Penulis: Andika Ichsan

  • Dahnil Paparkan Visi Baru MPI di Hadapan Pengurus Aceh

    Dahnil Paparkan Visi Baru MPI di Hadapan Pengurus Aceh

    acehtoday.id/ | Banda Aceh – Matahari Pagi Indonesia (MPI) resmi bertransformasi dari gerakan politik menjadi gerakan kebudayaan yang berorientasi pada pembangunan manusia dan peradaban. Penegasan ini disampaikan Ketua Dewan Pertimbangan Pengurus Besar MPI, Dahnil Anshar Simanjuntak, usai melantik Pengurus Wilayah (PW) MPI Provinsi Aceh di Aula Anjong Mon Mata, Banda Aceh, Selasa (30/6/2026).

    Dahnil menjelaskan, MPI memang lahir dari dinamika politik nasional. Namun setelah babak politik itu usai, organisasi tersebut memutuskan mengalihkan fokusnya ke ranah sosial, pendidikan, budaya, dan pemberdayaan masyarakat.

    “Gerakan politik sering kali hanya melihat kepentingan jangka pendek. Sementara gerakan kebudayaan membangun masa depan bangsa melalui pendidikan, sosial, ekonomi, dan pembentukan karakter,” kata Dahnil di hadapan pengurus dan tamu undangan yang hadir.

    Ia menyoroti sejumlah program pemerintah, seperti sektor pendidikan, pembangunan sumber daya manusia, hingga program makan bergizi, sebagai bentuk investasi jangka panjang yang manfaatnya baru akan terlihat beberapa tahun ke depan. Analogi ini digunakannya untuk menggambarkan cara kerja gerakan kebudayaan yang diusung MPI tidak instan, namun berdampak lebih permanen bagi bangsa.

    Atas dasar itu, Dahnil menegaskan MPI ingin mengambil peran aktif sebagai organisasi yang memperkuat pembangunan karakter masyarakat lewat beragam kegiatan sosial dan program pemberdayaan, bukan lagi sebagai kendaraan kepentingan politik jangka pendek.

    Menutup pernyataannya, Dahnil menyampaikan harapan agar kepengurusan PW MPI Aceh yang baru saja dilantik mampu menerjemahkan semangat gerakan kebudayaan ini secara kontekstual, sesuai dengan kebutuhan dan karakteristik masyarakat Aceh.

    Ia meyakini pendekatan budaya dan sosial akan lebih efektif menjawab tantangan pembangunan di daerah dibandingkan pendekatan politik semata.

    Dahnil berharap, momentum strategis ini penting bagi pengurus baru MPI Aceh dalam menyusun program kerja ke depan, dengan penekanan pada pendidikan, pemberdayaan sosial, dan penguatan karakter bangsa sebagai fondasi utama.**

  • Irpanusir Resmi Nahkodai Matahari Pagi Indonesia Aceh, Siap Jalankan Gerakan Kebudayaan

    Irpanusir Resmi Nahkodai Matahari Pagi Indonesia Aceh, Siap Jalankan Gerakan Kebudayaan

    acehtoday.id/ | Banda Aceh – Pengurus Wilayah Matahari Pagi Indonesia (PW MPI) Provinsi Aceh resmi dilantik di Aula Anjong Mon Mata, Banda Aceh, Selasa (30/6/2026). Dr. Irpanusir didapuk sebagai nakhoda organisasi kemasyarakatan ini untuk periode ke depan, dengan misi menjalankan gerakan kebudayaan yang menyasar penguatan nilai kebangsaan di Bumi Serambi Mekkah.

    Prosesi pelantikan dipimpin langsung oleh Ketua Dewan Pertimbangan Pengurus Besar Matahari Pagi Indonesia, Dahnil Anshar Simanjuntak. Acara turut dihadiri unsur Forkopimda, anggota DPRA, jajaran TNI-Polri, akademisi, tokoh agama, tokoh masyarakat, hingga perwakilan berbagai organisasi kemasyarakatan di Aceh.

    Usai dilantik, Irpanusir menegaskan pihaknya akan segera merancang program kerja yang berfokus pada empat pilar: penguatan nilai kebangsaan, pendidikan, kegiatan sosial, dan pemberdayaan masyarakat.

    Ia menekankan bahwa MPI bukanlah kendaraan politik, melainkan wadah kemasyarakatan yang ingin menghidupkan kembali semangat gotong royong.

    “Kami ingin menghadirkan program-program yang benar-benar dirasakan masyarakat. Semangat Matahari Pagi Indonesia adalah menghadirkan manfaat dan membangun kolaborasi dengan seluruh elemen di Aceh,” ujar Irpanusir.

