acehtoday.id/ | BANDA ACEH – Suasana tenang di Gampong Kajhu, Kecamatan Baitussalam, Aceh Besar, mendadak berubah menjadi kepanikan setelah dugaan aksi pencurian pada malam hari berujung insiden berdarah yang kini menjadi perhatian publik.
Peristiwa tersebut bermula ketika Jafaruddin (55), seorang warga setempat, mendengar suara mencurigakan dari bagian belakang rumahnya. Saat memeriksa sumber suara itu, ia mengaku melihat dua orang yang diduga sedang mengangkut tabung gas elpiji dan mencoba membawa sepeda motor miliknya.
Menyadari aksinya diketahui pemilik rumah, kedua terduga pelaku langsung melarikan diri dengan melompati pagar pekarangan. Jafaruddin kemudian berteriak meminta pertolongan sehingga sejumlah warga berdatangan dan ikut melakukan pengejaran.
Dalam situasi yang berlangsung cepat dan penuh ketegangan tersebut, salah seorang terduga pelaku berinisial BT diduga membawa senjata tajam. Warga yang mengejar sempat meminta agar senjata tersebut diletakkan, namun permintaan itu disebut tidak diindahkan.
Menurut keterangan yang berkembang di masyarakat, BT diduga sempat melakukan pengancaman dan mengejar Jafaruddin menggunakan senjata tajam. Dalam kondisi terdesak, Jafaruddin mengambil sebilah parang yang tersangkut di pohon di sekitar lokasi untuk menangkis serangan tersebut.
Belakangan, Jafaruddin mengaku baru mengetahui tangan terduga pelaku mengalami putus setelah mendengar teriakan kesakitan dari yang bersangkutan.
Keuchik Kajhu, Khairizal, membenarkan adanya peristiwa tersebut. Ia menegaskan bahwa setelah mengetahui BT mengalami luka berat, warga tidak melakukan tindakan main hakim sendiri. Sebaliknya, warga segera membawa yang bersangkutan ke Rumah Sakit Umum Daerah Zainoel Abidin (RSUDZA) guna mendapatkan perawatan medis.
Khairizal juga mengungkapkan bahwa kasus dugaan pencurian bukan pertama kali terjadi di wilayahnya. Dalam beberapa waktu terakhir, warga disebut berulang kali menjadi korban tindak kriminal yang menimbulkan keresahan.
“Sudah beberapa kali kejadian. Ada sepeda motor warga yang hilang dan kabel listrik mushala juga pernah dicuri,” ujarnya.
Situasi tersebut membuat pemerintah gampong mengimbau masyarakat untuk meningkatkan sistem keamanan lingkungan, termasuk memasang kamera pengawas atau CCTV di rumah masing-masing.
Di sisi lain, insiden yang menimpa BT turut mendapat perhatian dari KontraS Aceh. Organisasi tersebut menyoroti perlunya transparansi dalam penanganan kasus, terutama terkait penyampaian informasi kepada keluarga yang bersangkutan.
Koordinator Badan Pekerja KontraS Aceh, Azharul Husna, menilai peristiwa tersebut menjadi pengingat bahwa negara memiliki tanggung jawab besar dalam menjamin rasa aman masyarakat sekaligus memastikan proses hukum berjalan secara adil.
“Negara harus hadir untuk memastikan agar peristiwa serupa tidak kembali terjadi di masa mendatang,” kata Husna.
Peristiwa di Kajhu bukan hanya tentang dugaan pencurian atau bentrokan yang terjadi dalam hitungan menit. Lebih dari itu, insiden ini menggambarkan bagaimana rasa aman yang terus tergerus akibat berulangnya tindak kriminal dapat memengaruhi respons masyarakat saat menghadapi situasi darurat.
Meski kejadian telah berlalu, kegelisahan masih terasa di tengah warga Kajhu. Kekhawatiran akan kemungkinan kembali munculnya aksi pencurian masih membayangi sebagian masyarakat. Insiden tersebut meninggalkan jejak yang tak hanya terlihat di lokasi kejadian, tetapi juga dalam ingatan warga yang mendambakan lingkungan yang lebih aman dan terlindungi.*
Tinggalkan Balasan