Kategori: Nanggroe

  • Bupati Aceh Barat Beri Waktu 60 Hari kepada OPD Tindak Lanjuti Temuan BPK

    acehtoday.id/ | Aceh Barat – Bupati Aceh Barat Tarmizi memberi tenggat waktu sekitar 60 hari kepada Organisasi Perangkat Daerah (OPD) untuk menindaklanjuti semua temuan Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) Republik Indonesia di lingkungan setempat.

    Menurut Tarmizi, kali ini BPK sangat ketat dalam melakukan pemeriksaan laporan keuangan, sehingga banyak menemukan temuan penting terkait administrasi di lingkungan Kabupaten Aceh Barat.

    “Kami telah meminta kepada seluruh OPD dalam waktu 60 hari untuk menindak lanjuti semua temuan BPK dan jangan terulang kembali temuan yang sama di tahun yang akan datang. Harus betul-betul tertib administrasi,” ujar Tarmizi dalam rapat paripurna pembahasan dan penetapan Rancangan Qanun (Raqan) tentang Pertanggungjawaban Pelaksanaan APBK Tahun Anggaran 2025 di ruang sidang utama kantor DPRK setempat, Selasa (7/7/2026).

    Ia menegaskan akan menindaklanjuti secara serius setiap rekomendasi yang diberikan oleh BPK sebagai bentuk komitmen pihaknya dalam mewujudkan tata kelola pemerintahan yang bersih, transparan dan akuntabel.

    Bupati Menyerahkan Raqan Pertanggungjawaban Pelaksanaan APBK Aceh Barat Tahun 2025

    Peyusunan laporan pertanggungjawaban pelaksanaan APBK Tahun Anggaran 2025, kata Tarmizi, telah dilakukan berdasarkan prinsip transparansi, akuntabilitas, efektivitas, efisiensi serta kepatuhan terhadap ketentuan peraturan perundang – undangan.

    “Dengan telah selesainya proses audit dan pemberian opini terhadap laporan keuangan oleh BPK Republik Indonesia Perwakilan Aceh, maka rancangan qanun pertanggungjawaban pelaksanaan APBK Aceh Barat tahun 2025 telah diajukan kepada DPRK Aceh Barat untuk dilakukan pembahasan,” ujarnya.

    Atas dasar tersebut, Tarmizi turut menyerahkan Raqan tentang pertanggungjawaban pelaksanaan APBK yang memuat secara rinci laporan keuangan Pemkab Aceh Barat tahun 2025. Tercatat, realisasi pendapatan daerah sebesar Rp 1.380.510.307.207,53, realisasi belanja daerah sebesar Rp 1.443.173.948.080,40 serta pembiayaan yang mencakup penerimaan pembiayaan dan pengeluaran pembiayaan daerah dengan realisasi sebesar Rp140.130.408.071,64.

    Bupati Tarmizi menyerahkan Raqan Pertanggungjawaban Pelaksanaan APBK Aceh Barat Tahun 2025 (Foto : Dok. Diskominsa Aceh Barat)

    60 Hari untuk Berbenah, Tarmizi Minta OPD Tindak Lanjuti Temuan BPK

    Bupati Tarmizi menegaskan, seluruh rekomendasi yang diberikan BPK harus menjadi perhatian serius setiap kepala OPD. Ia tidak ingin temuan yang sama kembali muncul pada pemeriksaan tahun berikutnya karena dinilai mencerminkan lemahnya tata kelola administrasi dan pengawasan internal.

    Menurutnya, hasil pemeriksaan BPK harus dijadikan bahan evaluasi untuk memperbaiki sistem pengelolaan keuangan daerah, mulai dari perencanaan, pelaksanaan hingga pelaporan anggaran.

    “Kami ingin seluruh OPD benar-benar menindaklanjuti setiap rekomendasi yang telah diberikan. Jangan sampai ada temuan yang berulang. Ini menjadi tanggung jawab bersama untuk membangun tata kelola pemerintahan yang lebih baik,” ujarnya.

    Dalam rapat paripurna tersebut, Bupati juga memberikan apresiasi kepada pimpinan dan seluruh anggota DPRK, unsur Forkopimda, jajaran Pemkab Aceh Barat dan pihak – pihak terkait atas kerja keras dan sinergitasnya.

    “Alhamdulillah Kabupaten Aceh Barat dapat kembali memperoleh penghargaan predikat opini wajar tanpa pengecualian ke 12 kalinya secara berturut – turut. Namun demikian meskipun kita berhasil mempertahankan opini WTP kami menyadari terdapat tantangan dalam penyelenggaraan pemerintahan dan pembangunan daerah,” ujar Tarmizi.

  • Halo Pak Bupati Aceh Timur, Tujuh Bulan Pascabencana Warga Bangun Sekolah Darurat Selamatkan Pendidikan Anak

    acehtoday.id/ | Aceh Timur – Tujuh bulan setelah banjir dan tanah longsor menerjang Kabupaten Aceh Timur, hak anak-anak untuk memperoleh pendidikan yang layak belum juga dipulihkan, di Dusun Sahraja Kecamatan Pante Bidari, para siswa masih harus menunggu kehadiran negara, sementara warga dan relawan bergotong royong membangun sekolah darurat agar proses belajar mengajar tetap berlangsung.

    Gedung sekolah yang rusak akibat bencana hingga kini belum dibangun kembali, kondisi tersebut memaksa masyarakat mengambil inisiatif sendiri agar anak-anak tidak semakin lama kehilangan kesempatan belajar.

    Ironisnya, dua bulan setelah bencana, warga sempat mendirikan ruang belajar menggunakan tenda darurat, namun tenda itu tak mampu bertahan menghadapi cuaca, hujan deras dan angin kencang merobohkan sekaligus merusak ruang belajar sementara tersebut, sehingga para siswa kembali kehilangan tempat belajar.

    Di tengah belum adanya bangunan permanen, bantuan justru datang dari para relawan, keluarga Alumni Universitas Gadjah Mada (KAGAMA) Aceh memberikan dana stimulan untuk pembangunan sekolah darurat yang lebih kokoh.

    Bersama masyarakat, mereka memanfaatkan kayu-kayu yang hanyut terbawa banjir sebagai material bangunan, setiap hari warga bergotong royong mengumpulkan, membersihkan, dan mengolah kayu bekas bencana menjadi tiga ruang kelas darurat.

    Bangunan sederhana itu diharapkan menjadi tempat belajar sementara hingga pemerintah membangun sekolah yang layak.

    Tenda sekolah darurat yang sebelumnya digunakan sebagai ruang belajar di Dusun Sahraja rusak dan terbang diterpa angin kencang beberapa waktu lalu.Foto : Dok Warga/HO-Seputaraceh.id

    Menunggu Selama Tujuh Bulan Pascabencana

    Kepala Dusun Sahraja, Ismail, mengapresiasi kepedulian para relawan yang telah membantu masyarakat, namun ia menegaskan bahwa sekolah darurat bukanlah solusi jangka panjang.

    “Alhamdulillah, saat ini kami dibantu relawan untuk membangun sekolah darurat, untuk tahap awal baru tiga ruang kelas yang bisa kami bangun,” ujarnya, Kamis (29/6/2026).

    Ia berharap pemerintah daerah maupun pemerintah pusat segera turun tangan membangun kembali gedung sekolah yang rusak akibat bencana.

    “Kami sangat berharap pemerintah Aceh Timur Maupun Pusat dapat memberikan perhatian agar sekolah permanen dapat segera dibangun di daerah ini,” katanya.

    Keluhan serupa disampaikan guru SDN Sarahgala, Siti Sari. Menurutnya, sejak sekolah hancur diterjang banjir, proses belajar mengajar berlangsung penuh keterbatasan.

    “Ketika banjir melanda, gedung sekolah kami runtuh dan kami sempat belajar di tenda, namun, tenda tersebut terbang diterpa angin beberapa waktu lalu, kami masih serba kekurangan,” tuturnya.

    Ia menyampaikan apresiasi kepada masyarakat dan relawan yang telah membantu menjaga keberlangsungan pendidikan, namun menurutnya, bantuan tersebut belum cukup menutupi kebutuhan siswa.

    Selain bangunan sekolah permanen, para guru dan murid juga masih membutuhkan meja, kursi, papan tulis, buku pelajaran, hingga alat tulis agar proses belajar mengajar dapat berlangsung secara layak.

    Kisah di Dusun Sahraja menjadi potret bahwa pemulihan pascabencana belum sepenuhnya menyentuh sektor pendidikan.

    Saat warga dan relawan mampu bergotong royong membangun ruang kelas dari kayu bekas banjir, muncul pertanyaan yang sulit diabaikan, mengapa setelah tujuh bulan berlalu, anak-anak masih harus belajar di sekolah darurat untuk mendapatkan hak dasar mereka atas pendidikan?

    Bagi masyarakat, sekolah darurat hanyalah bentuk ikhtiar agar anak-anak tidak putus belajar.

    Yang mereka nantikan sesungguhnya adalah hadirnya negara melalui pembangunan sekolah permanen, sehingga generasi di wilayah terdampak bencana tidak terus menjadi korban dari lambannya pemulihan.

  • Sistem Tiket Online Kapal ASDP Carut-Marut, DPRK Sabang Desak Gubernur Aceh Turun Tangan

    acehtoday.id/ | Banda Aceh – Dewan Perwakilan Rakyat Kota (DPRK) Sabang menyesalkan sistem tiket penyeberangan online yang diterapkan PT ASDP Indonesia Ferry pada lintasan Ulee Lheue-Balohan dinilai carut-marut dan merugikan wisatawan maupun masyarakat yang hendak ke Kota Sabang.

    Hal tersebut disampaikan oleh Wakil Ketua DPRK Sabang, Albina mengatakan pihaknya sejak awal telah mengingatkan bahwa penerapan sistem tiket online secara penuh berpotensi menimbulkan berbagai persoalan.

    "Sejak awal pemberlakuan sistem online penuh ini, kami dari DPRK sudah melihat bahwa persoalan ini akan berdampak panjang terhadap sirkulasi penumpang Banda Aceh-Sabang menggunakan kapal ferry ASDP," kata Albina kepada acehtoday.id/, Jumat (26/6/2026).

    Menurutnya, sekitar dua bulan lalu DPRK Sabang bahkan telah melayangkan surat kepada Gubernur Aceh untuk meminta Pemerintah Aceh melalui Dinas Perhubungan memfasilitasi penyelesaian persoalan tersebut.

    Albina menilai Pemerintah Aceh memiliki kewenangan besar karena mengatur izin trayek, tarif penyeberangan, sekaligus sebagai pemilik kapal KMP Aceh Hebat 2 dan KMP BRR yang dioperasikan pada lintasan tersebut.

    "Kami sudah meminta Gubernur untuk memfasilitasi karena kewenangan ada pada Pemerintah Aceh. Namun sampai hari ini kami belum melihat langkah konkret untuk mencari solusi," ujarnya.

    Kemudian DPRK Sabang menggelar rapat dengar pendapat dengan PT ASDP Indonesia Ferry dan Kantor Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan (KSOP) Sabang karena belum ada respon dari Gubernur Aceh.

    Dalam pertemuan itu, kata Albina, seluruh pihak mengakui masih banyak kelemahan pada sistem tiket online, mulai dari proses check in yang belum optimal, kuota tiket yang terbatas, hingga kendala masyarakat dalam mengakses aplikasi akibat keterbatasan kemampuan menggunakan teknologi maupun jaringan internet.

    "Dalam rapat itu ASDP berjanji akan melakukan pembenahan terhadap sistem tiket online," ujarnya.

    Namun hingga kini perbaikan yang dijanjikan belum terlihat. DPRK Sabang bahkan kembali memfasilitasi pertemuan lanjutan di Kantor ASDP Banda Aceh yang turut dihadiri Wali Kota Sabang dan unsur pimpinan DPRK.

    Dalam forum tersebut, DPRK mengusulkan adanya penambahan kuota tiket di luar sistem online serta penyempurnaan mekanisme check in agar masyarakat yang mengalami kendala tetap dapat memperoleh tiket.

    "Sayangnya sampai hari ini belum ada progres yang cukup berarti sebagaimana dijanjikan oleh ASDP maupun KSOP,” ucapnya.

    Sistem Tiket dan Keterbatasan Kapal

    Albina menambahkan kondisi tersebut kini semakin diperparah dengan tidak beroperasinya KMP Aceh Hebat 2 akibat insiden ledakan mesin beberapa waktu lalu. Akibatnya, saat ini hanya satu armada yang melayani penyeberangan Banda Aceh-Sabang.

    Menurutnya, kombinasi antara keterbatasan armada dan sistem tiket online yang belum berjalan optimal telah membuat kondisi transportasi penyeberangan menuju Sabang semakin sulit.

    “Kondisi ini sudah sangat darurat. Sudah bermasalah dengan sistem online yang tidak akomodatif, ditambah lagi armada kapal tinggal satu. Ini tentu semakin memperparah keadaan,” tuturnya.

    DPRK Sabang pun meminta Gubernur Aceh segera mengambil langkah tegas dengan melakukan relaksasi atau penyesuaian sementara terhadap sistem tiket online hingga kondisi armada penyeberangan kembali normal.

    “Kalau gubernur mau mengambil inisiatif melakukan penyesuaian sementara terhadap sistem online karena armada tinggal satu, paling tidak persoalan masyarakat bisa sedikit teratasi sambil menunggu kapal kembali beroperasi,” pungkas Albina.

    untuk diketahui PT ASDP Cabang Banda Aceh akan memberikan kompensasi kepada penumpang yang terlambat diangkut oleh kapal KMP Aceh Hebat 2 setelah terjadi peristiwa ledakan mesin kapal yang melukai 15 orang, Jumat (12/6/2026).

    “Untuk penumpang dan kendaraan yang telat diangkut, kami akan memberikan service meal berupa makanan dan minuman,” kata General Manager PT ASDP Cabang Banda Aceh, Andre Setiawan di depan RSUDZA.

    Berkoordinasi dengan KSOP Kelas IV Malahayati, pihaknya juga akan menyediakan keberangkatan tambahan menggunakan kapal KMP BRR bagi penumpang dan kendaraan yang tetap ingin menyeberang ke pulau Sabang.

    “Biasanya KMP BRR hanya ada 3 trip, tapi kami akan sediakan 4 trip kali ini bagi penumpang dan kendaraan yang ingin menyeberang,” pungkas Andre.

    Sebelumnya, sebanyak 15 orang terluka dalam peristiwa diduga ledakan mesin di KMP Aceh Hebat 2 saat di Pelabuhan Ulee Lheue. Korban yang mengalami luka diantaranya 14 taruna Politeknik Pelayaran serta satu instruktur sekaligus Kepala Kamar Mesin (KKM).

    Akibat ledakan mesin tersebut, para korban dievakuasi dan sedang mendapat perawatan di RSUDZA Banda Aceh.

    Adapun pihak ASDP Cabang Banda Aceh telah menyatakan komitmen untuk menanggung seluruh biaya pengobatan dan kebutuhan korban serta keluarga korban selama di Banda Aceh.

    Sementara itu, polisi masih menyelidiki penyebab diduga mesin kapal yang tiba-tiba meledak saat kegiatan belajar mengajar lapangan ini.

    Sistem Tiket Online Kapal ASDP Carut-Marut, DPRK Sabang Desak Gubernur Aceh Turun Tangan
    Sistem Tiket Online Kapal ASDP Carut-Marut, DPRK Sabang Desak Gubernur Aceh Turun Tangan Foto:
    acehtoday.id/Elza

     

     

  • Ironis! Diperbaiki dengan Donasi Rakyat, Jalan Enang-Enang Justru Dihentikan BPJN Aceh

    acehtoday.id/ | Bener Meriah – Harapan masyarakat untuk kembali menggunakan Jalan Lintas Enang-Enang yang dalam beberapa pekan terakhir diperbaiki secara swadaya harus tertunda.

    Balai Pelaksanaan Jalan Nasional (BPJN) Aceh secara resmi menghentikan sementara penggunaan ruas jalan yang menghubungkan Bireuen-Takengon tersebut karena dinilai belum aman untuk dilalui kendaraan.

    Keputusan itu disampaikan langsung oleh Plt Kepala BPJN Aceh, Zulkarnaini, saat meninjau lokasi kerusakan jalan dan jembatan di kawasan Enang-Enang.

    “Jalan ini kita stop, beralih ke jalan Wer Lah, demi keselamatan kita semua,” kata Zulkarnaini dalam video yang beredar luas di media sosial, Senin (22/6/2026).

    Diperbaiki dengan Donasi Rakyat, Jalan Enang-Enang Justru Dihentikan BPJN Aceh
    Plt Kepala BPJN Aceh, Zulkarnaini Bersama Rombongan Kunjungi Jembatan Enang Enang Bener Meriah. Foto : BPJN

    Perjuangan Warga Enang-Enang

    Pernyataan tersebut disampaikan di hadapan masyarakat yang selama ini bergotong royong memperbaiki akses jalan secara mandiri.

    Salah satunya adalah Syahrial, tokoh masyarakat yang menjadi penggerak utama perbaikan swadaya jalan tersebut.

    Menanggapi keputusan BPJN, Syahrial mengaku tetap ingin melanjutkan proses pengaspalan yang sedang dikerjakan.

    Menurutnya, dana donasi yang dihimpun dari masyarakat dan para dermawan telah digunakan untuk membiayai pekerjaan tersebut.

    “Kami tetap melanjutkan pengaspalan karena sedikit lagi siap. Uang donasi sudah kami bayarkan untuk itu,” ujarnya.

    Namun, Zulkarnaini mengingatkan bahwa pekerjaan pengaspalan yang dilakukan warga berpotensi sia-sia apabila kondisi cuaca memburuk dan hujan kembali mengguyur kawasan tersebut.

    “Nanti percuma bapak mengaspal. Ini saya lihat, sekali hujan dibawa semua,” katanya.

    Ia juga meminta masyarakat menyampaikan kepada para donatur bahwa penghentian penggunaan jalan dilakukan atas pertimbangan keselamatan.

    “Sampaikan pada donatur, sudah di-stop oleh saya dari BPJN. Uang yang sudah terkumpul mungkin bisa bapak gunakan untuk hal lain yang lebih bermanfaat,” tambahnya.

    Sebelumnya, masyarakat setempat secara swadaya menggalang dana dan menyewa alat berat untuk membuka kembali akses jalan yang sempat terputus akibat longsor.

    Upaya tersebut berhasil membersihkan sejumlah titik material longsor dan membuat badan jalan mulai bisa dilalui kendaraan roda dua.

    Meski demikian, hasil peninjauan BPJN Aceh menunjukkan masih terdapat sejumlah titik longsor aktif, kondisi tanah yang labil, serta kerusakan berat pada struktur jembatan yang belum memungkinkan ruas tersebut difungsikan sebagai jalur transportasi umum.

    BPJN menilai pekerjaan yang dilakukan masyarakat baru sebatas membuka akses sementara dan belum menyelesaikan persoalan utama yang berpotensi membahayakan pengguna jalan.

    Karena itu, masyarakat diimbau tetap menggunakan jalur alternatif melalui Wer Lah atau Wih Porak hingga penanganan permanen dapat dilakukan.

    BPJN Aceh menyebutkan penanganan permanen Jalan dan Jembatan Enang-Enang telah masuk dalam rencana pembangunan pemerintah pusat.

    Namun, pelaksanaannya masih memerlukan kajian teknis lebih lanjut mengingat lokasi tersebut berada di kawasan rawan longsor dan merupakan bagian dari ruas jalan nasional.

    Banner dukungan untuk melanjutkan perbaikan jalan Enang-enang. Dok Kebergayo_com.
  • Ironis, Warga Patungan Perbaiki Jalan, FORSIAKUBA Sentil Keras Pemkab Aceh Selatan

    acehtoday.id/ | Aceh Selatan – Puluhan warga Gampong Pasie Kuala Bau, Kecamatan Kluet Utara, Kabupaten Aceh Selatan, bergotong royong memperbaiki jalan desa yang selama ini menjadi akses utama masyarakat, namun kondisinya rusak dan belum mendapat penanganan memadai dari pemerintah.

    Aksi swadaya yang dilakukan warga tersebut mendapat perhatian dari Ketua Forum Silaturahmi Mahasiswa Kuala Bau (FORSIAKUBA), Muksan.

    Menurutnya, kegiatan gotong royong itu tidak hanya mencerminkan semangat kebersamaan masyarakat, tetapi juga menjadi gambaran masih minimnya perhatian pemerintah terhadap infrastruktur dasar di wilayah tersebut.

    "Apa yang terjadi hari ini bukan sekadar gotong royong biasa, ketika masyarakat harus mengumpulkan tenaga, waktu, dan biaya sendiri untuk memperbaiki jalan desa, ini menunjukkan bahwa ada kebutuhan dasar yang belum terpenuhi," kata Muksan kepada acehtoday.id/.

    Ia menjelaskan, jalan tersebut telah lama mengalami kerusakan dan kerap dikeluhkan warga karena menjadi jalur utama untuk menjalankan berbagai aktivitas sehari-hari. Namun hingga kini, perbaikan yang diharapkan masyarakat belum juga terealisasi.

    Menurut Muksan, kondisi tersebut seharusnya menjadi perhatian serius bagi Pemerintah Kabupaten Aceh Selatan maupun DPRK Aceh Selatan agar pembangunan infrastruktur desa dapat menjadi prioritas.

    “Masyarakat tidak meminta sesuatu yang berlebihan. Mereka hanya menginginkan akses jalan yang layak untuk menu

    njang aktivitas ekonomi, pendidikan, dan kebutuhan sehari-hari,” ujarnya.

    Ia menilai, inisiatif warga memperbaiki jalan secara mandiri merupakan bentuk kepedulian terhadap lingkungan sekaligus cerminan kekecewaan atas lambannya penanganan infrastruktur yang menjadi kebutuhan vital masyarakat.

    FORSIAKUBA Apresiasi Warga

    Meski demikian, Muksan mengapresiasi semangat gotong royong yang ditunjukkan warga Pasie Kuala Bau, menurutnya, budaya kebersamaan tersebut merupakan nilai positif yang harus terus dijaga.

    “Gotong royong adalah budaya luhur masyarakat kita. Namun, semangat kebersamaan warga tidak boleh dijadikan alasan bagi pemerintah untuk mengabaikan tanggung jawabnya dalam menyediakan infrastruktur yang layak,” tegasnya.

    FORSIAKUBA berharap pemerintah daerah dapat segera mengambil langkah konkret untuk memperbaiki jalan tersebut dan memastikan kebutuhan dasar masyarakat terpenuhi.

    “Rakyat membutuhkan pelayanan yang nyata dan kehadiran pemerintah dalam menyelesaikan persoalan yang mereka hadapi, apa yang dilakukan masyarakat hari ini menjadi pengingat bahwa pembangunan harus benar-benar menyentuh kebutuhan warga di lapangan,” pungkas Muksan.(mol)

  • Sunat Massal Gratis Bagi 28 Anak, Polres Aceh Timur Semarakkan Hari Bhayangkara Ke-80

    acehtoday.id/ | Aceh Timur – Polres Aceh Timur, Polda Aceh menggelar kegiatan Bakti Kesehatan berupa sunat massal gratis bagi 28 anak dalam rangka memperingati Hari Bhayangkara ke-80. Kegiatan yang berlangsung di Mapolsek Indra Makmu, Selasa (16/06/2026), tersebut menjadi bagian dari rangkaian bakti sosial Polri untuk memberikan pelayanan langsung kepada masyarakat.

    Suasana penuh kebersamaan dan kepedulian terlihat dalam kegiatan tersebut. Para peserta hadir bersama orang tua dan wali masing-masing untuk mengikuti proses sunat yang ditangani oleh tim kesehatan Polres Aceh Timur bersama dokter mitra.

    Kegiatan itu turut dihadiri Kapolres Aceh Timur AKBP Irwan Kurniadi, S.I.K., Ketua Bhayangkari Cabang Aceh Timur Ny. Zilka Irwan Kurniadi beserta pengurus, para pejabat utama Polres Aceh Timur, dokter mitra Polres Aceh Timur dr. Zulfahmi, personel Sidokkes Polres Aceh Timur, serta Kapolsek Indra Makmu Iptu Maswelliadi, S.H.

    Kapolres Aceh Timur AKBP Irwan Kurniadi mengatakan, kegiatan sunat massal tersebut merupakan wujud kepedulian dan pengabdian Polri kepada masyarakat dalam momentum Hari Bhayangkara ke-80.

    Menurutnya, kehadiran Polri bukan hanya dalam menjaga keamanan dan ketertiban, tetapi juga melalui berbagai kegiatan sosial yang memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.

    “Semoga anak-anak yang mengikuti sunat massal hari ini kelak menjadi anak yang saleh, berakhlak baik, berbakti kepada orang tua, serta mampu memberikan manfaat bagi masyarakat, bangsa, dan agamanya,” ujar AKBP Irwan.

    Polres Aceh Timur, Polda Aceh menggelar kegiatan Bakti Kesehatan berupa sunat massal gratis bagi 28 anak dalam rangka memperingati Hari Bhayangkara ke-80. Kegiatan yang berlangsung di Mapolsek Indra Makmu, Selasa (16/06/2026)
    Polres Aceh Timur, Polda Aceh menggelar kegiatan Bakti Kesehatan berupa sunat massal gratis bagi 28 anak dalam rangka memperingati Hari Bhayangkara ke-80. Kegiatan yang berlangsung di Mapolsek Indra Makmu, Selasa (16/06/2026).foto ist

    Sunat Massal dan Pembinaan

    Ia juga menekankan pentingnya peran keluarga dalam membentuk karakter generasi muda. Menurutnya, menjaga anak-anak dari berbagai pengaruh negatif membutuhkan kerja sama antara keluarga, masyarakat, dan institusi negara, termasuk Kepolisian.

    “Pembinaan terhadap anak harus dilakukan secara bersama-sama. Keluarga menjadi garda terdepan dalam menanamkan nilai moral dan pendidikan yang baik,” katanya.

    Salah seorang orang tua peserta mengapresiasi kegiatan yang digelar Polres Aceh Timur tersebut. Ia menilai program itu sangat membantu masyarakat, khususnya dalam memberikan layanan kesehatan secara gratis.

    “Kami mengucapkan terima kasih kepada Polres Aceh Timur yang telah mengadakan kegiatan ini. Selain membantu masyarakat, kegiatan ini juga membuat kami merasa lebih dekat dengan Kepolisian,” ujarnya.

  • Jamaah Haji Aceh Mulai Pulang, PPIH Siapkan Layanan Debarkasi dari Bandara hingga Daerah

    acehtoday.id/ | Banda Aceh – Setelah menjalani rangkaian ibadah di Tanah Suci, ribuan jamaah haji Aceh mulai bersiap kembali ke tanah air. Kepulangan mereka menjadi momen yang dinantikan keluarga, sekaligus menjadi perhatian Petugas Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Embarkasi Aceh.

    Untuk memastikan proses pemulangan berjalan lancar, PPIH Embarkasi Aceh mengoptimalkan seluruh layanan debarkasi yang akan berlangsung mulai 15 hingga 30 Juni 2026.

    Ketua PPIH Embarkasi Aceh, Arijal mengatakan seluruh petugas telah disiapkan untuk menyambut kedatangan jamaah haji Aceh yang kembali secara bertahap melalui Bandara Internasional Sultan Iskandar Muda, Aceh Besar.