    Untuk merealisasikan program tersebut, PW MPI Aceh berencana menggandeng pemerintah daerah, lembaga pendidikan, organisasi keagamaan, serta beragam komunitas lokal. Menurut Irpanusir, Aceh memiliki modal sosial yang khas berupa budaya gotong royong dan nilai-nilai keislaman yang kuat, sehingga cocok menjadi landasan gerakan kebudayaan yang diusung MPI di tingkat nasional.

    Senada dengan itu, Dahnil Anshar Simanjuntak menyampaikan harapannya agar kepengurusan baru mampu menerjemahkan filosofi Matahari Pagi Indonesia ke dalam aksi konkret yang berdampak langsung bagi masyarakat.

    Ia menegaskan bahwa saat ini organisasi tersebut memosisikan diri sebagai gerakan kebudayaan yang berupaya membangun karakter bangsa lewat jalur pendidikan, aktivitas sosial, dan pemberdayaan komunitas.

    Dengan resminya kepengurusan ini, PW MPI Aceh diharapkan dapat segera bergerak menyusun agenda kerja dan memperluas jaringan kolaborasi lintas sektor di seluruh wilayah Aceh.**

  • Dinilai Boros, Mahasiswa Desak Bupati Abdya Reposisi Anggaran Daerah

    Dinilai Boros, Mahasiswa Desak Bupati Abdya Reposisi Anggaran Daerah

    acehtoday.id/ | Blangpidie – Pengelolaan Anggaran Pendapatan dan Belanja Kabupaten (APBK) Aceh Barat Daya (Abdya) kembali menjadi sorotan setelah seorang mahasiswa secara terbuka menyampaikan mosi tidak percaya terhadap kepemimpinan Bupati Abdya dalam mengelola anggaran daerah.

    Mahasiswa Abdya, Rahmad Fauzi, menilai struktur anggaran yang semestinya menjadi instrumen penggerak perekonomian masyarakat justru lebih banyak diarahkan untuk membiayai belanja birokrasi yang bersifat konsumtif. Menurutnya, kondisi ini bertolak belakang dengan visi “Arah Baru Abdya Maju” yang dulu digaungkan Pemerintah Kabupaten Abdya kepada masyarakat.

    “Hari ini masyarakat Abdya berhak bertanya, di mana letak Arah Baru Abdya Maju yang dulu dinarasikan dengan begitu indah? Realitas yang kami saksikan di lapangan justru memperlihatkan ketidakbecusan yang nyata.

    Dana APBK yang bersumber dari uang rakyat diprioritaskan untuk membiayai fasilitas, perjalanan dinas yang tidak esensial, serta pos anggaran ‘dapur’ pemerintahan yang berlebihan, termasuk sewa operasional yang kami anggap tidak penting,” ujar Rahmad dalam keterangannya.

    Menurut Rahmad, APBK seharusnya difungsikan untuk mempercepat pemerataan ekonomi melalui program-program yang langsung dirasakan masyarakat. Ia mencontohkan sejumlah sektor prioritas yang mestinya mendapat perhatian lebih besar, seperti pemberdayaan pelaku UMKM, penguatan sektor pertanian, peningkatan kualitas pendidikan, pelayanan kesehatan, hingga pembangunan infrastruktur dasar.

    Ia mengingatkan, apabila sebagian besar anggaran justru terserap untuk memenuhi kebutuhan internal birokrasi, maka manfaat APBK bagi masyarakat secara langsung akan semakin mengecil.

    Karena itu, Rahmad meminta Bupati Abdya lebih berhati-hati dalam menggunakan anggaran daerah, mengingat seluruh dana yang dikelola berasal dari uang rakyat dan wajib dipertanggungjawabkan sepenuhnya.

    “Jabatan dan anggaran daerah adalah amanah, bukan fasilitas untuk memanjakan diri maupun kelompok tertentu. Pemerintah harus memastikan setiap rupiah APBK benar-benar memberikan manfaat nyata bagi masyarakat,” tegasnya.

    Rahmad turut mendesak Pemerintah Kabupaten Abdya segera melakukan evaluasi dan reposisi terhadap postur anggaran, agar arahnya lebih berpihak pada kepentingan publik, khususnya masyarakat kecil yang hingga kini masih bergelut dengan berbagai persoalan ekonomi.

    Ia menegaskan bahwa keberhasilan suatu pemerintahan tidak diukur dari besarnya belanja birokrasi, melainkan dari sejauh mana anggaran benar-benar mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

    Sebagai penutup, Rahmad memberi peringatan keras kepada pemerintah daerah. “Jika dalam waktu dekat tidak ada reposisi anggaran yang berpihak kepada rakyat kecil, maka slogan Abdya Maju hanya akan menjadi lelucon politik. Kami mahasiswa Abdya memastikan akan terus mengawal dan menyuarakan kegelisahan rakyat ini melalui berbagai aksi nyata,” tutupnya.**

  • Wamenhaj Serahkan Bantuan ke Jemaah Haji Korban Banjir Aceh

    Wamenhaj Serahkan Bantuan ke Jemaah Haji Korban Banjir Aceh

    acehtoday.id/ | Banda Aceh – Sebanyak 32 jemaah haji asal Aceh yang sebelumnya terdampak musibah banjir menerima bantuan kemanusiaan sepulang dari Tanah Suci. Bantuan ini merupakan hasil kolaborasi Pemerintah Indonesia dengan Pemerintah Uni Emirat Arab melalui Zayed Foundation, sebagai bentuk kehadiran negara bagi jemaah yang membutuhkan.

    Wakil Menteri Haji dan Umrah RI, Dahnil Anzar Simanjuntak, menyerahkan langsung bantuan tersebut kepada empat jemaah asal Kabupaten Pidie Jaya, Senin (29/6/2026). Keempatnya merupakan bagian dari 32 penerima bantuan yang tersebar di sejumlah daerah terdampak bencana, termasuk Aceh Tamiang, Kota Langsa, dan Aceh Utara.

    Mayoritas penerima merupakan jemaah yang terlilit utang akibat banjir yang melanda wilayah mereka. Keterbatasan ekonomi pascabencana memaksa sebagian dari mereka meminjam dana untuk melunasi biaya perjalanan haji maupun memenuhi kebutuhan selama di Tanah Suci. Bantuan ini diharapkan dapat meringankan beban tersebut, termasuk membantu pelunasan utang yang timbul akibat ibadah haji.

    Dahnil menjelaskan bahwa perhatian pemerintah terhadap jemaah Aceh berangkat dari semangat masyarakat yang tetap memenuhi panggilan ibadah meski tengah menghadapi cobaan.

    Ia menyebut, saat Aceh dilanda musibah, pemerintah sempat memberikan relaksasi pelunasan biaya haji, namun justru Aceh menjadi salah satu provinsi yang paling cepat melunasi kewajibannya. Semangat tersebut, menurutnya, menjadi perhatian khusus Presiden Prabowo.

    Presiden kemudian mengamanahkan agar bantuan kemanusiaan yang tersedia diprioritaskan bagi jemaah yang benar-benar membutuhkan, guna meringankan beban mereka setelah kembali dari Tanah Suci. “Kami ingin para jemaah pulang dengan hati yang tenang. Jangan sampai kemabruran ibadahnya masih dibayangi beban utang,” kata Dahnil.

    Ia berharap bantuan tersebut bisa menjadi bentuk kehadiran negara di tengah masyarakat yang sedang berjuang bangkit dari musibah. Program ini disalurkan kepada penerima manfaat yang telah melalui proses pendataan dan verifikasi sebelumnya.

    Penyaluran bantuan ini menjadi bagian dari komitmen Kementerian Haji untuk memastikan pelayanan kepada jemaah tidak berhenti setelah rangkaian ibadah di Tanah Suci usai. Negara terus berupaya hadir mendampingi jemaah, terutama mereka yang menghadapi kondisi sulit akibat musibah, agar dapat kembali menjalani kehidupan dengan lebih tenang bersama keluarga dan meraih kemabruran dalam ibadahnya.**

  • Tiga Hari di Aceh, Wamenhaj Perkuat Layanan Haji

    Tiga Hari di Aceh, Wamenhaj Perkuat Layanan Haji

    acehtoday.id/ | Banda Aceh – Wakil Menteri Haji dan Umrah Republik Indonesia (Wamenhaj RI) Dahnil Anzar Simanjuntak memulai kunjungan kerja tiga hari ke Provinsi Aceh sejak Senin (29/6/2026) hingga Rabu (1/7/2026). Lawatan ini difokuskan pada penguatan kualitas layanan haji, pembinaan aparatur, serta silaturahmi dengan jemaah dan masyarakat Aceh.

    Begitu mendarat di Bandara Internasional Sultan Iskandar Muda (SIM), Wamenhaj langsung menuju Kabupaten Pidie dan Pidie Jaya. Ia menunaikan salat di Masjid Baitul Huda Blang Malu, lalu mengunjungi rumah seorang jemaah haji penerima bantuan di Gampong Mayang Cut, Kecamatan Meureudu.

    Kepala Kantor Wilayah Kementerian Haji dan Umrah Aceh, Arijal, menjelaskan bahwa kunjungan tersebut mencerminkan komitmen pemerintah dalam menjaga keberlanjutan pembinaan sekaligus memperhatikan jemaah penerima program bantuan sosial dan keagamaan.

    Memasuki hari kedua, Selasa (30/6), agenda Wamenhaj dimulai sejak dini hari dengan menyambut kepulangan jemaah haji Kloter 14 Embarkasi Aceh di Bandara SIM dan Asrama Haji Kelas I Aceh. Ia kemudian mengikuti salat Subuh berjemaah di Masjid Al-Mabrur sembari menyapa para jemaah yang baru tiba dari Tanah Suci, dilanjutkan dengan menghadiri syukuran Panitia Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH).

