Jadi Kedai Hantu, Tol Gratis Bikin Saree Kehilangan Denyut Ekonomi

acehtoday.id/ | Aceh Besar – Di balik ramainya arus kendaraan yang melintas di Jalan Tol Sigli-Banda Aceh, tersimpan cerita berbeda dari kawasan Saree, Kecamatan Lembah Seulawah, Kabupaten Aceh Besar. Bagi masyarakat yang menggantungkan hidup dari lalu lintas jalan nasional, kehadiran jalan tol justru meninggalkan jejak sepi yang panjang.

Karyawan Rumah Makan (RM) Harkat Sejahtera yang akrab disapa Kak Bit menjadi salah satu saksi perubahan itu. Ia menceritakan bagaimana kawasan yang dahulu menjadi tempat persinggahan utama kendaraan dari Banda Aceh menuju Takengon maupun Sigli, kini kehilangan denyut ekonominya.

"Dampaknya karena jalan tol. Kendaraan sudah lewat jalan tol semua, tidak melintasi Saree lagi. Paling hanya satu dua kendaraan saja yang masih lewat. Nah, makanya kondisinya jadi seperti ini," kata Kak Bit kepada acehtoday.id/, Jumat (17/7/2026).

Pantauan di lapangan menunjukkan kawasan rumah makan tersebut terlihat lengang tanpa pengunjung. Terpal berwarna oranye terbentang di pilar-pilar rumah makan sebagai tanda ditutupnya operasional usaha, sementara papan kios di sampingnya yang bertuliskan “24 jam buka” sudah berdebu dengan rak-rak toko kosong. “Sudah jadi kedai setan (hantu),” katanya sambil tertawa.

Rumah Makan Terpaksa Pindah ke Lamtamot demi Bertahan

Menurut Kak Bit, berkurangnya kendaraan yang melintas membuat banyak rumah makan dan usaha di sepanjang Jalan Nasional Banda Aceh-Medan kehilangan pelanggan. RM Harkat Sejahtera yang sebelumnya beroperasi di Saree bahkan terpaksa memindahkan aktivitas usahanya ke kawasan Lamtamot demi mempertahankan operasional.

“Sekarang dapur untuk masak sudah dipindahkan ke Lamtamot, bukan disini lagi. Alhamdulillah di sana lebih ramai karena kendaraan masih banyak lewat,” ujarnya. Ia mengaku, sebelum pindah, rumah makan tersebut sempat bertahan melayani pelanggan di Saree, namun kondisi yang kian sulit membuat mereka akhirnya mencari lokasi baru.

“Masih buka sebelumnya, tetapi tidak sanggup lagi bertahan. Saree sudah mati total. Sekarang kami pindah ke Lamtamot. Baru empat hari beroperasi di sana,” tutur Kak Bit.

Meski berhasil pindah, mereka menghadapi tantangan lain yang tidak ringan. Jarak tempuh menjadi lebih jauh dan jam kerja karyawan pun ikut bertambah. “Sekarang kami pulang sampai jam 12 malam. Ya karena memang harus mencari rezeki,” tuturnya.

Rumah Makan Harkat Sejahtera di kawasan Saree yang tutup. (Sumber foto: Seputaraceh.id/Elza)
Rumah Makan Harkat Sejahtera di kawasan Saree yang tutup.
(Sumber foto: acehtoday.id/Elza

Pedagang Kecil Tanpa Modal Jadi yang Paling Terdampak

Kak Bit menilai penurunan aktivitas ekonomi di Saree tidak hanya dirasakan pelaku usaha besar, tetapi juga pedagang kecil hingga buruh harian. “Kasihan orang-orang sekarang. Banyak yang menganggur, buruh tani juga banyak yang tidak ada pekerjaan. Jadi bagaimana solusinya?” ujarnya.

Ia mengenang masa ketika Saree menjadi salah satu pusat perputaran ekonomi di Aceh, saat hampir seluruh kendaraan yang melintas berhenti untuk beristirahat, makan, maupun membeli oleh-oleh. “Dulu perputaran ekonomi di Aceh yang paling cepat ya di Saree. Sekarang sudah tidak ada lagi. Banyak yang pindah ke Padang Tiji, ada juga yang pindah ke Lamtamot,” ujarnya.

Menurutnya, apabila sejak awal tersedia pintu keluar-masuk tol menuju Saree, kondisi tersebut kemungkinan tidak akan separah sekarang. “Kalau ada pintu tol Saree, mungkin tidak seperti ini. Orang tetap bisa keluar untuk beli oleh-oleh di Saree,” katanya.

Ia juga menyoroti kebijakan tarif tol gratis dalam beberapa bulan terakhir yang membuat hampir seluruh kendaraan memilih melintas melalui jalan tol, sehingga jalan nasional semakin sepi. “Kalau gratis (kendaraan) selalu lewat situ. Kalau berbayar mungkin masih ada orang yang memilih lewat jalan sini,” tambahnya.

Karyawan RM Makan Harkat Sejahtera, Kak Bit di dapur si kawasan Saree. (Sumber foto: Seputaraceh.id/Elza)
Karyawan RM Makan Harkat Sejahtera, Kak Bit di dapur si kawasan Saree.
(Sumber foto: acehtoday.id/Elza

Kak Bit mengaku dirinya masih beruntung karena bekerja di rumah makan yang mampu membuka cabang di lokasi lain, berbeda dengan pedagang kecil yang tidak memiliki modal untuk berpindah tempat. “Kami masih beruntung karena bekerja di rumah makan yang bisa pindah. Tapi pedagang-pedagang kecil kasihan sekali. Mereka tidak punya modal untuk pindah ke tempat lain,” tuturnya.

Ia berharap pemerintah dan pengelola jalan tol dapat mencari solusi agar kawasan Saree tidak semakin terpuruk. “Yang kami harapkan, jangan sampai Saree benar-benar mati. Cari solusi supaya masyarakat kecil tetap bisa mencari nafkah,” tutupnya.**

Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *