Bumoe Indatu Ceudah, Gerakan Sosial yang Menjaga Paru-Paru Aceh Barat

Written by

in

acehtoday.id/ | Meulaboh – Di saat banyak orang berlomba menanam bibit pohon, sekelompok anak muda di Kabupaten Aceh Barat justru memilih jalan yang berbeda. Mereka tidak memulai dari menanam, tetapi merawat pohon-pohon tua yang selama bertahun-tahun dibiarkan dipenuhi benalu, dipaku, bahkan menjadi tempat pembakaran sampah.

Gerakan itu lahir dari keresahan sederhana yang kemudian tumbuh menjadi sebuah yayasan bernama Bumoe Indatu Ceudah (BIC). Organisasi nirlaba yang resmi berdiri pada 28 Januari 2023 ini mengusung filosofi yang dalam.

Dalam Bahasa Aceh, bumoe berarti bumi, indatu berarti leluhur, dan ceudah berarti indah. Nama tersebut menjadi doa sekaligus komitmen untuk menjaga bumi warisan nenek moyang agar tetap lestari dan nyaman dihuni.

Sebelum menjadi yayasan, aktivitas merawat pohon dilakukan secara mandiri oleh para pendirinya di sela kesibukan sebagai dosen. Berbekal kecintaan terhadap lingkungan, mereka rutin membersihkan batang pohon dari parasit, mencabut paku yang tertancap, hingga mengedukasi masyarakat agar tidak membakar sampah di pangkal pohon.

Kepedulian kecil itu kemudian berkembang menjadi gerakan konservasi yang melibatkan semakin banyak pihak.

Bagi BIC, pohon bukan sekadar penghias jalan atau peneduh kota. Pohon dipandang sebagai makhluk hidup yang juga membutuhkan pertolongan ketika “sakit”. Karena itu, hampir setiap akhir pekan para relawan turun langsung membersihkan satu hingga dua pohon di berbagai ruas jalan Kota Meulaboh.

Mereka mengikis benalu, membersihkan jamur, serta mengajak warga sekitar ikut menjaga pohon-pohon yang menjadi paru-paru Aceh Barat.

Di tengah isu perubahan iklim yang semakin nyata, BIC mengusung cara pandang yang berbeda. Menurut mereka, menanam pohon memang penting, tetapi merawat pohon yang sudah tumbuh jauh lebih mendesak.

Sebatang pohon dewasa membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk memberikan manfaat bagi lingkungan.

Jika mati karena kelalaian, kerugiannya jauh lebih besar dibanding menanam bibit baru. Filosofi inilah yang menjadi ruh setiap kegiatan organisasi tersebut.

Pendekatan yang mereka lakukan mulai membuahkan hasil. Pohon-pohon yang sebelumnya dipenuhi parasit kini kembali rimbun dan sehat. Daunnya tumbuh lebih lebat, cabangnya semakin kuat, dan menjadi peneduh bagi masyarakat.

Atas konsistensi tersebut, BIC mendapat kepercayaan dari Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Aceh Barat untuk terlibat dalam berbagai penyusunan dokumen lingkungan, kajian strategis, hingga program penyuluhan di sekolah-sekolah.

Sejak 2023 hingga 2026, yayasan ini telah merawat sedikitnya 84 pohon yang tersebar di berbagai ruas jalan dan fasilitas publik di Kabupaten Aceh Barat.

Pohon-pohon tersebut terdiri dari berbagai jenis, mulai dari mahoni, trembesi, asam jawa, mangga, tanjung hingga pulai yang sebelumnya mengalami kerusakan akibat benalu maupun perlakuan manusia.

Tak hanya fokus pada konservasi, BIC juga aktif membangun kesadaran lingkungan melalui edukasi kepada pelajar, aksi bersih pantai, kolaborasi dengan organisasi kepemudaan, hingga berbagai kegiatan bersama pemerintah daerah.

Bagi mereka, menjaga lingkungan tidak cukup dilakukan oleh segelintir orang, melainkan harus menjadi budaya yang diwariskan kepada generasi berikutnya.

Di tengah semakin berkurangnya ruang hijau perkotaan, kehadiran Yayasan Bumoe Indatu Ceudah menjadi pengingat bahwa menjaga bumi tidak selalu dimulai dari langkah besar.

Terkadang, perubahan lahir dari kesediaan seseorang membersihkan sebatang pohon yang nyaris terlupakan. Dari satu pohon yang diselamatkan, harapan untuk bumi yang lebih hijau terus tumbuh.

Ketua Yayasan Bumoe Indatu Ceudah (BIC), Aan Muhammadi, mengatakan bahwa gerakan yang dibangun organisasinya bukan sekadar membersihkan pohon, melainkan menumbuhkan kesadaran bersama bahwa lingkungan merupakan warisan yang harus dijaga untuk generasi mendatang.

“Merawat pohon adalah bentuk kepedulian terhadap kehidupan. Kami percaya bahwa lingkungan yang sehat tidak hanya lahir dari program pemerintah, tetapi juga dari kebiasaan masyarakat yang mau menjaga apa yang sudah ada. Karena itu, BIC hadir untuk mengajak semua pihak bergerak bersama, sekecil apa pun kontribusinya,” ujar Aan.

Ia menuturkan, sejak berdiri pada 2023, BIC terus mengedepankan pendekatan kolaboratif dengan pemerintah, dunia pendidikan, komunitas, dan masyarakat. Menurutnya, pelestarian lingkungan akan lebih efektif apabila dilakukan secara gotong royong dan berkelanjutan.

“Kami optimistis semakin banyak masyarakat yang peduli terhadap pohon dan lingkungan di sekitarnya. Harapan kami sederhana, semoga semangat menjaga bumi ini terus tumbuh dan menjadi budaya bersama, sehingga Aceh Barat dapat menjadi daerah yang semakin hijau, teduh, dan nyaman untuk dihuni,” katanya.

Aan menambahkan, BIC akan terus memperluas kegiatan edukasi lingkungan kepada generasi muda, sekaligus memperkuat aksi konservasi di ruang-ruang publik. Menurutnya, menjaga satu batang pohon hari ini merupakan investasi jangka panjang bagi kualitas udara, ketahanan lingkungan, dan masa depan anak cucu, pungkasnya.

Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *