lingkungan, hingga pembiayaan.

    “KAI dapat memberikan dukungan berupa data operasi, kebutuhan sarana, proyeksi pelayanan, dan kemampuan teknis,” ujar Anne, Minggu (12/7/2026).

    Data operasional Divre I Sumatra Utara menjadi dasar penting bagi kajian itu. Saat ini jaringan aktif mencapai 476,460 kilometer dengan 43 stasiun di 13 kabupaten/kota, melayani rute-rute padat seperti Medan–Rantauprapat, Medan–Tanjungbalai, dan Medan–Pematangsiantar.

    Pertumbuhan Penumpang Modal Kereta Sumatra

    Rencana jalur Kereta Sumatra
    Rencana jalur Kereta Sumatra

    Sepanjang semester I/2026, jumlah penumpang tercatat 1.391.120 orang, tumbuh 5% secara tahunan. Tiga layanan utama—KA Sribilah, KA Putri Deli, dan KA Siantar Ekspres—menyumbang 96,5% dari total penumpang, menandakan tingginya kebutuhan mobilitas di sisi timur Sumatra Utara.

    Dari sisi perawatan sarana, Balai Yasa Pulubrayan telah merampungkan perawatan berat lima lokomotif, 18 kereta penumpang, 102 gerbong barang, tiga kereta pembangkit, dan satu peralatan khusus selama semester pertama tahun ini. Fasilitas ini juga memodifikasi dua kereta bekas menjadi kereta penolong untuk kebutuhan darurat di lintas operasi.

    Secara teknis, proyek konektivitas kereta Sumatra yang direncanakan Kementerian Perhubungan meliputi jalur Sigli–Bireuen dan Lhokseumawe–Langsa–Besitang sepanjang 417,541 kilometer, menyambung Aceh hingga Kota Pinang di Sumatra Utara. Jalur ini nantinya melengkapi jaringan selatan Lampung–Palembang yang telah beroperasi, sehingga rel kereta api berpotensi tersambung penuh dari Banda Aceh hingga Bandar Lampung.

    Kesiapan data dan layanan di Divre I Sumatra Utara kini menjadi fondasi penting sebelum megaproyek lintas provinsi ini benar-benar direalisasikan pemerintah.

    Sumber: bisnis.com