    “Seluruh layanan debarkasi dimaksimalkan untuk memastikan proses penyambutan dan pemulangan jamaah berjalan lancar, tertib dan nyaman,” kata Arijal di Banda Aceh, Sabtu.

    Kloter pertama jamaah haji Aceh dijadwalkan tiba pada Senin (15/6/2026) malam. Kedatangan tersebut menjadi awal dari rangkaian kepulangan jamaah yang akan berlangsung hingga akhir Juni.

    Arijal menyebut berbagai persiapan terus dilakukan, mulai dari koordinasi antarpetugas, penyambutan di bandara, layanan kesehatan, pengurusan bagasi, hingga proses pengantaran jamaah menuju daerah asal masing-masing.

    “Kami terus melakukan berbagai persiapan dan koordinasi agar seluruh proses debarkasi berjalan dengan baik,” ujarnya.

    Menurutnya, kepulangan jamaah haji bukan hanya sekadar perjalanan kembali dari Tanah Suci, tetapi menjadi momen yang penuh harapan bagi keluarga yang telah lama menunggu.

    Karena itu, PPIH Aceh meminta seluruh petugas, baik dari PPIH kloter maupun petugas daerah Kementerian Haji dan Umrah kabupaten/kota, dapat menjalankan tugas secara maksimal.

    Terkait pembagian air zamzam, Arijal menjelaskan distribusi akan dilakukan di daerah masing-masing. Ia mengimbau keluarga jamaah agar melakukan penjemputan sesuai lokasi yang telah ditentukan.

    “Terkait pembagian air zamzam akan dilakukan di daerah masing-masing. Karena itu, kami mengimbau keluarga atau kerabat jamaah agar menjemput di daerah masing-masing,” katanya.

    Selain fokus pada pelayanan kepulangan, PPIH Aceh juga mengingatkan jamaah agar menjaga nilai-nilai haji mabrur setelah kembali ke tengah masyarakat.

    Arijal menyampaikan, keberhasilan ibadah haji tidak berhenti setelah meninggalkan Tanah Suci, tetapi harus tercermin melalui perubahan sikap, peningkatan ibadah, kepedulian sosial, serta memberi manfaat bagi lingkungan sekitar.

    “Haji mabrur tidak berhenti di Tanah Suci. Kemabruran harus terus dirawat melalui peningkatan ibadah, akhlak yang baik, kepedulian sosial, serta semangat memberi manfaat bagi sesama,” ujarnya.

    Jamaah Haji Aceh Mulai Pulang, diharapkan jadi Teladan

    Ia berharap para jamaah haji Aceh dapat menjadi teladan di tengah masyarakat dalam menjaga kerukunan, memperkuat silaturahmi, dan menghidupkan semangat gotong royong.

    Arijal juga mengapresiasi antusiasme masyarakat Aceh yang selalu menyambut kepulangan jamaah haji dengan penuh penghormatan sebagai bentuk tradisi memuliakan tamu Allah SWT.

    “Kami mengucapkan selamat datang kepada seluruh jamaah haji Aceh. Semoga seluruh rangkaian ibadah diterima Allah SWT dan para jamaah memperoleh haji yang mabrur serta membawa keberkahan bagi keluarga dan masyarakat,” demikian Arijal.

    Ilustrasi jemaah haji Aceh tiba di Tanah Air. Foto : Ist
  • 13 Korban Luka Bakar Ledakan Mesin KMP Aceh Hebat 2 Sudah Jalani Operasi, 2 Lainnya Masih Menunggu

    acehtoday.id/ | Banda Aceh – Rumah Sakit Umum Daerah Zainal Abidin (RSUDZA) Banda Aceh menyebut 13 korban luka bakar akibat diduga ledakan mesin kapal KMP Aceh Hebat 2 telah menjalani cito (darurat), sementara dua korban lainnya masih menunggu giliran operasi.

    Hal tersebut disampaikan oleh Humas RSUDZA Banda Aceh, Rahmadi saat dikonfirmasi oleh acehtoday.id/, Sabtu (13/6/2026).

    “Semalam dari 15 orang, sudah dilakukan operasi dan 2 lainnya masih dalam antrian operasi,” kata Rahmadi.

    Menurut RSUDZA, korban yang telah menjalani operasi adalah Mujiburahman asal Sigli, Faris Aflandi Pratama asal Bengkulu, Aidil asal Sabang, M Dio Febrianto asal Sumatera Utara, Adit Mursandi asal Aceh Selatan, M Bilal Ramzi asal Sabang, dan Samuel asal Sumateran Utara.

    “Mereka saat ini dirawat di ruang HCU surgical,” ujarnya.

    Sementara itu Ridho Rahmadhani S asal Jawa Tengah, Bili Subana Sitepu asal Sumatera Utara, Saufi Ramadhan asal Pidie, Agus Widodo asal Sabang, dan Raihan asal Medan dirawat di ruang Raudhah 7.

    Adapun Fahri Edi Eko asal Sumatera Utara, Iqbal Diansyah dirawat di ruang ICU 1 dan Zulfikar asal Bireuen dirawat di ruang ICU 2.

    “Korban yang menunggu antrian operasi yakni Saufi Ramadhan dan Raihan,” tutup Rahmadi.

    Saat ini RSUDZA Banda Aceh terus melakukan pemantauan terhadap seluruh korban yang mengalami luka bakar akibat insiden tersebut. Tim dokter dan tenaga medis juga terus mengevaluasi kondisi masing-masing pasien untuk menentukan langkah penanganan lanjutan.

    Korban Luka

    Sebelumnya, sebanyak 15 orang mengalami luka bakar akibat insiden yang terjadi di KMP Aceh Hebat 2 saat kegiatan pembelajaran taruna Politeknik Pelayaran di kamar mesin kapal yang sedang bersandar di Pelabuhan Ulee Lheue, Banda Aceh. Para korban terdiri dari taruna pelayaran dan instruktur yang saat ini masih menjalani perawatan di RSUDZA Banda Aceh.

    PT ASDP Indonesia Ferry Cabang Banda Aceh mengatakan akan mengakomodasi seluruh biaya perawatan 15 korban terluka akibat ledakan di mesin kapal KMP Aceh Hebat 2, Jumat (12/6/2026). 
    Suasana Rumah Sakit Umum Daerah Zainal Abidin Banda Aceh Foto : acehtoday.id/Elza
  • Berkali-kali Docking dan Kini Meledak, Masih Layakkah KMP Aceh Hebat 2 Beroperasi?

    Berkali-kali Docking dan Kini Meledak, Masih Layakkah KMP Aceh Hebat 2 Beroperasi?

    acehtoday.id/ | Banda Aceh – Berkali-kali Docking, kini Ledakan yang terjadi di ruang mesin KMP Aceh Hebat 2 pada Jumat (12/6/2026) dan mengakibatkan sedikitnya 14 orang terluka memunculkan pertanyaan serius di tengah masyarakat.

    Kapal yang selama ini menjadi andalan penyeberangan Banda Aceh–Sabang itu kini disorot dari sisi kelaikan dan riwayat perawatannya.

    Insiden yang terjadi saat kapal berada di kawasan Pelabuhan Ulee Lheue tersebut tidak hanya menjadi perhatian karena adanya korban, tetapi juga karena KMP Aceh Hebat 2 merupakan salah satu aset transportasi strategis milik Pemerintah Aceh yang setiap hari melayani mobilitas penumpang dan distribusi logistik ke Sabang.

    Meski penyebab pasti ledakan masih dalam penyelidikan, publik mulai mempertanyakan bagaimana kondisi teknis kapal sebelum insiden terjadi. Terlebih, KMP Aceh Hebat 2 diketahui telah beberapa kali menjalani docking atau perawatan berkala sejak mulai beroperasi.

    Jejak Perawatan KMP Aceh Hebat 2

    KMP Aceh Hebat 2 mulai beroperasi pada tahun 2021 sebagai salah satu armada utama lintasan Ulee Lheue–Balohan.

    Dalam perjalanannya, kapal tersebut tercatat beberapa kali menjalani docking tahunan guna pemeriksaan dan perawatan menyeluruh.

    Pada Januari 2022, kapal menjalani docking di galangan kapal di Gunungsitoli, Nias. Setelah proses perawatan selesai, kapal menjalani sea trial atau uji pelayaran sebelum kembali melayani penumpang.

    Selanjutnya pada Januari 2024, KMP Aceh Hebat 2 kembali menjalani docking tahunan yang menyebabkan layanan penyeberangan Banda Aceh–Sabang sementara hanya dilayani satu kapal.

    Memasuki Januari 2025, kapal kembali masuk galangan untuk menjalani perawatan rutin. Saat itu operator menyebut docking dilakukan untuk memastikan keselamatan pelayaran dan menjaga performa armada.

    Setiap selesai docking, kapal harus menjalani serangkaian pemeriksaan dan memperoleh rekomendasi kelaikan sebelum kembali beroperasi.

    Ledakan yang diduga berasal dari ruang mesin kini menjadi fokus utama penyelidikan, ruang mesin merupakan salah satu bagian paling vital dalam operasional kapal karena menjadi pusat penggerak utama armada.

    Pakar keselamatan pelayaran menilai gangguan pada sistem mesin dapat disebabkan oleh berbagai faktor, mulai dari kerusakan komponen, sistem bahan bakar, instalasi kelistrikan, hingga faktor operasional lainnya, karena itu investigasi menyeluruh diperlukan untuk memastikan penyebab sebenarnya.

    Sejumlah pertanyaan pun mulai bermunculan, apakah terdapat indikasi gangguan teknis sebelum kejadian? Kapan terakhir ruang mesin diperiksa secara menyeluruh? dan apakah ada catatan kerusakan yang sebelumnya pernah ditemukan dalam proses perawatan?

    Kamar mesin kapal KMP Aceh Hebat 2 diduga kebakaran saat kapal tersebut hendak merapat di Pelabuhan Ulee Lheue, Banda Aceh, Jumat (12/6/2026) menjelang pukul 12.00 WIB.
    Korban terluka akibat kamar mesin KMP Aceh Hebat 2 sedang dievakuasi di Pelabuhan Ulee Lheue, Banda Aceh, Jumat (12/6/2026).
    Sumber foto: Tim SAR Aceh.

    Berkali-kali Docking Masih Layakkah Beroperasi?

    Pertanyaan mengenai kelaikan KMP Aceh Hebat 2 pascaledakan menjadi isu yang kini mendapat perhatian publik.

    secara teknis, status laik atau tidaknya kapal tidak dapat ditentukan hanya berdasarkan terjadinya insiden.

    Penilaian tersebut harus dilakukan melalui pemeriksaan menyeluruh oleh otoritas pelayaran, termasuk inspeksi kerusakan, evaluasi sistem keselamatan, serta pengujian kembali sebelum kapal diizinkan beroperasi.

    Meski demikian, insiden yang menimbulkan korban ini dinilai menjadi momentum penting untuk melakukan evaluasi menyeluruh terhadap armada penyeberangan yang melayani lintasan strategis Banda Aceh–Sabang.

    Publik kini menunggu hasil investigasi resmi yang tidak hanya mengungkap penyebab ledakan, tetapi juga menjawab pertanyaan yang lebih besar, apakah KMP Aceh Hebat 2 masih aman dan layak mengangkut ratusan penumpang setelah insiden tersebut.

    Hingga berita ini diterbitkan, pihak berwenang masih melakukan penyelidikan terkait penyebab ledakan, data jumlah korban dan kondisi kapal masih dalam pendalaman acehtoday.id/.

    @acehtoday.id/ 🚢 ASDP memastikan seluruh biaya pengobatan 14 korban insiden KMP Aceh Hebat 2 akan ditanggung penuh. Selain biaya perawatan, kebutuhan keluarga korban yang datang dari luar daerah juga akan difasilitasi selama berada di Banda Aceh. Simak kronologi lengkap insiden yang terjadi di Pelabuhan Ulee Lheue. #SeputarAceh #Aceh #BandaAceh #BeritaAceh #infoaceh ♬ suara asli – Seputar Aceh

  • Ratusan Juta Uang Rakyat Mengalir Sejumlah Organisasi dan Lembaga Vertikal

    Ratusan Juta Uang Rakyat Mengalir Sejumlah Organisasi dan Lembaga Vertikal

    acehtoday.id/ | Aceh Tengah – Ratusan juta rupiah uang rakyat dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Kabupaten (APBK) Aceh Tengah tahun 2026 mengalir ke sejumlah organisasi kepemudaan, organisasi kemasyarakatan, lembaga swadaya masyarakat hingga instansi vertikal.

    Daftar penerima dana hibah yang beredar luas di media sosial dalam beberapa hari terakhir memicu beragam tanggapan masyarakat.

    Publik mulai mempertanyakan dasar pemberian bantuan, besaran anggaran yang diterima masing-masing lembaga, hingga manfaat yang akan dirasakan masyarakat dari penggunaan dana tersebut.

    Berdasarkan daftar yang beredar, sejumlah organisasi tercatat menerima dana hibah dengan nominal yang bervariasi.

    Di antaranya Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI) sebesar Rp105 juta, Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Rp50 juta, Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) Rp25 juta, serta Kwartir Pramuka yang memperoleh alokasi terbesar mencapai Rp185 juta.

    Selain itu, LSM Beringin Tanoh Gayo tercatat menerima hibah Rp100 juta. Beberapa organisasi lainnya seperti Perkemi memperoleh Rp30 juta, Bapovsi Rp70 juta, Bonsai Rp15 juta, dan Lipga Rp25 juta.

    Tidak hanya organisasi masyarakat, daftar tersebut juga mencantumkan Polres Aceh Tengah sebagai salah satu penerima hibah dengan nilai mencapai Rp147,88 juta.

    Dana tersebut disebut dialokasikan untuk pengadaan perangkat penunjang operasional berupa tablet, laptop, dan telepon genggam.

    Publik Bertanya Ratusan Juta Uang Rakyat Mengalir Sejumlah Organisasi

    Beredarnya daftar tersebut memunculkan pertanyaan publik mengenai mekanisme penetapan penerima hibah, proses verifikasi, serta indikator yang digunakan pemerintah daerah dalam menentukan besaran bantuan kepada masing-masing lembaga.

    Dikonfirmasi terkait hal tersebut, Kepala Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) Aceh Tengah, Iwan Kenangan, menjelaskan bahwa instansinya tidak memiliki kewenangan dalam penyaluran dana hibah.

    Menurutnya, Kesbangpol hanya bertugas melakukan pendataan, pendaftaran, dan pencatatan organisasi kemasyarakatan, organisasi kepemudaan, maupun lembaga swadaya masyarakat yang beroperasi di wilayah Aceh Tengah.

    “Kesbangpol hanya melakukan pendaftaran dan pencatatan organisasi. Untuk pemberian hibah merupakan kewenangan dinas terkait,” kata Iwan.

    Sementara itu, Kepala Dinas Pemuda dan Olahraga (Dispora) Aceh Tengah, Sukirman, membenarkan bahwa pihaknya telah menyalurkan dana hibah kepada sejumlah organisasi kepemudaan yang telah ditetapkan dalam dokumen anggaran daerah.

    Ia menegaskan bahwa Dispora hanya melaksanakan penyaluran anggaran yang sebelumnya telah disetujui dalam proses pembahasan APBK Tahun Anggaran 2026.

    “Kita di Dispora bertugas menyalurkan anggaran hibah yang telah disetujui dalam pembahasan anggaran tahun 2026,” ujar Sukirman saat dikonfirmasi melalui sambungan telepon.

    Menurutnya, realisasi penyaluran hibah kepada sejumlah organisasi penerima telah dilakukan setelah Hari Raya Iduladha.

    Meski demikian, hingga kini belum ada penjelasan rinci mengenai dasar penentuan besaran hibah yang diterima masing-masing organisasi. Kondisi tersebut membuat publik menanti transparansi lebih lanjut dari pemerintah daerah agar penggunaan anggaran yang bersumber dari uang rakyat dapat dipahami secara terbuka dan akuntabel.

    Ratusan juta rupiah uang rakyat dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Kabupaten (APBK) Aceh Tengah tahun 2026 mengalir ke sejumlah organisasi kepemudaan, organisasi kemasyarakatan, lembaga swadaya masyarakat hingga instansi vertikal.
    Ratusan juta rupiah uang rakyat dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Kabupaten (APBK) Aceh Tengah tahun 2026. foto Ai