    Selain meninjau proses pemulangan jemaah, Dahnil juga memberikan pembinaan kepada Aparatur Sipil Negara (ASN) Kementerian Haji se-Aceh di Aula Jeddah, Asrama Haji Kelas I Aceh. Menurut Arijal, pembinaan ini diharapkan mampu memperkuat profesionalisme, integritas, dan kualitas pelayanan aparatur kepada masyarakat.

    Sore harinya, Wamenhaj dijadwalkan bertemu jemaah haji musim 1447 Hijriah/2026 Masehi sekaligus calon jemaah haji 2027 di Masjid Raya Baiturrahman, Banda Aceh. Pertemuan ini menjadi momen silaturahmi sekaligus penguatan spiritual bagi masyarakat yang telah maupun akan berangkat haji.

    Rangkaian kunjungan kerja Wamenhaj di Aceh akan berakhir Rabu (1/7), saat ia kembali ke Jakarta lewat Bandara SIM setelah seluruh agenda rampung.

    Arijal menutup keterangannya dengan harapan agar sinergi pemerintah pusat dan daerah semakin kuat dalam meningkatkan kualitas penyelenggaraan haji, sekaligus mempererat hubungan dengan masyarakat Aceh yang dikenal memiliki perhatian besar terhadap layanan haji.**

  • Lewat Silaturahmi Perdana, PKB Banda Aceh Perkuat Komitmen Menjadi Partai yang Dekat dengan Rakyat

    Lewat Silaturahmi Perdana, PKB Banda Aceh Perkuat Komitmen Menjadi Partai yang Dekat dengan Rakyat

    acehtoday.id/ | Banda Aceh — Dewan Pimpinan Cabang (DPC) Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) Kota Banda Aceh menggelar Silaturahmi Perdana dan Temu Rasa di Warkop Romen, Banda Aceh, Senin (29/6/2026). Pertemuan ini menjadi langkah awal konsolidasi internal usai terbentuknya kepengurusan baru, sekaligus ajang mempererat kekeluargaan antarpengurus.

    Mengusung tema “Generasi Baru, Semangat Baru, Membawa Perubahan yang Nyata”, kegiatan tersebut dihadiri seluruh jajaran pengurus DPC PKB Banda Aceh, termasuk Sekretaris Dewan Tanfidz Sulaiman dan Bendahara Dewan Tanfidz sekaligus Anggota DPRK Banda Aceh dari Fraksi PKB, M. Iqbal.

    Ketua Dewan Tanfidz DPC PKB Kota Banda Aceh, Azhar, yang akrab disapa H. Romen, menegaskan bahwa membesarkan partai tidak bisa hanya mengandalkan segelintir orang. Ia mengibaratkan perjalanan PKB seperti kapal yang hanya bisa mencapai tujuan jika seluruh awaknya bekerja sama.

    “Silaturahmi ini menjadi awal untuk saling mengenal, memperkuat kebersamaan, dan menyamakan visi. Kami ingin seluruh pengurus menjadi satu keluarga besar yang siap bekerja dan hadir di tengah masyarakat, bukan hanya saat momentum politik,” ujar Azhar.

    Ia menambahkan, tema yang diusung kepengurusan baru bukan sekadar slogan, melainkan tekad untuk menghadirkan kerja nyata yang menyentuh kebutuhan warga. Setiap kader, kata dia, diharapkan mampu menjadi jembatan antara aspirasi masyarakat dan partai.

    Senada dengan itu, Ketua Dewan Syura DPC PKB Kota Banda Aceh, Tgk. Ajmalul Hadi, menekankan pentingnya menjaga kebersamaan, keikhlasan, dan semangat pengabdian dalam membangun organisasi. Menurutnya, politik seharusnya menjadi sarana memberi manfaat bagi masyarakat, bukan ajang mengejar kepentingan pribadi atau kelompok.

    “Kita ingin membangun budaya politik yang santun dan penuh nilai-nilai keislaman. Pengurus PKB harus menjadi teladan, menjaga persaudaraan, serta mengutamakan kepentingan umat di atas kepentingan pribadi maupun golongan,” kata Tgk. Ajmalul Hadi.

    Ia menilai konsolidasi semacam ini penting untuk menyatukan semangat pengurus hingga ke tingkat akar rumput, agar arah perjuangan partai sejalan dengan harapan masyarakat.

    Melalui kegiatan ini, DPC PKB Kota Banda Aceh ingin menegaskan bahwa membangun partai tidak melulu soal aktivitas politik praktis, melainkan dimulai dari tumbuhnya rasa saling percaya, komunikasi terbuka, dan ikatan kekeluargaan yang kuat sebagai modal menghadirkan perubahan nyata bagi masyarakat.**

  • Bupati Mirwan Tantang IKAMAS dan HAMAS Buktikan Kontribusi untuk Aceh Selatan

    Bupati Mirwan Tantang IKAMAS dan HAMAS Buktikan Kontribusi untuk Aceh Selatan

    acehtoday.id/ | Banda Aceh – Pelantikan IKAMAS dan HAMAS Banda Aceh menjadi momentum memperkuat sinergi antara masyarakat, mahasiswa, dan Pemerintah Kabupaten Aceh Selatan dalam mendukung percepatan pembangunan daerah. Prosesi pelantikan dipimpin langsung oleh Bupati Aceh Selatan, H. Mirwan MS, SE., M.Sos., pada Jumat (26/6/2026) malam.

    Acara berlangsung khidmat dan dihadiri unsur anggota DPRA Daerah Pemilihan (Dapil) 9, anggota DPRK Aceh Selatan, jajaran Pemerintah Kabupaten Aceh Selatan, Wali Kota Banda Aceh, akademisi, tokoh masyarakat, serta keluarga besar IKAMAS dan HAMAS.

    Dalam sambutannya, Mirwan mengucapkan selamat kepada seluruh pengurus baru sekaligus mengingatkan bahwa kepengurusan organisasi merupakan amanah yang harus dijalankan dengan penuh tanggung jawab.

    Menurutnya, keberadaan IKAMAS dan HAMAS memiliki peran penting sebagai mitra pemerintah dalam mendorong kemajuan Aceh Selatan. Ia menilai pembangunan daerah tidak bisa hanya mengandalkan pemerintah, tetapi membutuhkan dukungan seluruh elemen masyarakat, termasuk putra-putri Aceh Selatan yang sedang menempuh pendidikan maupun berkiprah di luar daerah.

    Bupati juga menegaskan bahwa ide, gagasan, dan inovasi dari masyarakat Aceh Selatan di perantauan merupakan modal berharga untuk mempercepat pembangunan Tanoh Pala di berbagai sektor.

    Karena itu, ia mengajak pengurus IKAMAS dan HAMAS terus berkontribusi dengan memperkuat kolaborasi dengan pemerintah daerah, menjaga nama baik Aceh Selatan melalui prestasi, sekaligus mempererat solidaritas masyarakat Aceh Selatan yang berada di Banda Aceh maupun daerah lainnya.

    Khusus kepada HAMAS, Mirwan berharap organisasi mahasiswa tersebut mampu menjadi wadah pembinaan generasi muda sekaligus laboratorium kepemimpinan yang melahirkan calon pemimpin Aceh Selatan di masa mendatang.

    Di akhir sambutannya, Mirwan turut menyampaikan apresiasi kepada pengurus IKAMAS dan HAMAS periode sebelumnya atas dedikasi mereka menjaga silaturahmi serta kekompakan masyarakat Aceh Selatan. Ia berharap kepengurusan baru dapat melanjutkan estafet organisasi dengan semangat pengabdian, kebersamaan, dan inovasi.

    “Jadikan organisasi ini sebagai ladang ibadah, tempat menempa diri, serta ruang untuk terus berkarya dan berkontribusi bagi kemajuan Aceh Selatan,” tutupnya.**

  • Jejak Karier Arman Fauzi, Dari Dapur Redaksi ke Komisi Informasi Pusat

    Jejak Karier Arman Fauzi, Dari Dapur Redaksi ke Komisi Informasi Pusat

    acehtoday.id/ | Banda Aceh – Nama Arman Fauzi kini menjadi salah satu representasi Aceh di tingkat nasional setelah dipercaya sebagai Anggota Komisi Informasi (KI) Pusat periode 2026–2030.

    Di balik capaian tersebut, tersimpan perjalanan panjang seorang mantan wartawan yang mengabdikan diri pada isu keterbukaan informasi dan pelayanan publik.

    Pria kelahiran Susoh, Kabupaten Aceh Barat Daya, 10 April 1980 itu mengawali karier profesionalnya di dunia jurnalistik. Arman pernah menjadi jurnalis Tabloid Modus Aceh dan dipercaya menjabat sebagai Koordinator Liputan pada 2004.

    Pengalaman sebagai wartawan membawanya akrab dengan kerja-kerja investigasi, pengumpulan data, serta pemahaman mengenai pentingnya akses informasi bagi masyarakat.

    Dari dunia pers, Arman kemudian melanjutkan kiprahnya sebagai investigator di LSM GeRAK Aceh. Kariernya di lembaga tersebut terus berkembang hingga dipercaya menjabat sebagai Sekretaris Eksekutif GeRAK Aceh pada periode 2005–2009.

    Di fase inilah ia semakin aktif menggeluti isu transparansi, akuntabilitas, dan kebijakan publik.

    Selain aktif dalam advokasi, Arman juga memiliki pengalaman di bidang pembangunan daerah.

    Ia pernah menjadi konsultan UNICEF untuk program pemenuhan hak anak di Aceh dan ditempatkan di Bappeda Aceh Jaya guna memberikan pendampingan teknis terkait perencanaan serta penganggaran daerah.

    Perjalanan pengabdiannya di sektor publik turut ditopang oleh aktivitas organisasi yang dijalaninya sejak masa kuliah. Saat menempuh pendidikan di Universitas Syiah Kuala (Unsyiah).

    Ia juga pernah menjabat sebagai Sekretaris Umum BEM Fakultas MIPA periode 2002–2003. Arman juga pernah memimpin paguyuban Ikatan Pemuda, Pelajar, dan Mahasiswa Susoh (IPPELMAS) pada 2006 serta menjabat Sekretaris DPD II KNPI Kabupaten Aceh Selatan.

    Kariernya di bidang keterbukaan informasi semakin menonjol ketika dipercaya menjadi Komisioner Komisi Informasi Aceh periode 2016–2020. Kepercayaan itu kembali diberikan pada periode 2020–2024.

    Berbekal pengalaman sebagai wartawan, aktivis, dan pegiat pelayanan publik, Arman Fauzi akhirnya melangkah ke tingkat nasional sebagai Anggota Komisi Informasi Pusat periode 2026–2030.

    Perjalanan tersebut menjadi bukti bahwa pengalaman dari ruang redaksi dapat menjadi modal penting dalam mengawal transparansi dan hak masyarakat memperoleh informasi.**

  • Dari Panton Labu ke Puncak UTU, Prof Nyak Amir Pimpin Transformasi Kampus Barat Selatan Aceh

    Dari Panton Labu ke Puncak UTU, Prof Nyak Amir Pimpin Transformasi Kampus Barat Selatan Aceh

    acehtoday.id/ | Meulaboh — Universitas Teuku Umar (UTU) resmi memasuki babak baru kepemimpinan. Sosok akademisi yang lama berkecimpung di dunia pendidikan tinggi, Prof. Dr. Nyak Amir, dipercaya memimpin kampus negeri kebanggaan masyarakat Barat Selatan Aceh untuk periode 2026–2030.

    Kepercayaan itu diberikan melalui rapat senat pemilihan rektor yang digelar pada Kamis (25/6/2026). Dari total 28 suara yang digunakan oleh anggota Senat Universitas Teuku Umar dan perwakilan Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Republik Indonesia, Prof Nyak Amir meraih 24 suara atau 85,71 persen dukungan.

    Perolehan suara tersebut mengungguli dua kandidat lainnya. Dr. Ir. Irwansyah memperoleh empat suara, sementara Prof. Dr. Iskandar AS tidak mendapatkan suara.

    Terpilihnya Prof Nyak Amir bukan sekadar pergantian pucuk pimpinan kampus. Bagi banyak kalangan akademik, momentum ini menjadi simbol kepercayaan terhadap sosok yang selama ini dikenal aktif membangun tata kelola perguruan tinggi, memperkuat kapasitas sumber daya manusia, hingga mendorong pengembangan infrastruktur pendidikan.

    Lahir di Desa Rawang Itek, Kecamatan Panton Labu, Kabupaten Aceh Utara, pada 25 November 1974, perjalanan Prof Nyak Amir menuju kursi rektor dimulai dari dunia pendidikan olahraga.

    Ia menyelesaikan pendidikan sarjana pada Program Studi Pendidikan Jasmani, Kesehatan, dan Rekreasi (Penjaskesrek) Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Syiah Kuala pada 1997.

    Semangatnya untuk terus mengembangkan ilmu pengetahuan membawanya melanjutkan studi magister di IKIP Surabaya pada Program Studi Pendidikan Olahraga yang diselesaikan pada 2001.

    Pendidikan doktoral kemudian ditempuh di Universitas Negeri Surabaya pada bidang Ilmu Keolahragaan hingga meraih gelar doktor.

    Karier akademiknya berkembang pesat. Sebagai dosen Penjaskesrek, ia dikenal aktif dalam pengembangan pendidikan dan penelitian hingga akhirnya menyandang gelar Guru Besar bidang Ilmu Keolahragaan.

    Sebelum terpilih sebagai rektor, Prof Nyak Amir mengemban amanah sebagai Wakil Rektor II Bidang Umum dan Keuangan Universitas Teuku Umar.

    Di luar dunia kampus, ayah empat anak tersebut juga memiliki pengalaman organisasi di tingkat nasional. Salah satu posisi strategis yang pernah diembannya adalah Sekretaris Jenderal Pengurus Besar Persatuan Panahan Indonesia (PERPANI), yang memperlihatkan kiprahnya tidak hanya dalam dunia akademik, tetapi juga pada pengembangan olahraga nasional.

    Dalam kontestasi pemilihan rektor, Prof Nyak Amir menawarkan visi besar bertajuk “Transformasi Universitas Teuku Umar sebagai Universitas Riset Berdampak dan Sainteknopreneurship Berbasis Agroindustri dan Kemaritiman Berdaya Saing Global”.

    Melalui visi tersebut, ia ingin membawa UTU menjadi kampus yang tidak hanya unggul dalam pendidikan dan penelitian, tetapi juga mampu menghasilkan inovasi yang berdampak langsung bagi masyarakat.

    Pendekatan kewirausahaan berbasis sains dan teknologi menjadi salah satu fokus utama yang akan dikembangkan untuk menjawab tantangan pembangunan masa depan.

    Transformasi yang ditawarkannya mencakup penguatan tata kelola universitas, peningkatan mutu pendidikan, pengembangan riset dan inovasi, transformasi digital, perluasan jejaring internasional, hingga penguatan kemitraan strategis dengan berbagai pihak.

    Bagi wilayah Barat Selatan Aceh, kehadiran UTU selama ini memiliki peran penting sebagai pusat pengembangan sumber daya manusia.

    Di bawah kepemimpinan Prof Nyak Amir, kampus tersebut diharapkan semakin mampu menjadi motor penggerak pembangunan daerah melalui pendidikan, riset, dan inovasi yang relevan dengan potensi unggulan Aceh, khususnya sektor agroindustri dan kemaritiman.

    Ketua Panitia Pemilihan Rektor UTU, Dr. T. Alamsyah, menyebut seluruh proses pemilihan berlangsung secara tertib, demokratis, dan akuntabel. Menurutnya, proses tersebut mencerminkan kedewasaan institusi dalam menjalankan tata kelola perguruan tinggi yang baik.

    Dengan dukungan mayoritas senat yang begitu kuat, Prof Nyak Amir kini memikul harapan besar untuk membawa Universitas Teuku Umar memasuki fase baru.

    Tantangan ke depan tidak ringan, namun rekam jejak akademik, pengalaman manajerial, serta visi transformasi yang diusung menjadi modal penting untuk mewujudkan cita-cita menjadikan UTU sebagai kampus unggul yang berdaya saing di tingkat nasional maupun global.**

    Laporan: Uci Setiawan

  • Masyarakat Bangun Jalan Sendiri, Salihin: BPJN Aceh Harusnya Malu

    Masyarakat Bangun Jalan Sendiri, Salihin: BPJN Aceh Harusnya Malu

    acehtoday.id/ | Banda Aceh – Polemik penghentian penanganan Jalan Enang-Enang terus menuai sorotan. Kini kritik keras datang dari Wakil Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Aceh (DPRA), Salihin yang menilai kondisi tersebut sebagai pukulan telak bagi pemerintah, khususnya Balai Pelaksanaan Jalan Nasional (BPJN) Aceh.

    Menurut Salihin, yang juga merupakan putra asli Gayo, masyarakat setempat justru telah menunjukkan kepedulian dan semangat gotong royong yang luar biasa dengan membangun jalan secara swadaya demi menjaga konektivitas kawasan tersebut.

    "Jalan itu sudah dibangun dengan swadaya masyarakat. Ketika masyarakat mampu menunjukkan inisiatif dan kepedulian seperti itu, seharusnya pemerintah hadir dan memperkuat, bukan justru terkesan membiarkan," kata Salihin kepada acehtoday.id/, Kamis (25/6/2026).

    Ia menilai persoalan Enang-Enang bukan sekadar soal akses transportasi atau mobilitas masyarakat. Lebih dari itu, kawasan tersebut memiliki nilai historis dan sakral yang melekat dalam perjalanan masyarakat Gayo.

    "Jalan dan jembatan bukan hanya tentang mobilitas masyarakat. Ada nilai sejarah dan nilai sakral yang harus dijaga. Ini bagian dari identitas masyarakat Gayo yang tidak bisa dipandang hanya dari aspek teknis pembangunan semata," ujarnya.

    Salihin mengungkapkan bahwa pembangunan Jalan dan Jembatan Enang-Enang sebenarnya telah masuk dalam perencanaan pemerintah sejak tahun 2020. Bahkan, saat itu lokasi tersebut telah ditinjau langsung oleh Wakil Menteri Pekerjaan Umum dengan target pelaksanaan pada tahun 2021.

    Kondisi jalan Enang-Enang setelah bencana alam November 2025 lalu. Foto Dok BPJN Aceh

    Namun rencana tersebut kemudian tertunda akibat pandemi Covid-19 yang melanda Indonesia dan mengganggu berbagai program pembangunan nasional.

    “Memang saat itu terkendala pandemi Covid-19. Tetapi sekarang kondisi sudah jauh membaik. Situasi bencana mulai normal, bahkan di sejumlah lokasi terdampak bencana lainnya sudah mulai dilakukan perbaikan dan rehabilitasi,” katanya.

    Karena itu, Salihin mempertanyakan mengapa hingga kini kawasan Enang-Enang yang berada di wilayah Bener Meriah dan Aceh Tengah belum menunjukkan tanda-tanda percepatan penanganan sebagaimana daerah lain.

    “Pertanyaan masyarakat sederhana. Kenapa daerah lain mulai diperbaiki, sementara Enang-Enang belum juga mendapat perhatian yang serius? Ini yang menimbulkan kekecewaan di tengah masyarakat,” ujarnya.

    Menurutnya, kondisi tersebut bukan hanya menjadi persoalan masyarakat setempat, melainkan juga menjadi catatan buruk bagi pemerintah dan seluruh pemangku kepentingan yang selama ini mengawal pembangunan Aceh.

    “Terus terang, kami merasa malu. Saya sebagai pimpinan DPRA sekaligus putra daerah Gayo merasa malu karena sampai hari ini belum ada tanda-tanda realisasi yang jelas,” tegasnya.

    Tamparan Bagi BPJN Aceh

    Salihin bahkan menyebut langkah masyarakat yang secara mandiri membangun jembatan seharusnya menjadi tamparan moral bagi BPJN Aceh.

    “Harusnya ada rasa malu ketika masyarakat bergerak sendiri membangun akses yang menjadi kebutuhan dasar mereka. Ini bisa menjadi preseden buruk dimata masyarakat terhadap BPJN Aceh apabila tidak segera ada langkah nyata,” katanya.

    Ia menegaskan bahwa penghentian atau lambannya penanganan Jalan Enang-Enang merupakan pukulan telak bagi pemerintah karena berpotensi menggerus kepercayaan publik terhadap kehadiran negara dalam menyelesaikan persoalan masyarakat.

    Sebagai putra Gayo, Salihin juga mengingatkan bahwa kawasan Enang-Enang memiliki sejarah panjang yang tidak bisa dipisahkan dari perjalanan masyarakat di dataran tinggi Gayo.

    @kebergayoAceh Tengah – Balai Pelaksanaan Jalan Nasional (BPJN) Aceh secara resmi menghentikan sementara penggunaan Jalan Enang-Enang sebagai akses bagi masyarakat. Keputusan tersebut disampaikan langsung oleh perwakilan BPJN Aceh saat meninjau lokasi pada Minggu (22/6/2026). Dalam penjelasannya, pihak BPJN Aceh menyebutkan bahwa kondisi jalan saat ini belum aman untuk dilalui. Penutupan dilakukan sebagai langkah antisipasi guna menghindari risiko yang dapat membahayakan keselamatan warga, terutama mengingat kondisi jalan yang masih terdampak bencana. baca selengkapnya di kebergayo.com

    ♬ suara asli – KEBER GAYO

    Menurutnya, jalan dan jembatan dikawasan tersebut pertama kali dibangun pada masa penjajahan. Dalam proses pembangunannya, banyak pengorbanan yang terjadi, bahkan nyawa dan darah disebut pernah tertumpah di kawasan itu.

    “Secara historis, jalan ini dibangun sejak masa penjajahan. Banyak cerita perjuangan, banyak pengorbanan, bahkan nyawa dan darah yang pernah tertumpah di sana. Karena itu, jalan ini memiliki makna tersendiri bagi masyarakat,” jelasnya.

    Lebih lanjut, Salihin menegaskan pihaknya akan terus memperjuangkan persoalan tersebut melalui berbagai jalur, termasuk menjalin komunikasi dengan DPR RI agar pemerintah pusat memberikan perhatian lebih serius.

    “Kalau dalam waktu dekat belum ada perkembangan yang signifikan, kami akan berkoordinasi dengan DPR RI, termasuk dengan anggota DPR RI H. Ruslan M. Daud yang merupakan Anggota Komisi V DPR RI, yang membidangi urusan infrastruktur, transportasi, perumahan rakyat, dan pembangunan daerah. Kami ingin memastikan pemerintah benar-benar hadir menyelesaikan persoalan ini,” ujarnya.

    Ia menegaskan bahwa masyarakat tidak membutuhkan janji baru, melainkan kepastian dan tindakan nyata agar akses yang selama ini menjadi urat nadi aktivitas warga dapat kembali berfungsi secara optimal.

    “Bagi masyarakat, yang paling penting bukan lagi wacana. Mereka menunggu kehadiran negara melalui langkah nyata. Jangan sampai masyarakat terus bergerak sendiri sementara pemerintah justru tertinggal di belakang,” pungkas Salihin.**