acehtoday.id/ | Banda Aceh — Tradisi Berbagi ya Menjelang 10 Muharram atau Hari Asyura, aroma bubur yang dimasak dalam kuali besar mulai kembali menghangatkan sudut-sudut gampong di Aceh. Disejumlah daerah, warga berkumpul, bergotong royong mengaduk bubur Asyura, menyiapkan apam, lalu membagikannya kepada tetangga, anak yatim, hingga masyarakat yang membutuhkan.
Tradisi yang telah diwariskan turun-temurun itu bukan sekadar soal makanan. Lebih dari itu, ia menjadi simbol kebersamaan, kepedulian sosial, dan semangat berbagi yang terus hidup dalam masyarakat Aceh.
Ketua Majelis Permusyawaratan Ulama (MPU) Kota Banda Aceh, Tgk Syibral Malasyi, mengatakan momentum Hari Asyura hendaknya dimanfaatkan umat Islam untuk memperbanyak amal saleh, mulai dari berpuasa, berzikir, membaca Al-Qur'an, bersedekah, hingga mempererat tali silaturahmi.
"Pada Hari Asyura hendaknya kita memperbanyak puasa, zikir, doa, membaca Al-Qur'an, sedekah, membantu sesama, memuliakan anak yatim, dan mempererat silaturahmi," kata Syibral kepada acehtoday.id/, Rabu (24/6/2026).
Menurutnya, Hari Asyura memiliki kedudukan istimewa dalam Islam. Rasulullah SAW menganjurkan umatnya untuk berpuasa pada hari tersebut sebagai bentuk syukur kepada Allah SWT, bahkan dalam hadis shahih disebutkan puasa Asyura memiliki keutamaan menghapus dosa-dosa setahun yang lalu.
Namun di Aceh, semangat Asyura tidak hanya diwujudkan melalui ibadah personal. Nilai-nilai keislaman itu juga hadir dalam bentuk tradisi sosial yang telah lama mengakar di tengah masyarakat.
Salah satunya adalah tradisi memasak Bubur Asyura secara bersama-sama. Sejak pagi hari, warga dari berbagai usia biasanya berkumpul di meunasah atau halaman masjid. Ada yang menyiapkan bahan, menyalakan api, mengaduk bubur secara bergantian, hingga membagikannya kepada masyarakat.
Bagi sebagian warga, momen tersebut menjadi kesempatan langka untuk mempererat hubungan sosial yang mungkin jarang terjalin di tengah kesibukan sehari-hari.
Syibral menegaskan bahwa tradisi Bubur Asyura maupun bakar apam tidak bertentangan dengan syariat Islam selama tidak disertai keyakinan yang menyimpang.
"Tradisi bubur Asyura itu bukan bid'ah selama tidak diyakini sebagai ibadah wajib atau amalan khusus yang tidak bersumber dari dalil. Justru kegiatan tersebut dapat bernilai pahala apabila diniatkan sebagai sedekah, silaturahmi, dan berbagi kebahagiaan kepada sesama," ujarnya.
Menurut Syibral, para ulama Ahlussunnah wal Jama'ah juga menganjurkan umat Islam untuk memperbanyak sedekah dan membantu fakir miskin pada Hari Asyura. Sedekah, katanya, tidak selalu harus berupa uang, tetapi juga bisa melalui makanan yang bermanfaat dan disenangi masyarakat.
Karena itu, kegiatan memasak Bubur Asyura dalam jumlah besar lalu membagikannya kepada anak yatim, fakir miskin, jamaah masjid, dan warga sekitar merupakan bentuk nyata dari nilai-nilai kepedulian sosial yang diajarkan Islam.
"Gotong royong masyarakat memasak Bubur Asyura lalu membagikannya kepada sesama merupakan bagian dari semangat bersedekah dan memperkuat ukhuwah Islamiyah," katanya.
Di tengah perubahan zaman, tradisi tersebut juga menjadi pengingat bahwa nilai kebersamaan masih tetap hidup di Aceh. Semangkuk Bubur Asyura yang dibagikan dari rumah ke rumah tidak hanya membawa cita rasa, tetapi juga pesan tentang kasih sayang, kepedulian, dan pentingnya menjaga hubungan antar sesama.
Menjelang Hari Asyura tahun ini, Syibral mengajak masyarakat untuk menjadikan tradisi Bubur Asyura dan bakar apam sebagai sarana memperbanyak amal saleh sekaligus melestarikan warisan budaya yang selaras dengan nilai-nilai syariat Islam.
"Sebagaimana para ulama Aceh terdahulu mampu memadukan syariat dengan adat yang baik, maka tradisi Bubur Asyura dan apam perlu terus dilestarikan sebagai sarana menebar kebaikan dalam kehidupan masyarakat," tutupnya.**
Tinggalkan Balasan