Kategori: Ragam

  • Mahasiswa KKN Literasi Universitas Syiah Kuala Kelompok LT 46 Gelar Kegiatan Mewarnai Bersama Anak-Anak di Desa Teungoh Beureuleung

    Teungoh Beureuleung, Pidie – Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Literasi Universitas Syiah Kuala (USK) Kelompok LT 46 melaksanakan kegiatan Mewarnai Bersama Anak-Anak pada Kamis, 16 Juli 2026, di Balai Desa Teungoh Beureuleung, Kecamatan Grong-Grong, Kabupaten Pidie.

    Kegiatan ini merupakan salah satu program kerja KKN Literasi yang bertujuan menghadirkan ruang belajar yang kreatif dan menyenangkan bagi anak-anak melalui aktivitas mewarnai.

    Kegiatan tersebut merupakan bagian dari pelaksanaan KKN Literasi Universitas Syiah Kuala yang berkolaborasi dengan Perpustakaan Nasional Republik Indonesia (Perpusnas RI) dalam mendukung penguatan budaya literasi di masyarakat.

    Berbagai perlengkapan yang digunakan selama kegiatan, seperti lembar gambar, krayon, spidol, dan alat tulis lainnya, merupakan bantuan dari Perpusnas RI sebagai bentuk dukungan terhadap penyelenggaraan program literasi di desa.

    Dalam pelaksanaannya, mahasiswa KKN LT 46 mendampingi anak-anak selama proses mewarnai serta memberikan arahan dan motivasi agar mereka berani menuangkan ide dan imajinasi melalui setiap karya yang dihasilkan.

    Antusiasme peserta terlihat sejak awal hingga akhir kegiatan, menciptakan suasana belajar yang interaktif, hangat, dan penuh semangat.

    Selain menjadi kegiatan yang menyenangkan, mewarnai juga merupakan salah satu bentuk literasi visual yang dapat membantu anak mengenali warna, bentuk, dan simbol, sekaligus melatih kreativitas, konsentrasi, ketelitian, serta kemampuan mengekspresikan gagasan.

    Melalui pendekatan yang sederhana dan menyenangkan, kegiatan ini diharapkan dapat menumbuhkan minat belajar anak-anak sejak usia dini.

    Mahasiswa KKN Literasi Universitas Syiah Kuala Kelompok LT 46 menyampaikan apresiasi kepada Pemerintah Desa Teungoh Beureuleung atas dukungan dan kerja sama yang telah diberikan sehingga kegiatan ini dapat terlaksana dengan baik.

    Dukungan tersebut menjadi salah satu faktor penting dalam menciptakan kegiatan yang bermanfaat bagi masyarakat, khususnya anak-anak desa.

    Melalui kegiatan ini, mahasiswa KKN Literasi Universitas Syiah Kuala Kelompok LT 46 berharap dapat memberikan kontribusi dalam mendukung tumbuhnya budaya literasi di Desa Teungoh Beureuleung.

    Sinergi antara Universitas Syiah Kuala, Perpustakaan Nasional Republik Indonesia, pemerintah desa, dan masyarakat diharapkan dapat terus menghadirkan berbagai kegiatan edukatif yang mendorong anak-anak untuk belajar, berkreasi, dan mengembangkan potensi mereka dalam lingkungan yang positif dan menyenangkan.

  • Mahasiswa KKN USK Desa Jijiem Gelar Sosialisasi Penghijauan dan Aksi Tanam Pohon di SMPN 3 Bandar Baru

    Pidie Jaya– Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Syiah Kuala (USK) Kelompok R-XXIX-119 Desa Jijiem, Kecamatan Bandar Baru, Kabupaten Pidie Jaya, menggelar sosialisasi penghijauan lingkungan sekaligus aksi penanaman bibit pohon di SMP Negeri 3 Bandar Baru, Kamis (16/7/2026).

    Kegiatan ini merupakan bentuk aksi nyata mahasiswa dalam menjaga kelestarian lingkungan sekaligus menjadi bagian dari kemitraan dengan pihak sekolah untuk mengisi rangkaian kegiatan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS).

    Penanggung jawab kegiatan, Abdul Malik Angkasah, mengatakan bahwa program tersebut bertujuan menumbuhkan kesadaran lingkungan melalui edukasi dan praktik langsung menanam pohon.

    “Kegiatan penghijauan lingkungan ini merupakan wujud nyata kepedulian kami terhadap pelestarian lingkungan, terlebih saya sendiri berasal dari Jurusan Kehutanan. Dalam kegiatan bermitra ini, kami juga diberi amanah untuk mengisi materi pada kegiatan MPLS,” ujarnya.

    Dalam kegiatan tersebut, para siswa mendapatkan materi mengenai pentingnya penghijauan, manfaat pohon bagi lingkungan, serta teknik dasar penanaman dan perawatan pohon. Setelah sesi sosialisasi, para peserta diajak mempraktikkan langsung penanaman lima jenis bibit pohon di lingkungan sekolah.

    Ferawati, salah seorang guru di SMP 3 Bandar Baru sekaligus mewakili wakil kurikulum mengapresiasi kegiatan tersebut. Menurutnya, kegiatan tersebut memberikan manfaat bagi sekolah sekaligus menambah wawasan siswa mengenai pentingnya menjaga lingkungan.

    “Kegiatan kalian sangat memuaskan, siswa-siswi juga sangat suka. Bagi sekolah, kegiatan ini sangat bermanfaat dan sangat membantu,”jelasnya.

    Ia berharap kegiatan serupa dapat terus dilaksanakan pada masa mendatang dengan cakupan yang lebih luas.

    “Materi hari ini sangat berguna. Semoga kegiatan seperti ini terus dilaksanakan dan menjadi lebih baik lagi,” tambahnya.

    Salah seorang siswa SMP Negeri 3 Bandar Baru, Badrul Munir, mengaku senang dapat mengikuti kegiatan tersebut karena memperoleh pengalaman baru.

    “Kegiatan hari ini menyenangkan karena kami bisa belajar tentang penghijauan, cara menanam pohon, dan cara merawatnya. Tadi kami juga sudah menanam lima jenis pohon,” ungkapnya.

    Sementara itu, Abdul Malik berharap kegiatan ini mampu menumbuhkan kepedulian generasi muda terhadap lingkungan sehingga aksi penghijauan dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.

    “Harapannya, generasi muda tidak hanya memahami pentingnya penghijauan secara teori, tetapi juga mampu menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari serta memiliki kepedulian yang lebih besar terhadap lingkungan,” tutupnya.

    penulis : Ade Irma Aprianti

  • IHGMA DPD Aceh Dukung Road to HKAN 2026, Perhotelan Ambil Peran Jaga Kelestarian Alam Jantho

    acehtoday.id/ | Jantho – Komitmen industri perhotelan terhadap pelestarian lingkungan kembali ditunjukkan oleh Indonesian Hotel General Manager Association (IHGMA) DPD Aceh melalui partisipasinya dalam kegiatan Road to Hari Konservasi Alam Nasional (HKAN) 2026 bertajuk “Menanam Pohon, Panen Madu Trigona Bersama Peternak Lebah Jantho” yang digelar di kawasan Jantho, Kabupaten Aceh Besar.

    Kegiatan yang diinisiasi Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Aceh ini mempertemukan berbagai pemangku kepentingan, mulai dari pemerintah, dunia usaha, komunitas lingkungan hingga masyarakat, sebagai bentuk kolaborasi dalam menjaga kelestarian kawasan hutan sekaligus mendorong pemberdayaan ekonomi berbasis konservasi.

    Sejumlah lembaga dan organisasi yang terlibat antara lain Yayasan Ekosistem Lestari (YEL), Kesatuan Pengelolaan Hutan (KPH), Bank Syariah Indonesia (BSI), PLN, Barika Coffee, Ikatan Pemuda Jantho Lestari (IPJL), kelompok peternak lebah, serta IHGMA DPD Aceh.

    IHGMA DPD Aceh hadir dipimpin Ketua IHGMA DPD Aceh, Budi Syaiful, bersama Romeo Yudisthira, Zainal Muttaqin, serta para General Manager dan profesional industri hospitality di Aceh sebagai bentuk dukungan terhadap upaya pelestarian lingkungan.

    Kegiatan diawali dengan diskusi mengenai pentingnya menjaga ekosistem Jantho yang merupakan kawasan penyangga keanekaragaman hayati. Dalam sesi tersebut, BKSDA Aceh memaparkan berbagai program konservasi yang telah berjalan, sementara Yayasan Ekosistem Lestari (YEL) menjelaskan pengembangan budidaya lebah madu trigona sebagai salah satu model pemberdayaan masyarakat yang ramah lingkungan.

    (IHGMA) DPD Aceh melalui partisipasinya dalam kegiatan Road to Hari Konservasi Alam Nasional (HKAN) 2026 bertajuk “Menanam Pohon, Panen Madu Trigona Bersama Peternak Lebah Jantho” yang digelar di kawasan Jantho, Kabupaten Aceh Besar.

    Diskusi juga menyoroti sejumlah tantangan yang dihadapi kawasan Jantho, termasuk ancaman kerusakan hutan dan pencemaran Daerah Aliran Sungai (DAS) Krueng Aceh akibat aktivitas ilegal yang berpotensi mengganggu keberlangsungan sumber air bersih bagi masyarakat.

    Pada kesempatan itu, Budi Syaiful turut memperkenalkan berbagai program IHGMA DPD Aceh dalam mendukung pembangunan pariwisata berkelanjutan melalui kolaborasi lintas sektor.

    Usai diskusi, sekitar 70 peserta dari berbagai instansi, komunitas, dunia usaha, dan masyarakat mengikuti aksi penanaman pohon serta panen madu trigona secara simbolis bersama para peternak lebah Jantho. Kegiatan tersebut menjadi simbol sinergi antara pelestarian lingkungan dan penguatan ekonomi masyarakat berbasis hasil hutan non-kayu.

    IHGMA DPD Aceh Beri Pesan

    Ketua IHGMA DPD Aceh, Budi Syaiful, mengatakan industri perhotelan memiliki tanggung jawab yang lebih luas daripada sekadar memberikan pelayanan kepada tamu. Menurutnya, keberlanjutan lingkungan merupakan fondasi utama bagi masa depan pariwisata Aceh.

    “Pariwisata yang berkualitas tidak akan terwujud tanpa lingkungan yang lestari. Karena itu, IHGMA DPD Aceh berkomitmen mendukung setiap upaya pelestarian alam melalui kolaborasi bersama pemerintah, komunitas, dunia usaha, dan masyarakat. Menanam pohon hari ini bukan hanya menjaga hutan, tetapi juga menjaga masa depan pariwisata Aceh dan kesejahteraan masyarakat yang hidup di sekitarnya,” ujar Budi Syaiful.

    Ia menambahkan, kegiatan Road to HKAN 2026 menjadi momentum untuk memperkuat sinergi antara sektor konservasi dan industri hospitality dalam mewujudkan pembangunan pariwisata yang berkelanjutan.

    IHGMA DPD Aceh berharap kolaborasi seperti ini dapat terus berlanjut sehingga mampu memberikan manfaat nyata bagi kelestarian lingkungan sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat melalui pengembangan ekowisata dan usaha berbasis konservasi.

    Melalui tema “Menanam Pohon, Panen Madu Trigona”, seluruh peserta diajak memahami bahwa menjaga kelestarian hutan tidak hanya penting bagi keberlangsungan ekosistem, tetapi juga membuka peluang ekonomi baru melalui budidaya lebah madu serta pengembangan destinasi wisata alam yang berkelanjutan.

    (IHGMA) DPD Aceh melalui partisipasinya dalam kegiatan Road to Hari Konservasi Alam Nasional (HKAN) 2026 bertajuk “Menanam Pohon, Panen Madu Trigona Bersama Peternak Lebah Jantho” yang digelar di kawasan Jantho, Kabupaten Aceh Besar.
  • IHGMA DPD Aceh Dukung Donor Darah HUT Bhayangkara ke-80, Targetkan 200 Kantong Darah

    BANDA ACEH – Dalam rangka memperingati Hari Ulang Tahun (HUT) Bhayangkara ke-80, IHGMA DPD Aceh menggelar aksi sosial donor darah bertajuk “Setetes Darah Sejuta Harapan” di Abraj Cafe, Lantai 6, Portola Grand Arabia Hotel, Banda Aceh, Sabtu (4/7/2026).

    Kegiatan kemanusiaan ini terselenggara atas kerja sama dengan Polresta Banda Aceh, IHGMA DPD Aceh, para tokoh tokoh General Manager hotel di Banda Aceh seperti Budi Syaiful, Romeo Angga Yudhistira, Noersyam Akhmad, Dodo Abdul Rani dan yang lainnya serta PMI Kota Banda Aceh. Donor darah digelar sebagai bentuk kepedulian terhadap kebutuhan stok darah yang terus meningkat di Kota Banda Aceh.

    Berdasarkan data PMI, setiap dua detik terdapat satu orang yang membutuhkan transfusi darah, mulai dari korban kecelakaan, ibu melahirkan, hingga pasien thalasemia dan kanker. Melalui kegiatan ini diharapkan kebutuhan darah di PMI dapat terus terpenuhi sehingga mampu membantu menyelamatkan lebih banyak nyawa.

    Ketua IHGMA DPD Aceh, Budi Syaiful sekaligus General Manager Hermes Palace Hotel Banda Aceh mengapresiasi kolaborasi seluruh pihak yang telah mendukung terselenggaranya kegiatan tersebut. Menurutnya, kegiatan donor darah menjadi bukti bahwa industri perhotelan tidak hanya berfokus pada pelayanan kepada tamu, tetapi juga memiliki tanggung jawab sosial kepada masyarakat.

    “Donor darah merupakan wujud nyata kepedulian insan perhotelan terhadap kemanusiaan. Melalui kolaborasi antara hotel, kepolisian, PMI, dan berbagai mitra, kami ingin menunjukkan bahwa industri hospitality juga dapat memberikan kontribusi besar bagi masyarakat. Semoga kegiatan seperti ini terus berlanjut dan menginspirasi lebih banyak hotel di Aceh untuk aktif dalam kegiatan sosial,” kata Budis Syaiful.

    Sementara itu Manager Portola Grand Arabia Hotel, Noersyam Akhmad, mengatakan kegiatan donor darah menjadi bagian dari komitmen hotel untuk memberikan manfaat bagi masyarakat, tidak hanya melalui pelayanan perhotelan tetapi juga melalui aksi sosial.

    “Kami percaya, menjadi hotel yang baik berarti juga menjadi bagian yang baik dari masyarakat. Aksi donor darah ini kami buka seluas-luasnya untuk tamu hotel, karyawan, dan seluruh masyarakat Banda Aceh. Hanya sekitar sepuluh menit waktu yang dibutuhkan untuk menyumbangkan darah, namun manfaatnya dapat menyelamatkan kehidupan orang lain,” ujar Noersyam.

    Seluruh proses donor darah dilaksanakan oleh tenaga medis profesional dari PMI Kota Banda Aceh sesuai standar pelayanan yang berlaku. Para pendonor juga memperoleh pemeriksaan kesehatan gratis, konsumsi, serta apresiasi dari pihak hotel dan PMI.

    Budi menambahkan, kegiatan donor darah berlangsung mulai pukul 09.00 hingga 15.00 WIB dengan target mengumpulkan 200 kantong darah.

    “Kami menargetkan terkumpul 200 kantong darah pada kegiatan ini. Ke depan, donor darah akan menjadi agenda rutin setiap bulan sebagai bentuk kontribusi nyata dalam membantu sesama dan memenuhi kebutuhan stok darah di Aceh,” tambah Budi.

    Kegiatan donor darah turut dihadiri oleh Kolonel Pnb Suryo Anggoro, M.Tr.(Han) selaku Danlanud Iskandar Muda serta Kombes Pol. dr. Dafianto Arief, M.Si. selaku Kabiddokkes Polda Aceh.

    Melalui tema “Setetes Darah Sejuta Harapan”, ini mengajak seluruh masyarakat untuk menjadi pahlawan tanpa tanda jasa. Sebab, setetes darah yang didonorkan dapat menjadi harapan hidup bagi mereka yang membutuhkan

     

  • Sambut Tahun Baru Islam 1448 H, Masjid Baitul Maqdis Seuot Gelar MTQ Perdana Cetak Generasi Qur’ani

    acehtoday.id/ | Aceh Besar – Suasana religius menyelimuti Kemasjidan Baitul Maqdis Seuot, Kecamatan Indrapuri, Kabupaten Aceh Besar, saat lantunan ayat suci Al-Qur’an menggema dalam pelaksanaan Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ) tingkat kemasjidan untuk pertama kalinya.

    Kegiatan yang berlangsung selama sepuluh hari, sejak 15 hingga 25 Juni 2026 tersebut, digelar dalam rangka memperingati Hari Besar Islam sekaligus menyambut Tahun Baru Islam 1448 Hijriah.

    Mengusung tema “Semangat Hijrah di Buleuen Muharram, Meuseuraya Ngen Al-Qur’an, Meugot Iman Meupeugah Bakat, Meubina Generasi Gampong Berakhlak dan Berprestasi”, MTQ perdana ini menjadi wadah pembinaan spiritual sekaligus ruang bagi generasi muda untuk mengembangkan bakat dan kecintaan terhadap Al-Qur’an.

    Antusiasme masyarakat terlihat dari tingginya jumlah peserta yang mencapai 157 orang. Mereka berasal dari dua desa yang berada dalam wilayah Kemasjidan Baitul Maqdis Seuot, yakni Gampong Seuot Baroh dan Seuot Tunong.

    Dalam pelaksanaannya, panitia menghadirkan sejumlah cabang perlombaan yang disesuaikan berdasarkan kategori usia. Cabang tersebut meliputi Tilawah golongan Tartil, Anak-anak, dan Remaja, Tahfiz Juz 30 serta Surah Pendek, Syarhil Qur’an, Fahmil Qur’an, hingga seni kaligrafi atau Khat.

    Selain itu, kegiatan juga menghadirkan perlombaan edukatif bagi anak-anak, seperti lomba mewarnai dan menyusun huruf Hijaiyah sebagai upaya mengenalkan nilai-nilai Al-Qur’an sejak usia dini.

    Tidak hanya perlombaan utama, kemeriahan MTQ juga dirangkai dengan berbagai kegiatan pendukung seperti lomba Lacak Tokoh, Pidato, Azan, Peragaan Shalat, serta Rangking Satu yang menguji wawasan keislaman dan pengetahuan umum para peserta.

    Kesuksesan pelaksanaan MTQ perdana tersebut tidak terlepas dari kerja sama seluruh pihak, mulai dari pengurus masjid, perangkat gampong, tokoh masyarakat, hingga para pemuda.

    Kegiatan ini mendapat arahan dari Imam Masjid Baitul Maqdis Seuot, Tgk. Nizarli, S.Ag., Keuchik Gampong Seuot Baroh Iswandar, serta Keuchik Seuot Tunong Muhammad Isa.

    Ketua Remaja Masjid Baitul Maqdis Seuot periode 2023–2026 sekaligus Ketua Umum panitia, Naufal Azqia, S.Mat., M.Mat., mengatakan pelaksanaan MTQ perdana tersebut merupakan wujud komitmen bersama dalam membangun generasi yang dekat dengan Al-Qur’an.

    “MTQ perdana ini menjadi bukti bahwa ketika masyarakat, pengurus masjid, tokoh gampong, para orang tua, dan generasi muda bersatu, maka banyak hal baik dapat diwujudkan bersama,” ujarnya.

    Dalam pelaksanaan kegiatan, Naufal didukung oleh jajaran kepengurusan, yakni Muliani, S.Pd., sebagai Sekretaris Umum I, Zulfiani, S.Pd., Gr., sebagai Sekretaris Umum II, serta Rijal Umara sebagai Bendahara Umum.

    Sementara itu, berbagai divisi kepanitiaan turut berperan dalam menyukseskan kegiatan, mulai dari Divisi Acara, Tempat dan Peralatan, Humas, Konsumsi, hingga Publikasi dan Dokumentasi.

    Malam penutupan MTQ berlangsung khidmat dan penuh haru. Panitia menghadirkan Ustadz Iswar Nurdin, M.Ag., untuk memberikan tausiyah agama yang mengangkat makna hijrah dalam momentum Tahun Baru Islam 1448 Hijriah.

    Dalam ceramahnya, ia mengajak masyarakat dan generasi muda Kemasjidan Baitul Maqdis Seuot menjadikan momentum hijrah sebagai langkah memperbaiki diri, meningkatkan ketakwaan, serta membangun akhlak yang lebih baik.

    Menutup rangkaian kegiatan, Naufal berharap MTQ Masjid Baitul Maqdis Seuot tidak hanya menjadi agenda seremonial, tetapi mampu menjadi gerakan berkelanjutan dalam mencintai Al-Qur’an dan memakmurkan masjid.

    “Kami berharap MTQ ini dapat menumbuhkan semangat mencintai Al-Qur’an, mempererat ukhuwah Islamiyah, serta melahirkan generasi Qur’ani yang berakhlak mulia, berilmu, dan berprestasi,” tuturnya.

    Rangkaian MTQ tersebut dibuka dan ditutup oleh Imum Mukim Reukih Tgk. Mahya Zakuan, S.Ag., yang hadir mewakili Camat Indrapuri.

    Ditulis Oleh : Siti Sofia

  • MPU Banda Aceh Jelaskan Keutamaan Tradisi Bubur Asyura dan Bakar Apam

    acehtoday.id/ | Banda Aceh — Tradisi Berbagi ya Menjelang 10 Muharram atau Hari Asyura, aroma bubur yang dimasak dalam kuali besar mulai kembali menghangatkan sudut-sudut gampong di Aceh. Disejumlah daerah, warga berkumpul, bergotong royong mengaduk bubur Asyura, menyiapkan apam, lalu membagikannya kepada tetangga, anak yatim, hingga masyarakat yang membutuhkan.

    Tradisi yang telah diwariskan turun-temurun itu bukan sekadar soal makanan. Lebih dari itu, ia menjadi simbol kebersamaan, kepedulian sosial, dan semangat berbagi yang terus hidup dalam masyarakat Aceh.

    Ketua Majelis Permusyawaratan Ulama (MPU) Kota Banda Aceh, Tgk Syibral Malasyi, mengatakan momentum Hari Asyura hendaknya dimanfaatkan umat Islam untuk memperbanyak amal saleh, mulai dari berpuasa, berzikir, membaca Al-Qur'an, bersedekah, hingga mempererat tali silaturahmi.

    "Pada Hari Asyura hendaknya kita memperbanyak puasa, zikir, doa, membaca Al-Qur'an, sedekah, membantu sesama, memuliakan anak yatim, dan mempererat silaturahmi," kata Syibral kepada acehtoday.id/, Rabu (24/6/2026).

    Menurutnya, Hari Asyura memiliki kedudukan istimewa dalam Islam. Rasulullah SAW menganjurkan umatnya untuk berpuasa pada hari tersebut sebagai bentuk syukur kepada Allah SWT, bahkan dalam hadis shahih disebutkan puasa Asyura memiliki keutamaan menghapus dosa-dosa setahun yang lalu.

    Namun di Aceh, semangat Asyura tidak hanya diwujudkan melalui ibadah personal. Nilai-nilai keislaman itu juga hadir dalam bentuk tradisi sosial yang telah lama mengakar di tengah masyarakat.

    Salah satunya adalah tradisi memasak Bubur Asyura secara bersama-sama. Sejak pagi hari, warga dari berbagai usia biasanya berkumpul di meunasah atau halaman masjid. Ada yang menyiapkan bahan, menyalakan api, mengaduk bubur secara bergantian, hingga membagikannya kepada masyarakat.

    Bagi sebagian warga, momen tersebut menjadi kesempatan langka untuk mempererat hubungan sosial yang mungkin jarang terjalin di tengah kesibukan sehari-hari.

    Syibral menegaskan bahwa tradisi Bubur Asyura maupun bakar apam tidak bertentangan dengan syariat Islam selama tidak disertai keyakinan yang menyimpang.

    "Tradisi bubur Asyura itu bukan bid'ah selama tidak diyakini sebagai ibadah wajib atau amalan khusus yang tidak bersumber dari dalil. Justru kegiatan tersebut dapat bernilai pahala apabila diniatkan sebagai sedekah, silaturahmi, dan berbagi kebahagiaan kepada sesama," ujarnya.

    Menurut Syibral, para ulama Ahlussunnah wal Jama'ah juga menganjurkan umat Islam untuk memperbanyak sedekah dan membantu fakir miskin pada Hari Asyura. Sedekah, katanya, tidak selalu harus berupa uang, tetapi juga bisa melalui makanan yang bermanfaat dan disenangi masyarakat.

    Karena itu, kegiatan memasak Bubur Asyura dalam jumlah besar lalu membagikannya kepada anak yatim, fakir miskin, jamaah masjid, dan warga sekitar merupakan bentuk nyata dari nilai-nilai kepedulian sosial yang diajarkan Islam.

    "Gotong royong masyarakat memasak Bubur Asyura lalu membagikannya kepada sesama merupakan bagian dari semangat bersedekah dan memperkuat ukhuwah Islamiyah," katanya.

    Di tengah perubahan zaman, tradisi tersebut juga menjadi pengingat bahwa nilai kebersamaan masih tetap hidup di Aceh. Semangkuk Bubur Asyura yang dibagikan dari rumah ke rumah tidak hanya membawa cita rasa, tetapi juga pesan tentang kasih sayang, kepedulian, dan pentingnya menjaga hubungan antar sesama.

    Menjelang Hari Asyura tahun ini, Syibral mengajak masyarakat untuk menjadikan tradisi Bubur Asyura dan bakar apam sebagai sarana memperbanyak amal saleh sekaligus melestarikan warisan budaya yang selaras dengan nilai-nilai syariat Islam.

    "Sebagaimana para ulama Aceh terdahulu mampu memadukan syariat dengan adat yang baik, maka tradisi Bubur Asyura dan apam perlu terus dilestarikan sebagai sarana menebar kebaikan dalam kehidupan masyarakat," tutupnya.**

  • Saat Kota Baru Terbangun, Warung Kopi Banda Aceh Sudah Lebih Dulu Hidup

    acehtoday.id/ | Banda Aceh – Warung kopi Banda Aceh sudah mulai ramai ketika langit masih menyisakan warna gelap menjelang pagi.

