Waspada Karhutla, 93 Titik Panas Muncul di Aceh

acehtoday.id/ | Banda Aceh – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat adanya peningkatan titik panas di wilayah Aceh. Hingga 19 Juli, tercatat sebanyak 93 titik panas tersebar di berbagai daerah di provinsi ini, menyusul kondisi cuaca yang cukup panas secara merata.

Prakiraan Cuaca BMKG Kelas I Sultan Iskandar Muda, Nabila, menyampaikan bahwa kondisi global saat ini masih berada dalam status netral sehingga belum ada potensi dampak El Nino yang dirasakan di kawasan Aceh. Meski begitu, ia menegaskan lonjakan titik panas tetap perlu diwaspadai oleh masyarakat.

Berdasarkan data BMKG, titik panas dengan tingkatan sedang terpantau di sejumlah wilayah, di antaranya Aceh Barat, Aceh Besar, Aceh Selatan, Aceh Jaya, Aceh Singkil, Gayo Lues, Lhokseumawe, Subulussalam, Nagan Raya, dan Pidie.

Sementara itu, titik panas dengan tingkatan lebih tinggi terdeteksi secara spesifik di tiga kecamatan, yakni Pantan Cuaca di Gayo Lues, Darul Makmur di Nagan Raya, dan Muara Tiga di Pidie.

Kondisi cuaca panas yang terjadi secara merata ini membuat BMKG memberi peringatan khusus kepada masyarakat agar mewaspadai potensi meningkatnya kejadian kebakaran lahan.

Nabila menekankan pentingnya menghindari kebiasaan membuka lahan dengan cara membakar, membakar sampah sembarangan, maupun membuang puntung rokok tanpa memastikannya benar-benar padam.

Laporan Sebaran titik panas di provinsi Aceh. Sumber foto: bmkg.go.id
Laporan Sebaran titik panas di provinsi Aceh.
Sumber foto: bmkg.go.id

BMKG Imbau Warga Waspadai Dehidrasi hingga Hujan Lebat Mendadak

Selain peringatan soal risiko kebakaran lahan, BMKG turut mengimbau masyarakat untuk menjaga kondisi fisik selama beraktivitas di tengah cuaca panas. Nabila menyarankan warga menggunakan pelindung seperti jaket, kacamata anti-UV, dan topi, serta memastikan asupan air mineral tercukupi agar terhindar dari dehidrasi.

Di sisi lain, BMKG juga mengingatkan potensi hujan dengan intensitas lebat yang dapat turun secara tiba-tiba pada sore hingga malam hari selama musim kemarau berlangsung. Menurut Nabila, kondisi ini dipicu oleh pemanasan intens yang terjadi pada siang hari, sehingga berpotensi memicu perubahan cuaca secara mendadak.

Menutup keterangannya, Nabila mengimbau masyarakat untuk selalu berhati-hati saat beraktivitas di luar ruangan, terutama ketika berkendara dalam kondisi cuaca buruk. Ia menyebut cuaca ekstrem tersebut berpotensi disertai angin kencang, banjir, hingga tanah longsor, sehingga kewaspadaan perlu terus ditingkatkan selama periode ini.**

Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *