John L. Esposito

Written by

in

Menelusuri gagasan John L. Esposito tentang Islam, demokrasi, dan HAM — argumen optimistis di tengah stereotip Islam-Barat.

Perjumpaan dunia Islam dan Barat tidak selalu harmoni, tetapi bukan juga tidak ada masa depan. Hubungan dua dunia ini datang dari kisah lama, mulai dari transmisi keilmuan Yunani, lalu sampai kepada perang: Salib dan kolonialisme.

Sengkarut hubungan inilah yang menjadikan percakapan dunia Islam dan Barat selalu ditarik ke dua sumbu, harmoni dan chaos. Dari kerumitan itu, John L. Esposito hadir menawarkan satu pandangan yang optimistik.

Esposito meyakini bahwa Islam compatible dengan modernitas, yang dalam definisi paling sederhana, datang dari Barat. Keyakinannya itu memiliki dampak besar pada cara kita melihat relasi keduanya.

Apa yang dimiliki oleh Islam, dalam kacamata Esposito, sehingga diyakini dapat hidup berdampingan dengan paradigma kemodernan, seperti demokrasi, hak asasi manusia, dan kemanusiaan yang universal?

Esposito menjawabnya dengan tiga pendekatan: historis, normatif, dan empiris.

Secara historis, Islam adalah agama yang berpihak kepada ilmu pengetahuan dan rasionalitas. Esposito menyaksikannya dengan cermat pada periode keemasan Islam, yang diyakini olehnya telah ikut memberi sumbangan kepada lahirnya peradaban Barat yang kita saksikan hari ini.

Islam pun, atau tepatnya, muslim di masa lalu, juga tidak sungkan untuk mengatakan bahwa mereka meraih kegemilangan itu melaluitradisi intelektualitas Yunani, terutama filsafatnya. Namun, seperti kata Cak Nur, di tangan Islam, mitologi Yunani telah dibersihkan. Kontribusi besar ini mungkin diabaikan oleh ahli dunia Islam seperti Bernard Lewis dan Huntington, tetapi tidak bagi Esposito.

Muhammad Alkaf Dosen IAIN Langsa
Muhammad Alkaf
Dosen IAIN Langsa

Secara normatif, Esposito melihat bahwa ajaran Islam memiliki muatan terhadap pembelaan terhadap individu, keadilan, hak asasi manusia, dan demokrasi. 

Dalam urusan keyakinan, ajaran Islam menekankan tentang pentingnya menghormati setiap pilihan orang dengan tidak memaksanya untuk menjadi muslim. 

Pesan keadilan juga diperlihatkan secara eksplisit dalam Al-Qur’an dengan hadirnya cita-cita masyarakat yang dibebaskan dari perangkap ekonomi riba. Sedangkan untuk masyarakat yang demokratis, Islam selalu mengedepankan musyawarah.

Pesan normatif Islam demikian ditemukan oleh Esposito pada praktik era kenabian Muhammad melalui Piagam Madinah, penumpasan praktik ekonomi yang menindas, serta penghormatan terhadap perempuan dan kemanusiaan universal.

Dua paradigma awal ini, yakni historis dan normatif, tidak membuat Esposito menjadi seorang romantik dalam melihat Islam di masa kontemporer. Bukan berarti dia menutup mata adanya ekstrimisme dan terorisme atas nama Islam. Esposito paham betul hal demikian tampak, namun dia mengingatkan bahwa hal demikian bukanlah berasal dari ajaran Islam, melainkan akibat kesalahpahaman muslim memahami ajarannya dan sikap keras Barat terhadap dunia Islam.

Dua variabel itulah yang menyebabkan Islam disalahpahami, satu hal yang ditentang Esposito sepanjang hidupnya. Oleh karena itu, untuk menjawab kesalahpahaman tersebut, Esposito menunjukkan beberapa wilayah negeri muslim yang telah menerima mekanisme dan sistem demokrasi. 

Dengan cara demikian, Esposito menunjukkan apa yang dikhawatirkan dunia Barat terhadap Islam sehingga menimbulkan islamofobia tidak relevan.

Dedikasi Esposito telah memberi inspirasi kepada kita bahwa Islam dan Barat bukanlah oposisi biner. Kedua entitas ini bisa hidup berdampingan ketika prasangka dihilangkan, lalu memilih jalan dialog.

Oleh: Muhammad Alkaf 

Dosen IAIN Langsa

Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *