acehtoday.id/ | Banda Aceh — Kementerian Agama atau Kemenag mengalokasikan lebih dari Rp85 miliar untuk memulihkan madrasah, rumah ibadah, dan Kantor Urusan Agama (KUA) yang terdampak banjir Aceh, mencakup program tanggap darurat hingga rekonstruksi pada Tahun Anggaran 2025 dan 2026.
Hal itu disampaikan Staf Ahli Menteri Agama Bidang HAM dan Hukum, Dr H Faisal Ali Hasyim, dalam Rapat Koordinasi Penanganan Pascabencana di Aula Serbaguna Sekretariat Daerah Aceh, Selasa, 9 Juni 2026. Rakor turut dihadiri Menteri Dalam Negeri, Gubernur Aceh, Wakil Gubernur, Forkopimda, serta Kepala Kanwil Kemenag Aceh, Drs H Azhari MSi.
Mengutip siaran tertulis di laman aceh.kemenag.go.id disebutkan banjir bandang yang menerjang sejumlah wilayah Aceh pada 2025 menjadi salah satu bencana paling destruktif dalam beberapa tahun terakhir.
Arus banjir yang deras menghanyutkan sejumlah gedung madrasah dan KUA, terutama di wilayah pegunungan seperti Kabupaten Gayo Lues, sekaligus merusak ratusan masjid dan musala di kawasan pesisir dan pedalaman Aceh.
Dampak banjir bandang tersebut memaksa ribuan siswa madrasah kehilangan tempat belajar, sementara aktivitas keagamaan di banyak desa terganggu akibat rusaknya masjid dan musala.
Pemerintah menetapkan status tanggap darurat di beberapa kabupaten dan mengerahkan berbagai kementerian untuk bergerak cepat menangani pemulihan.

Pada 2025, Kemenag menyalurkan bantuan tanggap darurat kepada 131 madrasah swasta, 169 madrasah negeri, 18 pondok pesantren, serta 6.809 guru dan tenaga pendidik.
Bantuan mencakup tenda darurat, generator, peralatan kebersihan, mebel, hingga laptop. Total anggaran dari Ditjen Pendidikan Islam mencapai Rp46,38 miliar.
Di sektor bimbingan masyarakat Islam, Kemenag merenovasi 64 KUA, mendistribusikan 6.000 mushaf Al-Qur’an, serta merehabilitasi 85 masjid dan musala dengan anggaran Rp24,46 miliar.
Adapun pada 2026, alokasi sebesar Rp14,24 miliar digunakan untuk 24 madrasah swasta dan satu gedung madrasah negeri yang hanyut tersapu banjir.
Faisal mengungkapkan, Menteri Agama secara khusus menginstruksikan agar sisa anggaran satuan kerja pusat di penghujung 2025 dialokasikan sepenuhnya untuk lembaga pendidikan keagamaan yang terdampak.
Sekretaris Ditjen Pendidikan Islam, Prof Arskal Salim, mengapresiasi masyarakat Aceh yang menghibahkan tanah untuk membangun ulang madrasah dan KUA. Langkah ini disebutnya bisa menjadi rujukan bagi daerah lain yang menghadapi situasi serupa.
View this post on Instagram
Untuk KUA di Gayo Lues yang hanyut akibat banjir, Sekretaris Ditjen Bimas Islam Lubenah menyebut akan diupayakan melalui skema SBSN pada Tahun Anggaran 2027, dengan syarat legalitas tanah telah dipenuhi.
Berdasarkan paparan Mendagri dalam rakor, total anggaran rehabilitasi dan rekonstruksi sektor Kemenag yang masuk dalam rencana induk mencapai Rp1,836 triliun.
Faisal menegaskan, seluruh program tidak hanya mengembalikan kondisi seperti semula, tetapi juga harus meningkatkan kualitas sarana prasarana yang ada.
“Setiap kendala di lapangan agar segera dilaporkan agar dapat dicarikan solusi, baik di tingkat kanwil maupun pusat,” pungkasnya.

Tinggalkan Balasan