    Lampu-lampu warung menyala sejak usai salat Subuh, sementara jarum jam bahkan belum menunjukkan pukul 06.00 WIB, namun kursi-kursi di sejumlah kedai sudah terisi.

    Asap tipis dari secangkir kopi hitam mengepul, menemani obrolan ringan yang mengalir di antara para pelanggan.

    Di kota yang dikenal sebagai salah satu pusat budaya kopi di Indonesia ini, warung kopi bukan sekadar tempat menikmati minuman berkafein.

    Ia telah menjadi ruang sosial yang hidup sejak pagi buta, bahkan sebelum sebagian besar aktivitas kota dimulai.

    Usai salat Subuh, sejumlah warga langsung menuju warung kopi langganan. Ada yang datang sendiri sambil membaca berita di ponsel, ada pula yang berkumpul bersama rekan kerja atau sahabat untuk berbincang tentang berbagai hal, mulai dari harga kebutuhan pokok, sepak bola, hingga isu-isu politik terbaru.

    Pemandangan seperti ini bukanlah hal baru. Budaya ngopi pagi telah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Banda Aceh selama puluhan tahun.

    Di banyak sudut kota, aktivitas warung kopi bahkan dimulai ketika jalanan masih lengang dan toko-toko belum membuka pintunya.

    Bagi sebagian warga, secangkir kopi pagi bukan sekadar pelepas kantuk. Ritual itu menjadi cara memulai hari.

    Aroma kopi yang khas, suasana santai, dan kesempatan bertemu banyak orang menjadikan warung kopi sebagai tempat yang sulit dipisahkan dari keseharian masyarakat Aceh.

    Saat Kota Baru Terbangun, Warung Kopi Banda Aceh Sudah Lebih Dulu Hidup
    Secangkir kopi hitam hangat menemani pagi di salah satu warung kopi Banda Aceh. Budaya ngopi menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan masyarakat Aceh. Foto : acehtoday.id/-Nandar

    Warung Kopi Banda Aceh Jadi Pusat Pertemuan semua Kalangan

    Di meja-meja kayu sederhana maupun kafe modern, berbagai kalangan bercampur tanpa sekat.

    Pegawai negeri, pedagang, mahasiswa, sopir angkutan, hingga pensiunan duduk berdampingan menikmati kopi favorit mereka.

    Perbedaan profesi dan latar belakang seolah melebur dalam hangatnya suasana pagi.

    Tak sedikit pula yang memanfaatkan waktu ngopi untuk bekerja. Dengan fasilitas internet yang tersedia hampir di setiap kedai, warung kopi kini berkembang menjadi ruang produktif.

    Laptop terbuka di atas meja, sementara secangkir sanger atau kopi arabika menjadi teman menyelesaikan berbagai pekerjaan.

    Fenomena ini menunjukkan bagaimana warung kopi di Banda Aceh terus beradaptasi dengan perkembangan zaman tanpa kehilangan fungsi utamanya sebagai ruang interaksi sosial.

    Meski teknologi mengubah cara orang berkomunikasi, budaya bertemu langsung di warung kopi tetap bertahan.

    Bahkan bagi para pelaku usaha, ramainya pengunjung sejak pagi menjadi berkah tersendiri. Aktivitas ekonomi bergerak lebih awal.

    Dari penjual kopi, penyedia roti canai, hingga pedagang kue tradisional, semuanya mendapat manfaat dari budaya ngopi yang kuat di tengah masyarakat.

    Saat matahari mulai meninggi dan lalu lintas kota semakin padat, sebagian pelanggan beranjak meninggalkan meja mereka.

    Ada yang menuju kantor, pasar, kampus, atau tempat usaha masing-masing. Namun satu hal tetap sama, hari mereka telah dimulai dari warung kopi.

    Di Banda Aceh, ketika sebagian kota masih terlelap, warung kopi sudah lebih dulu hidup.

    Dari tempat inilah percakapan dimulai, informasi bertukar, hubungan sosial terjalin, dan denyut kehidupan kota perlahan bergerak menyambut pagi.

    Suasana subuh di sebuah warung kopi Banda Aceh. Tradisi menikmati kopi sebelum memulai aktivitas telah menjadi bagian dari budaya masyarakat Aceh selama puluhan tahun. Foto : Dewantara Kupi Maps
  • Dari Konselor ke Entrepreneur, Mahasiswa BK Diajak Melihat Peluang Lebih Luas

    acehtoday.id/ | Banda Aceh — Himpunan Mahasiswa Program Studi Bimbingan dan Konseling (HMP BK) Universitas Islam Negeri Ar-Ranirri menggelar Workshop Entrepreneurship bertajuk “More Than a Counselor: Menggali Potensi Karier dan Entrepreneurship bagi Mahasiswa BK” di Aula Fakultas Tarbiyah dan Keguruan (FTK), Senin (22/6/2026).

    Kegiatan ini menjadi wadah bagi mahasiswa untuk memperluas wawasan mengenai berbagai peluang karier yang dapat ditempuh setelah menyelesaikan studi, sekaligus menumbuhkan semangat kewirausahaan sebagai salah satu alternatif pengembangan diri di tengah dinamika dunia kerja yang terus berubah.

    Melalui workshop tersebut, peserta mendapatkan pemahaman tentang pentingnya membangun pola pikir kewirausahaan (entrepreneurial mindset) sejak di bangku kuliah.

    Mahasiswa diajak melihat bahwa kompetensi yang dimiliki lulusan Bimbingan dan Konseling tidak hanya relevan dalam profesi konselor, tetapi juga dapat dikembangkan dalam berbagai bidang, termasuk dunia usaha dan inovasi sosial.

    Ketua HMP BK periode 2026–2027, Muhammad Ikram, mengatakan bahwa pembahasan mengenai karier seharusnya tidak hanya berfokus pada sektor pendidikan.

    Menurutnya, mahasiswa perlu mulai membuka cakrawala berpikir terhadap berbagai peluang yang dapat diciptakan melalui kewirausahaan.

    “Karier tidak hanya terbatas pada bidang pendidikan. Mahasiswa juga perlu memahami bagaimana membangun usaha yang nantinya tidak hanya memberikan manfaat bagi diri sendiri, tetapi juga berdampak positif bagi masyarakat luas,” ujarnya.

    Ia menilai, pemahaman yang lebih luas mengenai prospek karier akan membantu mahasiswa mempersiapkan diri menghadapi tantangan dunia kerja sekaligus meningkatkan daya saing setelah lulus nanti.

    Sementara itu, Ketua Program Studi Bimbingan dan Konseling, Fatimah Ibda, S.Pd., M.Pd., Ph.D., menegaskan bahwa esensi kewirausahaan tidak semata-mata berorientasi pada keuntungan ekonomi.

    Lebih dari itu, entrepreneurship merupakan pola pikir yang mendorong seseorang untuk terus berkembang dan beradaptasi.

    “Kewirausahaan bukan sekadar tentang mencari laba. Yang paling penting adalah mindset yang terbentuk, yakni menjadi pribadi yang kreatif, inovatif, berani mengambil risiko, mampu menghadapi tantangan, serta memiliki resiliansi yang kuat,” jelasnya.

    Menurut Fatimah, nilai-nilai tersebut sangat relevan dengan bidang Bimbingan dan Konseling. Seorang konselor tidak hanya dituntut memiliki kemampuan memberikan layanan kepada konseli, tetapi juga harus mampu beradaptasi, berpikir kreatif, dan menjadi agen perubahan yang dapat menularkan nilai-nilai positif kepada lingkungan sekitarnya.

    Melalui kegiatan ini, HMP BK berharap mahasiswa semakin terdorong untuk menggali potensi diri serta mengembangkan keterampilan yang dibutuhkan di era modern.

    Selain menjadi bekal menghadapi persaingan dunia kerja, kemampuan berpikir kreatif, inovatif, dan adaptif juga dinilai penting dalam menciptakan peluang usaha maupun inovasi yang bermanfaat bagi masyarakat.

    Sejalan dengan tema “More Than a Counselor”, workshop ini menegaskan bahwa mahasiswa Bimbingan dan Konseling memiliki ruang yang luas untuk berkembang.

    Tidak hanya sebagai calon konselor profesional, mereka juga berpeluang menjadi inovator, pelaku usaha, dan individu yang mampu menciptakan solusi bagi berbagai tantangan sosial melalui kompetensi yang dimiliki.

  • Modus Baru Menjerat Keluarga PMI Bermasalah di Malaysia, BP3MI Aceh Minta Masyarakat Waspada

    Modus Baru Menjerat Keluarga PMI Bermasalah di Malaysia, BP3MI Aceh Minta Masyarakat Waspada

    acehtoday.id/ | Banda Aceh – Kasus dugaan penipuan yang menimpa keluarga seorang Pekerja Migran Indonesia (PMI) asal Kabupaten Pidie yang menjadi korban kekerasan di Malaysia mendapat perhatian dari Balai Pelayanan Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (BP3MI) Aceh.

    Kepala BP3MI Aceh, Siti Rolijah, mengungkapkan bahwa pihaknya sejak awal telah berkomunikasi langsung dengan orang tua PMI tersebut dan memastikan kondisi korban dalam keadaan aman setelah mendapatkan penanganan dari Perwakilan Republik Indonesia di Malaysia.

    Menurutnya, pascakejadian kekerasan yang dialami PMI tersebut, korban telah ditangani oleh Konsulat Jenderal Republik Indonesia (KJRI) Johor Bahru dan saat ini ditempatkan di rumah singgah atau tempat tinggal sementara milik KJRI.

    “BP3MI Aceh sebelumnya telah terhubung dengan orang tua PMI yang menjadi korban. Kami telah menyampaikan bahwa pasca kasus kekerasan tersebut, anak mereka sudah ditangani oleh Perwakilan RI melalui KJRI Johor Bahru. Kondisinya aman dan saat ini ditempatkan di tempat tinggal sementara KJRI sehingga keluarga tidak perlu khawatir,” kata Siti Rolijah saat dikonfirmasi acehtoday.id/, Senin (22/6/2026).

    Di tengah upaya pemulihan korban, keluarga justru diduga menjadi sasaran penipuan oleh oknum yang mengatasnamakan pejabat daerah untuk meminta sejumlah uang dengan dalih membantu proses penanganan dan pemulangan korban.

    Atas kejadian tersebut, BP3MI Aceh menyatakan keprihatinannya. Siti Rolijah mengingatkan masyarakat, khususnya keluarga PMI yang memiliki anggota keluarga bermasalah di luar negeri, agar tidak mudah percaya terhadap pihak-pihak yang menghubungi dan meminta uang dengan mengatasnamakan pejabat pemerintah maupun lembaga tertentu.

    “BP3MI turut prihatin atas kasus penipuan ini. Kami berharap keluarga PMI maupun masyarakat tidak langsung percaya apabila ada oknum yang mengatasnamakan pejabat atau pihak tertentu untuk meminta sejumlah uang. Setiap informasi terkait bantuan, pemulangan, maupun biaya-biaya tertentu harus dikroscek dan dikonfirmasi terlebih dahulu kepada instansi pemerintah yang berwenang,” ujarnya.

    Ia menegaskan bahwa dalam berbagai kasus perlindungan PMI, pemerintah memiliki mekanisme resmi yang dapat diakses oleh keluarga korban. Karena itu, setiap komunikasi yang mencurigakan sebaiknya segera diverifikasi kepada pemerintah daerah, BP3MI, atau perwakilan RI yang menangani kasus tersebut.

    Kasus ini menjadi pengingat bahwa keluarga PMI yang sedang menghadapi situasi sulit kerap menjadi target empuk para pelaku penipuan.

    Kondisi psikologis keluarga yang sedang cemas menunggu kabar anggota keluarganya di luar negeri sering dimanfaatkan oleh oknum tidak bertanggung jawab untuk memperoleh keuntungan.

    BP3MI Aceh mengimbau masyarakat agar lebih waspada terhadap berbagai modus penipuan yang memanfaatkan nama pejabat, lembaga pemerintah, maupun perwakilan Indonesia di luar negeri. Verifikasi informasi sebelum melakukan transfer uang menjadi langkah penting untuk mencegah jatuhnya korban baru.**

  • 2DIGIT Academy Hadirkan Diaspora Aceh untuk Persiapkan Talenta Global

    acehtoday.id/ | Banda Aceh — Peran diaspora Aceh dalam membuka akses dan wawasan karier global bagi generasi muda terus menguat. Salah satunya ditunjukkan melalui program Global Talent Training Batch #2 yang digelar 2DIGIT Academy dengan menghadirkan profesional teknologi asal Aceh yang kini berkarier di perusahaan teknologi dunia.

    Dalam sesi pelatihan yang berlangsung secara daring pada Sabtu (20/6/2026), peserta mendapatkan pembekalan langsung dari M. Ivan Nugroho, putra Aceh yang saat ini menjabat sebagai Enterprise Account Executive di MongoDB, perusahaan teknologi asal Amerika Serikat yang berkantor pusat regional di Singapura.

    Kegiatan yang diikuti lulusan perguruan tinggi, profesional muda hingga mahasiswa itu bertujuan meningkatkan kesiapan talenta Aceh menghadapi proses rekrutmen di perusahaan internasional yang semakin kompetitif.

    Dalam pemaparannya, Ivan menyoroti tiga keterampilan utama yang dinilai penting untuk dimiliki calon pekerja yang ingin berkarier di tingkat global.

    Pertama, kemampuan berbahasa Inggris yang menjadi salah satu faktor penentu dalam membangun kesan pertama saat proses wawancara kerja. Menurutnya, kemampuan komunikasi yang baik dapat meningkatkan peluang kandidat untuk menunjukkan kompetensi yang dimiliki.

    Selain itu, Ivan juga memperkenalkan metode STAR (Situation, Task, Action, Result) sebagai teknik yang efektif untuk menjelaskan pengalaman, pencapaian, maupun kemampuan secara sistematis kepada pewawancara.

    “Dengan struktur yang jelas, kandidat dapat menyampaikan pengalaman secara lebih meyakinkan dan mudah dipahami,” ujarnya.

    Ia juga menekankan pentingnya latihan yang berkelanjutan sebelum mengikuti wawancara kerja. Simulasi wawancara yang dilakukan secara konsisten dinilai mampu meningkatkan rasa percaya diri sekaligus membantu peserta menjawab pertanyaan dengan lebih terstruktur.

    Ivan bukan sosok baru di dunia teknologi global. Sebelum bergabung dengan MongoDB, ia pernah berkarier di sejumlah perusahaan teknologi multinasional seperti Google, Microsoft, IBM, Alibaba, dan Confluent.

    Antusiasme peserta terlihat sepanjang pelatihan. Berbagai pertanyaan terkait strategi menghadapi proses seleksi kerja internasional, pengembangan karier, hingga peluang bekerja secara remote di perusahaan global menjadi topik yang banyak dibahas.

    Perwakilan panitia, Jullyana, mengatakan program tersebut merupakan bagian dari upaya memperluas akses generasi muda Aceh terhadap wawasan dan kompetensi global melalui pembelajaran langsung dari para diaspora profesional yang telah berpengalaman di berbagai negara.

    Menurutnya, perkembangan teknologi dan tren kerja jarak jauh telah membuka peluang yang lebih luas bagi talenta daerah untuk berkarier di perusahaan dunia tanpa harus meninggalkan kampung halaman.

    “Harapannya semakin banyak generasi muda Aceh yang memiliki kompetensi, kepercayaan diri, dan kesiapan untuk bersaing di pasar kerja global, baik bekerja di luar negeri maupun secara remote dari daerah asal,” katanya.

    Program Global Talent Training sendiri merupakan salah satu inisiatif 2DIGIT Academy yang memberikan pelatihan berbasis beasiswa penuh guna menyiapkan sumber daya manusia Aceh agar mampu bersaing di era ekonomi digital dan industri global.**