HAkA Latih Jurnalis Aceh Pantau Hutan via Satelit

acehtoday.id/ | Banda Aceh – Yayasan Hutan Alam dan Lingkungan Aceh (HAkA) menggelar pelatihan bagi puluhan jurnalis di Banda Aceh untuk memperkuat kapasitas peliputan isu lingkungan menggunakan teknologi pemantauan satelit. Pelatihan bertajuk “Penggunaan Global Forest Watch (GFW) dan Tools Pemantauan Hutan” ini berlangsung Kamis (2/7/2026) dan diikuti jurnalis dari berbagai latar belakang media, mulai dari media online, fotografi, hingga televisi.

GIS Manager HAkA, Lukmanul Hakim, yang bertindak sebagai pemateri menjelaskan bahwa kegiatan ini digagas untuk membantu kerja jurnalis di lapangan, terutama mereka yang menekuni isu lingkungan dan kehutanan. Menurutnya, pelatihan ini menjadi ruang berbagi pengetahuan antara HAkA dan awak media.

“Pelatihan ini digelar untuk saling berbagi ilmu dan membantu kerja-kerja jurnalis di lapangan, terutama teman-teman yang fokus pada peliputan isu lingkungan,” ujar Lukmanul.

Ia menambahkan, tidak semua jurnalis memiliki latar belakang kehutanan atau lingkungan, padahal isu tersebut kerap muncul dalam liputan sehari-hari. Karena itu, HAkA berupaya membekali mereka dengan alat bantu yang bisa digunakan untuk pengecekan awal saat menemukan kasus di lapangan.

Dalam sesi pelatihan, HAkA mengenalkan sejumlah aplikasi sederhana yang bisa dipakai untuk memantau kondisi hutan dan lingkungan. Dua di antaranya adalah Google Earth Pro dan Google Maps, yang sudah dilengkapi fitur untuk mengetahui status suatu lokasi, apakah berada di kawasan hutan lindung, hutan produksi, atau kawasan lain.

“Aplikasi-aplikasi ini mudah digunakan untuk pemantauan. Kita sharing hal-hal dasar penggunaannya melihat kawasan-kawasan hutan maupun lingkungan,” kata Lukmanul.

Selain kedua aplikasi tersebut, peserta juga diperkenalkan dengan platform Global Forest Watch (GFW). Platform ini memungkinkan pengguna memantau peringatan dini deforestasi lewat citra satelit sebelum melakukan verifikasi langsung ke lokasi.

Meluruskan Kerancuan KEL dan TNGL

Salah satu materi penting dalam pelatihan ini adalah penjelasan mengenai perbedaan kawasan hutan di Aceh, khususnya antara Kawasan Ekosistem Leuser (KEL) dan Taman Nasional Gunung Leuser (TNGL).

Melalui sebaran peta, HAkA menunjukkan bahwa kedua kawasan ini sering dianggap sama oleh masyarakat maupun sebagian jurnalis, padahal keduanya berbeda dari sisi status, fungsi, dan pengelolaannya.

“Selama ini masih banyak yang menganggap keduanya sama, padahal status, fungsi, dan pengelolanya berbeda,” ucap Lukmanul.

Tangkapan layar sebaran peta kawasan Kawasan Ekosistem Leuser (KEL) dengan Taman Nasional Gunung Leuser (TNGL) Power point HAkA.
(Sumber foto: Power Point HAkA)

Lukmanul berharap penguasaan perangkat digital ini dapat mendorong jurnalis menghasilkan liputan yang lebih akurat dan berbasis data, khususnya dalam mengungkap persoalan lingkungan di Aceh. Ia menilai kemampuan verifikasi awal lewat teknologi satelit penting agar informasi yang disampaikan ke publik lebih kredibel.

HAkA juga membuka peluang untuk melanjutkan pelatihan serupa dengan materi yang lebih mendalam. Beberapa topik yang direncanakan antara lain teknik pemantauan titik api, penggunaan peta secara luring saat berada di lokasi tanpa jaringan internet, serta pemanfaatan aplikasi pendukung lainnya.

“Mudah-mudahan ini tidak berhenti di sini. Nanti kita bisa lanjut dengan topik-topik baru yang lebih spesifik sesuai kebutuhan teman-teman jurnalis di lapangan,” tutup Lukmanul.**

Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *