Banda Aceh
Lhokseumawe

Pasca Bencana, Pengrajin Lhokseumawe Dibekali Ilmu Desain Kemasan

Lhokseumawe – Kementerian Ekonomi Kreatif/Badan Ekonomi Kreatif (Kementerian Ekraf) menggelar workshop desain kemasan untuk puluhan…

Oleh Waktu baca: 3 menit
Bagikan

Lhokseumawe – Kementerian Ekonomi Kreatif/Badan Ekonomi Kreatif (Kementerian Ekraf) menggelar workshop desain kemasan untuk puluhan pelaku usaha sulam bordir dan anyaman di Lhokseumawe, Kamis (20/8/2026). Kegiatan ini menjadi bagian dari pemulihan ekonomi pascabencana, bukan hanya lewat bantuan modal, tetapi juga penguatan keterampilan.

Direktur Arsitektur dan Desain Kementerian Ekraf, Sabar Norma Megawati Panjaitan, menjelaskan alasan subsektor sulam bordir dan anyaman dipilih. Keduanya dinilai cukup berkembang di Lhokseumawe.

“Ini juga sebagai salah satu bentuk rehab rekon. Kita ketahui bahwa beberapa bulan yang lalu Aceh terkena bencana, sehingga kami dari Kementerian Ekonomi Kreatif ikut berperan di sini. Bagaimana cara memulihkan ekonomi, salah satunya melalui kegiatan ini,” kata Sabar.

Ilmu Lebih Penting dari Uang

Sabar menilai pemulihan usaha tidak cukup hanya mengandalkan bantuan finansial. Pengetahuan dan keterampilan justru menjadi modal penting agar masyarakat dapat mengembangkan usahanya secara mandiri.

“Bukan hanya uang, tetapi ilmu juga lebih penting. Agar para pengrajin di sini bisa bangkit dan mulai usahanya kembali, serta lebih percaya diri dalam mengembangkan hasil karya mereka,” ujarnya.

Pelatihan puluhan pelaku usaha sulam bordir dan anyaman di Lhokseumawe yang digelar oleh Kementerian Ekonomi Kreatif/Badan Ekonomi Kreatif (Kementerian Ekraf), Kamis (20/8/2026).Sumber foto: HO untuk
Pelatihan puluhan pelaku usaha sulam bordir dan anyaman di Lhokseumawe yang digelar oleh Kementerian Ekonomi Kreatif/Badan Ekonomi Kreatif (Kementerian Ekraf), Kamis (20/8/2026).
Sumber foto: HO untuk

Para pengrajin di Lhokseumawe sebenarnya telah memiliki produk dan keterampilan. Tantangan berikutnya adalah membuat produk tersebut lebih menarik dan mampu menjangkau konsumen yang lebih luas. Karena itu, desain kemasan dan branding menjadi salah satu materi yang diberikan.

Menurut Sabar, kemasan bukan sekadar pembungkus, tetapi dapat menjadi bagian dari identitas produk sekaligus meningkatkan nilai tambah ketika dipasarkan. Hal ini sejalan dengan pengembangan subsektor kriya yang dilakukan Kementerian Ekraf, mulai dari produksi, desain, kemasan, branding, hingga pemasaran.

Dorongan Percaya Diri untuk Produk Lokal

Potensi produk anyaman Lhokseumawe, kata Sabar, masih terbuka untuk dikembangkan. Ia berharap para pelaku usaha mulai lebih percaya diri melihat kerajinan lokal sebagai produk yang memiliki peluang pasar.

“Anyam ini sebenarnya kalau kegiatan-kegiatan sudah mulai diangkat, potensinya ada. Tinggal kita yang belum percaya. Mudah-mudahan dengan kami hadir di sini, Lhokseumawe bisa semakin bangkit, bukan hanya di anyamannya saja, tetapi di subsektor lain,” ucapnya.

Wakil Wali Kota Lhokseumawe, Husaini, menambahkan bahwa pelaku ekonomi kreatif memiliki posisi penting dalam menggerakkan perekonomian daerah. Namun, bencana banjir yang terjadi sebelumnya turut berdampak terhadap aktivitas dan keberlangsungan usaha masyarakat.

Menurut Husaini, workshop desain kemasan tersebut membantu pelaku usaha melihat kembali cara mereka menampilkan produk kepada konsumen. Kemasan yang lebih menarik dinilai dapat meningkatkan kualitas tampilan sekaligus daya saing produk lokal.

“Workshop desain kemasan tersebut menjadi kegiatan yang penting karena tidak hanya meningkatkan kemampuan pelaku usaha dalam membuat kemasan yang lebih menarik, tetapi juga membantu meningkatkan kualitas dan daya saing produk yang mereka hasilkan,” kata Husaini.

Ia meminta peserta memanfaatkan kegiatan tersebut untuk berdiskusi dan berkonsultasi langsung dengan fasilitator. Pengetahuan yang diperoleh diharapkan tidak berhenti sebagai materi pelatihan, tetapi langsung diterapkan pada produk masing-masing.

Husaini berharap penguatan keterampilan tersebut dapat mendorong semakin banyak produk kreatif Lhokseumawe yang memiliki kualitas, identitas, dan kemasan yang lebih kuat sehingga mampu bersaing di pasar regional hingga nasional.**

Tinggalkan Komentar

Kolom bertanda * wajib diisi.