Sumatera Environmental Initiative: Ledakan Kapal Aceh Hebat 2 Diduga Ada Kelalaian Pengawasan Kapal

Written by

in

acehtoday.id/ | Banda AcehSumatera Environmental Initiative (SEI), yang mendesak pihak berwenang mengusut tuntas dan transparan terhadap kasus  meledaknya ruang mesin KMP Kapal Aceh Hebat 2 di Pelabuhan Ulee Lheu, Banda Aceh. Kasus ini bukan peristiwa biasa karena telah menelan dua korban jiwa dan 13 korban lainnya masih kritis.

Direktur SEI, Sulaiman menegaskan bahwa ledakan Kapal Aceh Hebat 2 — yang diduga bersumber dari sistem hidrolik kapal — bukan perkara sepele yang bisa diselesaikan tanpa investigasi mendalam. Jumlah korban yang signifikan, menurutnya, menjadi sinyal serius bahwa ada yang tidak beres dalam sistem keselamatan dan pengawasan operasional kapal tersebut.

“Kejadian yang menyebabkan 13 orang mengalami luka serius dan dua orang meninggal dunia bukanlah kejadian biasa. Publik berhak mengetahui apa yang sebenarnya terjadi. Keterbukaan informasi sangat penting agar ruang publik tidak dipenuhi asumsi dan informasi yang belum terverifikasi,” tegas Sulaiman melalui keterangan tertulis, Jumat (26/6/2026).

SEI Desak Hasil Investigasi Ledakan Kapal Aceh Hebat 2 Dibuka ke Publik
Direktur Sumatera Environmental Initiative (SEI), Sulaiman. Foto Dok Pribadi

SEI menilai proses investigasi harus menyentuh seluruh aspek kelaikan kapal — mulai dari riwayat perawatan, dokumen keselamatan, hasil inspeksi berkala, hingga prosedur operasional yang diterapkan sebelum insiden berlangsung. Menurut Sulaiman, ketidaksesuaian antara pengecekan rutin dan kondisi faktual kapal di lapangan harus dibuktikan melalui penyelidikan yang komprehensif dan independen.

Sumatera Environmental Initiative Soroti Nasib Taruna

Selain soal teknis kapal, SEI juga menyoroti nasib para peserta praktik pelayaran yang ikut menjadi korban dalam tragedi itu. Lembaga tersebut mendesak aparat untuk menelusuri seluruh dokumen praktik para mahasiswa yang berada di atas kapal, sekaligus memastikan mereka telah terlindungi oleh jaminan kecelakaan kerja maupun jaminan kematian sesuai ketentuan yang berlaku.

 

Sieh dir diesen Beitrag auf Instagram an

 

Ein Beitrag geteilt von acehtoday.id/ (@seputaraceh_id)

Tak hanya meminta keterlibatan kepolisian dalam olah TKP, pemeriksaan saksi, dan pengumpulan dokumen teknis, SEI juga secara khusus menyoroti peran Kantor Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan (KSOP) Malahayati. Sebagai institusi yang berwenang mengawasi keselamatan pelayaran, KSOP dinilai memikul tanggung jawab besar untuk memastikan proses investigasi berjalan profesional dan akuntabel.

“Kami berharap KSOP Malahayati tidak menganggap enteng kasus ini. Ada korban jiwa yang harus menjadi perhatian utama. Setiap tahapan investigasi harus dilakukan secara terbuka, objektif, dan dapat dipertanggungjawabkan kepada publik,” kata Sulaiman.

Hingga kini, penyebab pasti ledakan masih dalam proses penyelidikan instansi berwenang, sementara para korban masih menjalani perawatan medis dan pendampingan di rumah sakit. SEI berharap hasil investigasi kelak mampu mengungkap kebenaran secara utuh, memberikan kepastian hukum bagi para korban, sekaligus menjadi landasan perbaikan sistem keselamatan pelayaran di Aceh demi mencegah tragedi serupa terulang.

Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *