Penulis: Mauli Isnandar

  • TSR Coffee Roastery Perkuat Kemitraan dengan Petani Lokal, Jaga Keberlanjutan Kopi Gayo

    acehtoday.id/ | Takengon – Di tengah meningkatnya permintaan pasar terhadap kopi berkualitas, TSR Coffee Roastery menegaskan komitmennya untuk tidak hanya menghadirkan produk terbaik bagi konsumen, tetapi juga memastikan keberlanjutan industri kopi Gayo melalui kemitraan yang kuat bersama petani lokal.

    Sebagai pusat grosir kopi Gayo, TSR Coffee Roastery meyakini bahwa keberhasilan bisnis kopi tidak dapat dipisahkan dari peran petani yang selama ini menjadi ujung tombak dalam menghasilkan biji kopi berkualitas dari dataran tinggi Gayo.

    Karena itu, perusahaan tersebut menempatkan petani sebagai mitra strategis dalam membangun ekosistem kopi yang sehat, berkelanjutan, dan memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat.

    Di balik setiap cangkir kopi yang dinikmati pelanggan, terdapat proses panjang yang melibatkan kerja keras para petani, mulai dari budidaya, panen, hingga pengolahan pascapanen.

    Kesadaran itulah yang mendorong TSR Coffee Roastery untuk terus menjaga hubungan yang saling menguatkan dengan para petani dan pelaku usaha kopi di daerah penghasil.

    Bagi TSR Coffee Roastery, menjaga kualitas kopi Gayo bukan hanya soal teknik penyangraian atau menghasilkan cita rasa yang konsisten.

    Lebih dari itu, kualitas juga harus ditopang oleh keberlangsungan ekosistem kopi yang mampu memberikan kesejahteraan bagi para petani sebagai penghasil utama komoditas unggulan tersebut.

    Melalui jaringan pemasaran yang melayani kebutuhan rumah tangga, oleh-oleh khas Aceh, hingga pasokan bagi coffee shop dan pelaku usaha di berbagai daerah, TSR Coffee Roastery turut membuka akses pasar yang lebih luas bagi kopi Gayo, Semakin besar permintaan yang tercipta, semakin besar pula peluang hasil panen petani terserap dengan nilai ekonomi yang lebih baik.

    Komitmen tersebut diwujudkan melalui upaya menjaga standar kualitas secara konsisten serta membangun rantai pasok yang berorientasi pada keberlanjutan, dengan menghadirkan kopi Gayo yang mampu bersaing di pasar nasional maupun internasional, TSR Coffee Roastery ikut memperkuat posisi kopi Gayo sebagai salah satu komoditas unggulan yang menjadi kebanggaan Aceh dan Indonesia.

    TSR Coffee Roastery Perkuat Kemitraan dengan Petani Lokal, Jaga Keberlanjutan Kopi Gayo (Foto : TSR Coffee HOacehtoday.id/)

    Tidak hanya berfokus pada aktivitas perdagangan, TSR Coffee Roastery juga memandang bahwa keberhasilan usaha harus memberikan dampak sosial yang nyata bagi lingkungan sekitarnya. Karena itu, keberadaan petani lokal menjadi bagian penting dalam perjalanan bisnis yang dijalankan.

    TSR Coffee Jaga Tradisi

    Di tengah persaingan industri kopi yang semakin dinamis, TSR Coffee Roastery terus berupaya memperkenalkan kekayaan cita rasa kopi Gayo kepada masyarakat yang lebih luas.

    Langkah tersebut diharapkan dapat meningkatkan apresiasi terhadap kopi Gayo sekaligus membuka peluang pasar yang lebih besar bagi para petani untuk mempertahankan tradisi budidaya kopi yang telah diwariskan secara turun-temurun.

    Bagi TSR Coffee Roastery, setiap biji kopi membawa cerita tentang kerja keras, harapan, dan masa depan ribuan keluarga petani di kawasan Gayo. Karena itu, komitmen untuk tumbuh bersama petani dan menjaga keberlanjutan kopi Gayo akan terus menjadi bagian dari visi perusahaan.

    “Ketika kualitas bertemu dengan kepedulian, kopi tidak hanya menjadi komoditas, tetapi juga menjadi jembatan yang menghubungkan cita rasa, kesejahteraan petani, dan keberlanjutan masa depan,” demikian komitmen yang dipegang TSR Coffee Roastery dalam mengembangkan industri kopi Gayo.

    Dengan semangat tersebut, TSR Coffee Roastery hadir bukan hanya sebagai penyedia kopi, tetapi juga sebagai bagian dari ekosistem yang berupaya menjaga warisan kopi Gayo agar tetap lestari, bernilai tinggi, dan mampu menjadi sumber kesejahteraan bagi generasi sekarang maupun yang akan datang.

  • Saat Kota Baru Terbangun, Warung Kopi Banda Aceh Sudah Lebih Dulu Hidup

    acehtoday.id/ | Banda Aceh – Warung kopi Banda Aceh sudah mulai ramai ketika langit masih menyisakan warna gelap menjelang pagi.

    Lampu-lampu warung menyala sejak usai salat Subuh, sementara jarum jam bahkan belum menunjukkan pukul 06.00 WIB, namun kursi-kursi di sejumlah kedai sudah terisi.

    Asap tipis dari secangkir kopi hitam mengepul, menemani obrolan ringan yang mengalir di antara para pelanggan.

    Di kota yang dikenal sebagai salah satu pusat budaya kopi di Indonesia ini, warung kopi bukan sekadar tempat menikmati minuman berkafein.

    Ia telah menjadi ruang sosial yang hidup sejak pagi buta, bahkan sebelum sebagian besar aktivitas kota dimulai.

    Usai salat Subuh, sejumlah warga langsung menuju warung kopi langganan. Ada yang datang sendiri sambil membaca berita di ponsel, ada pula yang berkumpul bersama rekan kerja atau sahabat untuk berbincang tentang berbagai hal, mulai dari harga kebutuhan pokok, sepak bola, hingga isu-isu politik terbaru.

    Pemandangan seperti ini bukanlah hal baru. Budaya ngopi pagi telah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Banda Aceh selama puluhan tahun.

    Di banyak sudut kota, aktivitas warung kopi bahkan dimulai ketika jalanan masih lengang dan toko-toko belum membuka pintunya.

    Bagi sebagian warga, secangkir kopi pagi bukan sekadar pelepas kantuk. Ritual itu menjadi cara memulai hari.

    Aroma kopi yang khas, suasana santai, dan kesempatan bertemu banyak orang menjadikan warung kopi sebagai tempat yang sulit dipisahkan dari keseharian masyarakat Aceh.

    Saat Kota Baru Terbangun, Warung Kopi Banda Aceh Sudah Lebih Dulu Hidup
    Secangkir kopi hitam hangat menemani pagi di salah satu warung kopi Banda Aceh. Budaya ngopi menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan masyarakat Aceh. Foto : acehtoday.id/-Nandar

    Warung Kopi Banda Aceh Jadi Pusat Pertemuan semua Kalangan

    Di meja-meja kayu sederhana maupun kafe modern, berbagai kalangan bercampur tanpa sekat.

    Pegawai negeri, pedagang, mahasiswa, sopir angkutan, hingga pensiunan duduk berdampingan menikmati kopi favorit mereka.

    Perbedaan profesi dan latar belakang seolah melebur dalam hangatnya suasana pagi.

    Tak sedikit pula yang memanfaatkan waktu ngopi untuk bekerja. Dengan fasilitas internet yang tersedia hampir di setiap kedai, warung kopi kini berkembang menjadi ruang produktif.

    Laptop terbuka di atas meja, sementara secangkir sanger atau kopi arabika menjadi teman menyelesaikan berbagai pekerjaan.

    Fenomena ini menunjukkan bagaimana warung kopi di Banda Aceh terus beradaptasi dengan perkembangan zaman tanpa kehilangan fungsi utamanya sebagai ruang interaksi sosial.

    Meski teknologi mengubah cara orang berkomunikasi, budaya bertemu langsung di warung kopi tetap bertahan.

    Bahkan bagi para pelaku usaha, ramainya pengunjung sejak pagi menjadi berkah tersendiri. Aktivitas ekonomi bergerak lebih awal.

    Dari penjual kopi, penyedia roti canai, hingga pedagang kue tradisional, semuanya mendapat manfaat dari budaya ngopi yang kuat di tengah masyarakat.

    Saat matahari mulai meninggi dan lalu lintas kota semakin padat, sebagian pelanggan beranjak meninggalkan meja mereka.

    Ada yang menuju kantor, pasar, kampus, atau tempat usaha masing-masing. Namun satu hal tetap sama, hari mereka telah dimulai dari warung kopi.

    Di Banda Aceh, ketika sebagian kota masih terlelap, warung kopi sudah lebih dulu hidup.

    Dari tempat inilah percakapan dimulai, informasi bertukar, hubungan sosial terjalin, dan denyut kehidupan kota perlahan bergerak menyambut pagi.

    Suasana subuh di sebuah warung kopi Banda Aceh. Tradisi menikmati kopi sebelum memulai aktivitas telah menjadi bagian dari budaya masyarakat Aceh selama puluhan tahun. Foto : Dewantara Kupi Maps
  • Ironis! Diperbaiki dengan Donasi Rakyat, Jalan Enang-Enang Justru Dihentikan BPJN Aceh

    acehtoday.id/ | Bener Meriah – Harapan masyarakat untuk kembali menggunakan Jalan Lintas Enang-Enang yang dalam beberapa pekan terakhir diperbaiki secara swadaya harus tertunda.

    Balai Pelaksanaan Jalan Nasional (BPJN) Aceh secara resmi menghentikan sementara penggunaan ruas jalan yang menghubungkan Bireuen-Takengon tersebut karena dinilai belum aman untuk dilalui kendaraan.

    Keputusan itu disampaikan langsung oleh Plt Kepala BPJN Aceh, Zulkarnaini, saat meninjau lokasi kerusakan jalan dan jembatan di kawasan Enang-Enang.

    “Jalan ini kita stop, beralih ke jalan Wer Lah, demi keselamatan kita semua,” kata Zulkarnaini dalam video yang beredar luas di media sosial, Senin (22/6/2026).

    Diperbaiki dengan Donasi Rakyat, Jalan Enang-Enang Justru Dihentikan BPJN Aceh
    Plt Kepala BPJN Aceh, Zulkarnaini Bersama Rombongan Kunjungi Jembatan Enang Enang Bener Meriah. Foto : BPJN

    Perjuangan Warga Enang-Enang

    Pernyataan tersebut disampaikan di hadapan masyarakat yang selama ini bergotong royong memperbaiki akses jalan secara mandiri.

    Salah satunya adalah Syahrial, tokoh masyarakat yang menjadi penggerak utama perbaikan swadaya jalan tersebut.

    Menanggapi keputusan BPJN, Syahrial mengaku tetap ingin melanjutkan proses pengaspalan yang sedang dikerjakan.

    Menurutnya, dana donasi yang dihimpun dari masyarakat dan para dermawan telah digunakan untuk membiayai pekerjaan tersebut.

    “Kami tetap melanjutkan pengaspalan karena sedikit lagi siap. Uang donasi sudah kami bayarkan untuk itu,” ujarnya.

    Namun, Zulkarnaini mengingatkan bahwa pekerjaan pengaspalan yang dilakukan warga berpotensi sia-sia apabila kondisi cuaca memburuk dan hujan kembali mengguyur kawasan tersebut.

    “Nanti percuma bapak mengaspal. Ini saya lihat, sekali hujan dibawa semua,” katanya.

    Ia juga meminta masyarakat menyampaikan kepada para donatur bahwa penghentian penggunaan jalan dilakukan atas pertimbangan keselamatan.

    “Sampaikan pada donatur, sudah di-stop oleh saya dari BPJN. Uang yang sudah terkumpul mungkin bisa bapak gunakan untuk hal lain yang lebih bermanfaat,” tambahnya.

    Sebelumnya, masyarakat setempat secara swadaya menggalang dana dan menyewa alat berat untuk membuka kembali akses jalan yang sempat terputus akibat longsor.

    Upaya tersebut berhasil membersihkan sejumlah titik material longsor dan membuat badan jalan mulai bisa dilalui kendaraan roda dua.

    Meski demikian, hasil peninjauan BPJN Aceh menunjukkan masih terdapat sejumlah titik longsor aktif, kondisi tanah yang labil, serta kerusakan berat pada struktur jembatan yang belum memungkinkan ruas tersebut difungsikan sebagai jalur transportasi umum.

    BPJN menilai pekerjaan yang dilakukan masyarakat baru sebatas membuka akses sementara dan belum menyelesaikan persoalan utama yang berpotensi membahayakan pengguna jalan.

    Karena itu, masyarakat diimbau tetap menggunakan jalur alternatif melalui Wer Lah atau Wih Porak hingga penanganan permanen dapat dilakukan.

    BPJN Aceh menyebutkan penanganan permanen Jalan dan Jembatan Enang-Enang telah masuk dalam rencana pembangunan pemerintah pusat.

    Namun, pelaksanaannya masih memerlukan kajian teknis lebih lanjut mengingat lokasi tersebut berada di kawasan rawan longsor dan merupakan bagian dari ruas jalan nasional.

    Banner dukungan untuk melanjutkan perbaikan jalan Enang-enang. Dok Kebergayo_com.
  • Ironis, Warga Patungan Perbaiki Jalan, FORSIAKUBA Sentil Keras Pemkab Aceh Selatan

    acehtoday.id/ | Aceh Selatan – Puluhan warga Gampong Pasie Kuala Bau, Kecamatan Kluet Utara, Kabupaten Aceh Selatan, bergotong royong memperbaiki jalan desa yang selama ini menjadi akses utama masyarakat, namun kondisinya rusak dan belum mendapat penanganan memadai dari pemerintah.

    Aksi swadaya yang dilakukan warga tersebut mendapat perhatian dari Ketua Forum Silaturahmi Mahasiswa Kuala Bau (FORSIAKUBA), Muksan.

    Menurutnya, kegiatan gotong royong itu tidak hanya mencerminkan semangat kebersamaan masyarakat, tetapi juga menjadi gambaran masih minimnya perhatian pemerintah terhadap infrastruktur dasar di wilayah tersebut.

    "Apa yang terjadi hari ini bukan sekadar gotong royong biasa, ketika masyarakat harus mengumpulkan tenaga, waktu, dan biaya sendiri untuk memperbaiki jalan desa, ini menunjukkan bahwa ada kebutuhan dasar yang belum terpenuhi," kata Muksan kepada acehtoday.id/.

    Ia menjelaskan, jalan tersebut telah lama mengalami kerusakan dan kerap dikeluhkan warga karena menjadi jalur utama untuk menjalankan berbagai aktivitas sehari-hari. Namun hingga kini, perbaikan yang diharapkan masyarakat belum juga terealisasi.

    Menurut Muksan, kondisi tersebut seharusnya menjadi perhatian serius bagi Pemerintah Kabupaten Aceh Selatan maupun DPRK Aceh Selatan agar pembangunan infrastruktur desa dapat menjadi prioritas.

    “Masyarakat tidak meminta sesuatu yang berlebihan. Mereka hanya menginginkan akses jalan yang layak untuk menu

    njang aktivitas ekonomi, pendidikan, dan kebutuhan sehari-hari,” ujarnya.

    Ia menilai, inisiatif warga memperbaiki jalan secara mandiri merupakan bentuk kepedulian terhadap lingkungan sekaligus cerminan kekecewaan atas lambannya penanganan infrastruktur yang menjadi kebutuhan vital masyarakat.

    FORSIAKUBA Apresiasi Warga

    Meski demikian, Muksan mengapresiasi semangat gotong royong yang ditunjukkan warga Pasie Kuala Bau, menurutnya, budaya kebersamaan tersebut merupakan nilai positif yang harus terus dijaga.

    “Gotong royong adalah budaya luhur masyarakat kita. Namun, semangat kebersamaan warga tidak boleh dijadikan alasan bagi pemerintah untuk mengabaikan tanggung jawabnya dalam menyediakan infrastruktur yang layak,” tegasnya.

    FORSIAKUBA berharap pemerintah daerah dapat segera mengambil langkah konkret untuk memperbaiki jalan tersebut dan memastikan kebutuhan dasar masyarakat terpenuhi.

    “Rakyat membutuhkan pelayanan yang nyata dan kehadiran pemerintah dalam menyelesaikan persoalan yang mereka hadapi, apa yang dilakukan masyarakat hari ini menjadi pengingat bahwa pembangunan harus benar-benar menyentuh kebutuhan warga di lapangan,” pungkas Muksan.(mol)

  • DPRA Ketok Palu, Tiga Raqan Prioritas Tahun 2026 Resmi Disetujui

    acehtoday.id/ | Banda Aceh – Dewan Perwakilan Rakyat Aceh (DPRA) menyetujui tiga Rancangan Qanun Aceh (Raqan) usul inisiatif Tahun 2026 dalam Rapat Paripurna yang digelar di Gedung Utama DPRA, Senin (22/6/2026).

    Rapat paripurna dipimpin Wakil Ketua DPRA Ali Basrah dan dihadiri Sekretaris Daerah Aceh M. Nasir, unsur Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda), anggota DPRA, serta para kepala Satuan Kerja Perangkat Aceh (SKPA) dan biro terkait di lingkungan Pemerintah Aceh.

    Ali Basrah dalam pengantarnya menjelaskan, ketiga raqan tersebut telah melalui proses pengkajian oleh alat kelengkapan dewan sebelum dibawa ke rapat paripurna untuk mendapatkan persetujuan sebagai Raqan usul inisiatif DPRA.

    Tiga Raqan yang Disetujui DPRA

    Adapun tiga rancangan qanun yang disetujui meliputi Raqan tentang Pelaksanaan Syariat Islam melalui Pembelajaran Ilmu Fardhu Ain dan Baca Tulis Al-Qur’an dalam Pendidikan Aceh, Raqan tentang Pertambangan Mineral dan Batubara, serta Raqan tentang Penyelamatan Generasi Aceh.

    Sebelum pengambilan keputusan, juru bicara komisi dan Badan Legislasi DPRA selaku pengusul menyampaikan penjelasan terkait latar belakang dan substansi masing-masing rancangan qanun. Selanjutnya, seluruh fraksi DPRA diberikan kesempatan untuk menyampaikan pandangan dan tanggapan.

    Setelah seluruh tahapan pembahasan selesai dilaksanakan, rapat paripurna secara resmi menyetujui ketiga rancangan qanun tersebut untuk ditetapkan sebagai Rancangan Qanun Aceh Usul Inisiatif DPRA Tahun 2026.

    Persetujuan tersebut ditandai dengan pembacaan keputusan rapat oleh Sekretaris DPRA, Khudri.

    Dengan persetujuan itu, ketiga raqan selanjutnya akan memasuki tahapan pembahasan lebih lanjut sesuai mekanisme pembentukan peraturan perundang-undangan di Aceh. [Mol]

  • Program MBG dan Nasib Petani Lokal yang Masih Jadi Penonton

    acehtoday.id/ | Banda Aceh – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang dijalankan pemerintah pusat dinilai memiliki potensi besar untuk menggerakkan ekonomi masyarakat desa, namun hingga kini banyak petani lokal di Aceh disebut belum merasakan manfaat nyata dari program tersebut karena belum terlibat secara optimal dalam rantai pasok kebutuhan pangan MBG.

    Akademisi dan Praktisi Pertanian Universitas Serambi Mekkah (USM), Dr. Elvrida Rosa, S.P., M.P., yang juga aktif sebagai pengurus Perhimpunan Sarjana Pertanian Indonesia (PISPI) Aceh serta pengurus PERGIZI Pangan Aceh, mengatakan berbagai komoditas pertanian yang dibutuhkan untuk memenuhi menu Program Makan Bergizi Gratis (MBG) sebenarnya tersedia di Aceh. Komoditas tersebut mulai dari beras, sayuran hijau, buah-buahan, hingga berbagai produk hortikultura lainnya yang dihasilkan petani lokal.

    "Petani kita sebenarnya memiliki potensi untuk memenuhi kebutuhan pangan program MBG. Sayuran seperti sawi, kangkung, bayam, selada, bunga kol hingga komoditas lainnya banyak diproduksi oleh petani di berbagai daerah," kata Elvrida kepada acehtoday.id/.

    Menurutnya, salah satu persoalan utama yang membuat petani lokal belum maksimal terlibat adalah kemampuan menjaga kontinuitas produksi.

    Dapur MBG membutuhkan pasokan bahan pangan yang stabil dan berkelanjutan setiap minggu, sementara sebagian besar petani di Aceh masih menggunakan pola budidaya konvensional yang sangat bergantung pada musim dan kondisi cuaca.

    "Pasokan untuk program seperti MBG harus rutin dan konsisten, ini yang sering menjadi kendala karena sebagian besar petani masih bergantung pada kondisi alam, ketika terjadi perubahan cuaca ekstrem atau musim yang tidak menentu, produksi bisa terganggu," ujarnya.

    Meski demikian, Elvrida menilai persoalan tersebut tidak bisa sepenuhnya dibebankan kepada petani, tetapi pemerintah daerah khususnya, kata dia, harus hadir melalui program pendampingan yang berkelanjutan, mulai dari perencanaan pola tanam, teknologi budidaya, hingga akses pemasaran.

    "Jangan hanya memberikan bantuan modal atau sarana produksi, yang lebih penting adalah pendampingan dan membangun sistem yang menjembatani petani dengan pasar, pemerintah daerah harus hadir sebagai penghubung antara petani dan pengguna produk pertanian," katanya.

    Banda Aceh – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang digulirkan pemerintah pusat dinilai memiliki potensi besar untuk menggerakkan ekonomi masyarakat desa, namun hingga kini banyak petani lokal di Aceh disebut belum merasakan manfaat nyata dari program tersebut karena belum terlibat secara optimal dalam rantai pasok kebutuhan pangan MBG.

    Perlu Regulasi Penyerapan Produk Lokal

    Lebih lanjut, Elvrida mendorong pemerintah daerah untuk membuat regulasi yang mengutamakan pembelian bahan pangan dari petani lokal dalam program MBG.

    Menurutnya, kebijakan tersebut akan memberikan kepastian pasar bagi petani sekaligus memperkuat ekonomi daerah.

    “Kalau bahan pangan untuk MBG terus didatangkan dari luar daerah, maka petani lokal hanya akan menjadi penonton, padahal program ini seharusnya bisa menjadi instrumen untuk menggerakkan ekonomi masyarakat desa,” ujarnya.

    Ia menambahkan, kontrak kerja sama antara kelompok tani dan pengelola dapur MBG dapat menjadi solusi untuk memastikan ketersediaan pasokan sekaligus memberikan kepastian bagi petani dalam memasarkan hasil panen mereka.

    “Petani pasti mau jika ada kepastian pembelian, mereka akan semangat menanam karena tahu hasil panennya akan terserap dan memiliki nilai ekonomi yang jelas,” kata Elvrida.

    Program MBG diharapkan Kolaborasi Semua Pihak

    Selain regulasi, Elvrida juga menekankan pentingnya melibatkan penyuluh pertanian, akademisi, ahli gizi dan kelompok tani dalam mendukung keberhasilan program MBG.

    Pengawasan terhadap kualitas pangan, proses budidaya, hingga distribusi bahan pangan dinilai akan lebih efektif jika melibatkan pihak-pihak yang memiliki kompetensi di bidang pertanian.

    “Program sebesar MBG membutuhkan kolaborasi banyak pihak, penyuluh, akademisi, kelompok tani, ahli gizi dan pemerintah harus berjalan bersama agar manfaatnya benar-benar dirasakan masyarakat,” ujarnya.

    Ia berharap MBG tidak hanya dipandang sebagai program pemenuhan gizi, tetapi juga sebagai momentum untuk membangun kemandirian pangan daerah dan meningkatkan kesejahteraan petani.

    “Jangan sampai program yang nilainya besar justru tidak memberikan manfaat bagi petani lokal, MBG harus menjadi peluang untuk memberdayakan petani, memperkuat ekonomi desa, dan menciptakan sistem pangan yang lebih berkelanjutan,” tutup Elvrida.

  • Fakta Viral Denda Rp100 Juta Calon Manajer Kopdes Merah Putih

    acehtoday.id/ | Sebuah surat pernyataan calon Manajer Koperasi Desa/Kelurahan (Kopdes) Merah Putih ramai diperbincangkan di media sosial karena memuat klausul denda Rp100 juta bagi peserta yang mengundurkan diri sebelum masa ikatan dinas berakhir.

    Berdasarkan informasi yang beredar, calon manajer memang diwajibkan menandatangani sejumlah komitmen sebelum mengikuti tahapan seleksi lanjutan, Salah satu poin menyebut peserta bersedia menjalani ikatan dinas selama dua tahun setelah penempatan. Jika mengundurkan diri atas kemauan sendiri sebelum masa tersebut selesai, peserta menyatakan bersedia menerima konsekuensi berupa denda Rp100 juta.

    Kepala Badan Kepegawaian Negara (BKN) Zudan Arif Fakrulloh menjelaskan bahwa klausul tersebut dibuat sebagai bentuk komitmen peserta agar kandidat yang lolos benar-benar siap menjalankan tugas dalam program tersebut.

    Namun, informasi mengenai denda bukan berarti peserta otomatis dikenai pembayaran hanya karena tidak lolos seleksi. Ketentuan tersebut berkaitan dengan peserta yang sudah masuk tahap penempatan dan kemudian mengundurkan diri sebelum masa ikatan kerja selesai.

    Fakta Viral Denda Rp100 Juta Calon Manajer Kopdes Merah Putih
    Dua poin dalam surat pernyataan yang dibahas oleh warganet. Salah satunya denda Rp100 juta jika manajer mundur sebelum masa ikatan dinas berakhir. Foto: X @Makaryo0

    Status Kerja Manajer Kopdes Merah Putih

    Peserta yang lolos seleksi tidak berstatus sebagai Pegawai Negeri Sipil (PNS). Mereka akan bekerja melalui skema Perjanjian Kerja Waktu Tertentu (PKWT) sebagai pegawai di bawah PT Agrinas Pangan Nusantara. Masa kontrak disebut berlangsung selama dua tahun.

    Rekrutmen tersebut dibuka untuk ribuan posisi manajer dengan kualifikasi tertentu, termasuk lulusan perguruan tinggi dan persyaratan administrasi lainnya.

    Benarkah Gaji Belum Jelas?

    Keluhan peserta terkait gaji memang muncul karena pemerintah belum merilis rincian resmi nominal penghasilan secara detail. Informasi yang beredar menyebut besaran gaji akan mempertimbangkan lokasi penempatan dan tanggung jawab pekerjaan, tetapi angka pasti masih menjadi sorotan publik.

    Sejumlah pihak mempertanyakan mengapa peserta harus menyetujui ikatan dinas dan risiko denda, sementara rincian hak seperti gaji, fasilitas, serta tunjangan belum banyak diketahui publik.

  • Bus JRG Tabrak Dua Motor di Pidie, Empat Orang Meninggal Dunia

    acehtoday.id/ | Sigli  – Kecelakaan maut terjadi di ruas Jalan Banda Aceh-Medan, tepatnya di kawasan Gampong Dayah Caleue, Kecamatan Indrajaya, Kabupaten Pidie. Bus Jasa Rahayu Geumpueng (JRG) bernomor polisi BL 7525 PB menghantam dua sepeda motor hingga menyebabkan empat orang meninggal dunia.

    Empat korban yang meninggal dalam insiden tersebut masing-masing Cut Raisya Naisyira (13) dan Zurratul Wilza (13), warga Gampong Krueng Seumideun, Kecamatan Peukan Baro. Dua korban lainnya yakni Anadia (33) dan Rustina (57), warga Gampong Seukee, Kecamatan Simpang Tiga, Pidie.

    “Dalam kecelakaan semalam ada empat korban meninggal dunia,” kata Kasat Lantas Polres Pidie AKP Aiyub Sami, Senin (15/6/2026).

    Peristiwa tersebut terjadi pada Minggu malam (14/6/2026) sekitar pukul 21.20 WIB. Saat kejadian, bus JRG yang dikemudikan M. Isa Yunus (58), warga Gampong Ukee, Kecamatan Titeue, Pidie, melaju dari arah Banda Aceh menuju Medan.

    Kronologis Bus JRG Tabrak Dua Motor

    Menurut kepolisian, kecelakaan bermula ketika sepeda motor Honda Scoopy BL 5653 PAW keluar dari sisi kiri jalan dan hendak berbelok ke kanan. Karena jarak bus dengan kendaraan tersebut sudah terlalu dekat, sopir bus tidak sempat menghindari tabrakan.

    Usai menghantam sepeda motor Scoopy, pengemudi bus berusaha mengendalikan kendaraan dengan membanting setir ke arah kanan. Namun, bus kembali menabrak sepeda motor Honda Beat BL 4344 PAJ yang datang dari arah berlawanan.

    “Jarak antara bus dan pengendara sangat dekat sehingga kecelakaan tidak dapat dihindari,” ujar AKP Aiyub.

    Akibat kejadian itu, kedua sepeda motor korban mengalami kerusakan berat dan telah diamankan di Mapolres Pidie untuk proses pemeriksaan lebih lanjut.

    Keempat korban sempat mendapat penanganan medis di RSUD Tgk Chik Ditiro Sigli. Setelah itu, jenazah diserahkan kepada pihak keluarga untuk dimakamkan.

    Terkait informasi yang beredar bahwa sopir bus melarikan diri setelah kecelakaan, Kasat Lantas Polres Pidie memastikan kabar tersebut tidak benar.

    “Sopir sudah kami amankan dan saat ini masih menjalani pemeriksaan lanjutan di Polres Pidie,” jelasnya.

    @seputaraceh.id

    🚨 BREAKING NEWS Empat orang dilaporkan meninggal dunia di tempat setelah sepeda motor yang mereka tumpangi terlibat kecelakaan dengan Bus JRG di Simpang Caleu, Kecamatan Peukan Baro/Indrajaya, Kabupaten Pidie, Minggu (14/6/2026). Saat ini, informasi lebih lanjut mengenai identitas korban maupun kronologi lengkap kejadian masih dalam proses pengumpulan dan verifikasi. Kami akan terus memperbarui perkembangan informasi terkait peristiwa ini. #Pidie #KecelakaanMaut #BusJRG #BeritaAceh #InfoAceh

    ♬ suara asli – Seputar Aceh – Seputar Aceh

  • Jamaah Haji Aceh Mulai Pulang, PPIH Siapkan Layanan Debarkasi dari Bandara hingga Daerah

    acehtoday.id/ | Banda Aceh – Setelah menjalani rangkaian ibadah di Tanah Suci, ribuan jamaah haji Aceh mulai bersiap kembali ke tanah air. Kepulangan mereka menjadi momen yang dinantikan keluarga, sekaligus menjadi perhatian Petugas Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Embarkasi Aceh.

    Untuk memastikan proses pemulangan berjalan lancar, PPIH Embarkasi Aceh mengoptimalkan seluruh layanan debarkasi yang akan berlangsung mulai 15 hingga 30 Juni 2026.

    Ketua PPIH Embarkasi Aceh, Arijal mengatakan seluruh petugas telah disiapkan untuk menyambut kedatangan jamaah haji Aceh yang kembali secara bertahap melalui Bandara Internasional Sultan Iskandar Muda, Aceh Besar.

    “Seluruh layanan debarkasi dimaksimalkan untuk memastikan proses penyambutan dan pemulangan jamaah berjalan lancar, tertib dan nyaman,” kata Arijal di Banda Aceh, Sabtu.

    Kloter pertama jamaah haji Aceh dijadwalkan tiba pada Senin (15/6/2026) malam. Kedatangan tersebut menjadi awal dari rangkaian kepulangan jamaah yang akan berlangsung hingga akhir Juni.

    Arijal menyebut berbagai persiapan terus dilakukan, mulai dari koordinasi antarpetugas, penyambutan di bandara, layanan kesehatan, pengurusan bagasi, hingga proses pengantaran jamaah menuju daerah asal masing-masing.

    “Kami terus melakukan berbagai persiapan dan koordinasi agar seluruh proses debarkasi berjalan dengan baik,” ujarnya.

    Menurutnya, kepulangan jamaah haji bukan hanya sekadar perjalanan kembali dari Tanah Suci, tetapi menjadi momen yang penuh harapan bagi keluarga yang telah lama menunggu.

    Karena itu, PPIH Aceh meminta seluruh petugas, baik dari PPIH kloter maupun petugas daerah Kementerian Haji dan Umrah kabupaten/kota, dapat menjalankan tugas secara maksimal.

    Terkait pembagian air zamzam, Arijal menjelaskan distribusi akan dilakukan di daerah masing-masing. Ia mengimbau keluarga jamaah agar melakukan penjemputan sesuai lokasi yang telah ditentukan.

    “Terkait pembagian air zamzam akan dilakukan di daerah masing-masing. Karena itu, kami mengimbau keluarga atau kerabat jamaah agar menjemput di daerah masing-masing,” katanya.

    Selain fokus pada pelayanan kepulangan, PPIH Aceh juga mengingatkan jamaah agar menjaga nilai-nilai haji mabrur setelah kembali ke tengah masyarakat.

    Arijal menyampaikan, keberhasilan ibadah haji tidak berhenti setelah meninggalkan Tanah Suci, tetapi harus tercermin melalui perubahan sikap, peningkatan ibadah, kepedulian sosial, serta memberi manfaat bagi lingkungan sekitar.

    “Haji mabrur tidak berhenti di Tanah Suci. Kemabruran harus terus dirawat melalui peningkatan ibadah, akhlak yang baik, kepedulian sosial, serta semangat memberi manfaat bagi sesama,” ujarnya.

    Jamaah Haji Aceh Mulai Pulang, diharapkan jadi Teladan

    Ia berharap para jamaah haji Aceh dapat menjadi teladan di tengah masyarakat dalam menjaga kerukunan, memperkuat silaturahmi, dan menghidupkan semangat gotong royong.

    Arijal juga mengapresiasi antusiasme masyarakat Aceh yang selalu menyambut kepulangan jamaah haji dengan penuh penghormatan sebagai bentuk tradisi memuliakan tamu Allah SWT.

    “Kami mengucapkan selamat datang kepada seluruh jamaah haji Aceh. Semoga seluruh rangkaian ibadah diterima Allah SWT dan para jamaah memperoleh haji yang mabrur serta membawa keberkahan bagi keluarga dan masyarakat,” demikian Arijal.

    Ilustrasi jemaah haji Aceh tiba di Tanah Air. Foto : Ist
  • Dijanjikan Rp15 Juta, Pemuda Sultra Malah Diduga Jadi Jaminan Transaksi Sabu

    acehtoday.id/ | Aceh Utara – Bak datang membawa harapan, Fadli Faresi (22), pemuda asal Kabupaten Kolaka Timur, Sulawesi Tenggara, justru berakhir dalam situasi yang tidak pernah ia bayangkan, niat awal datang ke Aceh karena dijanjikan uang Rp15 juta, Fadli diduga malah menjadi “jaminan” dalam sebuah transaksi narkotika jenis sabu-sabu yang belum terselesaikan.

    Kasus ini mulai terbuka setelah Polres Aceh Utara menerima laporan melalui layanan Call Center 110 terkait dugaan penyekapan terhadap seorang pemuda asal Sulawesi Tenggara.

    Kasat Reskrim Polres Aceh Utara AKP Ibrahim mengungkapkan, berdasarkan keterangan awal korban, Fadli berangkat dari kampung halamannya pada April 2026 setelah mendapat perintah dari seseorang bernama Fajar yang disebut sebagai warga binaan di Lapas Kendari.

    “Berdasarkan keterangan awal, korban mengaku datang ke Aceh atas perintah seseorang bernama Fajar. Korban dijanjikan imbalan sebesar Rp15 juta untuk menjadi jaminan dalam sebuah transaksi narkotika,” kata Ibrahim, Minggu (14/6/2026).

    Setibanya di Aceh Utara, Fadli kemudian dijemput oleh seorang pria berinisial Z di kawasan Panton Labu. Setelah itu, korban dibawa menuju Gampong Buket Linteung, Kecamatan Langkahan.

    Di lokasi tersebut, Fadli disebut ditempatkan di sebuah rumah yang dihuni istri Z. Polisi menyebut korban berada dalam pengawasan ketat dan tidak diperbolehkan meninggalkan tempat tersebut lantaran masih berkaitan dengan transaksi sabu yang belum selesai.

    “Korban dijadikan jaminan dalam transaksi narkotika yang belum terselesaikan. Namun seluruh keterangan ini masih dalam proses pendalaman penyidik,” ujar Ibrahim.

    Dijanjikan Rp15 Juta dapat Ancaman

    Selama berada di lokasi, korban juga mengaku mendapat ancaman. Dalam kondisi merasa keselamatannya terancam, Fadli kemudian menghubungi keluarganya di Sulawesi Tenggara melalui WhatsApp dan meminta bantuan agar menghubungi pihak kepolisian.

    Laporan tersebut langsung ditindaklanjuti Tim Unit Reaksi Cepat (URC) Satreskrim Polres Aceh Utara. Petugas melakukan pencarian hingga akhirnya menemukan korban dalam keadaan selamat.

    “Fokus utama kami adalah memastikan keselamatan korban. Setelah menerima laporan, tim langsung bergerak melakukan pencarian hingga korban berhasil ditemukan dalam keadaan sehat dan selamat,” kata Ibrahim.

    Saat ini Fadli telah diamankan di Mapolres Aceh Utara untuk menjalani pemeriksaan lebih lanjut. Polisi masih mendalami seluruh rangkaian kejadian, termasuk menelusuri pihak-pihak yang disebut dalam keterangan korban.

    Sementara itu, pria berinisial Z yang diduga terlibat dalam kasus tersebut masih dalam pengejaran polisi.

    Penyidik memastikan proses penyelidikan terus berjalan untuk mengungkap secara utuh motif di balik dugaan penyekapan yang menyeret pemuda asal Sulawesi Tenggara tersebut.