Banda Aceh
Nanggroe

AHY Minta Dua Calon Ketua DPD Demokrat Aceh Jaga Persatuan Pasca Musda

Banda Aceh – Ketua Umum DPP Partai Demokrat, Agus Harimurti Yudhoyono (AHY), meminta dua kandidat Ketua DPD Partai Demokrat Aceh beserta…

Oleh Waktu baca: 3 menit
Bagikan

Banda Aceh – Ketua Umum DPP Partai Demokrat, Agus Harimurti Yudhoyono (AHY), meminta dua kandidat Ketua DPD Partai Demokrat Aceh beserta para pendukungnya menjaga persatuan dan menerima hasil Musyawarah Daerah (Musda) dengan sikap dewasa. Pesan ini disampaikan AHY saat membuka kontestasi Ketua DPD Demokrat Aceh di Banda Aceh, Rabu (19/8/2026).

AHY menegaskan menghormati mekanisme yang telah berjalan, tetapi meminta kompetisi internal tidak berkembang menjadi konflik yang merusak soliditas partai. Ia berharap siapapun yang terpilih mampu merangkul kandidat yang belum mendapat mandat.

Sebaliknya, kandidat yang belum terpilih diminta tetap memberikan dukungan kepada ketua terpilih.

“Sejatinya kita berada dalam rumah yang sama,” kata AHY.

Menurutnya, kontestasi dalam Musda bukan pertarungan antar-lawan. Kedua kandidat merupakan bagian dari organisasi yang sama dan memiliki tujuan politik yang sama.

“Tidak ada lawan dalam ruangan dan rumah kita ini. Yang kita hadapi adalah keluar,” tegasnya.

Ketua Umum DPP Partai Demokrat, Agus Harimurti Yudhoyono saat membekali dan membuka Musda Demokrat Aceh (Foto: /Andika)
Ketua Umum DPP Partai Demokrat, Agus Harimurti Yudhoyono saat membekali dan membuka Musda Demokrat Aceh (Foto: /Andika)

Musda Aceh Diharapkan Jadi Contoh Nasional

AHY meminta seluruh kader merapatkan barisan setelah keputusan Musda ditetapkan. Ia berharap proses pergantian kepemimpinan di Demokrat Aceh dapat menjadi momentum memperkuat organisasi, bukan justru menimbulkan perpecahan.

“Kalau di Aceh bisa menghadirkan sebuah kontestasi yang demokratis, yang fair, yang sejuk, yang saling merangkul, maka ini bisa menjadi contoh yang baik untuk daerah-daerah lainnya,” ujarnya.

Selain persoalan Musda, AHY juga mengingatkan kader tentang pentingnya menjaga perdamaian Aceh. Menurutnya, perdamaian tidak boleh dianggap sebagai sesuatu yang akan berlangsung dengan sendirinya. Perdamaian harus terus dirawat dan diikhtiarkan.

AHY menyinggung besarnya pengorbanan berupa darah, keringat, dan air mata yang telah dicurahkan untuk menghadirkan perdamaian di Aceh. Ia juga menyebut pernah menjalankan tugas sebagai perwira muda di Aceh sehingga memiliki pengalaman langsung mengenai pentingnya menjaga perdamaian.

“Demokrat punya tanggung jawab moral untuk menjaga perdamaian di Aceh,” tegasnya.

Konsolidasi, Bukan Kompetisi yang Memecah

AHY berharap semangat menjaga perdamaian itu juga tercermin dalam proses konsolidasi internal Demokrat Aceh. Perbedaan pilihan dalam kontestasi kepemimpinan merupakan hal biasa dalam demokrasi, tetapi persatuan organisasi harus tetap menjadi kepentingan utama.

Ia meminta kedua kandidat beserta pendukungnya menggunakan Musda sebagai ruang konsolidasi untuk memperkuat Demokrat, bukan sebagai arena yang menyebabkan kader terpecah-belah.

“Gunakan peluang ini sebaik mungkin untuk konsolidasi, bukan untuk berkompetisi dan akhirnya malah bercerai-berai,” pungkas AHY.

Pesan ini menegaskan bahwa kontestasi Ketua DPD Demokrat Aceh harus berakhir dengan pelukan persaudaraan, bukan luka yang sulit disembuhkan. Soliditas partai dan perdamaian Aceh adalah dua hal yang sama-sama harus dijaga dalam bingkai kebersamaan.**

Tinggalkan Komentar

Kolom bertanda * wajib diisi.